THE WITCH?

THE WITCH?
Chapter 32 - Dimulainya kejadian-kejadian aneh



Suasana malam dengan cahaya lampu kuning terlihat disekitaran kamar, lampu kuning yang perlahan menghangat masih tetap menyala dengan terangnya tepat disamping kasurku. Sebuah buku ku baca dengan teliti hingga ada beberapa kesamaan cerita dari beberapa buku sebelumnya yang pernah aku baca, "sepertinya buku ini saling berkesinambungan, apa ini alasan profesor tria memberikan semua buku kepadaku? Tapi, bukankah profesor tria mengatakan ini adalah buku zianastasya?" Gumamku dengan banyak pertanyaan.


"Taak" siapa itu?" Tanyaku ketika melihat bayangan seorang pria dari balik jendela tepat disamping kasur arina. Bayangan itu masih tetap berada dibalik jendela dengan tatapan lurus ke arahku, tongkat kuning tanpa sadar aku munculkan dari balik tangan kanan sebagai penjagaan jangan sampai orang itu mempunyai niat jahat, hingga akhirnya ketokan pintu itu mengagetkan ku. Tak ada suara, keadaan asrama terasa sunyi saat itu, bahkan jiny dan arina tak pernah sedikitpun bergerak dari kasurnya. Bayangan sebelumnya pun menghilang dari pandanganku.


Dengan tenggorokan yang bergerak karena menelan ludah aku memberanikan diri berjalan melambat menuju pintu yang kemudian tanpa sadar menyihir seluruh buku yang sedang ku baca masuk kedalam lemari. "Siapa disana?" Tanyaku ragu-ragu. "Ini aku, grifin" jawabnya. "Hah? Sedang apa kau kesini? Bukankah ini waktunya orang-orang tidur?" Tanyaku risih dan penuh kecurigaan. "Cepat buka pintunya!" Pintah grifin seolah-olah memaksa. Tak ada pilihan lain, aku sangat penasaran dengan keadaan sebenarnya. Tangan ku majukan untuk membuka kunci pintu dan *tak* sebuah tangan hangat menyentuh pundak ku. "..........." Sebuah mantra pembekupun terdengar keluar dari mulut grifin saat pintu kamar ia buka dengan lebar. "Aaarkkkhhh" teriakkan menjerit juga ikut terdengar dibelakangku dan suara jatuh juga ikut bergema saat itu.


"Arina?" Ucapku yang kemudian kaget melihat kabut hitam keluar dari tubuhnya. "Kamu .... Bagaimana kamu bisa..", "sudahlah, ayo ikut aku, kita ke ruangan profesor tria". Ucapnya memotong pembicaraan. "untuk apa kita kesana?" Tanyaku bingung ketika grifin mengajak ku ke ruangan prof tria dan bukan ke profesor yang lain. "Sudah ikut saja, ini penting, sebelum dia datang lagi". Serunya yang membuat rasa penasaranku semakin besar. Tak sempat berjalan, tiba-tiba "Kalian mau kemana?" Tanya zian keluar dari pintu kamarnya. "Ariiiinaa.... ada apa zia?" Tanya jiny yang juga ikut keluar saat itu.


Cahaya lampu perlahan mati dan kembali menyala menyinari ruang asrama sihir saat itu. Berta, keyla, jony dan martinpun ikut terbangun dan keluar dari kamar mereka masing-masing. "Mengapa hanya kita yang bangun?" Tanya jiny dengan kehati-hatian seraya menatap kesegala arah. Martin berlari mendekati arina dan mencoba untuk mengobatinya, jinypun ikut duduk seraya mempethatikan sekitarnya. Zian dengan cepat menarik dan menggenggam tangan kiri ku sedangkan tangan kananku masih berada digenggaman grifin.


"Lebih baik kita tidak saling berpegangan agar bisa menyelamatkan diri masing-masing" ucapku seraya menatap kearah mereka. "Ah maaf" jawab zian sambil melepaskan tangannya. Berbeda dengan zian, grifin malah menarikku untuk pergi ke ruangan profesor tria, namun sebelum mencapai pintu, grifin terdiam didepan pintu kamar 015 seakan-akan tengan melihat sesuatu, semua mata kita tertuju padanya yang tiba-tiba berubah seperti ketakutan. Ia melepaskan tangannya dan mendorongku saat kabut hitam itu muncul lalu berteriak, "martin pergi". Portal seketika terbentuk dan dengan cepat martin membawa kita semua berpindah tepat didepan tangga ke ruangan profesor zardam.


"Apa yang terjadi? Mengapa kalian semua berada disini?" Tanya profesor tria. "Sepertinya ada yang sedang terjadi, grifin, kita meninggalkan grifin didalam asrama saat kabut hitam itu menyerangnya." Seru zian yang masih bingung. "Kabut hitam?" Tanya profesor maikel dengan raut wajah kaget lalu kemudian berlari seraya memanggil sapu terbangnya untuk pergi ke ruangan asrama sihir.


Mata tria membiru dan berkata "sesuatu sedang terjadi, sepertinya mereka mengetahui rencana kita untuk menugaskan murid pilihan menjadi prajurit khusus, mereka telah panik dengan keadaan sekarang". "Baik, aku akan pergi melihatnya" ucap profesor tria yang dengan cepat menghilang dari pandangan. Ada beberapa hal yang masih janggal menurutku, mulai dari kejadian bayangan dibalik jendela, hingga grifin yang bisa mengetahui semuanya dan profesor maikel yang sedang berada bersama profesor tria, lalu ditengah kebingungan itu matakupun ikut membiru dan keadaan diluar seketika terlihat dengan jelas.


"Aku melihat seorang pria mencurigakan dari ruang asrama" ucap seekor burung hantu yang tak lain adalah lionel atau yang ku kenal dengan sebutan zoowiii. "Dia bersama seorang profesor menurut ku" serunya lagi yang tetap menatap kearah mereka yang sedang terbang meninggalkan asrama. "Ahh itu profesor maikel, grifin.. mereka membawa grifin" ucapku sehingga tatapan mata keyla, berta dan teman-teman lain tertuju padaku. Mata kembali menghitam dan suasana ruangan kembali terlihat. "A......yo", "mengapa profesor ada disini?" Tanyaku heran dalam hati saat melihat profesor maikel berjalan dengan cepat keruangan profesor zardam tanpa sedikitpun menghiraukan kita yang sedang berdiri disana.


"Ada apa zia?" Tanya arina yang ternyata sudah sadar dari mantra pembeku milik grifin. "Aneh,.. semuanya aneh, tadi aku lihat profesor maikel terbang meninggalkan asrama bersama grifin dan seseorang yang berkabut itu. Tapi tiba-tiba sekarang dia berada disini!" Ucapku dengan perasaan penuh tanda tanya. Selang beberapa menit, profesor tria kembali datang bersama zoowii yang telah berubah menjadi seorang pria. "Semuanya sudah aman, kalian bisa kembali ke asrama dan keadaannya baik-baik saja, grifin juga sudah istrahat dikamarnya" pintah profesor tria yang kemudian ikut masuk ke ruangan profesor zardam tanpa menatap kearahku seperti biasanya.


"Sudahlah zia, ayo kita kembali, profesor pasti sudah menyelesaikan semuanya" panggil jiny yang kembali merasa ngantuk dan berjalan turun ke ruang asrama. Pintu dengan gantungan kepala itupun terlihat tidak seperti biasanya, mereka sama-sama berkata "iya telah kembali, iya telah kembali!" Sehingga membuat ku merasa sepertinya keadaan ini memang tak biasa. Perasaan yang samapun terlihat menyelimuti zian yang saat itu berjalan kearahku dan berkata. "Kita harus waspada beberapa hari kedepan" serunya lalu berjalan meninggalkan ku dan naik ke asrama ras sihir.