Timantti

Timantti
Chapter Three



"Kalau boleh tahu namamu siapa Nona." tanya Brian memecah keheningan di dalam mobil dengan pandangan tetap fokus menyetir.


"Eliane Lavendiom. You can call me Elian." jawab Eliane dengan sedikit tersenyum. Dia masih berbahagia karena Brian menolongnya dan akan membawanya ke rumah Brian.


"Hmm..nama yang cantik seperti orangnya."puji Brian membuat Eliane tersipu dan seketika mengalihkan pandangannya keluar jendela untuk menyembunyikan pipi meronanya.


"Namamu mirip seperti adik ku. Namanya Lim Li An. Sedangkan namaku Lim Bi An. Aku sedikit mengubah namaku karena pekerjaanku menjadi Lim Brian. Kau bisa memanggilku Brian" lanjut Brian memperkenalkan diri.


"Ooh so your name is Brian." ulang Eliane dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Yes miss Elian..."jawab Brian singkat


"What is your job Brian?" Eliane kembali bertanya.


"I'm an actor." jawab Brian singkat penuh percaya diri.


Eliane menganggukkan-anggukkan kepalanya seolah mengerti sembari kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela. "Maonero eguta iri akanaka kwazvo (Pemandangan kota ini sangat indah)" Gumam Eliane saat memandangi gemerlap lampu gedung dan kantor yang gemerlapan sepanjang jalan.


"Hej nisi li to ti (hei bukankah itu kau)"seru Eliane tiba-tiba dengan wajah terkejut sembari memegang bahu Brian. Sedangkan tangan satunya menunjuk papan iklan raksasa di atas salah satu gedung pencakar langit.


"What are you saying Miss." sahut Brian sedikit jengkel. Dia bergantian melihat Eliane dan berusaha fokus ke depan.


"Sorry..sorry, Isn't that you." ucap Eliane mengganti bahasanya sembari menunjuk papan iklan. Dia benar-benar penasaran.


"Yes, that's me." jawab Brian tanpa ragu. Seulas senyum menghiasi wajahnya.


"Sepertinya kau terkenal di kota ini. Ngomong-ngomong nama kota ini apa Brian" tanya Eliane dengan polosnya.


"Apa maksudmu?" Brian mengerutkan kening dan menatap Eliane dengan tatapan menyelidik. Dia merasa aneh dengan sikap Eliane yang bersikap bodoh. "This is korea, Elian."


"Yeah maaf aku sungguh tidak tahu Brian" sahut Elian santai dan polos. "Osim toga, još uvijek ne razumijem zašto sam odjednom ovdje (aku juga masih belum mengerti kenapa tiba tiba aku ada di sini)" gumamnya sembari menatap sendu jalanan. Dia tiba-tiba teringat berbagai kejadian yang menimpanya beberapa hari lalu. Hingga dia terdampar di kota ini. Kota yang sangat asing baginya. Dia juga teringat Calvin. Bagaimana kabar Calvin. Apakah Calvin tahu dia tidak ada di Ranah Oy dan sedang mencarinya?


Brian memerhatikan wajah Eliane yang tengah memandang keluar jendela. Entah apa yang di pikirkan Eliane namun Brian merasa iba. Lantas tanpa sengaja Dia melihat daun kering yang menempel di rambut Eliane. "Maaf nona, ada sesuatu di rambutmu" ucap Brian sembari mengambil daun itu.


Tiba-tiba Eliane menoleh hingga membuat tangan Brian menyentuh pipinya.


"Maaf nona, aku hanya ingin mengambil ini" sesal Brian seolah menyadari Eliane tidak suka dengan tindakanya sembari menunjukkan daun itu pada Eliane yang tampak terkejut.


Tunggu, bukankah Brian barusan berbahasa korea dan aku sempat mengerti bahasanya. Batin Eliane berfikir keras. Dia tanpa berkedip menatap Brian hingga membuat Brian salah tingkah. Sebenarnya hal apa yang menyebabkan Dia bisa mengerti bahasanya Brian. Eliane berpikir cukup keras tapi saat ini masih buntu.


"Kalau boleh tahu nona, memangnya kamu dari negara mana sehingga tidak tahu kota ini." Brian lanjut bertanya memecah keheningan.


"Ranah Oorun" jawab Eliane sembari menyandarkan punggungnya, pening karena tidak menemukan jawaban.


"Hah Ranah Oorun? Aku baru mendengar nama itu. Apakah itu nama desa." Brian balik terkejut dan bertanya-tanya.


"Hahaha" Brian tiba-tiba tertawa."Apa kerajaan. Jangan bercanda Elian. Sekarang sudah zaman modern bukan era joseon lagi." ucap Brian masih terkekeh.


"Aku tidak bercanda Brian. Aku berbicara apa adanya." sahut Eliane kesal membuat Brian segera membungkam mulutnya dan kembali memasang wajah serius.


"Maaf. Aku hanya belum percaya kau dari Oorun" Brian merasa bersalah.


"Terserah kau mau percaya atau tidak. Tetapi itu kebenarannya. Aku dari Oorun." Eliane masih cemberut dan berusaha meyakinkan Brian yang masih sangsi.


" Okay katakanlah aku tahu Oorun itu dimana. Kalau boleh tahu apa alasanmu, kau kabur dari rumah. Pasti orangtuamu mencemaskanmu." Brian mencari topik lain agar tidak canggung. Lagipula dia juga masih penasaran banyak hal tentang Eliane seain asal usulnya.


"Haruskah aku memberitahumu Brian." Eliane merasa keberatan. Dia tertunduk lesu "Lagipula, orangtuaku sudah tiada." ucap Eliane pelan membuat Brian terkejut.


Spontan Brian memandangi Eliane yang tengah memejamkan matanya.


" Maaf jika ini menyinggungmu. Jika kau keberatan jangan katakan." Brian merasa menyesal dan ingin menepuk pundak Eliane tpi dia urungkan.


"Terimakasih atas pengertianmu Brian." Eliane kembali memasang wajah ceria. Dia tersenyum tipis. "Hmm


Bolehkah untuk sementara ini aku tinggal di rumahmu." pinta Eliane tiba-tiba sembari memasang wajah memelas.


"Tapi aku tinggal sendirian Elian." jawab Brian berusaha menolak. Bukannya keberatan. Hanya saja dia tinggal seorang diri dan tidak mungkin seorang pria dan wanita tinggal satu rumah.


"Dimana orangtuamu? Bukankah kau tadi berkata mempunyai adik perempuan."


"Sama sepertimu, orangtuaku juga sudah tiada. Aku memang punya adik perempuan namun kita sudah berpisah selama 20 tahun yang lalu.Aku saja tidak tahu sebenarnya dia masih hidup atau tidak." Brian menjawab dengan setegar mungkin. Meski sebenarnya dia sedih namun seulas senyum menghiasi wajahnya.


"Ternyata kita punya nasib yang sama Brian. Aku juga punya kakak dan sudah berpisah selama 15 tahun. Jujur aku sangat merindukannya. Aku sangat berharap dia masih hidup dan kita kembali di pertemukan." ucap Eliane menundukkan kepalanya. Suaranya terlampau serak menahan tangis.


Brian sempat menatap iba Eliane. Dia tidak menyangka Eliane juga memiliki nasib yang sama dengannya. Sepertinya kehidupannya tidak berjalan mulus. Buktinya Eliane melarikan diri dari rumah yang seharusnya menjadi tempat untuk kembali. Apakah mungkin permasalahan yang Eliane hadapi begitu rumit, hingga Eliane terlihat sangat tertekan. Brian ingin bertanya, namun Dia urungkan, Dia ingin menghargai privasi Eliane yang tak ingin berbicara soal kehidupannya.


"Hmm..baiklah Nona, untuk sementara ini kau boleh tinggal di rumahku." ucap Brian tiba-tiba berubah pikiran. Setidaknya hal tersebut bisa membuat Eliane senang.


"Sungguh, kau tidak bercanda kan." Eliane masih terkejut tidak percaya. Tapi dalam hati dia bersorak kegirangan.


Brian menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


Wajah Eliane langsung sumringah. " Terimakasih Brian. Kau baik sekali"


...TBC...


...Terimakasih telah membaca ceritaku. Maaf jika masih banyak typonya. Terimakasih juga untuk vote dan komentarnya....