The Story Of The Athlete'S Journey And His Love

The Story Of The Athlete'S Journey And His Love
Eps 4. Perasaan



Setelah kejadian itu, Liu Yen langsung bergegas kembali ke rumah. Liu Yen menemui sang ayah, dengan perasaan campur aduk berkata "Ayah aku minta maaf padamu karena aku berbohong dan menaikkan nada bicaraku padamu, aku memang anak yang tidak berguna. Aku minta maaf aku sangat menyanyangimu.", Ayah Liu Yen menjawab "Saat aku melihatmu tertarik pada dunia beladiri, aku sangat senang akhirnya ada seseorang yang bisa melihatku dengan sisi positif tak hanya ibumu. Dulu, aku sepertimu aku sangat tertarik pada dunia beladiri tapi dunia beladiri membuatku gila aku tak bisa mengendalikan emosiku, tiba - tiba aku bisa menyakiti orang. Sejak saat itu aku takut. Aku terbayangkan masa depan saat aku dewasa bisa saja aku melukai seseorang yang ku cintai, tapi ternyata ada seseorang yang melihatnya dari sisi positif dan dia mempercayaiku seseorang itu adalah ibumu. Aku sangat menyayangi ibumu karena ia orang pertama yang mengerti tentangku. Lalu, kamu hadir dalam hidupku Liu Chen Yen putraku aku takut kamu seperti aku dimasa lalu. Sebenarnya aku sangat senang kamu bisa mendapat berbagai pernghargaan dari jeri payahmu sendiri. Hanya saja ketakutanku yang membuatku seperti ini. Aku minta maaf dan untuk yang ke dua kalinya kamu berhasil membuktikan padaku." sambil mengingat masa lalunya ayah Liu Yen, Liu Yen menjawab dengan suasana yang penuh emosional "Aku sangat senang mendengarnya, aku paham mengapa ayah melarangku melakukannya ayah khawatir padaku. Aku berjanji aku tidak akan mengecewakanmu. Aku senang memiliki ayah sepertimu.". Pada akhirnya Liu Yen dan ayahnya berdamai dan berjanji akan saling mendukung sang ayah juga sudah memberi izin untuk Liu Yen mengikuti pelatihannya.


...Esok harinya, Liu Yen bertemu dengan teman - temannya dan pelatihnya. Semua orang sangat penasaran dengan Liu Yen karena kejadian kemarin yang sempat membuat ribut. Liu Yen menjelaskan dengan singkat bahwa dia dan ayahnya sudah kembali memiliki hubungan yang baik dan saling mendukung, ayahnya juga sudah memberi izin untuk dia berkarir sebagai atlet. Mendengar hal itu semua orang yang berada di pelatihan sangat senang karena pada akhirnya Liu Yen dan ayahnya berdamai. Liu Yen dan seluruh orang yang berada di pelatihan merayakan hari kebahagiaan dirasakan seluruh orang yang berada di sana, mengingat Liu Yen atlet yang berbakat. Selesai dengan perayaan Liu Yen dan Yi Fei pulang bersama, Yi Fei tiba - tiba bertanya "Apa yang kamu ingin katakan waktu itu?." Liu Yen menjawab "Ehm. hm, sebenarnya aku menyukai seseorang. Aku bingung bagaimana aku harus mengungkapkan perasaanku. Hufttt.. " Yi Fei menjawab "Oh." lalu, pergi meninggalkan Liu Yen tanpa alasan. Liu Yen yang melihat hal itu heran dalam benaknya mengapa dia pergi begitu saja, sulit dimengerti. Yi Fei yang tiba - tiba pergi meninggalman Liu Yen pergi tanpa alasan, terus - menerus memikirkan ucappan Liu Yen. Ucappan Liu Yen yang tak bisa hilang dari pikirannya, mengganggu pikirannya begitu juga pelatihannya. Yi Fei yang dipanggil pelatihnya tiba - tiba tersadar dan bertanya "Mengapa aku memikirkannya? itu bukan urusanku.", Liu Yen tiba - tiba datang tepat di depan Yi Fei "Kamu kenapa?, hari ini kamu tidak fokus. Kamu sakit? jika sakit pulanglah istirahat, jangan terlalu di forsir.", Yi Fei membalasnya dengan berkata "Bukan urusanmu. Tidak usah pedulikan aku."...