There Is Love Between A Tragedy

There Is Love Between A Tragedy
Episode 7



RUANG PENELITIAN BARU


Sinar matahari telah terpanacar dari ufuk timur, menciptakan hari yang cerah. Angin yang berhembus pelan, menambahkan kesejukan, membuat udara bersih yang bebas dari polusi masuk dengan perlahan kedalam saluran pernafasan.


Seorang putri tidur masik meringkuk dibawah selimut tipisnya, gadis itu masih fokus dengan alam mimpinya tanpa memperdulikan suara seseorang yang terus memanggilnya dengan nada tinggi.


 


Alana membalasnya dengan anggukkan kepala tanpamengeluarkan sepatah kata pun, mulutnya terkunci rapat, terhipnotis dengan karisma pria yang berada dihadapannya.


“Ayo aku antar !” Ucap Devano seraya berdiri dengan buku buku Alana yang masih berada ditanganya.


Buku buku yang dipegang oleh Devano diletakkan ditangan sebelah kiri, dan tangan sebelah kanannya kembali merebut buku yang sedang dipegang Alana, menyatukannya dengan buku yang sedang ia pegang, dan melangkahkan kakinya, lurus kearah depan.


Alana yang belum sempat bersuara, hanya bisa terdiam dan menundukkan kepalanya, ia berjalan mengikuti langkah kaki Devano. Kaki pria itu yang panjang, ditambah langkah kakinya yang memiliki kecepatan yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan pergerakan Alana, memaksa gadis itu untuk mempercepat langkahnya dengan setengah berlari mengejar pria itu.


Devano yang menyadari Alana yang kesulitan menyamai langkahnya, perlahan memelankan langkah kakinya. “Gadis kecil, mengapa kau berjalan sendirian ? Apakah teman teman mu itu meningglkan mu karena langkah kaki mu yang sangat lambat ?” Devano mengejek Alana dengan senyuman yang mengembang dibibirnya.


Alana mengerutkan keningnya, rasanya bibirnya sudah sangat kaku, tak sabar untuk mengomeli pria menyebalkan yang berada didekatnya. Akan tetapi, ia lebih memilih diam, dan mencoba untuk menahan emosinya, karena tak ingin menguras tenaga yang telah ia simpan.


“Sepertinya bukan hanya tubuh mu yang kecil,namun suara mu juga terbatas hingga memaksa kau untuk menghematnya.” Goda Devano lagi.


Akan tetapi Alana masih tetap mencoba untuk menahan emosinya, berusaha untuk tidak terpropokasi oleh kata kata berbisa dari pria tampan itu. “Pria tampan ?” Ya ! Tentu saja ! Semua orang normal pasti akan mengakui ketampanan pria itu, tapi tidak untuk Alana.


Ketampanan pria itu telah tertutupi oleh rasa kesal yang menumpuk didalam dada dan pikirannya. Bagaimana tidak, baru saja menginjakkan kaki dipulau ini, gadis itu telah disuguhkansikap menyebalkan dari pria itu.


“Sampai !” Ucap Devano setelah sampai didepan sebuah bangunan tua, khas kerajaan yunani kuno yang terdiri dari dua lantai. Rasanya sangat aneh melihat bangunan seperti ini berada disebuah pulau yang terletak sangatjauh dari negara asalberkembangnya arsitektur bangunan itu.


Devano melangkahkan kakinya kedepan pintu gedung itu. “Apakah kau tidak mau membantu ku untuk membukakan pintu ?” Ucap pria itu dengan mata yang melirik kearah Alana, dan tangan yang ia goyang goyangkan, memperlihatkan bahwa ia tengah memegang buku yang sangat banyak, hingga tak bisa membuka pintu itu.


Alana membuka pintu ruangan itu, ia melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam, matanya terpana melihat ruangan yang dipenuhi dengan peralatan peralatan laboratorium yang cukup mumpuni untuk seorang peneliti, walaupun masih ada peralatan peralatan yang belum tersedia.


Gadis itu masuk lebih dalam lagi, menyusuri ruangan itu, terlihat teman temannya tengah berada disebuahmeja bundar bersama professor Kimberly. “ALANA !” Ucap Andrean yang melihat kedatangan gadis itu, namun matanya yang berbinar berubah menjadi tatapan yang tajam, ketika melihat seorang pria yang muncul dari belakang gadis itu,dengan membawa tumpukan buku.


“Kapten Devano ?” Ucap Dikta antusias, membuat professor Kimberly mengalihkan pandangannya kearah belakang, menatap Alana dan kapten Devano yang baru saja datang.


“Professor ! Maaf aku terlambat, karena belum mengetahui lokasi gedung ini.” Ucap Alana sopan dengan menundukkan kepalanya.


Professor Kimberly menatap tajam kearah gadis itu, mencoba untuk mencerna situasi yang terjadi. “Apakah kau yang mengantarkannya kemari kapten ?” Ucapnya dengan senyuman tipis.


Kapten Devano menganggukkan kepalanya. “Hmm, Kebetulan aku juga ingin mengecek situasi ruangan ini, apakah sesuatu yang sangat kalian butuhkan ?” Ucapnya dengan sopan.


Professor Kimberly mengedarkan pandangannya, menatap seluruh isi ruangan, kemudian mengangkat sedikt bahunya. “Well ! Kau tahu jika kami baru saja sampai, dan belum mengecek isi gedung ini, aku akan mengabari mu jika sudah memperoleh jawabannya.” Ucap professor itu tegas.


 


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Hallo readers 😂


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like, vote, rate bintang 5, and share. Terimakasih 🙏🙏😘