
Pak Karto melaporkan nilaiku yang tak ada satupun dari mereka diawali angka 7. Rasa-rasanya ingin tertawa melihat betapa buruknya kerja otakku ini. Setelah beribu detikan berlalu, sepertinya mama mulai kehabisan kata dengan pidatonya. Ia pergi meninggalkanku dengan titah baru yang mengikatku hingga namaku mendapatkan anggota baru. Bagaimana pun itu, pestaku tak harus berakhir hanya karena nilai yang entah apa niat pak Karto mengirimkan daftar angka epik itu pada mama. Bahkan aku belum pernah melihat hal seperti ini terjadi. Sepertinya dendamnya sudah mulai mendarah daging.
...**...
Peraturan jam sepuluh malam adalah hal terkonyol yang pernah aku dengar seumur hidupku. Seharusnya peraturan semacam ini tak pernah ada di planet ini. Mereka yang melontarkan ide konyol seperti ini tentu tak pernah menikmati masa muda atau mungkin mereka lupa pernah muda. Tapi seperti apa pun reputasi peraturan itu di hadapan masyarakat, tak akan bisa mengubah pandangan dan cara hidupku.
Kerlap kerlip bintang yang saling bersautan terlihat lebih indah dari apa pun. Dentuman musik yang mengiringi gerakan seluruh tubuh menjadikan malam ini terasa lebih hidup. Dan tentunya kehadiran seorang kekasih, membuat malam ini terasa lebih lengkap. Layaknya dunia berada dalam genggaman, aku menegak segelas minuman yang memiliki aroma sangat menggiurkan. Dan seketika dunia menghilang.
"Sayang, kamu nggak minum?" Segelas minuman kusodorkan pada gadis termanis dalam pesta ini yang terus saja menatap layar gadgetnya.
"Nggak malam ini sayang, lain kali," jawabnya singkat tanpa melirik sedikit pun kekasihnya yang sedang merayakan penambahan usia ini.
"Kamu kok main hp terus dari tadi? Ada cowok lain ya?"
"Iya, lebih ganteng dan kaya dari kamu," jawabnya menyeringai licik.
Aku menegak segelas lainnya dan mulai mendekati tubuh yang terduduk kaku sejak 15 menit lalu. Kulirik benda kotak di tangannya itu berusaha merebut sedikit informasi. Tapi tangannya sigap menutupi lalu ia melirik tajam ke arahku.
"Setidaknya kasih tahu aku tampangnya, sejauh mana seleramu naik," ujarku yang dijawab dengan tawa kami berdua.
Hubungan selalu akan lebih indah jika dijalani dengan tanpa adanya ikatan yang terlalu mengekang satu sama lain. Bahkan terkadang aku lupa jika ia pacarku karena bahkan sikap kami sebelum atau sesudah hari di mana tangan mengulurkan bunga putri malu yang tak sengaja kami lewati saat itu, tetaplah sama. Hubungan penuh kepercayaan walau berpuluh-puluh cowok keren atau cewek cantik seakan mengantri giliran mereka setelah berhasil mewujudkan ekspetasi kata putus tercetus dalam hubungan ini, kami tetap baik-baik saja.
Pesta malam ini benar-benar meriah hingga tanpa sadar bulan mulai bosan karena tak teracuhkan. Sialnya hari ulang tahunku harus diletakkan di hari senin yang tentu setelah hari senin adalah hari selasa. Itu artinya jam kuliah menjadi salah satu bagian dari kegiatan hari ini. Satu per satu penghuni sementara pesta ini pergi dan diakhiri denganku setelah membayar semua kerugian akibat satu dua kejadian yang tak disangka-sangka.
...**...
"Dari mana aja?" Aku terkejut bukan main melihat wanita paruh baya tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan wajah mengerikan yang sengaja dibuat seperti itu. Ditambah efek suara kecil namun berat yang terdengar penuh tekanan menambah sensasi bulu kuduk berdiri semakin kuat.
"Ya ampun ma, iya iya Ren bakal lebih rajin, mama tenang aja," jawabku santai penuh rasa kantuk. Melihatku mama menarik napas dalam-dalam dan membuangnya bersamaan dengan beban hidupnya.
"Nanti malam ada acara keluarga, buat ngerayain ulang tahunmu, semalem sudah sama temen-temenmu, sekarang sama keluarga besar, kamu ngerti!"
"Awas kalau terlambat!" Mama pergi tepat setelah ancaman pengambilan paksa barang-barang berhargaku jika keinginannya itu sampai tak bisa kupenuhi.
Segera tubuh ini kujatuhkan begitu saja di atas lembutnya kasur sesampainya aku di kamar. Kulirik jam di dinding dan mulai menyetel alarm tepat 30 menit setelahnya sebelum akhirnya kumasuki dunia mimpi yang lainnya.
"Pesta malam ini? Okelah" gumamku sebelum benar-benar menghilangkan kesadaran.
...**...
Gemuruh petir menyambut hari baru, bersautan tak terlihat akan segera pergi. Kondisi seperti ini selalu mengingatkanku untuk memeriksa notifikasi baru yang mungkin salah satunya berisi pemberitahuan tidak ada kelas karena cuaca buruk. Sebelum air dingin di tengah hawa dingin bersatu menusuk tubuhku, tentu harus kupastikan tusukan itu tak sia-sia.
Beberapa kali kugeser-geser tampilan smartphone ini, tapi mengapa setelah 10 menit belum juga ada kabar baik. Haruskah kutanyakan langsung pada para dosen terhormat sebagai percakapan pembuka di pagi yang gelap ini? Karena setelah kusandarkan beberapa pertanyaan pada satu-satunya komting di kelas ini, responnya tak membatu sama sekali. Bahkan pada semua penanggung jawab mata kuliah hari ini--siapa tahu cuaca buruk sedang ingin berlabu dan istirahat--tak satu pun dari mereka membuatku tenang melanjutkan mimpi yang baru akan mencapai puncak konflik.
Jika terlalu lama meninggalkan dunia mimpi, tentu sang pengatur mimpi akan menutup bab itu dan memulai bab baru jika aku tertarik tidur kembali. Mungkin karena itulah sering kali aku masuk-keluar bab mimpi yang sama, melanjutkan kisah yang belum selesai. Terkadang bagiku mimpi cukup menarik walau tidak realistis sama sekali. Pernah saat seseorang mengejarku, seharusnya aku bisa berlari dengan cepat, tapi entah bagaimana kaki ini seakan terikat sesuatu yang membuatnya hanya bisa berjalan cepat. Dan bagian di mana aku tenggelam tapi ternyata bisa bernapas di dalam air tentu tak kulupakan bagaimana sensasinya.
Dan mimpi di mana tiba-tiba segerombolan hantu datang di tengah permainan kartu yang mulai memanas, lalu hilang begitu saja setelah beberapa mantra diucapkan. Aneh sekali saat itu aku malah merasa tertarik dan senang. Namun tetap saja, mimpi yang setelah terbangun tetap mengekang dengan versi realitas tinggi selalu menjadi mimpi terburuk yang pernah kusinggahi.
"Ren! Kuliah! Turun," ucap mama yang menggema di seluruh rumah.
"Iyaa," jawabku dengan sedikit lantang agar tak harus mendengar kalimat yang sama dari wanita paruh baya itu. "Ini kenapa lama banget informasinya, kalau libur ya libur, masuk ya masuk, tapi ya masak masuk hujan petir begini?" lanjutku terus melihat perkembangan histori chatku.
Baiklah, sepertinya sedikit menerobos hujan menjadi awal hari dimulai. Beberapa siraman tusukan air dingin akan mengantarkanku pada kesadaran penuh. Kusiapkan setelan biasa yanh tak perlu ribet. Sebelum benar-benar memasuki divisi per-air-an, kuperiksa kembali smartphone-ku siapa tahu notifikasi baru tak sengaja kulewatkan.
"Baiklah baik, hari ini kuliah masuk, nggak ada kuliah di rumah, dosennya masih pada tidur mangkanya nggak ada jawab chat-an ibu bapak pj."
_______
Catatan:
Pj \= penanggung jawab (mata kuliah)