
KOTA
Sebuah mobil berplat merah telah memasukiarea perkotaan, suasana kota itu terlihat berbeda dengan daerah kota pada umumnya. Kota itu seperti kota mati, toko toko banyak yang sudah tutup, orang orang yang biasanya berkerumun didalam cafe cafe yang terletak disudut kota, kini sudah tidak terlihat lagi.
Semuanya terlihat sepi, namun beberapa kali mobil ambulance terlihat mondar mandir kesana kemari dengan membunyikan sirinenya. Mobil patroli terlihat melintas mengelilingi kota itu, menertibkan seluruh masyarakat yang masih membangkang keputusan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah.
“Kau satu-satunya wanita yang berani mengatakan hal itu untuknya nona !” Ucap sersan Abraham, ditengah-tengah tawanya. Alana terdiam, dan terus menatap kearah pria bertubuh gendut itu.
“Kau tahu ? Semua wanita diluaran sana berlomba-lomba untuk menjadi kekasihnya, namun sepertinya kaulah satu-satunya wanita yang tidak mudah luluh dengan menatap ketampanan kapten kami.” Jelas sersan Abraham dengan tawa yang membuat kumis hitam tebalnya ikut bergoyang-goyang.
“Apakah kau ingin mengatakan jika aku bukan wanita normal ?” Ucap Alana penuh tanya, karena ia telah terlalu sering mendengar ucapan itu dari teman-teman kampusnya yang mengatakan bahwa ia bukanlah gadis yang normal. Karena kesehariannya yang dikelilingi pria tampan, tak ada satu pria pun yang mampu menarik perhatiannya.
“Huuuuuh” Alana menghembuskan nafas beratnya. “Namun sayang ! Aku terdampar ditepi pulau yang membuat ku tak bisa menikmati hari minggu ku lagi.” Ucap Alana dengan nada pelan, memperlihatkan wajah sedihnya dihadapan sersan Abraham.
“Ekhem !” Suara bariton yang cukup khas terdengar didalam ruangan itu. “Apakah kau telah selesai mengerjakan tugas mu gadis kecil ?” Ucap kapten Devano yang baru saja kembali kedalam ruangan itu.
“Emmm” Gumam Alana dengan kepala yang mengangguk. “Kapten ! Bisakah kau berhenti memanggil ku gadis kecil ! Itu sungguh menyebalkan ! Aku sudah berumur dua puluh satu tahun saat ini ! Sangat tidak pantas jika kau memanggilku dengan sebutan gadis kecil !” Ucap Alana dengan lantang dan berani mengomeli kapten tampan yang menjadi idola semua gadis menurut cerita sersan Abraham tadi.
Ucapan Alana membuat sersan Abraham membulatkan matanya, dan mengacungkan kedua buah jempolnya dengan sembunyi-sembunyi, karena takut jika kapten Devano melihatnya.
“Tidak ! Kau tetap gadis kecil ku ! Aku senang memanggil mu dengan sebutan itu !” Ucap Kapten Devano dengan tegas, pria itu berjalan kearah Alana, selangkah demi selangkah mendekati wanita itu. “Tolong jangan pernah membentak ku didepan orang lain nona !” Bisik kapten itu ditelinga Alana, hembusan nafasnya membuat darah gadis itu berdesir. “Deg deg deg !” Jantungnya berpacu dengan kencang secara tiba-tiba.
“Bagus !” Kapten Devano menganggukkan kepalanya. “Ayo gadis kecil kita kembali.” Ajaknya dengan memperlihatkan senyuman yang manis.
Kapten Devano melangkahkan kakinya keluar ruangan, diikuti dengan Alana yang berjalan dibelakangnya. “Aku akan mengirimkan hadiah untuk mu nona !” Bisik sersan Abraham pelan ketika Alana berjalan didekatnya, membuat gadis itu membulatkan matanya, dan memperlihatkan mata yang berbinar kearah sersan Abraham, dengan mengacungkan ibu jari tanganya.
Kapten Devano membukakan pintu mobilnya untuk Alana, dan gadis itu segera masuk kedalam mobil tersebut tanpa melihat kearah kapten itu. Setelah menutup pintu mobil tersebut, kapten Devano segera berjalan kesisi sebelahnya, dan masuk kedalam mobil, duduk dikursi kemudi tepat disamping Alana. Sejak ucapannya dibantah oleh kapten Devano didalam ruangan tadi, gadis itu tidak mengeluarkan sepatah katapun, ia hanya terdiam dan tak ingin menatap kearah pria itu.
Kapten Devano menatap kearah Alana, ia sedikit bangkit dari kursinya dan mendekat kearah gadis itu. Menepis jarak diantara mereka, tangan kanannya terjulur seolah-olah ingin memeluk gadis yang berada disebelahnya, membuat Alana memejamkan matanya dengan tubuh yang menegang.
“Sreeeeet” Kapten Devano menarik seatbelt yang ada disamping kursi Alana dan memasangkannya untuk gadis kecil itu. Alana membuka matanya, jantungnya berdebar dnegan kencang, ia merapikan kacamatanya untuk menutupi rasa canggungnya.
Kapten Devano tersenyum nakal kearah gadis itu. “Apa yang kau pikirkan ? Mengapa kau menutup mata mu nona ?” Bisik pria itu ditelinga Alana, membuat gadis itu menjadi salah tingkah.
Alana menggelengkan kepalanya. “Aku tidak suka menonton drama, itu terlalu lebay untukku.” Ucapnya pada pria itu. “Ckh” Desis Devano, “Kau gadis kecil mana mungkin punya selera untuk melihat drama seperti itu.” Sindir Devano.
“Berhenti memanggilku gadis kecil ! Atau aku akan membuat perut mu berlubang dengan merkuri !” Alana mencubit kecil perut Devano sehingga membuat pria itu pura-pura meringis kesakitan. “Aukkkh” Pekiknya dengan memasang wajah nakal.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Hallo readers 😂
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like, vote, rate bintang 5, and share. Terimakasih 🙏🙏😘