
yang semakin tajam. Ia segera memutar sebuah audio dan mendekatkan handphonenya ketelinga Alana. “Auuuuuuuuu, Hihihihihihihi.” Bunyi yang keluar dari audio itu.
“Kapten mesum ? Ckh, seharusnya aku yang menanyakan hal itu kepada mu nona ? Kau duluan yang memeluk tubuh ku !” Tegas pria tampan itu. Alana terdiam, dan mencoba mencerna suasana yang barusan terjadi. “Oh tidak ! Apa yang dibilang kapten itu benar ! Kau duluan yang memeluknya gadis bodoh !” Batin Alana menggerutuki tingkah bodohnya.
“Eee Sorry ! Aku tidak sengaja !” Ucapnya dengan gugup. Devano memperlihatkan wajah kesal, mencoba untuk menyembunyikan senyumannya. “Tidak semudah itu nona ! Kau bahkan telah mencuri pelukan pertama ku ! Oh tuhan ! Aku telah menjaga pelukan itu untuk calon kekasih ku suatu hari nanti, dan kau telah merenggutnya dari ku. Kau harus tanggung jawab nona !” Ucap kapten Devano, pria itu sedang berlakon seolah-olah ialah yang menjadi korban dalam hal ini.
“Tanggung jawab ? Apa maksud mu ? Aku sudah minta maaf kepada mu ! Apakah masalahnya sesulit itu ? Tunggu ! Ini adalah kesalahan mu tuan ! Kau yang seharusnya bertanggung jawab karena telah membuat setengah nyawa ku melayang dibawa oleh suara hantu itu !” Tegas Alana, seraya membenarkan kacamata bulatnya.
Devano mendekatkan tubuhnya kearah gadis itu, tatapannya menusuk tajam kedalam bola mata Alana. “Tidak bisa ! Itu pelukan untuk calon kekasih ku ! Dan kau telah merenggutnya ! Kau harus tanggung jawab ! Kau harus menjadi calon kekasih ku !” Jawab kapten itu seraya mendekatkan wajahnya kearah Alana, membuat gadis itu semakin terpojok kepintu mobil.
Alana sangat gugup saat ini, ia tidak mengerti harus melakukan apa. “Jadi calon kekasih ? Gila ! Itu merupakan mimpi yang paling buruk dalam hidup ku.” Batin gadis cantik itu, seketika matanya tertuju pada tombol yang digunakan untuk membuka pintu mobil, ia tersenyum tipis.
Pria tampan itu menyunggingkan senyum tipisnya, ketika melihat gadis kecil yang baru saja ia goda, berlari meninggalkannya. “Akan kupastikan kau menarik ucapan mu gadis kecil !” Gumam kapten Devano.
*****
Alana telah sampai kedalam baraknya, nafasnya ngos-ngosan karena telah lelah berlarian menjauhi kapten menyebalkan itu. Jantung gadis itu masih berdetak dengan kencang, bagaikan genderang yang telah siap untukberperang.
Alana meneguk air hangat yang telah ia tuangkan kedalam gelas, dengan rakusnya ia mengahabiskan air itu dalam waktu sekejap, membuat Andrean menelan salivanya menatap tingkah gadis cantik yang berada dihadapannya.
Andrean menatap tajam kearah gadis itu, ia merasa tak percaya jika seorang Alana bisa kelelahan. Bergadang selama seminggu diruangan laboratorium saja tidak pernah membuatnya lelah, apalagi hanya mengirimkan laporan ? Hal itu sangatlah tidak masuk akal.
“Gadis kecil !” Belum sempat Andrean menjawab pertanyaan Alana, sebuah suara teriakan telah terdengar ditelinga mereka. Seorang pria berwajah tampan memasuki ruangan itu.
“Ckh ! Kau menyebalkan kapten mesum ! Tak bisakah kau membiarkan aku hidup dengan tenang ? Mengapa kau selalu mengganggu ku !” TeriakAlana frustasi.
“Hehe aku tidak sedang mengganggu mu nona ! Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Jika kau tak ingin aku memanggil mu dengan sebutan gadis kecil, maka kau harus terima jika aku memanggil mu dengan sebutan calon kekasih ku, karena kau ....” Ucapan kapten Devano terpotong, karena Alana telah menutup mulutnya, dan membawanya keluar dari dalam barak itu.
Alana menatap kesal kearah pria itu, ia meletakkan tangan kirinya dipingang, dan tangan kanan memegang kepalanya sendiri. Memperlihatkan wajah cemberut, dengan memonyongkan bibirnya, dan mata yang melirik kearah kapten Devano.
“Ckh ! Menyebalkan ! Apa mau mu kapten ! Aku seorang ilmuan, jadi tidak memiliki waktu senggang yang banyak seperti mu !” Tegas Alana.
Alana berjalan mendekat kearah pria itu, tangan kanannya ia julurkan kedepan. “Kembalikan !” Ucapnya pelan dengan tangan yang masih menengadah.
Alana mencoba untuk lompat setinggi mungkin. “Bruuuuk!” Alana jatuh kepelukan kapten Devano. Alana menatap
kearah atas, membuat pandangan kedua manusia itu bertemu untuk beberapa saat. Gadis itu terdiam, tanpa mampu berkata-kata, ia seperti terpana, melihat ketampanan seorang manusia yang berada dihadapannya.
Sersan Diego berjalan mendekat kearah kedua manusia itu, hingga membuat adegan romantis yang telah tercipta selama beberapa saat itu berakhir. Devano melepaskan pelukannya, dan Alana segera bangkit dari tubuh pria itu seraya merampas handphonenya dari tangan sang kapten, kemudian pergi meninggalkan dua orang pria itu.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Hallo readers 😂
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like, vote, rate bintang 5, and share. Terimakasih 🙏🙏😘