
Penjelasan panjang yang disampaikan oleh tria membuatku berfikir sepertinya aku harus fokus untuk belajar sihir, terlepas dari benar atau tidaknya kejadian sekarang ataukah ini hanya halusinasi belaka aku tidak akan perduli. "Ayo kita kembali ke gedung pengobatan ras elf" ajak tria sambil melangkahkan kaki keluar dari pintu gua zianastasya itu.
"Ah zia, apakah profesor zardam mencariku?" Tanyaku penasaran. "Iya, tadi dia menanyakan keadaanmu". Jawabnya. Suasana gitovornia terlihat sedikit berwarna merah kekuningan karena matahari sore telah hadir menyinarinya. "Ternyata kalau memandang gitovornia disore hari dari atas sini tetap terlihat indah seperti pagi dan siang hari" ucap ku kagum ketika melihat keindahan yang baru pertama kali ku temukan. "Tria, aku sejujurnya masih belum percaya tentang kota ini, karena terkadang aku selalu melihat tubuh ku berada di dalam rumah sakit dan berpindah ke tempat yang lain, jadi aku selalu berfikir ini hanyalah halusinasiku saja". Ucapku jujur. "Hmmm, mungkin saja itu karena ketakutan anda yang terlalu berlebihan. Kalau kejadian besar itu benar-benar terjadi, maka harapan kami hanyalah kalian para generasi baru". Ceritanya yang saat itu menghentikan percakapan singkat kita berdua.
Pintu kaca gedung pengobatan ras elf dibuka, dan aku masuk kedalam ruang kamar itu bersama profesor tria. "Apa ini profesor?" Tanya ku bingung ketika melihat sebuah buku dan beberapa tanaman diatas meja besar dalam kamar tempat pertama kali aku bangun di Gitovornia. "Besok, kau akan kembali ke Gitovornia school, jadi sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai mengajarimu seluruh kekuatan ras elf". Ujar profesor tria. "Kenapa semuanya diajarkan kepada ku? Bukannya aku berasal dari ras sihir? Bagaimana caranya aku bisa melakukannya?" Tanyaku kembali seraya melangkahkan kaki mendekati meja besar tersebut. "Kau bisa zia, kau bisa mempelajari seluruh kekuatan ras digitovornia, setidaknya itulah yang kami harapkan". Jawabnya sambil mengangkat buku sama seperti buku yang aku dapatkan dan baca didalam asrama.
"Itukan buku yang sama seperti buku yang ada padaku." Ucapku seraya mengambil tas penuh buku yang telah kurapikan dari asrama. "Iya, itu adalah buku zianastasya didalam gua miliknya, profesor zardam sengaja menyuruhku mengambil buku itu saat pertama kali kau membacakan mantra pembuka portal gua tersebut dan memberikan buku itu padamu". Jelasnya yang kemudian membuka salah satu halaman dengan banyak mantra dan kegunaan serta manfaat-manfaatnya. "Venire" sebuah mantra diucapkan profesor tria seraya memunculkan dua kelinci yang sedang terluka parah. "Sekarang ikuti perkataanku zia, aku akan menyembuhkan kelinci yang satunya dengan mantra penyembuh dan kamu akan mengikutinya untuk menyembuhkan kelinci selanjutnya". Ucap profesor tria. "miraculo exsurge sancta" cahaya hijau keluar dari tangan tria dan menyelimuti kelinci putih tersebut, gerakan kaki mulai terlihat dan seketika kelinci itu kembali sehat saat luka besarnya tertutupi. "Sekarang giliranmu zia" perintah nya. Rasa khawatir tak akan terwujud terbayang diotak ku, keraguan demi keraguan terasa. "Ayolah, tak apa, kamu tidak akan membunuhnya". Ucap prof tria.
Mata perlahan ku tutup dan aku menarik nafas panjang, terbayang seorang wanita sedang menyembuhkan seekor kelinci didalam gua zianastasya, mata ku buka dan warna silver itu terlihat dibola mataku yang kemudian kembali menjadi hitam. Profesor tria yang melihatnya menjadi kaget karena warna mata itu adalah warna mata yang dimiliki oleh lucia salah seorang elf kuat pada zamannya. "miraculo exsurge sancta". Cahaya hijau yang sama terlihat menyelimuti kelinci dan kejadian mirip dengan prof triapun terjadi. "Ahaha aku bisa profesor". Teriakku dengan gembira. "Baguslah zia, itu adalah mantra penyembuh yang bisa digunakan untuk semua mahluk hidup. Sekarang kita lanjutkan untuk mantra-mantra lainnya zia, ah ia, bukankah kau juga pernah menyembuhkan satu tumbuhan saat pembelajaran ras elf berlangsung?". Ucapnya dan tanyanya seraya membuka satu persatu lembar buku dan mengajarkannya kepadaku. "Itu terjadi begitu saja tanpa mantra apapun" jawabku.
"Baiklaah... Switch" ucapku seraya memikirkan tempat yang ku tuju. Tubuh menghilang dan berdiri tepat disamping zian. "Astaga mengagetkan, bagaimana caranya kamu melakukan itu?" Tanya zian kepadaku. "William pasti tahu caranya" jawabku seraya mendekat mengambil zowii dan berjalan kearah profesor zardam. "Kalian sengaja aku kumpulkan disini bersamaan dengan hari ulang tahun zia, karena seperti yang telah kalian dengar, ia akan datang untuk melakukan penyerangan seperti dulu agar seluruh buku miliknya dan ras elf serta ras ork akan menjadi miliknya sendiri untuk membentuk kekuasaan sepenuhnya dari 5 ras termaksud muggle. kalian adalah orang terpilih untuk membantu kita mengalahkannya ketika dia datang menyerang gitovornia". Ucap prof zardam. "Untuk itu, masa pembelajaran kalian akan lebih ketat dibandingkan yang lain sesuai dengan kemampuan dan keahlian kalian sendiri" tambah prof tria. Ketukan jari terdengar, sebuah meja besar tertata rapi dengan makanan-makanan lezat diatasnya, "selamat ulang tahun zia" ucap profesor zardam seraya mengedipkan matanya kearahku sehingga membuat mereka merasa bingung akan keistimewaan yang diberikan profesor zardam.
Melihat hal itu aku menjadi tak enak hati. "Tenang, mereka akan lupa tentang acara ulang tahun malam ini, dan hanya akan ingat soal pembelajaran ketat yang sudah tria sampaikan" ucap profesor zardam sambil ikut mencicipi makanan lezat tersebut. Sementara itu di sebelah hutan terlarang di kota arteruis terlihat stefan sedang mempertanyakan kejadian sebenarnya kepada Amelia yang sudah tak sadarkan diri dan bertingkah ketakutan secara terus menerus. "Peri sialan" ucap stefan dengan marah. Zies yang telah hilang menambah amarah stefan menjadi-jadi dan berniat akan menghancurkan serta membunuh tria dan profesor zardam disaat yang tepat bersama drakon. Ular hitam milik drakon berpindah tangan menjadi penjaga stefan bersamaan dengan seorang pria dari ras trankel bernama Servan. "Waktunya akan segera tiba, dan kalian tidak akan tertawa bahagia seperti sekarang." Ucapnya dengan tegas seraya menatap keluar jendela yang mengarah ke kota gitovornia dan menghilang dengan kabut hitamnya.
Mentari telah hadir menyapa seluruh tumbuhan yang membutuhkan cahayanya. Sebuah bingkisan panjang dan besar terlihat dibawah kaki ku. "Apa ini?" Tanyaku bingung dalam hati. Bingkisan perlahan ku buka dan sebuah sapu terbang dengan bulu yang sangat halus serta kayunya yang masih sangat cerah mengkilap itu membuatku bahagia. "Bagaimana menurutmu nyonya?" Tanya seorang wanita yang ternyata adalah tria. "Bagus, apakah ini adalah hadiah darimu?" Tanyaku. "Bukan, ini adalah pemberian profesor zardam untuk kalian berdelapan agar tidak susah pergi kemanapun." Jawabnya. Sapu sihir itu kemudian bergetar ketika tanganku menyentuhnya. "Tunggu, bukankah ini sapu terbang milik profesor boby yang kemarin pernah ku pakai?" Lirik ku kearah tria. "Iya benar, itu adalah pilihan profesor zardam, dan mulai sekarang kau bisa memberinya nama, dan dia akan datang kapanpun kau memanggilnya".