Timantti

Timantti
Prolog



"Putri Elian anda baik baik saja" seorang pengawal bertanya dengan setengah berbisik dan menatap iba Putri Elian yang berada di dalam penjara. Sesekali ia mengamati sekitar untuk memastikan tidak ada orang yang melihatnya.


"Aku baik-baik saja Calvin. Ada urusan apa kau kemari." Jawab Eliane sedikit terkejut dengan kehadiran Calvin yang tak pernah ia duga.


"Aku datang untuk menyelamatkanmu putri" jelas Calvin seraya membuka gembok emas itu dengan hati-hati.


Elian tersenyum getir.


"Hentikan Calvin. Ini berbahaya. Bagaimana jika nanti Luke Si pemarah itu melihat perbuatanmu. Kau pasti akan di bunuh." sahut Eliane berusaha menghentikan niat Calvin yang ingin menolongnya.


"Tenang putri. Pangeran Luke bersama prajurit yang lain tengah bepergian untuk menyerang Ranah Uza. Pangeran Luke sangat berambisi untuk menaklukan Uza demi memperluas kekuasaan. Jadi ini kesempatan putri untuk kabur dari Oorun." Calvin berhasil membuka gembok itu dan bergegas masuk menghampiri Eliane.


"Aku tidak mau Calvin. Aku takut kau di hukum karena membebaskanku." Eliane menolak pergi karena tidak ingin Calvin, pengawal setianya dihukum oleh kakak tirinya.


"Kau tak usah mencemaskanku, Putri. Aku bisa menjaga diriku." Calvin bersikeras memaksa Eliane agar pergi dan tak perlu mengkhawatirkannya.


"Tapi Calvin jika aku pergi dari Oorun. Aku harus pergi kemana, aku tidak punya tempat tujuan. Andai saja aku tahu keberadaan Kak Isan..." Eliane menatap Calvin sendu. Sorot matanya berubah pilu.


"Sudahlah putri.. sekarang bukan saatnya mengingat masa lalu. Pangeran Isander telah tiada. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan Putri" Calvin berusaha menenangkan Eliane yang terlihat sedih.


"Iya aku tahu Calvin. Hanya saja aku merasa Kak Isan masih hidup meski 15 tahun berlalu tanpa ada kabar" sahut Eliane tegas dan tidak ingin memercayai kabar burung yang belum jelas.


Calvin menghela nafas, Dia cukup tahu bagaimana perasaan Putri Eliane semenjak kehilangan kakak kandungnya, Pangeran Isander. Kakak yang sangat Dia sayangi memutuskan pergi tanpa pernah kembali ke Oorun semenjak Ayah Putri Eliane menikah lagi dengan Ibu Luke. Dan penderitaan Putri Eliane bertambah sejak Raja dan Ratu meninggal. Luke memiliki sifat ambisius, Dia rela mengurung Putri Eliane dalam penjara bawah tanah agar Dia bisa menguasai Ranah Oorun seutuhnya."Jika memang Pangeran Isander masih hidup. Percayalah mungkin suatu saat nanti kalian pasti bertemu." Calvin menenangkan Eliane. "Sekarang pergilah ke Ranah Oy Putri, temui pangeran Fathan. Aku yakin pangeran Fathan akan melindungimu."


"Bagaimana denganmu. Kau tidak ikut denganku." Eliane merasa berat meninggalkan Calvin sendirian karena Calvin seorang pengawal yang senantiasa menjaganya.


"Aku akan menyusulmu setelah menemui kakek Jeson. Ku dengar dia bisa menemukan keberadaan Timannti milik putri yang hilang." jelas Calvin tidak ingin Eliane mengkhawatirkannya.


"Benarkah. Bagaimana kalau aku ikut denganmu saja Calvin." sahut Eliane antusias. Daripada dia pergi sendirian, akan lebih bagus jika dia pergi bersama Calvin. Selain aman tentunya dia tidak akan ketakutan.


"Jangan putri. Lebih cepat Kau sampai Ranah Oy itu lebih baik." Tolak Calvin halus seraya menyuruh Eliane segera pergi.


"Tapi Calvin..." Eliane memelas dan memegang pergelangan tangan Calvin. Jujur sekali dia berat berpisah dengan pengawalnya itu.


"Putri dengarkan aku." Ucap Calvin seraya memegang kedua pundak Eliane."Keselamatanmu saat ini sangatlah penting. Aku tidak mau melihat putri terluka. Percayalah. Jika aku sudah mendapat informasi keberadaan Timannti milik putri aku akan menyusul putri. Jadi jaga diri baik-baik sampai aku tiba. Putri harus tetap tinggal di Ranah Oy di bawah perlindungan Pangeran Fathan."


Eliane menghelas nafas berat, lalu menganggukkan kepalanya pelan. Meski berat berpisah, dia harus tetap pergi. Bagaimanapun Calvin sedang berusaha mencari pusaka miliknya yang hilang. "Kau juga harus jaga diri Calvin. Aku tunggu kabar baik darimu." pesan Eliane sebelum pergi.


"Iya putri. Secepatnya aku akan menyusulmu. Sekarang waktunya pergi." jawab Calvin dengan menyunggingkan senyum tipis.


Eliane beranjak berdiri dan keluar dari penjara diikuti Calvin di belakangnya. Eliane berhenti sejenak dan membalikkan badan. "Calvin berjanjilah kau tidak akan terluka dan langsung menemuiku di Ranah Oy begitu tahu keberadaan Timannti milikku. Sampai saat itu aku akan selalu menunggumu." pesan Eliane seraya


menatap sendu Calvin yang memandangnya lembut penuh perhatian.


"Iya Putri aku janji. Putri juga harus berjanji tidak akan pergi dari Ranah Oy dan tetap tinggal di sana apapun yang terjadi. Jangan sampai membuatku mengkhawatirkanmu." Sahut calvin menegaskan kembali perkataannya. Agar Eliane tidak lupa tempat tujuan kepergiannya.


Eliane tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. "Calvin aku pergi." Eliane melambaikan tangan. Sorot matanya berkaca-kaca. Ia berusaha menahan tangis.


"Iya putri. Berhati-hatilah." ucap Calvin seraya tersenyum simpul. Meski sebenarnya dia berat melepaskan putri Eliane pergi sendirian.


Eliane melakukan teleportasi di susul Calvin yang juga melakukan teleportasi.


Seperkian detik kemudian Eliane mendarat. Namun ternyata ia mendarat di perbatasan Ranah yang di jaga ketat prajurit.


"Putri Elian. Sedang apa Anda kemari" Seru salah satu prajurit kaget. Seketika itu para prajurit yang lain menoleh ke arah Eliane yang terlihat kaget juga kesal karena salah mendarat.


"Putri Elian kabur dari penjara" teriak yang lain membuat para prajurit berlari kearah Eliane.


Menyadari hal itu, Eliane berusaha melakukan teleportasi lagi. Namun Entah kenapa kekuatannya tak berfungsi dengan benar. Ia hanya bisa melakukan teleportasi sejauh 5 meter saja.


"Tangkap Putri Elian" seru salah satu prajurit seraya mengejar Eliane.


Eliane bisa mendengar teriakan panik para prajurit yang bergegas mengejarnya. Seketika itu ia berusaha melarikan diri dari kejaran prajurit yang berjumlah 20 orang itu. Eliane berlari secepat ia bisa tanpa memedulikan arah kemana ia berlari. Belum lama ia berlari, ia sudah kelelahan dan berhenti sejenak di balik pohon besar. Deru nafasnya tak beraturan. Ia melihat ke langit yang telah berubah menjadi gelap dengan bulan setengah purnama tengah bersinar menyapu wajahnya.


"Malam yang indah" gumamnya lirih dengan mendongakkan kepalanya memandang bentangan langit tanpa batas. Dengan bintang yang gemerlapan. Namun situasi saat ini sangat berbahaya. Secepatnya ia harus pergi dari tempat itu saat ia mendengar teriakan para prajurit yang mendekat ke arahnya.


"Itu putri Elian. Kejar jangan sampai lolos"terdengar seruan dari kejauhan.


"Sial. Aku tidak boleh tertangkap. Kenapa mereka cepat sekali menemukanku" gerutunya seraya pergi dari tempat itu.Namun belum sempat ia berlari para prajurit itu telah berteleportasi untuk mengepungnya.


"Putri Eliane menyerahlah. Sebaiknya Anda pulang sekarang. Sebelum Pangeran Luke tahu Anda kabur dari penjara." pinta salah satu prajurit yang diduga sebagai ketua. Dia berbicara baik-baik dengan Eliane, tuan putri dikerajaannya.


"Diam kau. Apa hakmu menyuruhku. Aku Tuan Putri kalian. Seharusnya kalian membiarkanmu kabur bukan malah mengejarku dan ingin menjebloskanku kembali ke dalam penjara." bentak Eliane tidak terima dengan perkataan prajuritnya tadi. Dia tak habis pikir dengan jalan pikiran mereka yang tampak senang jika dia kembali di penjara. Semua ini gara-gara Luke yang telah menodai pikiran mereka dengan perintah- perintahnya yang kejam. Hingga semua orang takluk kepadanya.


"Putri jangan keras kepala. Sebaiknya putri ikut kami dengan sukarela. Kami tidak ingin menyakiti putri." ucap prajurit itu lagi dengan santun. Dia tidak ingin mencelakai Eliane.


Eliane tersenyum sinis. Diam-diam ia mencoba berteportasi dan berhasil membuatnya keluar dari kepungan prajurit itu.


"Itu Putri Elian" seru salah satu prajurit yang melihat posisi Elian tak jauh dari mereka. Semua prajurit berbalik arah dan kembali berlari mengejar Eliane.


Elian terpaku saat samar-samar ia melihat jurang di depannya. Ia pun memutar badan dan melihat para prajurit mulai mendekatinya.


"Jangan mendekat" bentak Eliane dengan melotot tajam seraya melangkah mundur. " biarkan aku pergi." ucapnya dengan sedikit memohon.


Para prajurit diam tak berkutik karena putri Eliane terus melangkah mundur mendekati bibir jurang.


"Hentikan putri. Itu berbahaya. Anda bisa terjatuh ke jurang" pekik salah satu prajurit dan yang lain memandang Eliane dengan tatapan waspada.


"Maka dari itu. Menjauhlah dariku atau aku akan terjun ke jurang ini" kecam Eliane tanpa rasa takut. Padahal jantungnya berdetak cepat. Kakinya gemetar saat matanya melongok, melihat jurang yang dalam. Dia sendiri tak bisa membayangkan jika dia benar-benar jatuh ke jurang itu dan mati seketika.


"Baiklah kami akan mundur. Jadi cepat putri menyingkir dari situ" sahut prajurit ketua menyuruh prajurit lain mundur, menjauh dari Eliane. Namun mereka masih bergeming.


Eliane menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak memercayai kalian. Aku ingin kalian pergi dari sini. Ku mohon lepaskan aku. Jika kalian membiarkan aku pergi aku akan mengampuni kalian semua" ujar Eliane bernegoisasi. Dia sangat berharap para prajurit itu langsung pergi agar dia juga bisa menyingkir dari bibir jurang yang menakutkan ini.


Para prajurit saling bertatapan, bingung harus menjawab apa. "Baik putri..." jawab salah satu prajurit memberanikan bersuara meski tampak sangsi.


Dalam hati Elian tersenyum kegirangan berhasil membujuk para pengawal. Saking senangnya ia lupa kalau belakangnya jurang. Kejadian mengenaskan pun menimpanya. Eliane terpeleset jatuh ke dalam jurang yang curam."Aaaaaa.." Eliane terjun bebas masuk kedalam jurang dalam dan gelap.


"Putriii. Tidaaaak" para prajurit berteriak histeris dan mendekati bibir jurang. Mereka tampak panik dan menatap miris Eliane yang sudah tidak tertelan kegelapan.


"Bagaimana ini. Apa putri Eliane bisa selamat." tanya salah satu prajurit dengan iba.


"Entahlah." celetuk yang lain tampak tak peduli.


"Menurutku tidak. Jurang ini sangat dalam. Kemungkinan selamat sangatlah kecil. Belum lagi binatang buas yang berkeliaran di hutan ini." sahut yang lain malah menakut-nakuti.


"Kasihan sekali putri Elian. Hidupnya penuh penderitaan." celetuk prajurit lain terlihat sedih, mengingat penderitaan Eliane selama ini.


"Astaga. Bagaimana caranya kita memberitahu Pangeran Luke. Pangeran Luke pasti merasa kehilangan" ucap prajurit yang polos.


"Justru ini berita bahagia. Pangeran Luke pasti senang mendengar berita ini. Karena satu-satunya penghalang dia jadi penguasa Oorun telah tiada." Komentar salah satu prajurit tanpa sadar.


Seketika itu semuanya menoleh ke arah prajurit itu. Otomatis prajurit itu menutup mulutnya dan melakukan teleportasi meninggalkan teman- temannya.


...***...


"Auww.." Rintih Eliane mengernyit kesakitan. Ia melihat sekelilingnya yang masih gelap. Tatapannya lurus ke langit yang menampilkan bulan purnama.


"Bulan purnama yang indah"gumamnya lemah. Ia merasakan seluruh tubuhnya terasa sakit semua di tambah luka di bagian kaki dan pergelangan tangannya.


"Tunggu..sebenarnya apa yang terjadi kenapa aku bisa ada di sini" batinnya seraya mengingat kejadian yang menimpanya tadi.


"Astaga apa aku sudah mati" serunya spontan setelah mengingat ia terjatuh ke dalam jurang.


"Tidak. Aku belum mati. Aduh badanku sakit semua. Dasar prajurit sialan. Kenapa mereka tidak menolongku dan membiarkanku berhari- hari di sini." Gerutunya kesal, mengira ia telah berhari-hari pingsan.


Dia pun berusaha bangkit berdiri dan mengamati sekitarnya yang samar terlihat karena cahaya bulan yang bersinar terang.


"Aku harus kemana ini. Aku tak tahu jalan pulang." Keluhnya seraya berjalan tertatih-tatih.


Samar-samar ia melihat cahaya berkilauan tidak jauh dari tempatnya berpijak. Perlahan ia mendekati cahaya itu yang berasal dari benda berbentuk kerucut yang bersinar. Tanpa ragu ia memungutnya.


"Timantti. Astaga aku tidak menyangka akan menemukan Timanttiku di sini" soraknya kegirangan sambil menggenggam erat pusakanya itu. Saat Timantti itu ia genggam, tubuhnya memancarkan cahaya. Luka-luka di tubuhnya perlahan melakukan regenerasi sembuh dan tubuhnya tak lagi merasakan sakit. Eliane benar-benar bahagia. Namun belum lenyap senyuman bahagianya. Tiba-tiba saja ada sebuah pusaran hitam yang menyelubungi tubuh Elian dan menelan Elian ke dalam pusaran yang semakin dalam. Eliane berteriak histeris. Timannti dalam genggamannya terlepas dari tangannya. Sepersekian detik kemudian pusaran itu semakin melemah. Tubuh Eliane terdorong keluar dan mendarat di tengah hutan. Eliane merasa pusing dan menyadari Timantti itu tidak ada di tangannya. "Hah dimana timanntiku." Eliane mencari ke sekitar tempat ia mendarat. Masih di dalam hutan dengan bulan purnama yang bersinar terang.


...***...


Di sebuah ruangan berukuran 5×5 m dengan di penuhi barang-barang antik terdapat dua orang tengah meramalkan mantra. Di depan mereka ada guci berisikan cairan berwarna biru dengan berlian biru mengambang.


"Apa yang terjadi. Kenapa timanttinya tidak mendarat di sini." ucap salah satu dari dua orang yang ada di dalam ruangan itu. Raut wajahnya memerah menahan amarah.


"Kurasa ada seseorang yang memegangnya. Lihatlah wanita itu,Nona" jawab seseorang yang lain, yang duduk di depannya. Dia menatap curiga.


"Sialan. Siapa dia" omel seseorang yang dipanggil Nona dengan kesal.


"Sepertinya aku tahu gadis itu. Kalau tidak salah namanya Eliane, seorang putri dari Ranah Oorun." jelas temannya, memberi informasi penting.


"Waah tak kusangka. Kali ini kita mendapatkan 2 keuntungan." sahut Wanita yang nona itu antusias dan berubah senang.


"Benar sekali. Jadi secepatnya kita harus mencari dia agar kita bisa memanfaatkannya dan mengambil Timantti yang dia bawa."


"Ayo pergi. Sebelum kita kehilangan jejaknya." Ajak Nona itu bergerak cepat.


Baru saja mereka beranjak berdiri. Mereka di kejutkan dengan kehadiran seseorang yang tiba-tiba ada di hadapan mereka.


"Kau siapa!!!" Seru mereka berdua bersamaan saking terkejutnya. Mereka belum pernah melihat orang asing dihadapan mereka ini.


"Aku Luke..."


...TBC...