
Namaku Aldi, Aldiarama Fernando. Salah satu spesies manusia yang menjalankan hidup layaknya manusia pada umumnya. Keluarga adalah segalanya bagiku dan teman-temanku adalah keluarga lain yang kupunya. Hidup telah mengajarkanku banyak hal, tapi sayangnya hanya sedikit yang kumengerti. Kelahiranku kali ini memberikanku wajah yang selalu kubanggakan, meski taraf berpikirku tak setinggi taraf ke-epik-an wajahku.
Kehidupanku bagaikan permainan yang tak pernah kalah bagiku. Setiap langkah membuatku lebih dekat dengan kemenangan. Meski tak banyak yang mengerti apa arti kemenangan dalam kehidupan. Bagiku menjadi yang paling menonjol adalah salah satu kemenangan. Dan menjadi orang yang bahkan tak seekor semut pun berani menggigit secuil kehidupanku adalah kemenangan lainnya.
Dalam hidup selalu ada teman yang akan selalu hadir di bagaimana pun kondisimu. Dalam hidupku, mereka adalah Doni, Erga, dan Ciko. Kami berteman sudah sejak jaman putih biru menjadi seragam wajib di hari senin dan selasa. Tapi orang sekitar berpikir hal yang lain. Mereka lebih melihat kami sebagai sebuah geng dengan aku sebagai ketuanya. Entah kenapa mereka berpikir seperti itu.
Kami saat ini berada di sekolah yang sama setelah berhasil keluar dari seragam putih biru. Dan dengan beberapa lembar kertas berangka, kami berhasil menjadi teman sekelas. Awalnya, hari-hari di sekolah baru terasa berat. Tapi membaur sudah menjadi kebiasaanku, jadi bukan hal yang besar buatku. Dan beberapa bulan lagi, kami sudah akan meninggalkan sekolah ini.
"Al, setelah ini ke kantin yuk," ajak Erga menahan lapar sedari pagi tadi karena tak seorang pun hadir saat ia terbangun hingga saat ia akan berangkat.
"Kamu ini makanan terus," tambah Ciko meledek.
"Diem deh, emak lu masak tadi pagi, lah emak gua ngilang nggak tahu kemana," jawab Erga memancing tawa orang di sekitarnya. Bahkan Santi tertawa mendengar ucapannya.
"Kalian bisa diem nggak? Kan aku jadi nggak dengerin tadi ibu ngomong apa," tegur Santi setelah akhirnya ia bisa berhenti tertawa.
"Aldi, jangan berisik!"
"Maaf bu," jawabku sedikit menunduk. "Kenapa aku doang yang kena?" lanjutku berbisik membuat tawa baru antara kami. Tapi kali ini kami benar-benar berusaha menahannya.
20 menit berlalu dan bel pertanda jam istirahat telah berbunyi. Kami segera pergi ke kantin. Seperti biasa, selama perjalanan kami menentukan makanan apa yang akan kami pesan hari ini. Erga dan Doni bertugas memesan makanan, aku dan Ciko bertugas mencari spot terbaik di kantin untuk menjadi tempat nongkrong 15 menit. Kondisi kantin selalu ramai, karena itu Erga sedikit berlari agar tidak mengantri terlalu lama. Doni mengikutinya dari belakang, sedangkan aku dan Ciko bisa sedikit lebih bersantai. Beberapa meja pasti kosong saat kami tiba di sana. Lagipula spot mana pun cocok untuk kami berempat.
Sesampainya aku dan Ciko di kantin, beberapa meja masih terlihat kosong tak bertuan. Kami memilih tempat yang banyak angin bisa berkunjung. Tak lama kemudian, Erga dan Doni datang dengan empat mangkuk mie instan dan es teh. Makanan standart anak sekolahan. Erga yang sedari tadi sudah kelaparan, segera menyantap makanannya dengan lahap.
"Pelan-pelan, bro. Nanti tersedak, mati, kita yang repot," ledek Ciko tak pernah damai melihat Erga hidup.
15 menit setelah semua drama istirahat selesai, bel sekolah lagi-lagi berbunyi dan kami kembali ke kelas. Seperti biasa, tidak ada mata pelajaran yang tidak membosankan. Bahkan Erga mulai mengantuk karena perutnya yang akhirnya kenyang.
Masa-masa putih abu-abu selalu menjadi masa yang terindah buatku. Mungkin juga buat semua orang. Tapi hidup kami di kawasan putih abu-abu terasa sangat singkat. Meskipun begitu, semua orang selalu tak sabar dengan masa kuliah, termasuk aku. Dan banyak dari kami berpikir kisah dalam drama akan segera terjadi dalam hidup kami. Dan mari kita lihat betapa menyenangkannya itu.