
Alunan musik menggema memenuhi salah satu ruangan mewah didalam hotel tengah kota. Ditengah orang-orang yang berada di ruangan itu, sebuah televisi dibiarkan menyala. Salah satu dari media televisi tersebut tengah gencar menayangkan berita terbaru mengenai peluncuran episode pertama drama berjudul Magic Flower. Drama tersebut memperoleh Rating 11,7%. Angka yang cukup tinggi untuk kategori permulaan. Kenapa bisa seperti itu tak lain tak bukan karena diperankan oleh aktor terkenal idola kaum hawa bernama Brian Lim. Tubuhnya tinggi tegap dengan guratan wajah yang sempurna tampan dan iris matanya kecoklatan. Sosok lelaki yang terkenal dengan sifatnya yang baik hati, ramah dan selalu tersenyum kepada semua orang. Satu hal lagi yang membuat orang-orang menyukainya yakni dia tak memilih siapapun yang membutuhkan bantuannya.
"Selamat Brian. Kau sudah bekerja keras. " sapa Tiffany Yeo, lawan main Brian di drama barunya dan berdiri di sisi Brian.
"Selamat juga untukmu Nona Yeo. Kau juga sudah bekerja keras" sahut Brian sembari tersenyum.
"Aku tidak menyangka. Penayangan perdana drama kita meraih rating 11,7%. Semua ini berkat actingmu yang luar biasa." Nona Yeo memuji Brian sembari mengacungkan jempolnya.
Brian terkekeh pelan."Kau bisa saja nona. Tanpa dirimu aku bukanlah siapa- siapa. Kau juga sangat menakjubkan. Actingmu tak kalah keren" Brian balik memuji Tiffany hingga mereka sama-sama tersenyum bahagia. Tiba-tiba ada yang memanggil Tiffany.
"Hei Tiffany Yeo."
Tiffany menoleh dan melihat Seo Da yi melambaikan tangan ke arahnya. Dia tersenyum lebar melihat temannya itu
"Selamat atas keberhasilan drama barumu" Ucap Da yi memberikan selamat. Dia tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya.
"Terimakasih Da yi." balas Tiffany membalas uluran tangan Da Yi sembari tersenyum. "Oh ya Brian.. kenalkan ini temanku Da Yi. Dia putri PD seo. Pemilik FL Entertainment." ucap Tiffany menatap Brian yang terlihat asing saat melihat Da Yi.
"Wah senang bertemu dengan anda Nona " Ucap Brian sedikit terkejut saat menyadari Da Yi adalah putri PD Seo. Brian pun mengulurkan tangannya dan tersenyum ramah.
"Aku juga senang bertemu langsung denganmu Brian. Aku sangat menyukai drama- drama yang kau mainkan" balas Da Yi sembari menjabat tangan Brian. Dia tak kalah senang karena bisa bertemu langsung dengan aktor favoritnya. Apalagi bisa bertatap langsung sedekat ini.
.
"Terimakasih Nona. Tak kusangka aku memiliki penggemar seperti Anda." sahut Brian merasa tersanjung dan bersyukur.
"Brian kau sangat beruntung" Tiffany menimpali dengan senyuman.
Brian terkekeh pelan.
"Sudah ya aku pergi dulu. Ayah memanggilku" ujar Da Yi sembari melihat ke arah PD Seo yang melambaikan tangan memintanya untuk kembali ada di sisi ayahnya.
" Iya aku harap juga begitu" balas Da Yi sembari tersenyum. Lantas ia mendekatkan bibirnya ke telinga Tiffany. "Selamat bersenang-senang. Dia sangat tampan" goda Da Yi membuat Tiffany melotot tajam. Pipinya merona karena malu. Sebenarnya dia sudah lama memendam perasaan terhadap Brian. Da Yi hanya cengengesan sembari berlalu dari hadapan Tiffany.
"Oh ya dimana Raymond." Tanya Tiffany untuk memecah keheningan sepeninggal Da Yi dan menghilangkan rasa gugupnya. "Apa dia tidak ikut ke pesta" Tiffany celingukan mencari sosok manager Brian.
"Dia tidak mau datang padahal aku sudah mengajaknya. Katanya ada urusan yang harus Dia selesaikan. Hmm... sepertinya dia sibuk mencarikan bodyguard baru untukku" jelas Brian sembari menyesap gelas winenya. Santai.
"Kau sangat beruntung memiliki manager yang sangat perhatian dan cekatan seperti Raymond. Selama ini kau tak pernah memiliki skandal" puji Tiffany. Dia cukup tahu kehidupan Brian selama ini. Sebagai aktor papan atas, Brian sangat minim sekali terlibat skandal. Selain karena dia memiliki manager yang cekatan, dia juga termasuk seseorang yang memiliki dilindungi oleh pihak yang sangat berpengaruh di Korea.
"Memang dia perhatian tapi kau belum tahu jika Dia sudah mengomel. Telingaku serasa menjadi tuli karena mendengar ocehannya yang panjang lebar." oceh Brian santai lantas tertawa. Dia memang terbiasa mengolok-olok managernya itu.
Tiffany tersenyum tipis sembari memerhatikan Brian yang tertawa lepas. Bagaimanapun juga Dia sangat mengagumi sosok Brian yang memiliki wajah tampan tanpa ada kekurangan itu dan kehidupannya yang terbilang sukses di usianya yang menginjak umur 28 tahun.
...***...
Malam semakin larut, bulan sabit menghiasi langit. Cahaya yang tak terlalu terang menyinari pepohonan di distrik yang sepi. Tampak Eliane tengah berlari ketakutan. Sekelompok lelaki berbaju hitam terlihat mengejarnya. Pakaiannya koyak, kakinya terluka. Dia terus berlari hingga tibalah di jalan raya.
Sebuah mobil Kia tampak melaju kencang ke arahnya. Eliane termangu. Dia menatap kosong cahaya lampu mobil yang menyilaukan mata. Mungkinkah akan ada lagi pusaran hitam yang membawanya pergi kembali. Pikirnya pasrah. Mobil itu semakin dekat dan hampir menabraknya. Namun entah kenapa tubuh Eliane memancarkan cahaya hingga membuat mobil itu berhenti seketika dengan jarak 5 cm.
Brian pengemudi mobil itu sangat terkejut saat menyadari ada seorang wanita berdiri di tengah jalan. Dia yang setengah mabuk berusaha menghentikan mobilnya namun tiba-tiba Dia merasakan pusing hingga tidak bisa fokus menyetir. Brian sudah memejamkan matanya pasrah dengan apa yang akan terjadi. Seperkian detik kemudian tidak terjadi apa-apa. Mobilnya berhenti.Benarkah Dia sudah menabrak seseorang. pikirnya panik. Dengan badan gemetar Dia keluar mobil dan berniat melihat korbannya. Namun Dia terkejut saat melihat wanita itu tengah duduk jongkok tepat di depan mobilnya.
"Wahai Nona apa kau baik-baik saja" tanya Brian khawatir. Dia menundukkan badannya berusaha melihat wanita yang hampir dia tabrak itu.
Eliane mengangkat kepalanya dan melihat orang yang mengajaknya bicara dengan bahasa aneh.
"Kak Isan.."
...TBC...