THE WITCH?

THE WITCH?
Chapter 24 - Hadirnya sang pria elf



Pembelajaran diras sihirpun berakhir dan kami diperintahkan untuk kembali ke asrama seperti biasanya. Setelah melewati beberapa tangga, tibalah kami di lantai pertama sebelum ruang pertemuan seluruh ras yaitu ruang kelas ras elf. Sebuah kaca besar terpasang tepat disamping tangga menuju ruang pertemuan. Kakiku berhenti bergerak karena melihat seseorang berdiri tepat dibelakangku. Wajah hancurnya itu perlahan mendekat dan ingin masuk kedalam diriku, namun zian dengan cepat menegur sehingga aku tersadar dan melihat grifin sedang tersenyum kearahku tepat dari arah belakang punggungku. Badanpun kuarahkan kepadanya dan bertanya mengapa grifin menatapku dari belakang dengan senyuman. "Aku hanya ingin tersenyum kepadamu, apakah itu salah?" Tanya grifin sehingga membuatku mengalihkan pandangan dan pergi dari tempat tersebut.


"Zia, zia" panggil zian seraya berlari kearahku. "Kamu kenapa pergi begitu saja? Grifin mungkin mau berteman denganmu!" Ucapnya. "Tapi aku tidak suka caranya menatap ku dari pertama kali bertemu" jawabku sambil mempercepat langkah, tiba-tiba seorang pria dengan rambut pendek yang tak asing dimataku memakai pakaian serba hitam sedang berdiri didepan lorong menuju asrama "selamat sore profesor maikel" salam zian seraya menundukkan badannya. "Ah, selamat sore zian dan nona ziana" jawabnya seraya menatap tajam dengan senyuman kearahku. "Profesor mau mencari grifin?" Tanya zian, "Iya, apa kamu melihatnya?", "Ia prof, grifin ada diruang pertemuan" jawab zian kembali seraya memberi jalan kepada profesor untuk lewat, aku yang melihatnya terdiam terpaku karena melihat wajah seseorang yang sangat ingin membunuhku saat dimimpi tersebut.


Ia melewati kami dan memberi senyuman kepadaku seraya memasukkan tangan dan tongkat sihir kedalam jubah yang ada dibelakangnya."Zian mengapa profesor maikel mencari grifin?" Tanya ku bingung seraya melirik kearah profesor yang perlahan menghilang dari pandangan ku. "Ooh, katanya profesor maikel adalah ayah dari grifin, dan ibunya adalah seorang manusia, itulah kenapa grifin sangat ahli menggunakan sihir keluarga trankel." Jawab zian yang membuatku teringat kejadian hilangnya bekas benjolan berta saat pertama kali masuk pembelajaran ras vampire. "Jangan-jangan yang menghilangkan benjolan berta saat itu adalah grifin?" Tanyaku dalam hati. "Ayo masuk zia, hari ini kita bisa pulang kerumah karena tiga hari kedepan kita tidak masuk pembelajaran". Ucap zian dan mulai menaiki tangga satu persatu sehingga pintu asrama ras sihirpun perlahan terbuka.


Seorang pria yang tak lain adalah martin keluar dari pintu asrama ras elf. Ia tersenyum seraya menyapaku "hallo zia" sapanya. "Ah ia," jawabku singkat. "Profesor tria menyuruhku untuk memanggilmu jika pulang ke ras elf, apa kamu mau ikut pulang!" Tanyanya kepadaku. Aku berfikir sejenak dan Tiba-tiba jiny keluar dari pintu bersama jony saudara kembarnya. "Zia, aku balik duluan yah". Pamitnya, "Arina bagaimana?" Tanyaku untuk memastikan apakah aku punya teman diasrama atau tidak, "Arina sudah pergi dari tadi selesai pembelajaran" jawabnya sambil melanjutkan langkah dan meninggalkanku bersama martin ditangga tersebut. "Zia kamu belum balik?" Tanya zian kepadaku. "Ah aku akan balik bersama martin" jawabku, "kenapa kamu kembali ke ras elf?" Tanyanya yang tak bisa ku jawab sama sekali sehingga aku meninggalkannya bersama martin dan melangkahkan kaki kedalam asrama untuk mengambil peralatan yang bisa ku pakai di ruang pengobatan ras elf yaitu tempat tinggal profesor tria.


Tumbuhan hijau dengan pohon pinus besar terlihat, "apa kita harus melalui hutan ini?" Tanyaku bingung. "Ia" jawab mereka berdua. "Memangnya tak ada jalan lain?" Tanyaku lagi. " Ada, kecuali kita lewat diudara dan hutan terlarang" jawab martin dengan cepat. "Hutan terlarang? Apa hanya itu jalan yang ada disini?" Tanyaku kembali bingung karena selama perjalan bersama profesor tria aku tak pernah melihat ada hutan yang menutupi jalan menuju ras elf."hahaha aku bercanda, ada jalan melewati beberapa ras, tapi itu membutuhkan waktu yang lama, karena kita harus melewati ras vampire, campuran, ork dan ras sihir, jika kita lewat sana maka mungkin saja kita akan sampai diras elf malam hari". Jawab martin yang saat itu membuatku terdiam seraya mengikuti langkah kakinya. Zian terlihat diam saja selama perjalan, ia melirik kearah pohon yang terlihat sama seperti sebelumnya. "Ini adalah jalan yang benar" ucap zian dalam hati. "Apa masih lama lagi? Sepertinya waktu mulai menjelang malam hari, disini juga mulai gelap" tanyaku. "Tenang saja, tak lama lagi kita akan sampai disana" ucap martin yang kemudian tiba-tiba berhenti diperjalanan.


Sebuah tangan perlahan menarikku dan menyuruh untuk berdiri dibelakangnya. "Eh ada apa zian?" Tanyaku bingung, aku melirik kearah martin yang saat itu telah berubah menjadi seorang pria dewasa dengan telinga panjang berpakaian serba putih seperti ras elf yang wajahnya terlihat asing dimataku. "Siapa kau?" Tanya zian seraya berjalan kebelakang secara perlahan. "Wah anak muda, sepertinya kamu sudah mengetahui rencanaku sejak awal". Ucapnya sambil menggerakkan tanganya. Seekor ular hitam besar keluar dari arah belakang dan terlihat sedang fokus kearah kami. "Halo ponakanku," ucapnya. "Siapa yang dia maksud ponakan?" Tanyaku kepada zian yang sedang fokus menatap kearahnya seraya memegang tongkat dengan erat ditangan kanannya. "Tenang saja, aku ini adalah orang yang pernah menyelamatkan ibumu sebelumnya" ucapnya kepadaku. "Aku tidak akan melukai kalian, asalkan buku Abrakadabra yang ada padamu diberikan kepadaku" ucapnya lagi seraya berpindah kebelakangku. Posisi yang sangat tidak menguntungkan, dibelakang terlihat seekor ular besar sedang bersiap-siap menerkam sedangkan didepan terdapat seorang pria tak dikenal tengah meminta buku Abrakadabra yang tak ku miliki.


"Apa maksud anda? Saya tidak memiliki buku itu" jawabku seraya mengeluarkan tongkat emas milikku, "wah tongkat alya ternyata jadi milikmu" ucapnya. Aku dan zian berpindah tempat menghadap kearah kiri dan kanan serta saling membelakangi satu sama lain. "Jika tidak melawan kita tidak akan mungkin bisa keluar hidup-hidup dari hutan ini" bisik zian kepadaku. "Sudahlah, tak perlu lama-lama cepat berikan buku Abrakadabra itu kepadaku" ucap pria elf yang dengan cepat berpindah kedepanku dengan wajah yang hampir mengenai wajahku. "Aleomora the fire" teriak zian sambil memainkan tongkatnya dan menyihir tepat diarah william sehingga membuatnya menghilang dari pandanganku. "Wah murid kelas I sepertimu sudah bisa mengeluarkan mantra aleomora dari keluarga firedan?" Tanyanya sambil memadamkan sebuah api yang sedang membakar tangan kanannya. "Api sialan", jawabnya seraua mengeluarkan cahaya penyembuh luka bakar. Tangan mulai ia arahkan kepada kami sebagai aba-aba kepada sang ular untuk menyerang. "Zia lari", ucap zian sambil menarikku menghindari ular tersebut. "Mengapa jalan keluarnya tak terlihat?" Teriak zian sambil melirik kebelakang yang saat itu sang ular dan pria elf itu tak terlihat.