Timantti

Timantti
Chapter Six



"Bagaimana Ray, kau sudah menemukannya" tanya Brian saat tiba di Rumah Raymond. Pagi ini Brian langsung ke rumah Raymond demi menenangkan kekhawatiran tentang kejadian tadi malam. Hampir semalaman dia dirudung rasa gelisah. Kejadian seperti ini bukan yang pertama kalinya. Sebelumnya dia sudah menangkap pelaku yang sering menerornya saat malam hari. Namun kali ini terulang kembali. Hidup sebagai artis terkenal tidak bisa menjamin hidupnya menjadi tenang. Pasti ada saja yang mengganggunya. Andai dia bisa memutar waktu, mungkin dia takkan memilih jalan ini. Kehidupan yang begitu menyesakkan dan memuakkan. Hingga adakalanya dia ingin menyerah dan menghilang. Keinginannya hanya satu, dia ingin hidup bahagia.


"Siapa yang kau maksud. Bodyguard atau pelaku tadi malam"


"Dua-duanya Raymond" pekik Brian tajam dengan nafas menderu.


"Kalau soal bodyguard, ini data-datanya. Kau bisa baca sendiri dan pilih salah satu. Kalau soal pelaku tadi malam, aku belum bisa menemukannya. Wajahnya tidak terlihat oleh kamera " jelas Raymond dengan tenang. Tidak memedulikan sikap Brian yang terlihat marah.


"Mungkinkah Dia orang yang sama?" Brian bertanya penasaran.


"Dilihat dari gerak-geriknya sepertinya sama, Brian"


"Ayolah Ray, biasanya masalah seperti ini kau mudah mengatasinya" pinta Brian dengan lembut. Dia berharap orang selama ini menerorny segera ditangkap.


"Semuanya itu juga butuh proses Brian. Andai saja kau tidak menambah pekerjaanku untuk mencari bodyguard baru. Mungkin aku bisa fokus mengurus masalah ini. Tapi nyatanya kau selalu membuat masalah, sampai-sampai aku kewalahan" sahut Raymond meninggi dan tidak mau kalah.


"Iya maaf Ray, salah kau sendiri mencari bodyguard yang nggak kompeten. Aku kan jadi memecatnya." Sahut Brian sekenanya. Merasa tak bersalah.


"Bukan tidak kompeten. Hanya saja kau yang kebanyakan tingkah" timpal Raymond geram. Karena acapkali dia mencarikan bodyguard untuk Brian pasti tingkah laku Brian aneh-aneh hingga bodyguardnya lebih baik mengundurkan diri karena tidak kuat menghadapi sikap Brian.


"Sudahlah. Aku tidak ingin berdebat denganmu" ujar Brian sembari bangkit.


"Kau mau kemana"


"Ya Pergi. Urusanku denganmu kan sudah selesai." ucap Brian tanpa menolah. Dia melangkah pergi.


"Tidak boleh. Jangan pergi dulu. Ini ada beberapa tawaran drama baru untukmu. Kau juga ada jadwal pemotretan. Baca dulu sebelum pergi."cegah Raymond sembari menyodorkan tumpukan kertas dan melemparnya ke meja.


"Aissh kenapa harus sekarang." omel Brian tak bersemangat.


"Brian--"Ray memanggil dengan melotot tajam.


"Oke oke" sela Brian menurut dan mengambil naskah di atas meja. Dia membuka halaman demi halaman.


"Oh ya Ray, aku ingin menanyakan satu hal, apakah kau tahu daerah bernama Ranah Oorun." ucap Brian disela-sela membaca naskah drama.


"Apa? Ranah Oorun? Terdengar asing. Memang kau mendengar dari mana." Dahi Raymond berkerut keheranan.


"Lupakan saja." Potong Brian cepat karena sepertinya percuma saja tanya ke Raymond karena dia tampaknya juga tidak tahu. Dia menatap naskah yang ada di tangannya. Matanya memang melihat naskah namun pikirannya melayang. Dia memikirkan tentang asal usul Eliane yang belum jelas. Semalaman dia mencari tahu di internet namun tidak ada daerah di manapun yang bernama Oorun. Di peta pun juga tidak ada. Sebenarnya Eliane itu siapa dan berasal dari mana. Apa benar dia dari planet lain seperti alien yang ada.di film. Namun anehnya dia bisa berbahasa inggris yang berarti ada kemungkinan Eliane adalah manusia seperti dirinya. Tapi setelah diingat-ingat Eliane juga kadangkala berbicara dengan bahasa yang tidak mengerti bahasa oleh Brian.


***


Eliane keluar dari kamar tepat pukul 11.00 KST. Dia baru bangun tidur, karena semalaman Dia tidak bisa tidur karena terbayang-bayang lukisan dan guci yang bergambar naga merah. Lukisan itu sangat mengganggu pikirannya dan membuatnya mencurigai Brian. Apa benar Brian anggota Red Draco? Rasanya Dia ingin bertanya malam itu juga, namun Brian terlanjur tidur duluan. Eliane juga teringat sebenarnya apa yang di katakan Brian malam itu bagaimana bisa dengan mudahnya orang-orang Red Draco menyerah begitu saja. Selain itu, Eliane juga berpikir keras penyebab dia bisa terdampar di dunia ini. Bagaimana bisa dia berpindah ke dunia lain saat dia memegang Timantti miliknya. Timantti yang seharusnya ada di tangannya saat ini harus kembali hilang gara-gara perpindahannya ke dunia ini. Dunia yang tidak dia kenali dan entah apakah nasibnya bakal menjadi baik atau buruk. Pada akhirnya Eliane baru tidur menjelang subuh dan bangun kesiangan.


"Hello Aunt. What are you doing" sapa Elian kepada Bibi Deo yang tengah memasak di dapur.


"Maaf Nona, Anda berbicara apa ya... kalau anda mencari Tuan Brian, dia sedang pergi. Tuan hanya menitipkan ini untuk nona" ucap Bibi Deo seraya mengambil kamus yang ada di dekatnya lalu menyerahkannya ke Eliane.


Gawat. Bibi ini berkata apa. Dan kenapa dia mengulurkan buku tebal itu. Apakah dia ingin memberikannya kepadaku. Ah mungkin aku harus menerima buku itu. Batin Eliane panik. Dia menerima buku itu dan Bibi Deo tidak berkata apa-apa lagi.


Bibi Deo membungkukkan badan lantas kembali berkutat dengan pekerjaannya.


Eliane menatap bergantian Bibi Deo dan membalik-balik kamus yang ada di tangannya. Waah apa-apaan ini. Dia sungguh memberiku kamus. Batin Eliane kesal setelah membaca judul covernya. Saat membukanya Eliane menemukan secarik kertas. Dia membukanya dan membacanya.


I go out


By: Brian


"Apa hanya ini saja" gerutu Eliane dengan berbahasa kerajaannya. Dia bertambah kesal karena Brian hanya menulis tiga kata yang menurutnya tidak penting.


Eliane memutuskan duduk di meja makan dan meletakkan kamus itu. Dia mencomot makanan yang tersedia di meja.


Ini enak. Batin Eliane dan terus-terusan makan sampai kenyang. Begitu kenyang Eliane berpindah ke ruang tengah dan menghempaskan tubuhnya di sofa. Tanpa sengaja dia menduduki remote televisi, membuat televisinya menyala.


Meong..meong..suara Daisy mendekat menyadarkan Eliane.


Dia semakin khawatir, takut Daisy terluka.


"jangan kemari Daisy. Pergi." ucap Eliane setengah berbisik. Namun Daisy tak menggubris Eliane, malah semakin mendekat dan menggosok-gosokkan kepalanya di badan Eliane.


"Nona, kau sedang apa?" Tanya Bibi Deo heran melihat tingkah Eliane.


Eliane melihat Bibi Deo yang sudah ada di sampingnya dan terlihat heran. Perlahan Eliane menurunkan tangannya dan tersenyum menahan rasa malunya. Dia baru menyadari sesuatu. Astaga memalukan sekali. Bukankah itu televisi dalam bentuk yang lebih modern. Batin Eliane membodohi diri sendiri. Wajahnya memerah menahan malu.


Bibi Deo meninggalkan Eliane. Dia masih keheranan dan ingin bertanya namun dia urungkan karena dia menyangka Eliane tidak tahu bahasanya.


"Astaga Daisy aku malu sekali. Kenapa kau tidak bilang itu TV" ucap Eliane sembari membelai kepala Daisy lalu memangkunya.


Meong..sahut Daisy lalu menggaruk telinganya.


"Apa katamu! Apa barusan kau mengolok-olokku" Eliane memegang kedua pipi Daisy dan mencubitnya dengan gemas.


Daisy terlihat pasrah dengan tingkah Eliane.


"Apa kau sudah makan?" ucap Eliane dengan menatap kedua bola mata Daisy yang berwarna biru.


Meong..


Tanpa Eliane sadari, Bibi Deo tengah memperhatikannya. Tingkah Eliane yang aneh menimbulkan tanda tanya besar di pikirannya. Mungkinkah nona itu gila? Batin Bibi Deo bergidik ngeri dan kembali bekerja.


Matahari hampir terbenam dan Brian belum pulang. Bibi Deo juga sudah pamitan pulang. Jadilah Eliane di rumah sendirian hanya di temani Daisy yang tengah tertidur di kandangnya. Tak banyak yang dia lakukan, dia hanya membolak balik kamus sejak tadi hingga rasa bosan menyerangnya.


Tiba-tiba ada robot pembersih berbentuk bulat bergerak mendekati kaki Eliane. Spontan Eliane terlonjak kaget dan berteriak "Aaaaa" dia pun menaiki sofa karena ketakutan.


"Ada apa Nona Eliane" tanya Brian yang baru pulang dengan nada khawatir dan menghampiri Eliane yang berlutut di atas sofa."What's wrong miss?" Brian bertanya lagi dengan mengganti bahasanya.


"Itu Brian. Ada serangga raksasa."jawab Eliane seraya menunjuk ke arah samping sofa


Brian melongokkan kepalanya berusaha melihat sesuatu yang dikira serangga raksasa.


"Astaga El..itu Vacuum cleaner"ucap Brian menepuk jidat.


"Benarkah itu penyedot debu?" Eliane bertanya karen belum percaya.


Brian menganggukkan kepala. Meyakinkan.


"Astaga Kukira serangga. Aku baru tahu ada vacuum cleaner secanggih ini" sahut Eliane nyengir seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Lantas dia pun turun dari sofa dan mengamati vacuum cleaner dari dekat.


Brian menepuk jidat dan mengusap kepalanya kasar, frustasi. Rasa penasarannya semakin mencuat. Dia benar-benar penasaran dengan asal-usul Eliane. Apa benar Eliane adalah seorang alien yang terdampar di Bumi seperti yang terjadi dalam film-film?. Seketika itu diamendekati Eliane dan menarik Eliane sehingga mereka berdiri berhadapan. Brian memegang kedua pipi Eliane, memaksa Eliane menatapnya.


"Nona Elian..aku sungguh penasaran. Jawab aku dengan jujur. Sebenarnya kau itu siapa dan berasal dari mana?"


Eliane membelalakkan matanya dan melepaskan diri dari cekalan Brian. Dia tidak nyaman dengan sikap Brian barusan. Namun dia tidak bisa berkutik. Cekalan tangan Brian terlalu kuat.


Dia memutuskan menatap dalam mata Brian dan bertanya"Apa kau sungguh ingin tahu kebenaran tentang diriku Brian?"


Brian mengerutkan kening tak mengerti.


Eliane hanya menyeringai tipis.


...TBC...


...Thanks for Reading...