
Suatu hari, di sebuah tempat yang sedang terjadi badai salju, ada seorang laki-laki yang sedang menunggu badai reda di sebuah halte. Ia berparas mungkin tampan karena banyak yang menyukai dia walaupun dia tidak peka. Setelah badai mulai mereda walau masih turun, ada seorang wanita yang melewatinya dan mungkin wanita itu mengenal lelaki itu karena ia menyapanya.
“Hei, Jim! Apa yang kau lakukan di sini?” Tanyanya.
“Lalu, bagaimana denganmu? Atau kau mengikutiku karena aku tampan ya?”
“Hah!!! Di sini aku hanya lewat jangan sok kePDan kali ya!” Gerutunya kepada lelaki itu.
“Iya baiklah, Mianhamnida,”
“Arasseumnida. Oh ya, Jim apakah kamu tidak kedinginan?”
“Ne” lalu lelaki itu langsung menarik tangan perempuan itu ke cafe terdekat dari halte itu.
Sebenarnya mereka adalah sahabat dari kecil hingga SMA sekarang pun mereka masih bersama dan sifat mereka masih kekanak-kanakan buktinya salah satu dari mereka pun tidak tau apa itu cinta.
Sesampai di cafe bernuansa ungu itu mereka memilih duduk di dekat jendela selain untuk memandangi pemandangan sekitar yang masih terselimut oleh badai salju yang mulai bertambah lagi mereka juga ingin mengurangi rasa beban sementara di sana.
“Hei, Jim. Apakah kamu tidak berfikir sifat kita masih kekanak-kanakan, ya?” Tanyanya kepada sahabatnya yang bernama ‘Park Jimin’.
“Buat apa difikirkan?” Ia bertanya balik kepada sahabatnya yang bernama ‘Kim Cherry’.
“Mengapa kamu bertanya balik!”
“Mianhamnida,”
“Selalu itu yang kau keluarkan dari mulutmu,"
Setelah badai mereda mereka pulang ke rumah masing-masing dan saling berkata ....
“Annyeonghi kaseyo,”
Sesampai di rumah, Jimin memikirkan apa yang dikatakan oleh Cherry tentang sifat mereka berdua dan fikirnya jika Cherry akan belajar menjadi Dewasa.
“Kenapa dia berfikir seperti itu tadi!” Dengan keadaan marah Jimin berkata seperti itu.
Biasanya ia melampiaskan amarahnya kepada Cherry, tetapi jika itu berkaitan dengan Cherry ia melampiaskan amarahnya kepada teman sepejuangnya ‘Kim Taehyung’. Saat ia menelepon Taehyung, teleponnya tidak diangkat oleh Taehyung karena Taehyung tau jika Jimin meneleponnya pasti ada maksud salah satunya melampiaskan amarah jadi ia tidak mengangkatnya dan selain itu ia juga sedang nge-date dengan salah satu gebetannya dan itu membuat Jimin menjadi semakin kesal dan akan menemui Taehyung besok secara langsung dan ia pun tertidur dengan lelap.
***
Sesampai di sekolah, Jimin langsung menemui Taehyung dengan perasaan marah dan Taehyung mengetahui bahwa Jimin sudah tepat di belakangnya sehingga ia cepat-cepat pergi tetapi ditahan oleh Jimin.
“Mengapa kau tidak mengangkat telfonku, Hah!!!”
“Sabar, kemarin aku sedang nge-date bersama gebetanku jadi, Mianhamnida,”
“Kau ini playboy tetapi, Baiklah, Jo neun Kwenchanseumnida,”
“Mengapa kamu meneleponku kemarin?”
Jimin menjawab, “kemarin Cherry bertanya mengapa sifat kita berdua tetap kekanak-kanakan dan aku berfikir jika ia akan menjadi seorang yang dewasa.”
“Itu sangat bagus. Pemikiran Cherry memang bagus untuk menjadi dewasa.” Jawab Taehyung.
“Hei, kenapa kamu membelanya! Aku yang membutuhkan pertolongan tetapi kau memihak di pihak lain.”
“Ne, Mianhamnida. Jadi, maumu apa?” Tanya Taehyung kepada Jimin.
“Aku juga ingin belajar dewasa lebih dahulu darinya.”
“Kalau begitu kau tembak saja dia.”
“Hei jika aku tembak dia, dia akan mati.”
“maksudku tembak dia menjadi pacarmu!”
“Tetapi, apa itu pacar dan apa itu cinta?” Tanya Jimin
“Huh…. Kamu ini banyak yang suka tetapi tidak tau apa itu cinta berarti kamu tidak peka atas perasaan. Jadi, Cinta itu adalah suatu perasaan khusus kita kepada seseorang yang khusus buat kita yang tidak didapatkan oleh orang lain. MENGERTI TIDAK!!!!!”
(Jimin menggelengkan kepala).
“Terserah kau, jika ingin lebih jelas belilah buku di toko buku tentang cinta, sana!!!”
(Jimin mengarahkan salah satu tangannya kepada Taehyung yang berarti meminta)
“Maksudmu apa?” Jawab Taehyung
“Tadi kau menyuruhku membeli buku, jadi aku meminta uang kepadamu.” Jawabnya
“Sudah pergi sana!!!” Dalam keadaan marah Taehyung pergi dari tempat itu, bukan Jimin yang pergi, tetapi dia sendiri yang pergi dari tempat itu.
‘Orang aneh’ kata Jimin dalam hati.
Setelah itu Jimin beranjak pergi dan tak sengaja tertabrak oleh seorang wanita. Yap, Cherry. Lalu Jimin dan Cherry mengumpulkan buku-bukunya dan Cherry langsung pergi meninggalkan Jimin tanpa mengeluarkan sepatah huruf apapun, tetapi Jimin menjawab, “Cheonmaneyo” dan langsung kekelasnya.
Bel berbunyi tanda pulang sekolah Jimin langsung pergi ke toko buku terdekat dari sekolah walau salju mulai turun. Setelah memilih buku yang tepat ia langsung pulang kerumahnya, tetapi sesampai di rumahnya ia tertidur dengan lelap sampai keluar iler dari mulutnya.
Kim Cherry ....
Di rumah Cherry, setelah pulang sekolah ia langsung mengerjakan tugasnya sampai larut malam tepatnya pukul 10 malam dan setelah mengerjakan tugasnya itu ia lalu membaca buku yang ia beli tadi tentang cinta sampai akhirnya ia mendapat pesan dari Jimin tepat tengah malam dan ia menjawab, “Ne.”
Park Jimin
Di rumah Jimin, setelah ia tertidur dengan lelap, tepat jam 10 malam ia mencari buku yang ia beli tadi dan membacanya. Setelah membacanya ia mulai berfikir jika ia mempunyai perasaan yang lain terhadap Cherry dan ia mulai mengerti apa yang dikatakan oleh Taehyung tadi siang. Dan tepat pukul 12 malam ia memberi pesan kepada Cherry.
“Temui aku besok pukul 11 siang di cafe yang sama yang kita datangi saat badai salju turun 2 hari yang lalu,”
Setelah mengirim pesan ia mendapat pesan dari Cherry dan jawabannya iya dan ia mengirim pesan lagi
“Komapseumnida, Annyeonghi Chumusipsiyo,”
Dan dibalas oleh Cherry, “Cheonmaneyo, Annyeonghi Chumusipsiyo.”
Setelah sampai di cafe yang bernuansa ungu itu, Jimin duduk di salah satu meja tetapi tidak di dekat jendela karena keadaannya sudah penuh lebih tepatnya di pojok cafe. Tak lama menunggu, Cherry pun datang dengan pakaian sama yang dipakai 2 hari yang lalu sama dengan Jimin. Dan mereka memesan minuman yang sama seperti 2 hari yang lalu. Jimin pun memulai pembicaraan.
“Cherry kamu berfikir kita masih bersifat kekanak-kanakan, kan?”
“Ne .…”
Lalu keadaan terasa hening tidak ada satu kata-pun keluar dari mulut-mulut orang yang ada di cafe tersebut, tetapi semua tetap memandang ke arah temannya sendiri dan disaat seperti itu Jimin mengeluarkan kata-kata lagi kepada Cherry ....
“Kalau begitu, Sarang Haeyo Cherry.” Lalu, orang-orang melihat mereka berdua dan tak lama Cherry pergi dengan menutup pintu cafe dengan sangat keras sehingga membangunkan Jimin dari tidurnya.
“Huh…, ternyata itu hanya mimpi,” dan itu membuat Jimin menjadi kesal, takut, dan galau.
Dan sekarang sudah jam 10 pagi jadi ia langsung bersiap-siap untuk menemui Cherry karena sudah berjanji pukul 11 siang mereka akan bertemu.
Sesampai di cafe ia melihat cafe tersebut sepi tidak seperti biasanya dan ia memilih duduk seperti biasanya, dekat jendela untuk melihat pemandangan kota yang di selimuti oleh salju karena tadi malam ada badai salju.
Tak lama datang wanita berparas cantik dengan blues berwarna sama dengan cafe tersebut, yap itu adalah Cherry dan ia melihat sekeliling cafe dan bertemu dengan Jimin di sana dan langsung duduk dan berbincang.
“Annyeong haseyo?” Kata Jimin
“Chal chinaeyo, and Annyeong haseyo?” Tanyanya balik
“Chal chinaeyo,” Jawab Jimin.
Jimin bertanya, “Apakah kamu sedang belajar menjadi dewasa?”
“Mullon imnida, dan bagaimana denganmu?” Tanyanya
“E..hmm..” Jawab Jimin.
“Apakah kamu sudah tau dengan Cinta?” Tanya Jimin.
“Ne” jawab Cherry singkat.
“Tetapi, mengapa kamu bertanya seperti itu? Memang kamu sudah mengerti dengan cinta?” Tanyanya.
“Aniyo, aku hanya bertanya saja dan sekarang aku sedang belajar tentang Cinta.”
“Jadi, kamu sudah mempunyai pujaan hatimu belum?”
“Ne, Isseumnida”
“Siapa?” Tanyanya yang membuat hati Jimin semakin ragu.
“I..I… itu. D..d… dia. A.. ada..adalah”
“siapa, cepat?” Tanyanya semakin kepo.
“I.. itu d.. dia a.. ada..adalah” belum selesai Jimin berbicara, Cherry harus segera pergi mengerjakan tugas kelompok dan sudah dijemput oleh seseorang.
“Kamu terlalu lama jadi aku sudah dijemput untuk mengerjakan tugas kelompok. Ya sudah kapan-kapan kita bertemu lagi untuk membicarakan hal ini. Mianhamnida karena aku harus pergi and Kamsahamnida karena mau mengajakku pergi ke cafe ini. Annyeonghi kyesipsiyo,”
Dan pergi meninggalkan Jimin yang belum menjawabnya tetapi tetap dijawab walau Cherry sudah pergi.
“Kwenchanseumnida and Komawoyo. Annyeonghi kyesipsiyo,”
‘Sebentar, yang menjemput Cherry kok seorang laki-laki, tetapi biarlah’ batin Jimin.
Tak lama Cherry pergi, ia langsung membayar minuman yang dipesan tadi di kasir dan ternyata petugas kasir itu adalah Taehyung yang sudah meminta izin kepada pemilik cafe untuk berpura-pura menjadi petugas kasir.
‘Huh … Sial ada Taehyung ternyata dia diam-diam melihatku dan Cherry tadi, dasar Sialan!’ Gerutu Jimin dalam batin.
Taehyung pun tersenyum dan berbisik kepada Jimin, “Bagaimana berjalan dengan lancar tidak?” Jimin pun langsung membayar minuman itu dan pergi dari cafe itu tanpa mengeluarkan sepatah huruf apapun.
Di rumahnya ia berfikir siapa yang menjemput Cherry tadi di cafe.
“Apa itu pacarnya? Tidak mungkin karena dia baru saja belajar tentang cinta tidak mungkin dia langsung mencintai seseorang,”
“tetapi bagaimana denganmu Oppa bukankah kau juga baru belajar dan langsung mencintai Cherry-eonni, Hmm?” Ada seorang perempuan Yang masuk dan berkata langsung seperti itu yang tidak jauh umurnya dengan Jimin.
“Betul juga katamu. Hey, bisa-bisanya kamu masuk ke kamarku dan berkata seperti itu tanpa seizinku!” Jawab Jimin kepada perempuan itu.
“Tetapi, itu betul kan?” Tanya sepupu Jimin yang bernama ‘Park Hana’
“betul juga kau my Sachon” jawab Jimin.
“Jadi, bagaimana tadi kencannya, berhasil tidak?”
“Aniyo” jawab Jimin pendek. “Chukhahamnida!”
Jimin yang merasa bingung bertanya, “Chukhahamnida? Mengapa?”
“Chukhahamnida karena kau tidak berhasil Oppa.” Jimin yang merasa kesal akhirnya mengejar Hana tetapi Hana sangat cepat berlari seperti kilat yang tidak mendapat sasaran karena ia tidak pernah bisa berhenti dengan tepat jika sudah berlari sehingga tidak bisa dikejar oleh Jimin.
‘Huh … Tadi sudah Taehyung sekarang Hana yang meledekku. Dasar dua serangkai pembawa sial!’ Batin Jimin.
Ia pun kembali kekamarnya dan menguncinya agar tidak ada yang mengganggu dan ia masih memikirkan tentang seorang lelaki yang menjemput Cherry tadi. Tak lama berfikir ia mendapatkan pesan dari Cherry.
“Temui aku besok sore hari di taman dekat rumahku.” Jimin pun merasa senang dan akan menyatakan perasaannya kepada Cherry besok.
Keesokan harinya ....
Disaat sore hari salju hanya turun sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit (hey bukan pepatah, ya) tetapi hanya turun butiran-butiran kecil yang membuat suasana makin romantis.
Cherry sudah menunggu di kursi taman sedang menunggu Jimin. Tak lama menunggu Jimin pun datang dan memulai pembicaraan ....
“Anyeong Haseyo? Mengapa kamu memanggilku ke sini?”
Cherry menjawab, “Chal chinaeyo. Aku memanggilmu untuk mengetahui siapa orang yang kau cintai itu,”
“Baiklah aku akan memberi taumu, tetapi kau jangan marah ya saat aku memberi tahumu, Janji?” Jawab Jimin
“Ne, Janji.” Jawab Cherry
“Heehhmm.. Huuhh. Sebenarnya, Sarang Haeyo. Apakah kamu mau menerimaku?” Tanya Jimin to the point
“Mianhamnida,”
“Hmmm, aku sudah mengetahuinya pasti kau tidak akan menerimaku,” Dengan wajah kecewa.
“Aniyo, Mianhamnida aku tidak bisa menolaknya,”
Tiba-tiba Hana datang dan berkata, “Ehem… ada yang baru jadian nih,”
Jimin pun berkata, “Dasar Caper sekali my Sachon dan tumben tepat sasarana berhentinya,”
“Hehehehehe .…”
Jimin dan Cherry pun berpelukan sebelumnya Jimin bertanya kepada Cherry, “Tetapi Cherry, siapa yang menjemputmu kemarin? Aku belum pernah melihatnya?”
“Apa kau lupa?! Dia itu Oppa ku yang menuntut ilmu di Amerika dari kita SD kelas 5 dan sekarang ia baru pulang ke Korea karena pekerjaannya sedang ada di Korea,” Jawab Cherry.
“Wah, beda sekali ya Hyong nim-No neun.”
Dan akhirnya mereka menjalin hubungan itu bukan lagi sebagai sepasang sahabat melainkan menjadi sepasang kekasih yang bahagia dan begitu romantis nya.