
Kuliah pagi ini rasanya sangat berat. Aku pikir saat hari putih abu-abu telah menjadi lebih berwarna, hari senin tidak lagi hadir dalam list hari yang kubenci. Benar-benar telah tertipu dengan indahnya skenario penulis drama komersial, yang selalu menggambarkan kampus sebagai tempat yang menyenangkan. Meski pada akhirnya sama saja. Bahkan di kampus pun hari senin harus dimulai sejak jarum kecil itu bertemu dengan angka 7. Ditambah lagi rasa kantuk--akibat semalam lebih memilih bermain dengan kawan onlineku--menggumpal dan memadat membentuk bola pemberat yang menggantung di tubuhku.
"Aahh~~~~ nggak masuk aja kali ya," gerutuku berusaha keluar dari nyamannya jeratan kasur.
Sudah beberapa kali kucoba membuka kedua mata yang entah siapa sengaja membumbuinya dengan lem saat pesta mimpiku sedang berlangsung. Layaknya pasangan yang sudah sangat lama tidak bertemu. Kedua kelopak ini susah sekali dipisahkan. Dan bukan hanya itu. Bahkan aku hanya mampu mengangkat kecil salah satu jari telunjukku. Oh ya ampun.
Kurasa permainan tarik ulur mimpi ini sudah berlangsung cukup lama--cukup untuk mencetak skor terbaik di permainan tetris. Mata kiriku berhasil menangkap keberadaan jarum-jarum di dinding itu. Tapi tak bisa bertahan lama hingga kesadaranku kembali terjerembap di mimpi yang sama. Entah sudah berapa kali aku keluar masuk pintu mimpi. Tolong, siapapun, tolong aku, aku mau bangun.
"ALDI!" teriak seorang wanita dari luar kamarku--sembari mengetuk kasar kayu tak bersalah--seketika menarik nyawaku kembali ke ragaku. Mataku membulat akibat sengatan yang tiba-tiba mengenai seluruh tubuhku.
"Hah, suara mama bener-bener deh, ngagetin, tapi makasih ma." Segera kudekati dan kubuka pintu cokelat itu. Kini rasa kantukku hilang tak bersisa sedikit pun. Melihatku telah terbangun dengan mata yang sepenuhnya terbuka, mama pergi meninggalkanku dengan kebingungan yang menyelimuti setelah melihatnya yang hanya terdiam tanpa ekspresi saat pintu ini mulai terbuka dan pergi begitu saja beberapa detik kemudian.
Aku kembali masuk dengan sedikit sempoyongan karena ternyata rasa kantuk sepertinya tertarik lagi padaku. Hingga kursi kayu yang terduduk diam tak sengaja kutendang.
Bruk. Tapi anehnya ... bukannya seharusnya aku merasa sakit? Kenapa ini tidak? Apa aku masih di mimpi?
"Astaga," keluhku yang ternyata masih terjebak dalam dinding-dinding mimpi.
Ayo bangun, bangunn!! Tak bisa kumengerti kenapa ini sering kali terjadi. Di saat kurasa telah terbebas dari jerat mimpi yang semakin lama semakin menyesakkan, ternyata aku bahkan belum menggerakkan sedikitpun anggota tubuhku. Terbaring kaku tak berdaya. Lalu, sekarang apa?
"ALDI!!" teriak mama dari luar kamar menarikku dari alam mimpi. Segera kulihat ke arah pintu cokelat itu dengan tubuh yang masih terbaring. Sedetik kemudian wanita bersurai hitam pekat muncul dari balik pintu.
"Al, bangun! Dari tadi dipanggil-panggil ya, ternyata masih tidur," keluh mama yang melihatku baru saja terbangun. "Cepet mandi sana, sekarang udah jam berapa ini," lanjutnya yang kemudian memilih pergi setelah tubuhku berhasil kududukkan dan mengiyakan keluhannya itu. Aku mengerjapkan mata berusaha tetap terjaga.
Tak ingin berlama-lama, aku memilih untuk mengambil tindakan sebelum rasa kantuk kembali bertahta. Membalut tubuh dengan air seharusnya mengisi kembali daya dalam diriku. Hari ini harus semeriah biasanya. Setelan biasa sudah cukup. Kulirik jarum di dinding yang akan segera tiba di angka 7. Segera kugantung tas ransel hitam di pundakku dan mulai berjalan keluar.
Kuraih 2 roti berselimut selai cokelat kacang yang terduduk rapi di piring putih tak bertuan. Kubawa pergi keduanya sedang tangan wanita pemilik surga di kedua telapak kakinya sibuk mengoles roti-roti lainnya yang membuatku tak diijinkan mencium tangannya. Kusatukan dua roti itu dan segera pergi.
Apalah gunanya hidup jika hanya dipenuhi dengan berpikir berpikir dan berpikir tanpa henti. Entah mungkin saja di masa depan akan menjadi Albert Einstein selanjutnya yang memberi banyak landasan dalam ilmu pengetahuan atau menjadi orang paling berpengaruh di dunia sehingga setiap keputusan harus didaftarkan menjadi tamu dalam jadwal hidupnya terlebih dahulu, hidup tetaplah hidup. Aku tidak tahu menahu tentang reinkarnasi yang menciptakan pemikiran jika tidak bisa dilakukan di kehidupan ini akan dilakukan di kehidupan selanjutnya. Tapi dalam undang-undang hidupku, membuang waktu sangat ditentang. Dan berpikir tanpa henti termasuk dalam hal-hal yang membuang waktu. Lagi pula jika reinkarnasi benar-benar terjadi, apa ia akan mengingat kehidupan sebelumnya?
Perjalanan ke kampus tidak memiliki kesan yang spesial lagi bagiku. Sudah hampir 2 setengah tahun aku melakukan hal yang sama dengan rute yang sama, bangunan yang sama--yang terkadang terjadi penindihan cat sehingga selalu terlihat menarik. Semua hal itu selalu kulakukan dengan orang yang sama pula, yaitu kawan baikku, Erga.
"Al, Aldi," kutengok wajah tembamnya yang sibuk mengunyah roti sejak 5 menit lalu.
"ALDI!" gertaknya membuatku terkejut.
Tangannya menunjuk ke arah depan dengan kerutan kuat menyambung kedua alisnya. Ekspresinya panik bercampur takut membuatku penasaran apa yang sedang ditunjuknya. Ternyata sebuah truk besar dari arah berlawanan terlihat oleng. Dan sialnya, tanganku menjadi kaku, tubuhku seperti membeku meski sel-sel dalam otakku berlarian tak beraturan. Mobil ini bergerak lurus seakan tertarik pada truk oleng itu.
"ALDI!"
"Huuhh huh huh huh." Napasku tak beraturan, keringat membalut seluruh tubuhku.
Klek
Pintu kamarku terbuka dan mama muncul dari balik pintu itu. Melihat mimik wajahku yang seperti baru saja melihat hantu seketika rasa khawatir seorang ibu muncul. Dia mendekatiku dan mulai melontarkan banyak pertanyaan. Sedangkan mimpi barusan benar-benar membuatku takut. Tunggu, mimpi? Ahh... lama-lama aku stres. Bisa-bisanya aku dipermainkan oleh mimpiku sendiri berulang kali.
"Nggak papa ma," jawabku menenangkan mentariku ini.
Di luar sana seseorang berhasil memecahkan piring yang membuat mamaku segera pergi memastikan. Kupijat lembut kening yang tak terasa sakit. Dan segera kucubit lengan kiriku untuk memastikan aku benar-benar telah meninggalkan alam mimpi. Syukurlah aku benar-benar telah keluar dari jeratan mimpi-mimpi buruk itu.
Tak ingin terus memikirkannya, segera kutinggalkan kejadian itu dan pergi bersiap. Kuharap Pak Karto tidak sedang rajin-rajinnya karena aku sedang tidak ingin terburu-buru. Juga tidak tertarik menjadi pusat perhatian akibat kedatanganku di tengah penjelasan dosen yang satu ini. Kuharap juga sarapan pagi ini bukanlah roti tawar berlapis selai cokelat kacang. Entah kenapa aku merasa muak hanya dengan memikirkannya.