
"Wow ini rumahmu Brian." puji Eliane saat mereka sampai di depan rumah Brian. Rumah dua lantai yang tak terlalu besar namun terkesan mewah. Elian tak henti-hentinya memandang dengan kagum.
"Selamat datang di rumahku Nona Elian." Brian mempersilahkan Eliane dengan sedikit membungkukkan badan.
Eliane bertepuk tangan. Dia masih sumringah."Keren. Di rumah ini kau tinggal sendirian."
"Yeah like that." balas Brian santai sembari mengedikkan bahu. Dia merasa tak masalah tinggal seorang diri di rumah sebesar ini.
"You're not lonely." tanya Eliane masih keheranan.
Brian mengedikkan bahu sembari tersenyum. " Come in." Brian mengajak Eliane masuk rumah karena udara malam semakin menusuk tulang.
Saat mereka hendak masuk, dari dalam rumah keluar seorang ibu paruh baya dan menundukkan badan saat berhadapan dengan Brian.
"Tuan Brian, bibi pamit pulang dulu." Ucap Bibi itu.
"Oh iya Bi, terimakasih untuk hari ini." Sahut Brian dengan tersenyum. Lantas Bibi itu berlalu dari hadapan mereka.
"Who is that." Tanya Eliane sembari memerhatikan Bibi yang berjalan menjauh.
"Namanya Bibi Deo. Dia yang membantu membersihkan rumah ini. Rumahnya tidak jauh dari sini." jelas Brian sembari masuk rumah.
Eliane manggut-manggut sembari mengikuti Brian memasuki ruang tamu.
Eliane semakin terkagum-kagum dengan interior rumah Brian yang di desain dengan desain skandinavia. Ditambah dengan lukisan-lukisan klasik yang menghiasi dinding dan Guci-guci antik menghiasi sudut ruangan.
Tiba di ruang tengah , mereka disambut dengan suara kucing yang mengeong.
Meong..meong.. Kucing berwarna putih bersih itu menghampiri Brian dan menggosokkan kepalanya di kaki Brian.
"This is your cat?" Eliane bertanya sembari berlutut dan membelai kepala kucing itu dengan lembut.
"Bukan. Kucing itu milik temanku. Dia menitipkan disini karena sedang pergi keluar negeri." jelas Brian sembari memunggungi Eliane dia berjalan menuju salah satu kamar.
"Ooh.. hey ologbo.. kini orukọ rẹ (Ooh.. hai kucing.. namamu siapa)" sapa Eliane pada kucing itu dengan memakai bahasanya sendiri.
Meong...jawab kucing itu sembari menggosokkan kepalanya di tangan Eliane. Dia seolah mengerti apa yang diucapkan Eliane. Kucing itu bersikap manja dengan Eliane yang baru ditemuinya.
"Nama kucing ini siapa Brian?." Eliane bertanya lagi.
"Daisy." jawab Brian singkat sembari melihat Eliane sekilas. Dia membuka pintu salah satu kamar.
Namanya mirip seperti nama kucing milik kak Isan dulu. Batin Eliane sedih karena kembali teringat kakaknya. Dia semakin gemas dengan Daisy yang memiliki bulu yang lembut juga lebat dan berwarna putih bersih.
"Ini kamar untukmu. Kau bisa menempatinya."ucap Brian saat berdiri disamping pintu kamar yang berada di ruang tengah "Mandilah terlebih dahulu. Nanti aku antarkan baju ganti untukmu." ujar Brian kemudian berlalu. Dia menuju kamarnya yang ada dilantai dua.
Eliane menganggukkan kepalanya. Sebelum pergi Dia kembali membelai kucing itu dengan lembut lantas bangkit memasuki kamarnya. Kucing itu hanya mengeong pelan saat Eliane pergi.
Tiba di kamar, sejenak Eliane memerhatikan isi kamar itu. Ada satu set tempat tidur, meja rias, lemari baju, sofa dan kamar mandi. Dia membuka lemari yang kosong. Kemudian Dia melihat kamar mandi dan sempat tertegun melihat pantulan dirinya di cermin. Dia memutuskan untuk menunggu Brian mengantarkan baju ganti untuknya. Sembari menunggu, Dia berusaha konsentrasi, ingin mencoba kekuatannya. Dan benar saja, Dia bisa menghilang walau sebentar.
"Hei kenapa diam saja. Kau belum mandi." Tegur Brian mengagetkan Eliane yang melamun.
"Hehe..not yet" Eliane menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aku menunggu baju ganti darimu." Eliane memberi alasan.
"Astaga. This" Brian memberikan kaos pendek dan celana training. "Setelah kucari diantara baju-bajuku, Menurutku hanya itu yang cocok untukmu"
"Thanks Brian" Eliane menerima baju itu dengan senang hati.
"Selesai mandi. Temui aku di luar." ujar Brian datar lalu pergi.
"Okay" jawab Eliane sembari menutup pintu.
Beberapa menit kemudian Eliane keluar dari kamar dan menghampiri Brian yang tengah menunggunya di ruang tengah dengan kotak P3K berada di meja. Brian ingin mengobati kaki Eliane yang terluka.
"Come here." Brian menyuruh Eliane duduk disampingnya.
Eliane menurut tanpa banyak tanya. Dia duduk tepat di sisi Brian.
"Astaga lihatlah kakimu terluka seperti ini." Omel Brian sembari berlutut dan memegang kaki Eliane yang terluka. "Memang kemana sepatumu. Kenapa kau tidak memakainya." Spontan Brian mengomel panjang lebar dengan bahasa daerahnya.
"Entahlah aku lupa meninggalkannya dimana." sahut Eliane santai. Namun dengan cepat Dia menyadari sesuatu. "Tunggu sebentar Brian, bukankah barusan kau berbicara dengan bahasa daerahmu." ucap Eliane kembali kaget karena ini kedua kalinya dia bisa mengerti bahasa yang diucapkan Brian.
Brian mengedikkan bahu. "Entahlah. Aku lupa." Brian tidak mau ambil pusing. Dan tampak abai.
"Ayolah Brian belum ada 5 menit masa kau sudah lupa." bujuk Eliane memelas.
"Memangnya kenapa sih El..seandainya aku berbicara dengan bahasaku,pastinya kau tidak akan mengerti kan." bantah Brian membuat Eliane terdiam. Dia membenarkan ucapan Brian barusan. Mana ada seseorang jika dia tidak pernah belajar bisa mengerti langsung mengerti bahasa asing. Tapi Eliane tetap bersikeras dengan rasa ingin tahunya.
"Itu masalahnya. Aku sangat yakin tadi kau berbicara dengan bahasamu. Namun anehnya aku bisa mengerti bahasamu itu. Coba kau berbicara lagi dengan bahasamu." desak Eliane tidak sabaran.
"Ada-ada saja kau ini. Tidak mungkinlah ada orang yang langsung mengerti bahasa asing tanpa adanya belajar lebih dahulu." Gerutu Brian kesal karena merasa ucapan Eliane tidak masuk akal.
"Wah wah.. ini keajaiban Brian aku benar-benar bisa mengerti ucapanmu." ucap Eliane membelalakkan matanya sembari menutup mulutnya tidak percaya.
"Sudahlah..itu tidak penting sekarang. Yang penting sekarang kakimu harus di obati.
Lain kali kalau berniat kabur jangan pergi ke hutan, itu berbahaya." omel Brian sembari mengoleskan obat ke kaki Elian. Dia mengobati kaki Eliane dengan telaten.
"Awalnya aku ingin pergi ke Ranah Oy namun aku bertemu dengan prajurit sialan itu. Awas saja kalau aku bertemu mereka lagi. Aku akan membalas perbuatan mereka."Eliane menjelaskan perihal kejadian yang menimpanya.
"Berhentilah berbicara omong kosong." ucap Brian membuat Eliane kembali bungkam. Tidak mau melanjutkan ceritanya.
"Wajar saja kau tidak memercayaiku. Aku saja masih tak habis pikir bagaimana bisa aku ada di dunia ini."
"Hahaha..apa kau bilang. Dunia ini. Memangnya kau ini alien yang datang dari planet lain. Berhentilah mengada-ngada." sahut Brian masih terkekeh pelan.
"Brian kau bisa mendengarkan penjelasanku dulu. Ini memang tidak masuk akal. Tapi aku tidak berbohong." ucap Eliane berusaha meyakinkan Brian namun tidak berhasil. Brian masih belum memercayai perkataan Eliane yang tidak masuk akal.
"Syuut. Diamlah. Kurasa kau kelelahan. Sebaiknya kau istirahat." Saran Brian begitu selesai mengobati kaki dan tangan Eliane.
"Tidak mau sebelum kau memercayai apa yang akan aku katakan." Eliane merajuk dan cemberut.
"Terserahlah terserah kau mau apa. Yang jelas aku mau tidur. Sekarang hampir tengah malam Nona Elian." sela Brian hendak pergi.
"Brian.." panggil Eliane membuat langkah Brian terhenti.
"Especially." tanya Brian sambil menoleh.
"I'm hungry" jawab Eliane dengan memasang wajah memelas sembari memegangi perutnya.
Brian mengusap wajahnya kesal. "Baiklah. Ayo ke dapur." ajak Brian sabar dan mengubah arah langkahnya.
"Yes.." sahut Elian dengan sumringah.
Tiba-tiba ting.. tong..bel rumah Brian berbunyi.
Brian terlonjak kaget dan menghentikan langkahnya Dia memberi isyarat agar Eliane diam dan berjalan mengendap-ngendap menuju layar intercom yang ada di dekatnya. Dalam layar Brian tidak mendapati seseorang. Dia mulai gelisah, Karena sudah beberapa malam ini Dia diteror seperti ini. Sampai saat ini pun Dia belum tahu siapa pelaku yang sering menerornya itu. Dia menduga bahwa ini ulah salah satu fans fanatiknya.
"Ada apa Brian." Tanya Elian setengah berbisik dan mengikuti Brian melihat intercom.
"Bukan apa-apa. Ayo ke dapur saja." ajak Brian tidak ingin memberitahu kekhawatirannya selama ini. "Tapi aku tidak yakin ada makanan. Soalnya tanpa aku pinta Bibi tidak pernah menyiapkan makanan."
Brian melihat isi kulkas. Hanya ada kimchi dan sereal. Dia mengeluarkan kotak berisi kimchi dan kotak sereal "Ini makanlah seadanya." ucap Brian sembari mengambil mangkuk dan menuangkan sereal lantas menuangkan susu.
"Aku tidak akan melupakan kebaikanmu ini."
"Nikmatilah. Maaf karena tidak bisa memberikan makanan yang layak untukmu." ucap Brian merasa menyesal.
"It's okay. Thank you"
Tiba-tiba ponsel Brian berdering. Begitu melihat siapa yang menelpon, Tanpa pikir panjang, Dia langsung mengangkatnya.
"Halo Ray..kau di mana" ucap Brian dengan gelisah.
"Oh begitu. Bagaimana? kau sudah menemukan orang"
"Ayolah. Secepatnya. Malam ini Dia datang lagi"
"Aku baik-baik saja"
Eliane memerhatikan Brian yang tengah berbicara dengan seseorang namun dia tak bisa memahaminya.
Setelah di ingat-ingat, Dia bisa mengerti bahasa Brian saat Dia dan Brian saling melakukan kontak fisik. Begitupun tadi, Brian tengah mengobati kakinya. Seketika itu, Eliane berdiri dan memegang tangan Brian.
Brian jadi terkejut dan menatap Eliane meminta penjelasan.
Eliane hanya tersenyum tipis. Benarkan dugaanku. Aku bisa mengerti bahasanya jika kita melakukan kontak fisik seperti ini. Batin Eliane kegirangan.
"Iya...iya Ray aku mengerti. Berhentilah mengomel. Pokoknya besok kau harus bawa orang. Pastikan saja Dia orang yang bermental baja." Pungkas Brian dengan penuh penekanan lalu memutus sambungan.
"Apa yang sedang kau lakukan. Kenapa kau memegang tanganku." tanya Brian heran.
"Ingin memastikan dugaan bahwa aku bisa mengerti bahasamu."
"Lagi-lagi kau berbicara omong kosong Lepaskan tanganku." sahut Brian mulai lelah dengan segala perkataan Eliane.
"Sebentar saja Brian, dengan begini perlahan aku bisa berbicara dengan bahasamu."
"El...let go" Brian menarik paksa tangannya agar terlepas. "Kalau kau ingin bisa berbicara korea. Belajarlah. Aku mempunyai kamus yang bisa kau pelajari dan kau hafalkan."Brian berusaha memberi saran yang masuk akal.
"Tidak perlu Brian, berpegangan tangan adalah cara yang paling ampuh dan cepat. Buktinya aku bisa mengerti bahasamu." jawab Elian bersikukuh dengan pendiriannya.
Brian mengusap wajahnya kesal. Lebih tepatnya Dia lelah menanggapi ucapan Eliane yang sangat tidak masuk akal.
"Nona Eliane aku ingin istirahat. Selamat malam." pamit Brian tanpa memedulikan apa yang akan di lakukan Elian. Yang jelas hari ini sangat melelahkan untuknya.
Eliane hanya memandang kosong punggung Brian yang melangkah menuju kamarnya di lantai dua. Kemudian Dia juga berniat masuk ke kamar. Namun langkahnya terhenti saat melihat satu lukisan di ruang tengah. Lukisan dengan gambar naga merah yang menarik perhatiannya. Perlahan Dia mendekati lukisan itu dan tertegun. Eliane menyadari sesuatu bahwa arti dari Red Draco adalah naga merah. Dan setelah di perhatikan ada satu lukisan lagi yang bergambar naga merah dan guci yang berukiran gambar naga merah. Mungkinkah ini hanya kebetulan atau jangan-jangan Brian bagian dari Red Draco? Lantas jika benar, akankah Dia kembali hidup menderita. Bisa jadi penderitaannya lebih parah, mengingat Dia hidup di dunia lain. Tanpa ada seorang pun yang mengenalnya.
...TBC...
...Terimakasih telah membaca ceritaku. Dan terimakasih juga vote dan komentarnya🙏...