There Is Love Between A Tragedy

There Is Love Between A Tragedy
Episode 4



TEKANAN DARI PROFESOR KIMBERLY


*****


Hari mulai semakin petang, Matahari telah berada diposisi yang tepat untuk mengucapkan selamat tinggal, langit berubah menjadi warna jingga, dan burung burung juga mulai beterbangan untuk kembali kesarangnya masing masing.


Akan tetapi kembali ke rumah, bukanlah hal yang dapat dilakukan oleh ke empat mahasiswa itu. Setelah pertemuan dengan Hellen dicafe selesai, mereka berempat harus segera kembali ke laboratorium untuk bertemu dengan profesor Kimberly.


“~@LABORATORIUM~”


Mereka berempat telah berada didalam ruangan laboratorium, tempat biasa mereka mangkal untuk melakukan penelitian atau hanya sekedar mendengarkan arahan dari Professor Kimberly.


 


Oh tidak ! Jika kedua pria itu telah berdebat dengan menyingkat nama lawannya masing masing, itu bukanlah hal yang bagus untuk dipertahankan. Karena sudah pasti tidak akan ada yang mau mengalah diantara mereka.


“Sudahlah ! Tidak usah diteruskan lagi, sebaiknya kalian lekas pulang. Dan ingat untuk datang tepat waktu besok !” Tegas Professor Kimberly.


Mereka semua segera meninggalkan ruangan itu, dan kembali kerumah masing masing untuk beristirahat. “Istirahat ?” tentu tidak mungkin, karena mereka berempat harus segera mengepak perlengkapan yang mereka butuhkan selama berada diperbatasan.


“Oh Tuhan ! Aku sangat rindu dengan kasur ini !” Ucap Alana yang baru sampai didalam kamarnya dan segera merebahkan badannya diatas tempat ternyaman itu.


Akan tetapi rasa nyaman yang ia rasakan sirna seketika, tenggelam oleh tumpukan yang berkecamuk, ketika ia terpaksa mengingat keberangkatannya besok.


Alana segera bangkit dari tempat tidur itu, berjalan kearah sebuah ruangan yang ada didalam kamarnya itu, yang biasa disebut dengan “Walk-in closet.” Ia segera mengambil sebuah koper, dan mulai mengepak barang barang yang ia butuhkan.


Jam didinding kamar Alana telah menunjukkan pukul sepuluh malam, ia segera meletakkan koper yang telah terisi penuh itu ke ruang depan agar besok ia tak perlu repot repot lagi untuk mengangkatnya.


Setelah itu Alana langsung kembali kekamarnya, untuk mengambil handuk dan berlalu pergi kekamar mandi untuk membersihkan badannya. Setengah jam sudah ia berada didalam kamar mandi itu, akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari situ. Alana berjalan kearah tempat tidurnya untuk mengenakan baju tidur yang telah ia siapkan sebelumnya.


“Triiiiiiiing”


Handphone Alana berdering, segera diambilnya benda pipih itu, dan ditatapnya layar ponsel itu. “Andrean ?” Gumam Alana membaca nama kontak yang memanggilnya. Ia segera mengangkat panggilan itu.


“Ya ?” Ucapnya singkat.


“Hmm, Aku baru saja menyelesaikannya. Ada apa An ?” Tanya Alana kembali.


“Aku hanya ingin memastikan saja, dan besok biar aku yang menjemput mu Al !” Ucap Andrean.


“Hmm Baiklah, kalau begitu aku tidur duluan, mataku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.” Ucap Alana dan segera mematikan panggilannya.


“~@KEBERANGKATAN~”


Sinar mentari pagi telah menyeruak masuk melalui sela sela jendela yang temaram, terlihat seorang gadis tengah tertidur dengan nyamannya diatas sebuah tempat tidur berukuran kingsize itu.


“Kriiing Kriiiing Kriiiiing”


Dering alarm yang berasal dari jam weker yang berada diatas nakas samping tempat tidur Alana. Gadis itu berusaha untuk tidak memperdulikan suara alarm tersebut dan menutup telinganya dengan bantal. Namun suara itu tak kunjung reda, malah terdengar semakin nyaring.


“Damn ! Bisakah kau membiarkan aku tidur sebentar lagi ?” Pekik Alana.


Akan tetapi alarm itu bersumber dari jam weker yang tak dapat mengerti ucapan Alana, hingga ia akan terus berdering. Alana bangkit dari tidurnya dan segera mematikan jam weker itu. Ditatapnya jarum panjang dan pendek yang ada didalam jam tersebut.


“Sial Aku terlambat ! Mengapa kau tidak membangunkan ku sejak tadi !” Pekik Alana membentak jam weker itu.


Jam itu telah berdering sejak pukul enam pagi tadi, dan Alana baru menyadarinya setelah pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Ia segera bergegas kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Tak berselang lama kemudian Andrean yang telah berada didepan pintu apartemen Alana, segera menekan bell. Alana yang baru siap dengan aktivitasnya memakai pakaian dan sedikit bedak itu, segera berlari menuruni anak tangga dan membuka pintu apartemennya.


Alana segera mengambil tas ransel yang berisikan laptop dan beberapa pernak pernik kecil lainnya yang ia butuhkan, kemudian menutup pintu apartemen itu, dan bergegas mengejar langkah kaki Andrean yang telah terlebih dahulu masuk kedalam lift.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Hallo readers 😂


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like, vote, rate bintang 5, and share. Terimakasih 🙏🙏😘