There Is Love Between A Tragedy

There Is Love Between A Tragedy
Episode 5



Alana dan Andrean suda berada dilapangan kampus Unversitas Andalas, terlihat Kenan dan Dikta melambai lambaikan tangan kearah mereka berdua. Alana membalasnya dengan senyuman yang merekah.


Pandangan Kenan dan Dikta tertuju pada Alana yang terlihat semakin cantik, walaupun dnegan penampilannya yang sederhana, bahkan hanya dengan bedak yang tipis dan lipstik yang sesuai dengan warna bibirnya. Kecantikan yang sangat natural terpancar dari Alana.


 


 


“Hey ! Apakalian akan tetap berdiskusi disitu, dan memilih berangkat dengan berjalan kaki ?” Teriak Profesor kimberly dari dalam bus, dan berhasil membuat keempat mahasiswa itu berlari dengan kencang untuk segera masuk kedalam bus. Mereka sangat tau bahwa Professornya itu tak akan pernah main main dengan ucapanya.


Mereka berempat telah berada didalam bus itu, terlihat bus itu telah ramai dengan para relawan tenaga medis. Mereka segera duduk dibangku yang kosong, Alana duduk disamping Andrean sedangkan dihadapan mereka ada Kenan dan Dikta. Profesor Kimberly memilih duduk sendirian dibangku yang paling depan, tepat disamping sang supir.


Perjalanan dari pusat kota J menuju perbatasan desa W memakan waktu hingga delapan jam, Alana memilih untuk mendengarkan musik dan menikmati perjalanan sambil tertidur. Tak butuh waktu lama untuk gadis itu berpindah dari alam nyata menuju alam mimpi.


“Ckh ! Dasar Putri tidur ! Baru juga beberapa menit perjalanan, dia sudah terlelap dalam mimpinya.” Ucap Dikta seraya menggeleng gelengkan kepalanya.


“Terkadang aku merasa heran dengan Alana, ia sangguh bergadang berhari hari ketika melakukan penelitian. Namun dia begitu mudahnya tertidur ketika tidak melakukan apapun.” Ucap Andrean.


“Apa mungkin dia memiliki dua buah kepribadian ?” Saut Dikta kembali.


“Sudahlah ! Berhenti mengganggunya, mungkin dia memang benar benar lelah.” Ucap Kenan yang sedang fokus membaca bukunya yang sangat tebal.


“Baiklah aku juga harus tidur agar bisa menyimpan tenaga untuk beberapa waktu kedepan.” Ucap Andrean.


Hingga pada akhirnya Dikta dan Kenan juga ikut tertidur dengan lelap. Sepertinya virus putri tidur dari Alana memang dengan mudahnya menyebar, buktinya saja dalam hitungan menit, ketiga pria itu telah bergelut dengan mimpi mereka masing masing.


Matahari telah tenggelam disebelah barat, langit yang berwarna birupun telah menjelma berubah warna menjadi jingga. Bus yang membawa rombongan relawan medis dan tim peneliti pun telah sampai diperbatasan.


Hamparan rumput yang berwana hijau, terhampar sejauh mata memandang, burung burung berkicauan menghiasi langit senja yang tak kalah luasnya dengan hamparan rumput itu.


Semua penumpang turun dari dalam bus itu. Mata mereka memandang kearah sekitar, mencoba menelanjangi tempat mereka berpijak saat ini, namun tak ada satu manusiapun yang menyambut kedatangan mereka, lapangan itu terlihat sangat kontras dengan tempat asal mereka, dimana hanya hamparan tanah yang terbentang sangat luas tanpa ada gedung gedung pencakar langit.


Aroma senja mulai menyeruak masuk kedalamlubang lubang pernapasan.


“Apakah kita sudah sampai Prof ?” Ucap Andrean seraya meregangkan badannya yang terasa linu karena berjam jam duduk didalam bus itu.


“Jelas sepi karena kita belum sampai kelokasi!” Jawab Alana.


“Bukankah ini perbatasan yang dimaksud Al ?” Tanya Andrean kembali.


“Ckh ! ternyata kau tidak membacanya dengan detail Andrean !” Profesor Kimberly menyentil kepala Andrean dengan kerasnya.


“Awwww” Pekik Andrean yang merasa kesakitan, seraya mengusap usap kepalanya.


“Perbatasan yang dimaksud bukanlah tempat ini, tapi tepat berada dipulau B tempat desa W


berada.” Ucap Kenan.


“Pulau B ? Jadi desa itu berada disebuah pulau ? Bukankah dia masih termasuk kedalam bagian kota J ?” Pekik Dikta.


“Ckh ! Kau terlalu banyak menghirup bahan kimia, hingga otakmu itu tidak bisa mencerna dengan baik.” Jawab Professor Kimberly.


“Pulau W merupakan sebuah pulau yang terpisah dengan kota J pada saat gunung api yang ada didasar laut itu meletus seratustahun yang lalu. Maka dari itu hingga saat ini pulau B masih termasuk kedalam bagian kota J.” Jelas Alana.


“Lalu bagaimana cara kita menuju pulau itu, sedangkan kita jauh dari pantai.” Tanya Dikta kembali.


“Kau bisa mencium aroma ini Dikta ? Ini aroma air laut. Tepat dibelakang kebun kelapa itu adalah pesisir pantai. Penyebrangan menuu pulau B telah ditutup sejak dua hari yang lalu, karena isolasi lokal telah diberlakukan, agar kasus ini tidak semakin menyebar. Aku rasa kita akan dijemput dengan cara yang berbeda.” Ucap Alana seraya mengarahkan jari telunjuknya kearah langit senja itu.


Terlihat beberapa hellikopter dikejauhan yang menuju kearah lapangan itu. “Wuah ! It’s wonderfull, you know ? Aku tidak pernah berpikir kita akan mendapatkan kesempatan ini.” Ucap Dikta.


Alana membulatkan matanya, menatap tak percaya jika seorang Dikta yang terkenal dingin dan bermulut tajam itu, merupakan pecinta drama ? dan sekarang Alana tau apa yang membuat pria ini tidak ingin didekati oleh para wanita. Mungkin saja pria ini ingin membangun image seperti para pemeran drama itu yang kebanyakan bersikap dingin dan menjauhi wanita, hingga menemukan sang cinta sejati.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Hallo readers 😂


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like, vote, rate bintang 5, and share. Terimakasih 🙏🙏😘