THE WITCH?

THE WITCH?
Chapter 4 - Zowi Si Burung Hantu



"Selamat pagi", ucapku seraya memegang jacket biru pemberian bu dian. Salamkupun dijawab olehnya yang saat itu sedang duduk diruang tamu sambil menonton ftv kesukaannya.


"Pagi, kamu udah makan?" tanya bu dian. "ibu udah nyiapin makanan disana, pak bayu juga bisa ikut makan" ucapnya sambil menatap ke arah pak bayu. Karena merasa tak enak untuk menolak akupun berusaha untuk pergi makan bersamaan dengan jacket ditanganku. 


"Zia, tangan kamu kenapa?" Tanya bu dian sambil berjalan kearahku. "Tidak apa-apa bu," jawabku seraya memindahkan tangan kiriku kebelakang. "Coba ibu lihat" tegasnya lalu menyodorkan tangan untuk memintaku memperlihatkan tangan yang ku tutup dengan jacket biru itu.  "Tidak apa-apa bu," jawabku lembut. Karena khawatir terjadi apa-apa denganku ibu dianpun memaksa untuk melihat apa yang terjadi dibalik jacket biru itu.  "Tidak apa-apa bu" jawabku dengan nada sedikit agak keras. Namun, ia tetap memaksa, semakin kuat aku menolak ia semakin keras memaksaku memperlihatkan tangan yang dilapisi jacket biru itu.


Semua menjadi tak terkendali. Aku berusaha menutupi tanda mantra yang menurutku aneh, namun yang ku lakukan malah membuatnya terluka. *Bruaaakkkhhh__ tanpa sadar aku mendorongnya. Tak ku sangka dorongan pelan yang ku lakukan untuk menjaga agar ibu dian tak bisa melihat mantra itu malah menjadi musibah sebentar dikeluarga dokter brama.


"Ibu..." Teriak pak bayu, "kamu kenapa mendorong ibu dian sekuat itu? Bagaimana caramu melakukannya?" Tanyanya dengan raut wajah marah. Dinding rumah yang retak dibasahi air berwarna merah keluar dari kepala ibu dian itu membuatku terdiam terpaku. Sejujurnya aku tak sengaja melakukan itu, aku tak pernah berniat untuk mencelakai ibu dian. Aku ketakutan dan berharap ini hanyalah halusinasiku.


"Bodoh, bodoh, bodoh," ucapku seraya memukulkan tanganku ke atas kepala. "Sadarlah bodoh, ini hanya halusinasimu" ucapku dengan wajah yg pucat karena ketakutan jika kejadian itu benar terjadi. Denyut suara nadi tak lagi terdengar, wajah pak bayu yang pucat menjatuhkan tangan bu dian ke bawah.tiba-tiba disaat bersamaan terdengar suara mobil datang seolah ingin memberitahu kehadiran dokter brama. 


"Pagi zia, dimana ibu?" Tanyanya kepadaku yg sedang berdiri terpaku menatap ke arah ibu dian. Matanya perlahan menengok kearah dinding yg retak, wajah memerah dengan urat yang terbentuk diwajah berkulit putih itu tiba-tiba ditetesi air mata, mulutnya menganga besar dengan tangan yang menempel dikedua buah bibirnya. Hentakan kaki itu dengan cepat berlari kearah ibu dian. terlintas difikiranku bahwa hari ini pagiku terasa kacau, yang terfikir di otakku hanyalah mantra yg sengaja muncul untuk menimbulkan kekacauan dalam kehidupanku, aku berlari menuju ke dapur untuk mengambil sebuah benda yang bisa dengan mudah menghilangkan tangan bertuliskan mantra tersebut.


"Dimana itu?" Tanyaku dengan raut wajah sedih, "aku telah kehilangan kedua kalinya orang yang perduli padaku dan juga dinda. Apa yang akan terjadi pada dinda setelah ia mengetahui semua ini?" Tanyaku berulang-ulang dengan air mata yang terus menetes.


"Betapa jahatnya aku, ini adalah kebahagiaan dinda, mengapa aku merebutnya?" ucapku dengan suara terbata-bata.


"Atau ini hanyalah halusinasi?" Tanya anak 15 tahun yang tak lain adalah aku dengan perasaan yang amat sedih dan tenggorokan yang terasa sesak. Ditengah kebingungan "Tak" sebuah sentakan jari tangan terdengar disebelahku. seorang kakek tua yang tak asing di mataku datang kesamping dengan senyuman lembut. 


"Kamu sudah lihat kemampuan pertamamu!" Ucapnya dengan senyuman. Dia menarikku ketempat ibu dian dan pak brama yang sedang terdiam layaknya sebuah patung seraya menyuruh untuk memegang kepala ibu dian. Aku bingung, namun tanganku dengan sendirinya bergerak ke arah ibu dian. cahaya biru itu keluar lagi dari tangan kiriku, mata silver dan tangan kanan mengeluarkan cahaya sama yang perlahan-lahan menghilangkan air berwarna merah dan bekas luka dikepala ibu dian. 


"Aahhh, " ucapku dengan senyuman bahagia.  "Cobalah kamu menyentakkan jarimu seraya memikirkan cara agar brama, dian dan bayu melupakan semua yang telah terjadi" ucapnya lagi dengan senyuman. Kebingungan kedua kalinyapun kurasakan, namun seperti tadi, aku mengikuti arahan kakek tua itu seraya berfikir untuk memindahkan ibu dian dan pak brama di tempat duduk, serta pak bayu di pos depan rumah dan berharap mereka melupakan semua kejadian dihari itu. "Tak" semuanya berjalan sesuai apa yang ku inginkan, aku tersenyum bahagia dan berbalik ke arah kakek tua itu untuk mengucapkan terima kasih. "Tak" hentakan jari itu terdengar lagi, aku kehilangan kesadaran dan bangun dari tempat tidurku. 


"Zia nggak datang jemput dinda" ucap dinda yang masuk kedalam kamar dengan seragam sekolah dasarnya. "Ayoo makan siang dulu" teriak seorang wanita, yang ternyata adalah ibu dian.


"Semuanya baik-baik saja," ucapku dengan perasaan tenang. "Mimpi kali ini terasa sangat nyata" ucapku lagi, Sepertinya aku benar-benar harus meninggalkan tempat ini, agar supaya dinda bisa menjalankan kehidupannya dengan baik.


"Aah hujan sudah turun" ucapku seraya berjalan mendekati jendela kamar untuk menutupnya. Terlihat seorang kakek yang wajahnya tak asing sedang tersenyum kearahku sambil berjalan melewati rumah pak brama. "Zia," teriak bu dian dan memanggil untuk makan siang, akupun turun dan makan siang berjalan seperti biasanya.


"Ini adalah cobaan terakhir sebelum kamu datang ketempatmu" ucap pria tua itu seraya meninggalkan rumah pak brama.


Setelah selesai makan, pak brama dan ibu dian memanggilku untuk mempertanyakan kejelasan apakah aku akan tetap pergi atau ikut bertahan ditempatnya. "Aku akan pergi pak, bu, besok aku akan coba berbicara dengan dinda," jawabku.  "Kamu benar-benar akan pergi besok?", "Iya bu" ucapku. "Baiklah, aku akan menyiapkan obat untuk kamu, agar apa yang kamu rasa tidak akan lagi mengganggumu" ucap pak brama seraya berjalan meninggalkanku dan ibu dian. "Permisi bu, aku mau memperbaiki barangku" ucapku dan juga ikut pergi meninggalkan ibu dian sendiri diruang tengah. Tak terasa malampun telah tiba, aku duduk diam didepan jendela kamarku seraya merasakan hembusan angin dan sinar bintang yang saat itu seakan-akan ikut menemaniku.


20 Januari adalah hari kelahiranku, dan malam ini adalah malam yang sama saat aku dilahirkan. Bagaimana caranya aku akan bertahan hidup seorang diri diumur yang begitu muda? Tanyaku berulang kali. Dengan perasaan sedih tiba-tiba terlihat dari atas pohon seekor burung hantu terbang kearah jendela kamar yang saat itu ku tempati, sontak hal itu membuatku kaget dan berlari menjauh dari tempat dudukku. Semakin lama aku memandangnya semakin ingin aku mendekatinya, "tak asing, burung itu tak asing" ucapku dalam hati, akupun perlahan-lahan mendekat kedepan jendela dan mencoba untuk membukanya, ia tak pergi, tandanya ia tak takut padaku.


Aku membiarkannya menemani malamku yang penuh dengan tanda tanya saat itu. Angin mulai memberikan kenyamanannya terhadapku, lampu tidurpun sangat mendukung dimalam indah itu yang tanpa sadar membuatku tertidur pulas, sampai akhirnya ibu dian membangunkanku,


"Kamu kenapa tidur dikursi ini?" Tanya ibu dian sambil mengusap bahuku, "Sudah pagi rupanya", ucapku dalam hati, "aku harus meninggalkan dinda hari ini" ucapku lagi seraya membangunkan tubuh dan berjalan membereskan barang yang masih tersisa.


"Dinda dimana bu?" Tanyaku, "dia masih tidur, hari inikan hari libur, jadi ibu membiarkan dia istrahat dulu", jawab ibu dian. "Kamu benar-benar mau pergi?" Tanyanya, akupun menganggukkan kepala tanpa mengeluarkan sepatah katapun. "Baiklah, kamu siap-siap saja, setelah selesai ibu tunggu kamu didapur yah, biar kamu sarapan dlu sebelum pergi", ucapnya. "Ia bu", jawabku sambil berdiri untuk bersiap-siap mandi sebelum pergi. 


"Hei, kenapa kamu masih disana?" Tanyaku keherananan seraya berjalan mendekati jendela kamar yang masih terbuka. Burung hantu itu tak pergi, ia masih dengan setianya menungguku dibalik jendela. Karena hari sudah pagi, aku tak takut lagi untuk menyentuhnya. Bulu putih yang sangat lembut itu membuatku merasa nyaman memeluknya, "Aah kamu punya siapa?" Tanyaku dengan perasaan senang. Aku akan memberi nama Zowi jika kamu tak memiliki tuan, dan kamu bisa ikut aku kemanapun aku pergi, ucapku sambil menaruhnya kembali dibalik jendela kamarku. 


Jam menununjukkan pukul 08 : 25, aku mempersiapkan diri untuk pergi meninggalkan rumah dan mencari tempat yang bisa aku tinggali sendiri, aku masih tak ingin melibatkan siapapun dengan halusinasiku yang buruk ini.


"Zia.. zia.." teriak dinda dengan raut wajah sedih seraya berlari kearahku yang saat itu sedang sarapan pagi bersama pak brama. "Zia mau ninggalin dinda" ucapnya sambil menangis. Saat itu perasaanku sakit, tenggorokkanku serasa tertekan, aku berjalan mendekati dinda dan menghentikan makanku. "Tak apa-apa, zia hanya pergi sebentar", ucapku pada dinda agar ia tak merasa begitu sedih. "Benar, zia cuman mau keluar sebentar, nanti pasti akan datang kesini lagi temui dinda" ucap pak brama seraya meyakinkan dinda agar membiarkan aku pergi. Berbagai macam kata yang kami keluarkan untuk meyakinkan dinda, sampai akhirnya ia menerima dan memberikanku pergi dengan satu perjanjian bahwa aku akan sering mengunjunginya, karena tak ingin ia kecewa, akupun mengiyakan dan berjanji padanya sesuai dengan apa yang dia inginkan walaupun sebenarnya aku mungkin akan sulit untuk bertemu dengannya.


Semua persiapanku telah lengkap, pak brama telah memberikan satu box obat yang bisa aku gunakan jika halusinasiku kambuh dan ibu dian datang menghampiriku seraya memberikan satu amplop yang tak lain adalah uang untuk ku pakai sebelum aku mendapatkan tempat yang layak untuk ku tempati.


Kakiku berjalan keluar dari pintu rumah pak brama, tatapanku terarah kedepan jendela kamarku, "Zoowiii" teriakku. Burung hantu itu seketika terbang dan berdiri dibahku. Aku tahu, pak brama dan ibu dian serta dinda pasti mempertanyakan bagaimana aku bisa memiliki seekor burung hantu yang ku beri nama zowi itu, namun mereka tak mempertanyakannya karena tak ingin menghambat perjalananku. Perjalanan itu sangat panjang, hingga akhirnya zowi mengarahkan perjalananku dan bertemu satu gubuk yang tak berpenghuni, gubuk itulah yang menjadi tempat tinggalku selama setahun dan kehidupanku berjalan seperti manusia biasanya. Halusinasi itu tak pernah muncul lagi, karena obat yang telah diberika pak brama tak pernah telat ku minum, dan ketika habis, aku akan membelinya di apotik terdekat.


zowi adalah satu-satunya temanku saat itu sebelum akhirnya aku bertemu lelaki tua yang merubah kehidupan dan menyadarkanku bahwa aku bukanlah orang biasa.