
Cahaya matahari disore hari memancar kedalam kamarku melalui jendela panti. Selimut tidur mulai ku tarik dan ku bereskan seperti biasa. Aku berjalan kearah pintu untuk pergi membersihkan tubuh sesuai dengan apa yang diperintahkan ibu lia. Seseorang sedang menatapku dari balik cermin,aku perlahan mundur untuk memastikannya, "Ternyata itu hanyalah bayanganku" ucapku sambil memukul kepala seraya berjalan keluar.Pintu kamar mandipun mulai ku buka dan perlahan mulai ku basuh tubuhku dengan air."Kenapa rambutku berbusa?" Tanyaku heran. Aku melirik keatas kepalaku dan tersandar ke dinding kamar mandi karena kaget melihat botol shampoo yang perlahan bergerak sendiri.."Aaauuuhhhghh.." tulisan mantra itupun mulai terlihat lagi, gayung air terangkat dengan sendirinya, sabunpun mulai menjatuhkan dirinya didalam air yg ada digayung dan perlahan mendekati tubuhku.
"Aaahhh" teriakku sambil mengambil handuk dan lari keluar.
"Haaaaaaahh?" Suara air terdengar, tetesannya terasa didepan wajahku.Sebuah jalur air yang sangat tinggi,
terlihat sebuah pohon berdiri disamping sebuah batu besar dekat air terjun itu. Cahaya matahari tak terlihat, karena tertutupi besarnya lingkaran batu. Suasananya yang begitu sejuk, dengan banyaknya hewan-hewan lucu seperti kupu-kupu dan kelinci, Yah ini adalah sebuah gua yang berpenghuni.Tiba-tiba lingkaran berwarna merah masuk dari mulut gua, terasa panas,Tumbuhan disanapun mulai layu, hewan-hewan berlari ketakutan. Seorang pria dewasa berumur sekitar 40 tahun melayang diudara dan tertawa bahagia menatap kearahku. Karena kaget melihat itu, kepalaku terasa sakit, dan kesadarankupun menghilang.
"Apakah aku sedang berhalusinasi?"
"Atau aku sedang bermimpi?" Tanyaku dalam hati.Mataku berat, nafasku sesak, aku perlahan-lahan kembali membuka mata untuk kesekian kalinya. Dinding berwarna putih, dengan tali infus yang menggantung disamping tempat tidur, suara teriakan dan tangisan terdengar dibalik pintu kamarku, mobil ambulance satu persatu datang dengan nada khasnya yang membuatku bingung dan perlahan-lahan memegang kepalaku.hatiku terasa sakit, aku ingin menangis,
"Aku dirumah sakit lagi!" Seruku dengan suara gemetaran.Apa sebenarnya yang sedang terjadi denganku?Frustasi mulai membuatku menggila, aku mulai susah membedakan dimana kisah asli dan dimana cerita yang kubentuk dengan halusinasiku!
*Kriiieeet_" seseorang membuka pintu kamar dengan suara tangisan yang terdengar jelas ditelingaku."Zia!!" Teriaknya. Suara yang tak asing, tapi aku tak ingin menengoknya, aku takut ini hanyalah halusinasi yang perlahan-lahan mulai kubuat.
"Zia.. ibu lia, ibu lia" ucapnya sambil menangis.
"Itu dinda_" ucapku dalam hati.Aku menengok kearahnya. Mukanya dipenuhi debu dan bajunya tak layak untuk dipakai, ada sobekkan dan bekas-bekas arang diwajah dan bajunya, rambutnya tak terurus, dan hidungnya berdarah. "Apa yang terjadi?" Tanyaku dalam hati.Ia bersama seorang wanita dewasa berambut pendek, yang selalu memegang tangannya.
"Siapa dia?" Tanyaku dalam hati.
"Kenapa suaraku tak bisa keluar?" Ucapku.
"Ini nyata atau halusinasiku?" Tanyaku kembali.Bukannya memperdulikan dinda, aku malah memegang kepalaku dengan keras, karena berfikir ini adalah halusinasi. Sampai akhirnya dokter mulai mendekati wanita dewasa yang bersama dinda dan berkata :
"Kami telah menemukan mayatnya"
"Terima kasih sayang" ucap sang wanita yang ternyata adalah istri dokter tersebut.Karena penasaran, aku mulai mengeluarkan pertanyaan, "Apa yang sedang terjadi?" Sebuah berita mengagetkanku, terlihat poster seorang pria digenggaman polisi yang berjalan masuk untuk mengecek keberadaanku dan juga dinda. Senyuman pria itu membuat kepalaku sakit.
"Ini adalah poster pelaku pembakaran panti asuhan itu" bisik sang polisi, hatiku sesak, teringat wajah pria yang melayang diudara, "Wajahnya mirip" ucapku dalam hati "Ibu lia.. agung dan lainnya mana din?" Tanyaku dengan suara bergetar.."Aaaaakkkhhhhh..." Teriakku sambil memukul kepalaku.Ini pasti halusinasiku saja" ini adalah halusinasiku" teriakku dengan memberontak.Hingga beberapa perawat muda masuk untuk menenangkanku dengan suntikan penenang.
"Ternyata dia masih hidup" ucap seorang pria muda, yang samar-samar terlihat.Wajahnya seperti kukenali,Yah. Dia adalah penyihir dewasa yang telah menghancurkan gua dan panti asuhan tempatku tinggal.Wajahnya mirip, tetapi ia lebih muda."Ini pasti halusinasiku" ucapku sambil perlahan-lahan tertidur."Bagaimana keadaannya?" Tanya seorang pria
"Dia baik-baik saja" Jawabnya. Matakupun perlahan-lahan terbuka, suasana rumah sakit masih terasa,
"Kamu sudah sadar?" Tanya seorang wanita yang tidak lain adalah istri dari dokter pekerja rumah sakit."Ia," jawabku
"Dimana ibu lia?" Tanyaku dengan harapan, bahwa semua yg terjadi hanyalah mimpi dan halusinasiku.Wanita itu terdiam sejenak, tak menjawab pertanyaan singkat yang aku keluarkan, dindapun bangun seraya memeluk wanita itu.
"Semua anak panti telah tiada, hanya kamu dan dindalah yang tersisa" ucap wanita itu sambil mengusap bahuku. "Maksud ibu?" Tanyaku bingung dengan hati yang terasa sesak. "Kemarin malam, saat kamu berada dirumah sakit, kami menerima kabar bahwa telah terjadi kebakaran besar dipanti asuhan tempat kamu tinggal" ucapnya sambil memeluk dinda "Dinda satu-satunya anak yang ditemukan diluar panti asuhan dengan keadaan terbaring tak sadarkan diri".
"Lalu yang lain bagaimana?" Tanyaku dengan suara gemetaran.
"Maaf... kami tak bisa menyelamatkan mereka" ucap seorang pria seraya menutup pintu kamar yg tak lain adalah dokter dirumah sakit itu. Hatiku sakit, tapi aku tak bisa menangis, aku tak bisa merasakan bagaimana sedihnya dinda seorang anak berumur 10 tahun yang melihat langsung kejadian pada malam itu. Semua yg terjadi perlahan-lahan kembali membuatku bingung.
"Bagaimana semuanya bisa terjadi?, Dimana aku selama ini?, Kenapa aku ada dirumah sakit ini?" Tanyaku dalam hati.Aku terdiam sejenak, dan selalu nempertanyakan kenyataan yang telah terjadi. Beberapa hari telah berlalu, tapi aku merasa baru berapa jam didalam rumah sakit ini.Karena pusing, mataku kuarahkan ke pintu kamar 204, yang tak lain adalah kamar tempatku terbaring sakit.
"Siapa wanita itu?" Ucapku keheranan.Terlihat seorang wanita berambut pendek sedang menangis dan menatap kearahku. "Apalagi ini?" Tanyaku dalam hati.Aku tiba-tiba teringat tanda mantra kemarin yg tertulis ditanganku. "Tak ada tanda!!" Ucapku heran, terlihat goresan luka besar disudut siku, kakiku terlihat sedang terbalut dengan banyak perban. Aku kembali memegang kepalaku, dan ternyata juga ada perban halus yang terpasang, "Ada apa ini? Kenapa tubuhku seperti ini?" Tanyaku bingung, Sesuatu tiba-tiba menyadarkanku, bahwa dinda dan sang wanita dewasa itu tak ada disampingku.
"Kemana dinda?" Ucapku,Sedari tadi, aku tak pernah melihat seseorang dari mereka berjalan keluar ruangan.
"Ziaaaaa... Ziiiaaaaa..." panggil seorang wanita. Suara itu selalu terdengar ditelinga, halusinasi ini mulai terjadi fikirku, mata dan telinga seketika itu ku tutup dan berharap semua ini hanyalah sebuah mimpi, tapi mengapa mimpi ini tak pernah berakhir?
"Dinda, cepat tidur,.!! Kamu mau kemana??" Teriak seorang wanita.Mendengar teriakan itu, perlahan-lahan ku buka mata dan telingaku. Suasana gelap, hanya suara angin yang terasa dibalik rambutku, horden-horden yang tergoyang karena sentuhan angin malam terlihat pada saat itu, tak ada suara lagi. Yaah.. aku kembali kehalaman panti asuhan yang saat itu masih berdiri tegak. Terlihat seorang anak perempuan berjalan kearahku. Tak ada suara, dia berjalan sendiri layaknya sedang diarahkan oleh orang lain.
Ia berjalan terus sampai membelakangiku yang sedang berdiri terpaku menatapnya. Akupun berbalik untuk memanggilnya, namun tanganku berat, sebuah bau familiar tercium, rasanya hangat, tapi terlihat terang disampingku. "Aaahhh.. itu adalah api" teriakku.Seseorang pria tersenyum menyeringai disampingku, ia sedang memegang tanganku yang saat itu tengah mengeluarkan api besar, dan kemudian mengarahkannya kearah panti asuhan. "Aaaaaaaahhh tidaaaaak" teriakku.
*Bruuuuaaaaaarrrhhh____" seketika itu api menyala dengan sangat besar, dan membakar habis panti asuhan tempat ku tinggal sedari kecil. Emosi mulai menyelimuti hati dan fikiran, perbuatanku tak terkontrol, seketika itu tulisan mantra ditangan bersinar dengan terang.Tanganku mengangkat seorang pria disamping yang tidak ku kenali. "Kau telah membuat amarahku memuncak doni, aku menyembunyikannya selama ini, tetapi kau malah membuatnya keluar" Ucapku tanpa sengaja."Bukan aku... Bukan akuu," teriaknya.Tangan kananku yang tengah menancap dilehernya, perlahan-lahan mengeluarkan sinar merah, dan membakar hangus doni.
"Sampai bertemu lagi" teriak sang pria melayang diudara. Yaaa pria itu adalah orang kemarin yang telah bertemu denganku, dialah yang telah menghancurkan gua dan pantiku saat ini.Ku berniat untuk mengejarnya, namun tanganku terasa berat, seolah-olah ada yang sedang menahanku.Seorang lelaki tua, berambut dan berjenggot putih, dengan baju dan kacanya yang besar, tengah melayang diudara. Dicermin itu terlihat seorang wanita dewasa, membawa tongkat dan tulisan mantra ditangannya.
"Inilah aku?" Tanyaku keheranan.
"Inilah yang telah terjadi kemarin?" Tanyaku kedua kalinya. "Kamu akan melupakan ini semua, sampai kamu benar-benar siap untuk menghadapi mereka," ucap sang kakek seraya menggerakkan tangannya lalu menutup mataku.
"Zia... Apa kau sudah siap?" Tanya dinda."Ia" jawabku tersenyum.Kami pergi kerumah dokter dan istrinya, untuk tinggal beberapa minggu ditempatnya.