
"Lufy... Yah, aku akan memberi nama sapu terbang ini dengan panggilan lufy tria!" Ucapku seraya mengangkat sapu yang telah di ubah menjadi lebih baru itu. "Lufy, nama yang bagus" jawabnya yang kemudian memainkan satu siulan sehingga membuat kepakan sayap itu terdengar. "Zoowiii.." teriakku dengan tatapan rindu kepada seekor burung hantu yang sedang terbang ke arahku. "Mengapa kau baru datang? Apa kau tidak rindu dengan ku?" Tanyaku.
"Kita sengaja mengirim dia pergi ke arteruis sebagai mata keduaku, dan semalam tugasnya telah selesai". Ucap tria.
"Maksud kamu?"
"Yah, dia adalah burung hantu khusus sebagai mata pelacakku. Dan dia juga merupakan salah satu burung peliharaan profesor tarkan yang dengan sengaja kita jadikan pencari informasi tentang segala hal yang telah dilakukan oleh drakon dan orang-orang diarteruis". Jawab tria. "Lionel kembali ke tubuh aslimu" pintahnya yang kemudian membuat sebuah cahaya putih bersinar dari tubuh zowii sehingga seorang pria tampan dengan baju putih panjang itupun terlihat berdiri seraya memberi hormat kepadaku.
"Selamat pagi nona ziana!" Ucapnya dengan senyuman manis dari bibir kecil berwarna merah itu. "Ja....jadi, selama ini zooo..zoowii adalah seorang pria?" Tanyaku malu mengingat semua kejadian selama setahun dengan nya. "Ia, aku adalah pria seumuran denganmu" jawabnya lagi dengan senyuman yang sama.
"Baiklah, nyonya, namanya adalah Lionel". Ucap tria. "Dan kau lionel sekarang tugasmu hanya membantu zia, mata pelacakmu tidak akan disambungkan denganku lagi tetapi akan berpindah kepada ziana. untuk itu proses pelatihan akan lebih berat dari sebelumnya, dan rintangan akan lebih susah dari yang kemarin. Semoga kalian berhasil!" Ucapnya yang kemudian terdiam dengan mata hitam yang berubah menjadi biru dan berkata "mereka telah bertemu, baiklah aku akan mengantarkannya keasrama" jawab prof tria seraya menutup matanya dan menyuruh ku bersiap-siap untuk pergi ke asrama Gitovornia school.
Pintu kaca itu terlihat dan didepan ada william bersama zian yang sedang menungguku. Lionel berubah menjadi seekor burung hantu putih dan bertengger dibahuku. "Apa kau membawa nya?" Tanya zian yang saat itu sedang memegang sapu terbang miliknya. "Ia" jawabku. "Baiklah, ayo kita pergi" pintahnya seraya menaiki sapu terbang itu dan melayang diudara. "Lufy, ayo kita berangkat" pintahku kembali. Sapu panjang itu muncul disampingku dan kaki mulai kuangkat untuk menaikinya, kepakan sayap zowii terdengar dan vairy kecil yang tak lain adalah tria juga ikut terbang bersama kita sehingga perjalanan itupun dimulai.
Diperjalan, keyla, berta, arina, jony dan jiny juga mengikuti kita ke arah Gitovornia school. "Apa benar kita akan mendapatkan pembelajaran khusus seperti yang disampaikan prof zardam?" Tanya arina. "Sepertinya begitu, lebih baik kita langsung menghadap ke ruangan profesor zardam seperti yang diperintahkan prof tria semalam" jawab zian lalu melajukan sapu terbangnya sehingga pohon dan tumbuhan hijau serta gedung bertingkat itu terlihat.
"Sepertinya mereka tidak menyadari keberadaan mu tria" ucapku yang juga mengikuti mereka kearah gedung gitovornia school. "Lambat sekali kalian" seru seorang pria yang sedang menyandarkan dirinya tepat didepan pintu gitovornia school. "Kau yang terlalu cepat grifin" jawab zian sambil memukul pundak grifin dan berjalan kearah ruang pertemuan menuju keruangan profesor zardam.
"Aku harus pergi lebih dulu nyonya" pamit tria seraya menghilang dari sampingku, sedangkan zowi terbang dan bertengger disebuah pohon besar depan sekolah dan lufy menghilang entah kemana. "Waah, apa kita harus melewati semua tangga ini?" Tanya berta dengan raut wajah kesal. "Sudahlah, ayo kita pergi" panggil keyla seraya mendorong tubuh berta dan berjalan menaiki anak tangga tersebut.
"Aku tidak menyangka kita bisa masuk kedalam ruangan profesor zardam dan berdiri didepan seluruh profesor" bisik arina kearahku. "Syuuut" seru jiny sehingga membuat arina terdiam dan fokus kearah profesor zardam. Ketukan jarinya terdengar yang membuat kita tiba-tiba duduk melingkar diatas kursi dengan rapi dan menghadap kearah mereka.
Sepasang mata terus menatap kearahku dan sangat membuatku merasa tak nyaman. Lidah panjangnya terlihat menjalar keluar dan masuk kembali kedalam mulutnya. "Iuuhh" gumamku dalam hati.
"Terima kasih aku ucapkan kepada kalian yang sudah bersedia mengikuti pembelajaran khusus yang akan berjalan setelah mata pelajaran umum berakhir, kalian adalah petarung yang terpilih untuk melindungi satu orang yang sangat berharga digitovornia, karena kelahiran dan pengorbanan merekalah sehingga Gitovornia ini bisa menjadi damai lebih lama dari sebelumnya selama 18 tahun terakhir. Seperti yang kalian ketahui, arteruis yang dipimpin oleh drakon pasti akan datang kembali menyerang gitovornia seperti berita yang telah beredar. Dan saat itu, kita berharap ramalan tentang datangnya zianastasya ditahun ke 20 gitovornia akan berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Untuk itu, tugas kalian 8 orang adalah melindungi zianastasya yang saat ini sedang berada didalam tubuh ziana". Pintah profesor zardam seraya menatap kearahku. Keadaan sunyi senyap tanpa suara jawaban dari orang lain, profesor zardampun menambahkan beberapa kata.
"Bukan hanya kalian yang akan ikut bertarung saat hari itu tiba. Tetapi beberapa senior yang akan kalian temui ketika pembelajaran khusus dimulai, selain itu para profesor juga akan turun melakukan penyerangan. Jadi aku berharap kalian bisa memegang teguh kepercayaan yang telah gitovornia berikan" ucapnya seraya mengakhiri kata saat itu.
Mataku tanpa sadar mengarah ke tempat profesor maikel yang sedari tadi menatap kearah grifin. Tak ada yang terlihat mencurigakan hanya saja aku merasa ada hubungan lain yang terjadi antara mereka berdua selain hubungan ayah dan anak. Fikiran itu hilang ketika grifin tiba-tiba hadir di depanku. "Ayo kita keluar" ucapnya dengan senyuman. "Oh iya" jawabku seraya melirik ke segala arah untuk memastikan apakah pembicaraan benar-benar berakhir atau tidak.
Setelah berdiri tangan grifin bergerak ingin menggandeng ku tetapi cahaya putih tiba-tiba bersinar dengan terang sehingga membuat kedua belah mataku membesar dan ruangan gelap itu terlihat. Sebuah kursi tua didalamnya terlihat sedang diduduki oleh seorang remaja yang tak asing dipandanganku. Ia terlihat membungkuk dan menangis "Stop!! Jangan mendekati ku" ucapnya dengan nada gemetaran. Suaranya sangat ku kenali tetapi suara panggilan itu lebih jelas terdengar. "Zia... Ziaa ... Ziaa..." panggilnya.
Mata hitamku perlahan terbuka dan "Iya profesor", jawabku kaget ketika melihat semua orang sedang duduk ditempatnya masing-masing. "Apa semuanya baik-baik saja?" Tanyanya dengan nada halus. "Ah, ia, aku baik-baik saja". Ucapku yang kemudian dipotong oleh sebuah pertanyaan "Profesor, bagaimana pemimpin mereka yang bernama drakon akan kembali? Bukankah dia hampir mati ketika perang melawan zianastasya?" Tanya arina seolah tak terjadi apa-apa. "Iya akan kembali, karena mantranya tidak sepenuhnya membunuh drakon", jawab profesor zardam. "berarti kehidupan drakon terbagi dengan zianastasya dan itulah kenapa ketika ziana kembali seperti semula, drakonpun akan kembali karena mengikuti sebagian kehidupannya?" Tanya arina yang kemudian membuat profesor zardam tersenyum lalu berkata "kamu memang anak paling cerdas diangkatanmu arina, semua yang kamu katakan itu benar". "Tapi profesor" sanggah zian. "Bukankah zianastasya berada ditubuh zia? Lalu, apakah drakon juga sekarang sedang berada ditubuh orang lain?" Tanyanya yang kemudian membuat semua mata profesor tertuju padanya.
"Iya benar kata dia", ucap profesor marta dari ras ork dan profesor arista dari ras campuran. Suasana kembali menjadi sunyi, lalu profesor zardam menambahkan "Ia berbeda dengan ziana. Sekarang drakon sedang melatih tubuh barunya yang nanti akan dia ambil ketika tubuh itu telah sempurna, ia tidak akan mudah mengambil dan mengendalikannya sebelum.... ia mengambil darah dari sebagian kehidupannya yaitu darah ziana" ucapnya seraya mencoba untuk mengakhiri percakapan saat itu.
"Baiklah, kalian bisa istirahat, karena besok pembelajaran akan dimulai dan pada hari libur kalian akan mempelajari ilmu khusus agar kekuatan kalian bisa sempurna ketika tahun ke 20 itu datang" ucapnya dengan diikuti sentakan jari yang kemudian memindahkan kita ke ruang pertemuan dekat asrama Gitovornia school. "Wah, aku tidak menyangka kita bisa menjadi murid pilihan" ucap arina dengan bangganya. "Ziaa," panggil zian yang kemudian diikuti oleh grifin. "Apa kau baik-baik saja?" Tanyanya. "Ia" jawabku singkat. "Ah grifin, apa kau baik-baik saja?" Tanyaku yang membuat zian dan grifin menjadi heran. "Iya, kenapa?" Tanyanya. "Tidak, aku hanya ingin bertanya" jawabku seraya berjalan mengikuti berta dan lainnya menaiki tangga asrama ras sihir.