
"Hahaha serius sekali kau ini Brian." Eliane tiba-tiba tertawa puas melihat ekspresi wajah Brian yang kebingungan. Dia masih terpingkal-pingkal.
Brian masih bergeming dan semakin tidak mengerti. Dia mundur satu langkah dan menatap Eliane keheranan.
"Dari awal aku kan sudah bilang aku putri kerajaan di Ranah Oorun. Namun ternyata sampai sekarang kau masih belum percaya. Lalu aku harus bagaimana lagi menjelaskan agar kau percaya ucapanku." jelas Eliane santai dan kembali terkekeh.
"Aku butuh bukti El." tanya Brian serius dan menatap lekat Eliane yang tampak bercanda.
"Bukti? Bukti seperti apa yang kau inginkan Brian." Eliane menghentikan tawanya. Dia berusaha serius.
Brian mengedikkan bahu. "I don't know" balas Brian tak mau tahu.
Eliane terdiam sejenak, berpikir dan terbesit sesuatu "Ah aku punya ide. Aku akan menunjukkan sesuatu kepadamu. Tapi berjanjilah kau harus menjawab jujur pertanyaaku nanti"
"Oke aku terima tawaranmu" jawab Brian tanpa ragu.
"Jangan kaget. Ini memang tidak masuk akal tapi Lihatlah. Di Oorun orang-orang biasa berteleportasi"
"Apa! teleportasi? Tidak mungkin. Jangan kebanyakan halusinasi El. Mana ada teknik teleportasi di dunia ini. Memangnya ini dunia fantasi seperti dalam dra--- )"ucapan Brian menggantung karena melihat Eliane sungguh menghilang dari hadapannya. Dia menoleh ke kanan kiri serta memutar badannya tapi Eliane benar-benar menghilang.
Brian tercengang dan membeku. Bulu kuduknya meremang. Kakinya terasa lemas. Apakah dia sedang bermimpi atau sedang menonton film? Brian tidak bisa berpikir jernih. Mungkinkah ini nyata? Tapi bagaimana bisa ada orang yang bisa menghilang di dunia ini?
"Hei Elian where are you?" teriak Brian setelah sadar dari rasa terkejutnya.
"I'm here Brian" jawab Eliane dari arah belakang Brian.
"Bagaimana caranya kau bisa menghilang" Cecar Brian penasaran. Wajahnya nampak serius.
"Itu mudah. Bukan sesuatu yang luar biasa bagi penduduk Oorun sepertiku"
"Are you an Alien?"
"Memangnya Ada alien yang berparas cantik seperti wajahku ini" Eliane balik bertanya dengan percaya diri dan senyuman yang mengembang di bibirnya.
"Jika kau bukan alien lalu apa. Kau juga bukan manusia. Apa kau wonderwoman?" Brian masih belum percaya dan bertanya mungkinkah ini benar-benar nyata.
"Terserahlah kau mau menyebutku apa. Aku juga manusia sepertimu. Hanya saja aku di takdirkan memiliki kekuatan yakni bisa menghilang"
"Tidak mungkin El. Apa aku sedang bermimpi. Tolong pukul pipiku" Brian menyodorkan pipinya. Dia berharap sedang bermimpi.
Tanpa ragu Eliane memukul pipi Brian.
Aww...Brian merintih kesakitan. "Sakit. Kau sungguh menamparku?"
"Lho kan kau yang menyuruhku" ucap Eliane membela diri. Dia tidak terima Brian menyalahkannya.
"Aduh. Kepalaku pening" rintih Brian sembari memegangi kepalanya yang berkunang-kunang.
"Kau tidak apa apa Brian. Apa kau sakit" Eliane bertanya dengan wajah khawatir sembari memegangi pundak Brian.
"Aku baik baik saja El.Sekarang apa yang ingin kau tanyakan" jawab Brian sembari menegakkan kepalanya dan berusaha menyadarkan diri.
"Hmm ini soal lukisan itu yang bergambar naga merah begitu pula guci itu" Eliane menunjuk objek yang di maksud. "Apa kau anggota Red Draco. Aku baru menyadari arti dari Red Draco adalah naga merah. Dan di rumah ini ada banyak gambar naga merah yang ada di lukisan dan guci-guci itu?"
Brian bergeming. "Apa kau mencurigaiku?" Raut wajahnya berubah dingin.
"Iya. Sejujurnya aku takut. Aku takut Kau sungguh anggota red draco. Aku mencoba tidak mencurigaimu namun hal ini terus menggangguku dan aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Aku merasa bersalah karena kau sangat baik kepadaku Brian. Tidak sepantasnya aku menuduhmu seperti ini. Maafkan aku" sesal Eliane dengan menundukkan kepalanya. Merasa bersalah.
"So I'm actually..."Brian menghela nafas berat. Dia sedikit kecewa karena Eliane memiliki pemikiran seperti itu. Setelah dia menyelamatkan Eliane dan membiarkan Eliane tinggal dirumahnya, bisa-bisa Eliane menuduh dirinya sebagai salah satu anggota
Eliane terlihat serius menanti perkataan Brian selanjutnya.
"Sebenarnya..." Brian tampak ragu berbicara. " Sebenarnya aku...Aku bukan anggota Red Draco El)" Ucap Brian lalu tertawa karena melihat wajah kesal Eliane yang merasa telah di permainkan olehnya. " "Jujur aku merasa tersinggung karena kau menuduhku seperti itu. Lukisan dan guci itu adalah hadiah ulangtahun dari seseorang yang sudah ku anggap seperti ayahku sendiri. Meski sebenarnya aku tidak menyukainya. Aku tetap menerimanya sebagai bentuk rasa terimakasihku kepadanya. Aku tidak ingin mengecewakan dia"
"Really?" Eliane terlihat sangsi. Dia menatap dalam bola mata Brian, mencoba menelisik kebohongan disana. Namun tidak ada. Brian berkata jujur.
"Kalau tidak percaya. Itu terserah padamu. Tapi aku bukanlah tipe orang yang pandai berbohong. Kau bisa menanyakan pada bibi Deo. Dia tahu segalanya tentangku"
Eliane terdiam. Apakah dia bisa memercayai perkataan Brian. Iya. Untuk saat ini dan entah sampai kapan dia akan tetap percaya bahwa Brian bukanlah anggota Red Draco. Karena Brian adalah orang baik yang telah menjadi penyelamat hidupnya di dunia asing ini "Syukurlah kalau begitu. Aku lega mendengarnya. Terimakasih Brian"
"Why suddenly thank you"Dahi Brian berkerut keheranan.
"Iya terimakasih karena kau bukan bagian dari orang-orang jahat itu"
"Oalah yes yes" Brian mangut-mangut."Ngomong-ngomong soal Red Draco, Memang kau punya masalah apasih dengan mereka"
"Tidak ada. Aku kebetulan bertemu mereka di hutan. Dan Aku cuma mengatakan kalau benda yang mereka pegang adalah milikku. Lalu mereka mengejarku" jelas Eliane apa adanya.
"What is that thing?"
"Timantti? Benda seperti apa itu"Brian bertanya-tanya.
"Hmm bentuknya seperti berlian. Warnanya merah dan Timantti itu mempunyai kekuatan)"
"What? Strength hahaha" Brian kembali tertawa terpingkal-pingkal. Dia belum terbiasa dengan hal-hal aneh yang diucapkan Eliane. Dia msih menganggap ucapan Eliane adalah lelucon yang tidak masuk akal.
"Kenapa kau tertawa. Memang Ada yg lucu"
"Tidak ada. Aku hanya depresi dengan ucapanmu yang tidak masuk akal. Mana ada berlian memiliki kekuatan. Aku juga memiliki koleksi berlian biru. Tapi biasa saja. Oh iya aku baru ingat berlian itu juga memiliki kekuatan?"
"Really?"
"Iya kekuatan untuk menghasilkan banyak uang karena harganya sangat mahal" Lagi Brian tertawa melihat wajah kesal Eliane yang hampir memercayai ucapannya.
"Ah sudahlah. Kalau kau tidak percaya. Aku tidak akan memaksamu" Eliane cemberut, kesal karena Brian selalu menjahilinya.
"You have eaten?" Brian mengalihkan pembicaraan untuk mencairkan suasana lagi.
"Already "
"If Daisy?" Brian tak lupa menanyakan kucing milik temannya itu.
"Tadi ku lihat Bibi Deo sudah memberi makan. Sekarang dia sedang tidur"
"Lalu apa kau tadi sudah menghapal beberapa kosakata dari kamus yang kuberikan tadi pagi"
"Hehehe not yet" Eliane cengengesan sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Aku belum sempat membacanya kerena seharian aku terus memikirkanmu"
Seketika Brian terdiam. Sudut bibirnya terangkat. Entah kenapa hatinya senang dengan pengakuan jujur Elian Meski dia tahu Eliane memikirkannya bukan karena menyukainya. Dia tahu itu dan dia bahagia. Semakin Brian mengenal Eliane. Eliane terlihat menggemaskan di matanya.
Tiba-tiba ting..tong..
Brian terkejut. Dia memandang Eliane yang juga kaget. Lalu Brian melihat intercom yang kosong. Tidak ada seorangpun.
"Perlukah aku keluar. Melihat siapa yang datang?" Usul Eliane tiba-tiba dengan setengah berbisik.
Brian bergidik kaget. Dia mengusap telinganya. "Tidak usah. Nanti kau bisa menimbulkan masalah"
"Tapi..bukankah kau penasaran?" Ledek Eliane membuat Brian melotot ke arahnya.
"Tidak. Aku tidak penasaran. Sudahlah jangan ikut campur urusanku. Saat Ku bilang tidak ya tidak" seru Brian tegas dan menatap tajam.
Ting..tong.. lagi-lagi bel berbunyi.
Brian semakin gelisah dia mondar-mandir di dekat intercom bell.
"Are you okay Brian"
"Iya. Aku ingin istirahat dulu. Selamat malam)" Baru saja Brian ingin pergi tiba-tiba Eliane menghilang dari hadapannya. Brian berubah panik, takut Eliane pergi keluar dan bertemu dengan orang yang menerornya. Dia kembali melihat ke intercom. Ada Eliane yang tengah kebingungan.
Iya Eliane keheranan karena di luar tidak ada siapa-siapa. Dia juga memeriksa daerah sekitarnya namun tidak ada orang. "Brian tidak ada siapa siapa di luar" Eliane berbicara di dekat intercom bell. Sesekali dia mengamati sekitar.
"Hei Eliane cepat kembali masuk Berbahaya jika ada yang melihatmu" Eliane kembali berteleportasi dan berpindah di hadapan Brian. Tepat saat itu tiba-tiba Eliane pingsan. Wajahnya pucat dan suhu tubuhnya panas.
Brian panik dan menepuk-nepuk pipi Eliane.
"Nona..nona Eliane sadarlah.." ucap Brian panik.
Brian segera membawa Eliane ke kamarnya. Pelan-pelan dia membaringkan Eliane di atas tempat tidur. Dia pun bergegas mengambil handuk dan air hangat untuk mengompres Eliane. Setelah beberapa kompresan akhirnya demam Eliane sedikit menurun.
"Hermana Isan.. te extraño" Eliane mengigau lemah dalam tidurnya.
Brian mendengarkan ngigauan Eliane dengan bahasa asing. Dia tidak mengerti. Namun dia bisa merasakan ada gejolak rindu dari nada suaranya. Brian memandang lembut wajah cantik Eliane dan menyisihkan rambut Eliane yang menutupi sebagian wajahnya.
Tiba-tiba Eliane kembali mengigau. Namun kali ini dia terlihat gelisah dan ketakutan. Deru nafasnya tidak teratur.
"Jangan bunuh aku kak. Apa salahku.." gumam Eliane lirih. Peluh keringat dingin membasahi pelipisnya.
Eliane terlihat ketakutan. Brian berusaha menenangkan Eliane dengan menepuk-nepuk pundaknya. Namun Eliane semakin gelisah seperti sedang bermimpi buruk. Lantas Brian berbaring di sisi Eliane lalu mendekatkan tubuhnya dan memeluk Eliane. Dia juga menepuk-nepuk pelan pundak Eliane. "Nona Eliane tenanglah. Aku di sini. Bersamamu" bisik Brian lembut. Perlahan Eliane kembali tenang dan deru nafasnya kembali normal. Brian meyakini Eliane kembali tertidur pulas. Brian kembali memandang lekat wajah Eliane.
Brian tidak tahu kenapa dia bisa berbuat sampai sejauh ini. Hati kecilnya berkata dia harus menolong gadis ini. Semakin dia mengenal Eliane dia yakin bahwa Eliane adalah orang baik dan tak ada niat jahat kepadanya. Dia ingin meyakini hal itu sekarang dan kalau bisa selamanya. Dia sudah lelah dengan kehidupannya yang sekarang. Terlalu banyak kebohongan di sekitarnya. Kehidupan yang sangat memuakkan. Meski sebenarnya dia tidak jauh berbeda dengan mereka. Namun dia ingin berubah dan membutuhkan seseorang yang bisa menariknya keluar dari dunianya. Mungkinkah Eliane adalah orang yang tepat? mungkinkah Eliane akan selamat dari marabahaya yang sewaktu-waktu bisa menyerang karena Eliane berada di dekatnya. Mengingat dunia yang dia jalani saat ini adalah dunia palsu penuh dengan kebohongan. Meski begitu Dia sangat menginginkan kehidupan yang damai dan tentram. Brian sudah lelah dan ingin meninggalkan dunianya yang sekarang. Bolehkah dia berharap tanpa adanya penyesalan?
...TBC...
...Thanks for Reading...