
20 Desember 2020. Saat itu didalam sebuah gang dekat tempat tinggalku sebuah bunyi wuara sentakan jari terdengar sebelum kehadiran kakek tua itu. Kepalaku terasa sangat berat dikarenakan obat pemberian pak brama telah habis. Namun, itu hanyalah perkiraanku. Ketika sebuah tangan dingin dan berkeriput mengenai baju di bahuku dan berkata ia telah menemukanku, seketika itu tatapanku tertuju pada sebuah tembok dibelakangnya. terlihat segerombolan orang berpakaian hitam sedang berdiri disana. dinding berwarna merah yang sedang mengelilingi gang itu tiba-tiba berubah menjadi hitam dan suasana pagi itu menjadi hitam mencekam, hanya suara tawaan dari beberapa orang berpakaian hitam yang ku dengar.
"Bawa dia." Ucap kakek tua itu. Dua orang berpakaian hitam berjalan dengan ragu-ragu seakan takut untuk memegangku. "Cepat bawa dia, dia tidak akan bisa mencelakai kalian dengan wujudnya yang sekarang!" Ucapnya lagi. "Aah halusinasiku mulai kambuh lagi." Ucapku dalam hati tanpa memperdulikan dua buah tangan yang langsung memegang dengan erat kedua bela lenganku.
Hembusan angin yang terasa dibawah kakiku membuat ragu semua yang telah terjadi. Aku mencoba menggoyangkan kakiku dan semuanya terasa nyata. Tubuh yang mengambang diudara dan sapu terbang seperti didunia dongeng juga terlihat sangat nyata menurutku. "Toloooong" tanpa sadar kata-kata itulah yang keluar. "Percuma, tak akan ada yang mendengarmu!" Ucap kakek tua itu dengan senyuman seolah-olah teriakan yang kulakukan itu percuma. "Tak" sentakan jari mulai ku lakukan. Kenapa tak terjadi seperti dulu? Tanyaku dalam hati.
"Apakah itu benar hanya mimpi? Dimana kakek itu?" Tanyaku seraya melirik ke semua arah. "Zowii, ia zowii, mungkin zowii bisa mendengarku. "Zoooooowwiiiiiiiii" teriakku sambil menggerakkan tubuh agar bisa lepas dari pegangan dua orang berpakaian hitam itu. Sekuat apapun aku bergerak tubuh kecil yang ku milili tak bisa melawan kekuatan fisik dua orang tersebut. "Aaaaaaaaghhh" teriak salah satu pria berpakaian hitam yang tangannya telah ku gigit dengan sangat kuat, kemudian dilanjutkan oleh pria yang satunya seraya melepaskan genggaman tangan mereka dari lenganku.
"Zoooowwiiiiii" teriakku saat jatuh dari ketinggian mencapai 200 m. sentakan jari terdengar lagi diiringi dengan suara burung hantu yang terdengar sangat kuat sedang mendekat kearahku saat itu. Buluh putih besar dengan paruh kecil terlihat terbang membawa seorang lelaki tua dengan sebuah cahaya yang ia keluarkan dari tongkat hitamnya. Cahaya itu ia tujukan kepada dua orang yang saat itu sedang terbang menuju kearahku. Terlihat seperti sambaran petir menyentuh tubuh dua pria itu sehingga tubuh mereka jatuh terlentang ke bawah tanah. Kepakan sayap burung hantu besar dengan cepat menangkapku dari ketinggian dan membawaku terbang menjauh keatas langit.
Di penerbangan itu terlihat cahaya merah dari tongkat sang kakek yang duduk diatas sapi terbang bersinar menuju kearah kami. Namun cahaya putihpun dengan cepat menghalaunya.
"Kamu sudah aman zia, sekarang kita akan pergi ke gitovornia untuk memperkenalkan kamu pada kehidupanmu dulu." ucap kakek yang bernama zardam itu dengan senyuman lembut. "Tapi, agar tenangamu bisa kembali, kamu harus istrahat dulu." Ucapnya lagi dengan sentakkan jari tangan yang membuatku tertidur pulas sampai suara burung itu membangunkanku.
Suara anak remaja ramai terdengar ditelingaku, namun mata terasa berat dan tak mampu untuk ku buka. tiba-tiba cahaya matahari terasa panas dipelipis mata dan pelan-pelan membuatnya terbuka, terlihat sebuah kamar dengan plafon yang dipenuhi lukisan berbagai macam bentuk orang. Bertelinga yang panjang seperti seorang elf, bergigi taring dengan pakaian putih seperti seorang vampir dan membawa tongkat seperti seorang penyihir. "Dimana ini?" Tanyaku dalam hati.
Suara pintupun terbuka, terlihat seorang wanita berparas cantik dan berkulit putih serta berpakaian serba putih dengan telinga yang panjang masuk kedalam kamar sambil membawakan minuman dan makanan kearahku. "Ini buah untuk kamu ziana" ucapnya seraya tersenyum. Seketika itu matanya yang biru berubah menjadi silver dan berkata dia sudah sadar. Terdengar sebuah kepakan sayap yang berasal dari jendela kamar dan terbang kearahku. "Zooowiii" teriakku dengan gembira seraya memeluknya. Baju putih panjang sampai dimata kakipun terlihat sedang berdiri disampingku. Itu adalah si kakek tua bernama zardam ucapku dalam hati.
"Bagaimana kedaanmu? Apakah masih ingat denganku?" Tanyanya dengan senyuman. "Ahh, namanya Tria, dia adalah perawat disini." Ucapnya seraya menunjuk kearah wanita bertelinga panjang tersebut. "Apa aku berhalusinasi?" Tanyaku dengan penasaran kepada kakek zardam. Tak ada tanggapan, ia hanya tertawa sambil menyentakkan jarinya. Tiba-tiba, terlihat seorang ibu berrambut pendek dengan seorang anak kecil berrambut panjang masuk kedalam Sekolah SDN Cempaka. "Inikan ditempat sekolah dinda?" Ucapku dalam hati. "Tak" suara sentakan tangan itu kembali terdengar, terlihat shampoo yang bergerak dengan sendirinya diatas kepalaku, "aah.. kenapa aku disini?" Tanyaku lagi. "Tak" suara sentakan itu terdengat ketiga kalinya dan saat itu aku kembali ke tempat dimana kakek tua itu berada.
"Bagaimana? Apakah menurutmu itu halusinasi? Tanyanya kepadaku. Saat itu aku bingung mau membenarkan yang mana, karena ketika aku meminum obat dari pak brama, halusinasi itu tak terjadi. Tapi kenapa aku masih ada disini? Di gitovornia?" Tanyaku dalam hati. "Masih banyak yang belum kau lihat, setelah kamu pulih, tria akan membawamu berkeliling dan memperkenalkan mereka padamu." ucap sang kakek yang kemudian disambut senyuman dan tundukkan hormat dari si tria seorang manusia bertelinga panjang.