
Hari masih pagi, jarum jam baru menunjukkan pukul 08.00 KST. Terlihat Eliane sedang duduk di meja makan dan melahap kimchi yang tersedia di kulkas. Setelah kejadian semalam, saat bangun tidur Eliane merasa sangat lapar. Demamnya sudah menurun dan dia terlihat baik-baik saja.
Rumah itu masih sepi. Brian masih terlelap dalam tidurnya sebab semalaman dia menjaga Eliane. Sedangkan Bibi Deo belum waktunya datang. Biasanya Bibi Deo akan datang saat pukul 09.00 KST.
Tiba-tiba Eliane dikejutkan dengan munculnya lelaki asing dengan pemukul bola kasti di tangannya. Badan lelaki itu tinggi gagah dan tampan. Matanya yang hitam legam melotot tajam ke arah Eliane.
"Kau siapa!!!Apa kau pembantu baru dirumah ini" selidik Raymond nama lelaki itu dengan mata melotot penuh curiga. Dia tampak seumuran dengan Brian. Tangannya siap memukul Eliane.
Seketika itu, Eliane menghentikan aktivitasnya dan menatap Raymond dengan raut wajah tidak mengerti. "I'm sorry sir, you're talking don't I understand."
"Waah,, berlagak sekali kau berbicara menggunakan bahasa inggris." Ledek Raymond tetap tidak suka dengan sifat Eliane yang dia kira angkuh.
"Sorry sir I really don't understand what you are talking about." jawab Eliane dengan wajah penuh ketakutan dan berusaha meyakinkan Raymond.
Raymond terlihat bingung. Dia menurunkan pemukul bola kastinya dan menatap heran Eliane.
"Who are you? Are you the new maid in this house (Kau siapa. Apa kau pembantu baru di rumah ini)" akhirnya Raymond berbicara dengan tenang.
"No. I'm Brian's friend. My name is Eliane Lavendiom." ucap Eliane memperkenalkan diri seraya membungkukkan badannya.
"Eliane? Apa katamu? teman Brian. Aku belum pernah mendengar kalau Brian memiliki teman sepertimu. Apa jangan-jangan kau gadis itu." tuduh Raymond berbicara dengan bahasa inggris. Dia tampak sangsi sembari melempar pemukul bola kastinya sembarangan arah. Dia berbalik pergi dengan wajah merah padam.
Eliane mengerutkan kening, tidak mengerti. Dia bertanya-tanya siapa sebenarnya lelaki itu sembari menatap punggung Raymond yang pergi menuju kamar Brian.
Tiba di depan kamar Brian, Raymond langsung menggedor-gedor pintu kamar Brian yang terkunci. Raut wajahnya serius dan misterius.
"Briaaaan.."teriak Raymond tidak sabaran. Suaranya terdengar berat dan mampu membuat bulu kuduk meremang.
"Briaaan.."lagi Raymond memanggil dengan tangan yang tak henti-hentinya menggedor pintu kamar Brian. Perlakuannya itu telah membuat kebisingan di hari yang masih pagi ini, membuat si empu rumah merasa terganggu dan bangun dari mimpi indahnya.
Dengan rasa malas Brian beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu.
"Ada apa Ray. Pagi-pagi sudah ribut" omel Brian kesal dengan wajah kusut habis bangun tidur.
"Kau!"tuding Raymond melotot marah melihat Brian yang tak merasa bersalah. Namun Ia berusaha menahannya " Siapa gadis yang bernama Eliane itu. Kenapa dia bisa ada di rumahmu" celoteh Raymond penuh amarah.
"Aku hanya berbaik hati menolongnya karena dia kabur dari rumah dan dia tidak ada tempat tinggal"
"Hah. Apa aku tidak salah dengar. Sejak kapan kau punya belas kasihan dengan orang lain. Jangan-jangan saat itu kau mabuk.." Raymond menyadari sesuatu dan tidak melanjutkan perkataanya.
"Memang iya, malam itu aku habis pesta perayaan. Akan tetapi itu bukan sebabnya. Tiba-tiba saja hatiku tergugah untuk menolongnya" Balas Brian sekenanya. Rasanya Raymond ingin menampol wajah Brian saking geramnya.
"Iya. Aku tahu. Dia orangnya aneh. Tidak bisa berbahasa korea dan terlihat seperti--" ucapan Brian menggantung seperti menyadari sesuatu dan menghentikan ucapannya.
"Seperti apa?" Raymond menunggu kelanjutan ucapan Brian namun Brian menggelengkan kepalanya. "Mau sampai kapan gadis itu tinggal dirumah ini?"
"Entahlah aku belum memikirkannya. Sudahlah aku tidak ingin membahasnya. Sekarang aku tanya ada apa kau kemari pagi-pagi seperti ini" Brian mengalihkan pembicaraan. Bagaimanapun juga dia ingin merahasiakan tentang identitas Eliane yang sebenarnya dari Raymond.
"Aku datang karena gadis itu" jawab Raymond jelas.
Brian melotot kaget. "Apa maksudmu"
"Seseorang dari Red Draco menghubungiku dan memintaku untuk membujukmu menyerahkan gadis itu kepada mereka. Bagaimana bisa kau berhubungan dengan anggota Red Draco. Bukankah kau sangat menghindari membuat masalah dengan mereka?"
"Meski kau memaksaku, Aku tidak akan pernah menyerahkan Eliane" tolak Brian dengan penuh penekanan. Sekeras apapun Raymond memintanya dia akan tetap melindungi Eliane dari Red Draco.
"Astaga Brian. Jika kau tidak menyerahkan gadis itu. Hidupmu bisa dalam bahaya dan kau bisa dapat masalah. Mereka bisa saja mengarang cerita untuk menjatuhkan karirmu." ujar Raymond dengan cemas. Pasalnya Brian itu seorang aktor papan atas yang tidak pernah mempunyai skandal dengan seorang wanita. Jika sampai terjadi, maka hal itu akan sangat merepotkan dia selaku manager Brian.
"kan ada kau Ray. Sudah jadi tugasmu menyelesaikan semua masalahku" Timpal Brian enteng membuat Raymond tercengang dan tak habis fikir Brian semudah itu mengatakannya.
"Baiklah terserah kau mau berbuat apa. Aku tidak akan ikut campur. Kuharap kau tidak menyesal nantinya" akhirnya Raymond tidak mau berkata-kata lagi. Karena dia anggap percuma saja menasehati Brian yang keras kepala.
"Kau seharusnya paham dengan sifatku Ray, aku tidak pernah menyesali sesuatu yang pernah aku lakukan dalam hidupku"sahut Brian sinis lantas menutup pintu dengan kasar. Braaak.
Raymond memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam. Bersabar atas sikap Brian yang sekenanya. Ia berbalik pergi namun Brian kembali membuka pintu lagi. Raymond mengurungkan niatnya pergi dari tempat itu. Seulas senyum tipis menghiasi wajahnya. Ia berharap Brian menyadari kelakuannya dan meminta maaf.
" Ooh yaa aku baru ingat. Aku minta kau beli sepatu, baju dan semua kebutuhan wanita untuk Eliane. Kemarin aku lupa mau belanja. Aku tidak mau dia terus- terusan memakai bajuku" pinta Brian terkesan memaksa. Tanpa menunggu persetujuan Raymond Brian kembali menutup pintu dengan kasar.
Braaak.
Senyum Raymond seketika menghilang. Dia kehabisan kata- kata dan hanya bisa menghela nafas, sabar.
Dia pun memutuskan beranjak pergi dan menuruni anak tangga. Dia melihat Eliane tengah menatapnya tak berkedip. Raymond semakin marah.
"Wahai Nona, aku tak tahu apa maksud kedatanganmu kesini. Kuperingatkan kau, jika Brian terlibat skandal gara-gara kau. Akan kupastikan hidupmu tidak akan pernah aman. Aku sungguh tidak menyukaimu." kecam Raymond penuh penekanan dan melotot tajam.
Eliane hanya termangu dan sontak menganggukkan kepalanya. Dia sedikit bergetar. Ucapan Raymond terngiang-ngiang dibenaknya. Banyak pikiran negatif berkeliaran di otaknya, hingga dia merasa ketakutan. Mungkinkah dia menjadi ancaman bagi kehidupan Brian. Mengapa lelaki itu sangat membencinya. Apakah dia telah melakukan kesalahan? Eliane tidak tahu persisnya. Dia merasa bersalah. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan berhati-hati agar Brian tidak terkena masalah karenanya.
...TBC...
...Thanks for Reading...