
"Nah nyetir," pintaku pada Erga dengan tangan mengulurkan kunci mobil bergantung mobil kecil yang dibalasnya dengan tatapan curiga. "Buruan sana, nih kuncinya," lanjutku menunjukkan ekspresi benar-benar serius.
"Tumben, emang kenapa?" Erga tak langsung setuju dengan permintaanku, meski sudah kutunjukkan betapa serius dan melasnya diriku ini setelah rentetan mimpi buruk yang hampir merebut nyawaku.
"Udah, buruan! Pak Karto sudah menanti murid kesayangannya, anak rajin yang selalu cari muka," jawabku dengan nada yang diberi tekanan pada setiap katanya.
"Mulai deh mulai," gerutunya lalu segera masuk dan mengemudikan mobil ini.
Selama perjalanan, pemandangan kota yang sudah biasa kulihat tak bisa kuhindari. Tapi, seberapa banyak aku melewati rute ini, selalu saja kedua mata ini tak pernah bosan untuk sekedar menyejukkan diri setelah semalaman hanya menatap dinding rumah atau layar gadget yang selalu datar. Sesekali kulihat seekor kucing yang tertidur pulas di bangku umum atau pojokan trotoar. Rute yang kami lewati bukanlah rute dengan lajur yang mampu menjejerkan 3 hingga 4 truk sekaligus, jadi penampakan kucing tertidur akan lebih sering terlihat.
Di pertigaan depan, jika rute yang biasa kami gunakan seharusnya mobil ini tetap bergerak lurus. Tapi Erga berpikir akan melewati jalan tikus dan memilih belok kiri. Setelah beberapa lampu jalan dilewati, rasa-rasanya sekarang sudah 2 menit melebihi waktu tempuh saat melalui rute biasa. Kulihat Erga tampak santai dengan siulan kecilnya yang entah disengaja atau memang karena tak bisa bersiul, sedangkan pak Karto bahkan tak bisa menunggu walau hanya sedetik jika itu untukku. Aku terlanjur masuk dalam list mahasiswa yang ditandai.
Terakhir kali aku mencoba menggertak sedikit dosen kesayangan Erga itu, surat elektronik masuk dalam kotak surat papa. Melihatnya tentu membuat papa naik pitam. Berjuta-juta kata mutiara diluncurkannya padaku yang baru saja tiba setelah seharian sibuk dengan kata-kata manis dosen di kelas. Bahkan aku tak diberi kesempatan untuk meneguk segelas air atau meletakkan tas berisi laptop yang jika kuangkat dalam 1 jam mungkin saja otot-ototku mulai terlihat.
"Ini bener nih jalurnya?" tanyaku penuh keraguan.
"Bener, tenang aja, entar lagi nyampe," jawabnya ringan dan tak renyah. Sama sekali tak enak didengar.
"Kalau sampai ada kasus sama pak Karto, awas aja," ancamku yang diresponnya dengan gelak tawa. "Dosen kesayanganmu tu, serem banget kalau ke aku."
"Ampun dah." Erga tertawa puas mendengar keluhanku. "Katanya hari ini mau ngundang pesta ulang tahun, undangannya nggak dibawa?" lanjutnya dengan nada meledek.
"Oiya lupa, ketinggalan di meja belajar," jawabku menerima umpannya.
"Aldi? Belajar? Mustahil!" jawabnya dengan intonasi yang sama seperti saat terakhir kali aku berasalan tugasku tertinggal di meja belajar pada pak Karto. Kami tertawa lepas setelahnya, hingga lupa seharusnya kecepatan mobil ini dinaikkan.
Perjalanan ini berakhir 5 menit kemudian, tapi kini kami harus berlari menuju ruangan yang entah ruangan berapa itu. Erga memeriksa jadwal, melihat ruang berapa yang seharusnya kami kunjungi. Dan benar saja kami terlambat meski napas sudah seperti gerombolan orang yang sedang berebut bantuan sembako. Pak Karto melihat ke arah kami yang masih terengah-engah setelah berlari dari lantai hingga lantai 4. Tapi anehnya, kali ini pak Karto seperti tak memiliki energi unttuk memarahi kami. Pak Karto justru memerintahkan kami untuk segera duduk dan tidak menimbulkan keributan lainnya.
"Baik, kerjakan tugasnya, bapak ada perlu, jadi perkuliahan sampai di sini dulu," jelasnya kemudian. "Komtingnya nanti kumpulkan tugas teman-teman kamu di meja saya ya," tambahnya sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.
"Tugas apaan? Baru juga dateng," tanyaku pada Bori yang tengah sibuk menggambar gadis cantik di bukunya.
"Pak komting!" panggil Erga sedikit dinyaringkan yang kemudian diresponnya dengan menunjukkan telapak tangannya pada Erga seakan berkata bentar.
Seperti biasa, berselancar di derasnya informasi milik mbak google sangat membantu menyelesaikan tugas ini tanpa perlu terlalu besar menekan otak ini untuk berpikir. Bahkan orang terpintar di kelas ini pun tak menyelesaikannya secepat kami--aku, Erga, Bori. Hal yang terpenting adalah bukan seberapa original jawabanmu, tapi ini tentang seberapa menarik parafase dan kekreatifanmu dalam menggabungkan berjuta informasi menjadi satu jawaban yang masuk akal.
Perkuliahan berakhir begitu saja, dan seperti yang sudah kurencanakan sejak awal, hari ini undangan akan tersebar. Tepat setelah pak Karto pergi, aku mulai memainkan jariku dan menarik banyak orang dalam pesta ulang tahunku yang akan diadakan nanti malam. Tentu saja akan lebih mengasyikkan jika undangan datang tiba-tiba. Tapi hasilnya banyak sekali notifikasi pesan masuk. Beberapa dari mereka mengatakan tak bisa hadir dan ada juga yang mengeluh panjang lebar padaku.
...****...
Kali ini dinginnya air dapat kurasakan menusuk tubuhku yang hampir seharian terduduk di kursi mendengar ceramah para dosen. Aku bergegas bersiap dan turun melihat sudah sampai mana persiapan pesta dibuat, karena bukan pesta ulang tahun yang berisi nyanyian, potong kue, tukar kado, pertukaran sepatah dua patah kata atau hal membosankan lainnya. Malam ini semua tamu tidak akan tidur hingga besok pagi. Pesta semalam suntuk. Hari ini adalah hari di mana umurku bertambah 1 angka. Bersamaan dengan itu waktuku di dunia berkurang 1 angka. Dan tentu semua harus dirayakan dengan sangat meriah. Apalah guna orang tua bekerja sangat keras kalau bukan untuk anaknya, bukan?
Tepat beberapa jam lagi pesta itu akan dilangsungkan. Tapi entah siapa yang melempar batu tepat di kepalaku. Pesan yang baru saja masuk dalam kotak pesan mama berhasil membuatnya berekspresi sangat mengerikan. Tepat di ujung tangga wanita paling baik sejagat raya sedang menatapku dengan tatapan yang aku rasa itu adalah amarahnya. Siapa pun pelempar batu itu pasti akan kubalas kalau-kalau pestaku kali ini harus gagal bahkan sebelum dimulai karena amukannya.
Kuturuni tangga dengan berat langkah dan berusaha tersenyum layaknya tak ada apapun. Sesekali kupindahkan tajam posisi tubuh ini ke kiri dan ke kanan. Sial, mata itu sama sekali tak berniat melepasku. Pestaku benar-benar terancam.
"Mau kemana?" tanya mama setelah akhirnya langkah kaki tiba di anak tangga terakhir.
"Ayolah ma," rayuku dengan senyuman termanis yang bisa kubuat.
"Pesta apa?" Sedikit gundukan kecil muncul antara dua alisku bingung.
"Sial, pestaku benar-benar terancam," ucapku dalam hati.
"Pesan dari pak Karto." Aku menghela napas panjang, lagi-lagi orang yang sama. Alasannya sudah sangat jelas, karena aku terlambat datang di kelasnya hari ini.
"Iya ma, maaf telat tadi."
"Telat? Kamu telat lagi?" Wajahku membeku bingung mendengarnya. Apa aku baru aja mengundang kematianku sendiri?