
"Hei nona apa kau mendengarku." tegur Brian dengan sedikit membungkuk dan menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Eliane.
Eliane tersadar dari lamunannya. Dia mengucek-ngucek kedua matanya, ingin memastikan penglihatannya. " Astaga Pria ini bukan Kak Isan. Sekilas memang terlihat mirip. Batinnya kecewa sembari berdiri.
"Nona apa kau baik-baik saja" Brian bertanya lagi, Dia bingung karena wanita di depannya ini diam saja.
Bahasa yg dia gunakan sama seperti orang-orang yang ingin menangkapku tadi. Batin Eliane was-was. Spontan Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar seraya berharap mereka sedang tidak mengawasinya. Jangan-jangan pria ini komplotan orang-orang itu. batin Eliane curiga. Seketika itu Dia mundur beberapa langkah. "Usaswedera pedyo. Ndapota ndirege ndiende (Jangan mendekat. Tolong biarkan aku pergi)" pinta Eliane memohon. Wajahnya tampak takut dan was-was. Sesekali ia mengedarkan pandangannya melihat sekitar, takut orang yang mengejarnya tadi sedang mengawasinya. Jika benar lelaki dihadapannya ini komplotan orang-orang tadi, Dia merasa penderitaannya tak ada habisnya. Jika Dia tertangkap, Dia tak bisa membayangkan seperti apa kehidupannya nanti. Akankah Dia lebih menderita?.
"Apa yang kau katakan Nona, aku tidak mengerti." Brian kebingungan dengan bahasa Eliane yang terdengar asing. Dia berbicara dengan memakai bahasa korea.
"Je ki n lo sir (Biarkan aku pergi Tuan)." pinta Eliane dengan menangkupkan kedua tangannya di dada. Wajah Eliane tampak pucat karena takut. Eliane terus berjalan mundur. Tanpa Dia sadari Dia kembali ke tengah jalan. Sebuah mobil melaju kencang ke arahnya. Eliane terbengong dan mematung.
"Awas Nona" teriak Brian panik. Dengan cepat Dia menarik Eliane hingga mereka berguling-guling di atas aspal.
Tubuh Eliane menindih tubuh Brian. Jarak wajah mereka sangat dekat. Cukup lama mereka saling memandang.
"Cantik" gumam Brian tanpa sadar setelah memerhatikan wajah cantik Eliane dari jarak dekat. Pipinya tirus, hidungnya mancung, bibirnya kecil tipis di tambah bola matanya yang berwarna biru. Dia akui Eliane memang tetap terlihat cantik meski penampilannya saat ini sangat memprihatinkan dengan rambut pirang panjangnya yang sangat awut-awutan dan pakaiannya yang koyak.
"Da, ja sam zaista lijep gospodine, svatko tko me sretne mora me pohvaliti (Iya aku memang cantik Tuan. Semua orang yang bertemu denganku pasti memujiku.)" Sahut Eliane spontan dengan percaya diri. Senyum manis menghiasi wajahnya yang merona.
Dahi Brian berkerut. Dia benar-benar tidak mengerti ucapan Eliane. "Nona badanmu sangat berat." Keluh Brian membuat Eliane tersadar dan bangkit berdiri. Eliane mengibaskan tangannya dan menatap Brian dengan khawatir.
"Jeste li dobro, gospodine, hvala stilo ste me spasili (Apa kau baik-baik saja Tuan. Terimakasih sudah menyelamatkanku.)" ucap Eliane masih dengan bahasa daerahnya. Meski dia takut dengan Brian, dia masih tahu caranya berterimakasih karena Brian telah menyelamatkannya.
"Apa. Berbicaralah dengan bahasa yang bisa aku mengerti Nona. Aku benar-benar tidak mengerti bahasamu." Ucap Brian sedikit kesal sembari mengibaskan tangannya pada pakaiannya. Badannya terasa sakit setelah menyelamatkan Eliane namun wanita didepannya ini terus mengoceh dengan bahasa asing.
Eliane terdiam. Dia tampak berpikir. Pasalnya tadi Dia sempat mengerti bahasa Brian. Namun sekarang tidak lagi. Aneh. Batinnya bingung. Dia menatap lekat Brian.
Brian menatap wanita di depannya itu yang tampak sedang melamun. Di lihat dari perawakannya sepertinya wanita ini seorang turis asing. "Can you speak english miss" Brian mencoba bertanya menggunakan bahasa inggris.
"Yes, I can" sahut Eliane cepat dan langsung antusias.
Brian sumringah. Akhirnya Dia menemukan titik terang. "Are you hurt?" tanya Brian dengan tatapan khawatir.
Eliane menggelengkan kepalanya. "I'm fine" jawab Eliane sembari memutar badannya, menunjukkan kalau dia baik-baik saja.
"Maaf tadi aku hampir menabrakmu" sesal Brian dengan menundukkan kepalanya, seolah menyesali apa yang tadi ia lakukan. Dia berbicara dengan bahasa inggris.
"Iya. Lain kali hati-hati" Balas Eliane enteng dan santai. Dia tidak ingin memperpanjang masalah tadi.
"Apa katanya. Seolah-olah sepenuhnya salahku. Padahal Dia yang tidak hati-hati. Dia yang terlihat ingin bunuh diri" gerutu Brian pelan dengan bahasa koreanya. Dia tidak terima dengan perkataan Eliane yang seolah-olah menyalahkan dirinya. Padahal jika memang Dia orang waras, ketika ada mobil yang lewat pasti akan langsung menghindar. Tapi Eliane malah diam saja, seolah memang ingin bunuh diri.
Eliane mendengarkan ocehan Brian tanpa tahu artinya apa. Dia mengedikkan bahu, tak peduli.
"Akhirnya aku menemukanmu gadis cantik." Seru seseorang mengagetkan Eliane dan Brian.
Eliane langsung panik dan takut. Spontan dia berlindung di belakang Brian saat menyadari mereka adalah segerombolan lelaki yang mengejarnya tadi. "Sir help me" pinta Eliane ketakutan dan memegangi lengan Brian kuat.
"Tenang Nona. Aku akan membantumu.Apa kau mengenal mereka?" Tanya Brian tenang sembari berusaha melindungi Eliane.
"Maaf Tuan sebaiknya Anda menyerahkan gadis itu. Jika tidak, anda akan terluka." ucap pria yang tampak seperti ketua dari gerombolan yang berjumlah 7 orang itu.
"Tidak bisa seperti itu. Aku tidak akan menyerahkan Nona ini kepada kalian." sahut Brian tegas dan penuh percaya diri. Dia tampak tidak takut menghadapi gerombolan yang rata-rata berbadan tinggi, besar dengan dipenuhi tato. Wajah mereka pun sangar-sangar.
Tampak pria ketua yang berdiri di barisan paling depan menghela napas panjang. Wajahnya yang sangar tampak tidak sabaran. Dia menyisingkan lengan bajunya. Bersiap menghabisi Brian.
Dengan begitu Brian bisa melihat tato bergambar naga di pergelangan tangannya.
Saat mereka hendak menyerang Brian tiba-tiba ponsel dari pria ketua itu berbunyi.
Seketika itu Dia mengangkatnya.
Entah apa yang seseorang di seberang telepon katakan. Yang jelas pria itu menyuruh mereka mundur. Tatapannya tak lepas melihat sinis Brian dan Eliane. Dia melotot tajam, seolah mengancam.
"Malam ini kau sangat beruntung. Namun tidak untuk lain kali. Aku pasti akan menghabisimu" ancam pria itu sembari berlalu. Suaranya mampu membuat bulu kuduk merinding.
Brian tidak gentar dan tetap tenang.
"Apa yang kau katakan Tuan, sehingga mereka tidak menangkapku." tanya Eliane yang sedari tadi diam menyimak pembicaraan Brian dengan gerombolan itu, meski dia tidak mengerti pembicaraan mereka apa.
"Bukan apa-apa nona.Tapi benarkah kau tidak mengenal mereka.Sebaiknya kau berhati-hati." Ujar Brian sembari memerhatikan segerombolan lelaki berbaju hitam itu yang berjalan menjauh dari mereka.
Eliane menganggukkan kepalanya."Aku tidaj mengenalnya Tuan. DanTerimakasih sudah menyelamatkanku. Kalau boleh tahu memang mereka itu siapa?." Eliane malah balik bertanya.
"Mereka adalah anak buah dari Red Draco." jelas Brian setelah tadi dia melihat tato naga di salah satu pergelangan orang-orang itu. Tato naga identik dengan anggota mafia Red Draco.
"Red Draco? What's that?" Eliane mengerutkan kening tidak mengerti.
"Red Draco adalah nama salah satu geng mafia terbesar di kota ini. Sangat berbahaya jika kau berhubungan dengan mereka." jelas Brian menasehati Eliane agar tidak berurusan dengan orang-orang Red Draco.
"Lalu apa yang harus aku lakukan Tuan. Jangan-jangan mereka berusaha keras ingin menangkapku. Bagaimana ini. Apakah aku akan mati." ucap Eliane gelisah. Wajahnya kembali pucat karena takut.
"Tenang nona. Saat ini kau sudah aman. Mereka sudah pergi." jawab Brian dengan tersenyum. Dia memegang pundak Eliane guna menenangkannya.
"Iya sekarang mereka pergi. Tapi jika mereka kembali. Tamatlah riwayatku tuan." ucap Eliane mengutarakan kekhawatirannya.
"Ada aku nona. Aku akan mengantarmu pulang."ujar Brian cepat sembari membukakan pintu mobil. "Get in my car"
"Maaf tuan. Aku tidak ingin pulang. Aku kabur dari rumah." jelas Eliane yang membuat Brian kaget mendengarnya.
Brian memegangi kepalanya, bingung. Tidak mungkin Dia meninggalkan Nona ini di tempat ini sendirian. Dia berfikir cukup lama hingga pada akhirnya Dia membawa Eliane pulang ke rumahnya.
"Untuk malam ini menginaplah di rumahku." ucap Brian tiba-tiba dan mantap. Sama sekali tak ada keraguan di matanya. Dia benar-benar tulus ingin menolong Eliane.
"Thank you sir. You are so kind" ujar Eliane dengan tersenyum lebar lantas masuk mobil di susul Brian.
...TBC...