
"Ren..." Terlihat seluruh keluarga bergerombol mengerubungi sebuah tubuh yang tengah terbaring di sebuah kasur putih. Banyak sekali peralatan canggih di tempat ini, hingga aku dapat dengan mudah mengerti, saat ini tubuhku tengah terbaring di rumah sakit.
Aku menatap sekeliling melihat semua orang tampak sedih dan beberapa dari mereka ada di luar ruangan. Mereka duduk dengan tangan menadah wajah yang berlumuran air mata. Aku merasa sedikit ... sesak? saat melihatnya. Tapi jika benar ini sama dengan yang terjadi dengan tokoh utama pada film yang kutonton bersama seorang wanita yang entah siapa itu aku tak mampu mengingatnya, itu artinya aku sedang diambang kematian. Bagaimana bisa aku melihat tubuhku terbaring dengan begitu banyak pipa aneh melilitnya sedang aku tengah berdiri dengan seseorang yang senang sekali bermain teka-teki.
"Apa saya sudah mati?"
"Belum, hanya jiwa anda yang terpisah dari tubuh anda, tapi tali pengikatnya belum terputus, itu artinya anda belum meninggal," jelasnya yang membuatku sedikit terpukau karena akhirnya ia menjawab pertanyaanku dengan bahasa sederhana dan tanpa perlu berulang kali aku bertanya.
Ia menyinggung tentang tali pengikat, sekarang aku mengerti mengapa ada sebuah tali tipis berwarna putih menempel pada dadaku sejak aku tersadar di ruangan itu. Aku bisa melihatnya, tampak nyata, tapi tak bisa menyentuhnya. Dan sekarang sepertinya aku mengerti tempat apa ruangan yang luas itu.
Aku kembali melihat tubuhku, entah mengapa aku lebih tak merasakan apa pun. Aku ingin kembali hidup, tapi aku bahkan tak banyak mengingat hal tentang hidup. Hal ini membuat hasratku ingin hidup kembali seperti lampu yang redup, tapi tak kunjung mati.
"Tapi saya tidak mengingat apapun."
"Tentu saja."
Tiba-tiba ia menjentikkan jari tepat di depan wajahku, dan boom, semua ingatanku kembali. Harusnya aku merasa takjub dengan semua ini, tapi sepertinya aku telah muak dengan permainan orang ini. Tunggu, kalau begitu orang ini bukanlah orang. Aku melihatnya dalam-dalam. Jubah panjangnya menghalangiku melihat apakah kakinya menapak tanah atau tidak.
Setelah jentikan jari itu, sengatan ingatan menyerang tiba-tiba. Meski datang sedikit terlambat, hal itu benar-benar membuat perasaanku bercampur aduk. Seperti ingin menangis, tertawa, marah, kecewa secara bersamaan. Dan hal terakhir yang kurasakan adalah aku ingin hidup kembali. Aku belum siap untuk mati.
"Lalu, bagaimana nasibku selanjutnya?" tanyaku sedikit takut dengan jawaban yang mungkin akan mengecewakan.
"Dalam kasusmu, ada peraturan khusus, tapi mari kita tunggu putusan pengadilan," terangnya yang membuat melongo.
"Pengadilan? Kalian bahkan punya pengadilan?"
"Tentu saja, kalau tidak, kamu pikir dari mana semua ketentuan itu berasal?"
"Ya-ya mana saya tahu."
Orang itu, ah, malaikat itu, anggap saja ia malaikat. Malaikat itu menghilang tiba-tiba dari hadapanku. Tentu saja aku bingung dan mulai celingak-celinguk mencarinya. Beberapa kali aku memanggil namanya, tapi karena aku memanggil ia dengan kata malaikat, beberapa malaikat yang tak sengaja lewat menoleh ke arahku. Aku sedikit takut saat ditatap tajam oleh satu malaikat yang terlihat menyeramkan bahkan hanya dengan melihatnya berjalan. Berjalan? Anggap saja seperti itu.
"Apa maksudnya meninggalkanku di sini?" tanyaku terpaku melihat tubuhku yang terbaring di kasur itu.
Aku mengerti apa yang terjadi sekarang. Tepat di saat dentuman drum keduaku, aku mulai merasa mati rasa yang rasanya seperti menjalar ke atas hingga aku benar-benar hilang dalam ingatan itu. Dan tepat di saat sebuah pesta tengah ada dalam kendali kami bertiga, para pemain band. Saat kesunyian menunggu kebisingan terjadi. Saat semua mata menatap penuh nanti dan curiga. Tepat setelah dua ketukan kecil semua menghilang.
Aku mendekati tubuhku, melihat betapa malang nasib tubuh itu dan keluarganya. Deraian air mata seorang ibu tak henti mengalir sembari memegang erat tangan putranya itu. Beberapa kali kucoba merangkul mama ingin menenangkannya, tapi tak satupun sentuhan ini mengenainya. Lalu aku menatap diriku yang sedang sekarat, dan terpikir sebuah ide.
"Terus gimana cara aku balik?" tanyaku pada diri sendiri. "Mati nggak, hidup juga nggak," gumamku sembari melihat benang tipis yang menempel di dadaku itu. Aku menghela napas panjang setelahnya.
...**...
"Saya harus bagaimana, malaikat? Ini seperti sebuah hubungan tapi tidak memiliki status, saya masih terhubung tapi belum mati, tapi saya juga tidak hidup karena sekarang saya ada di sini," keluhku pada malaikat yang sama setelah beberapa waktu ia kembali dan membawaku ke ruangan itu lagi. Ia mengatakan harus menyelesaikan sedikit urusan.
"Tidak perlu khawatir, putusanmu akan segera datang," jawabnya ringan yang membuatku berpikir berat.
"Apa tadi anda mencabut nyawa orang lain?" tanyaku penasaran dengan urusannya.
"Itu bukan urusan anda, anda diam saja dan tunggu putusan itu hadir," jawabnya tak ingin aku mengetahui tentangnya sama sekali. Ini yang kesekian kalinya aku bertanya tentang dirinya yang mendapat jawaban hampir serupa.
Sebuah kertas tiba-tiba melayang dan malaikat itu mengulurkan tangan ke arahnya. Kertas itu bergerak dan jatuh di telapak tangannya. Aku melirik tajam berusaha melihat apa isi di dalamnya.
"Baik, sesuai dengan putusan, anda hanya bisa hidup selama 2 hari," terangnya yang membuatku tentu merasa aneh. Bagaimana bisa aku mengetahui secara pasti kapan kematianku yang sebenarnya akan terjadi.
"Apa maksud anda pak malaikat? Bagaimana bi-sa? saya masih ingin hidup, lupakan tentang putusan itu, pasti ada cara kan?"
"Sudah saya bilang, semua yang terjadi di tempat ini sesuai dengan ketentuan dan tidak pernah melenceng sedikit pun."
"Apa ada ketentuan memberi tahu orang kapan ia akan mati? Kalau begitu kenapa aku harus hidup lagi kalau hanya 2 hari, dan selama 2 hari itu akan akan hanya mengingat 2 hari lagi aku akan mati," keluhku berusaha merubah ketentuan itu. Aku yakin, tak ada yang tak bisa dilakukan di dunia ini selama memiliki keinginan yang kuat.
"Kamu diberi waktu selama 2 hari untuk mengucapkan selamat tinggal."
"Lelucon macam apa ini? Ya ampun," teriakku sekuat tenaga.
"Kalau anda sudah mengerti, ada yang akan mengantar anda kembali dan jalani 2 hari ini sebaik mungkin."
"Tidak, tidak, tolong, saya masih ingin hidup, tolong pak malaikat, saya masih ingin hidup, tolong," mohonku padanya tak bisa membayangkan aku benar-benar mati.
"Anda akan hidup, karena itu tunggu sebentar hingga ada yang datang, ia akan mengantar anda kembali hidup."
"A-apa? Bukan, itu bukan hidup, pak malaikat," mohonku padanya tapi percuma karena sedetik kemudian ia menghilang dari pandangan. Aku teduduk diam. Sekarang apa? Menunggu hidup kembali yang akan mati kembali?