
"Sahabat itu selamanya, cinta itu sementara. Jadi jangan pernah sia-siakan sahabat kamu, karena orang yang bakal selalu ada disaat kamu senang dan susah itu sahabat bukan cinta, dan karena cinta pula persahabatan yang sudah lama dijalin bisa hancur seketika mungkin, padahal cinta itu bukan apa apa dibanding dengan sahabat yang segala-galanya."
.
.
.
Namaku Putri umurku 17 tahun, Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara, kakakku bernama Rey dia berumur 19 tahun dia adalah orang yang tidak pernah sedih dalam hal apapun, dan aku juga memiliki dua sahabat yang sangat sayang padaku mereka bernama Rendy dan Intan, mereka selalu ada saat aku membutuhkan dan mereka tak pernah menyembunyikan masalah, mereka selalu cerita baik itu masalah keluarga maupun dirinya sendiri, dan mereka juga selalu terbuka satu sama lain.
Saat aku dan Rendy sedang berjalan aku melihat Intan sedang melamun di dekat pohan besar dan kemudian aku menarik tangan Rendy untuk menghampiri Intan karena aku takut dia kenapa\-napa, tidak biasanya dia seperti itu makanya aku dan Rendy menghampirinya.
“Kenapa sih, Put. Buru-buru banget, ada apa Putri?” tanya Rendy heran.
“Lihat deh Intan, dia melamun. Kan nggak biasanya Intan kaya gitu, Ren,” jawab Putri.
“Iya juga sih, kenapa ya Put, apa ada sesuatu yang terjadi padanya?”
“Yaudah samperin aja yuk,”
“ayo,”
Kita pun berjalan menuju pohon besar itu untuk bertemu dengan Intan, pada saat akan berjalan aku melihat tangan Rendy yang menggenggam tanganku dan aku pun tak menyadarinya ternyata dia melakukan itu padaku, perasaanku pun tak bisa ku tebak tapi aku tidak mungkin suka dengannya, karena aku takut persahabatan ku akan pecah karena perasaan ku ini dan saat aku sadar dari lamunanku ternyata aku sudah sampai di dekat Intan kemudian Rendy memanggilnya.
“Hai, Tan,” sapa Rendy.
“Hai, Ren,” jawab Intan.
“Kamu kenapa, Tan? Kok tadi aku lihat kamu melamun?” tanya Putri.
“Put, aku bigung harus bicara ke kamu dan Rendy, ada sesuatu yang belum aku ceritain ke kalian,” ucap Intan.
“Kok kamu nggak seperti biasanya sih, Tan. Kamu kan selalu terbuka dengan kita?” tanya Putri.
“Maafkan aku, Put/Ren. Tapi aku mau ceritain ini semua ke kalian itu butuh waktu,” jawab Intan.
“Yasudah, Tan. Nggak apa-apa kok, kita nggak akan maksa kamu buat cerita, kamu mau cerita kita akan dengarkan, Tan. Dan akan membantu menyelesaikan semuanya sebisa kita,”
“Makasih, Put. Kamu selalu membuatku tenang dan kamu selalu ada buatku,”
“Kita kan sahabat, jadi apapun yang terjadi pada kita semua itu akan kita selesaikan bersama-sama, oke,”
“Em, iya makasih,”
“Iya sama-sama,”
“Oh ya Put/Tan. Nanti malam kalian sibuk nggak?” tanya Rendy.
“Kenapa emangnya, Ren?” Intan bertanya balik.
“Kalian lupa ya ini hari apa?”
“Emangnya hari apa?” tanya Putri.
“Oh iya Ren, aku inget ini hari apa, aduh putri cantik kenapa kamu lupa sih,”
“Emangnya ini hari apa Ren/Tan? Kalian kok nggak ngasih tau aku sih,” tanya Putri lagi.
“Putri yang paling cantik, ini hari anniversary kita sayang,” jawab Intan.
“Iya kah? Astagfirullah aku lupa guys sorry ya, hehe,”
“Oke, nggak apa-apa, tapi jangan sampai lupa lagi ya” ucap Rendy.
“Iya Ren, makasih udah ngingetin, hehe,”
“Iya, terus kita nanti malam mau ngapain?” tanya Rendy.
“Gimana kalau kita main kembang api di rumahku sambil bakar jagung, habis itu kita dengerin kakakku nyanyi deh, gimana?” saran Putri.
“Boleh tuh, ide yang sangat bagus,” jawab Rendy.
“Intan menurut kamu gimana?” tanya Putri ke Intan.
“Iya bener kata Rendy itu ide yang bagus, Put,”
“Yaudah, aku tunggu di rumah ya nanti malam,” ucap Putri.
“okelah,” jawab Intan.
“Yaudah, aku pulang duluan ya? Soalnya barusan mamaku sms aku suruh jemput mama di kantor, soalnya papa ada rapat, maaf ya,”
“Oh iya Ren, nggak apa-apa, hati-hati di jalan ya dan sampaikan salam ku buat tante,” ucap Putri
“Oke Put, makasih ya. Sampai bertemu nanti malam, dah,” Rendy pergi dengan melambaikan tangannya.
“ Dah,” jawab Putri dan membalas lambaian tangan Rendy.
“Put, aku mau cerita sama kamu boleh nggak?” tanya Intan tiba-tiba.
“Boleh kok, emangnya kamu mau cerita apa, Tan?”
“Hah? Apa katamu?” kaget Putri.
“Iya, maafin aku, put,”
“Yaudah nggak apa-apa, kalau emang itu buat kamu bahagia, Tan,”
“Tapi, sebenarnya itu sudah aku jalani 3 bulan ini dan sekarang dia mengkhianati aku, dia berpacaran dengan temannya. Aku tau mungkin aku salah baru ngasih tau ini ke kamu sekarang dan sekarang aku bingung harus bagaimana, karena pada saat ini dia menyuruhku untuk menjauhi kamu, tapi aku nggak mau kehilangan kamu, karena kamu selalu ada saat aku butuh bantuan. Aku juga sudah bersahabat dengan kamu dari SD kan dan aku nggak ingin kehilangan orang yang sudah mau bersahabat denganku apa adanya. Aku nggak mau pershabatan kita pecah karena masalahku, mungkin aku buta karena cinta dan bahkan aku juga sempat lupa bahwa aku punya sahabat, tapi sekarang aku sadar cinta itu bukan segalanya, tapi sahabat itu yang segalanya, dan aku memilih untuk tetap bersama kamu bukan bersama orang itu, maafin aku ya,” sesal Intan yang mulai menangis.
“Sudahlah, mungkin itu sebagai pelajaran buat kamu, bahwa cinta itu memang bukan segalanya melainkan penghalang bagi kamu untuk memiliki sahabat, tapi aku yakin suatu saat nanti kamu akan mendapatkan orang yang lebih baik dari dia lupakanlah semua itu lalu kita buka sebuah lembaran baru dengan menjadi dan mempereratkan persahabatan kita lagi ya? Jangan nangis dong, aku nggak mau kamu menangis karena cowok itu, kamu masih punya aku sama Rendy yang selalu sayang kamu dan makasih kamu sudah memilih sahabat walaupun kamu kehilangan cintamu, tan,” ucap Putri menenangkan Intan.
“Seharusnya aku yang bilang makasih atas semua yang kamu berikan kepadaku, aku tidak tau harus bilang apa lagi, karena sudah terlalu banyak kamu memberikan kebahagian buatku. Jika tidak ada kamu, entahlah aku akan jadi apa. Biarlah aku kehilangan cinta itu, yang penting aku masih mempunyai sahabat yang selalu ada untukku,”
“Yaudah nggak apa-apa, aku bantu kamu ikhlas kok dan aku sudah menganggapmu itu seperti keluargaku sendiri, jadi tidak usahlah kau membalas semua itu, karena aku ikhlas melakukanya,”
“makasih ya,”
“iya sama sama,”
“Yaudah, pulang yuk? Kita udah lama di sini, nanti mamamu khawatir lagi, karena kamu pulang terlambat,” ucap Putri.
“Aku udah sms mama kok, kalau aku pulang ke rumah kamu, buat acara nanti malam, biar aku bantu kamu ya,” jawab Intan.
“Oh gitu, yaudah yuk pulang,”
“ayo,”
Akhirnya aku dan Intan pun pulang bersama, karena dia mau main di rumahku dan kita juga akan membuat rancangan buat nanti malam agar meriah tapi sederhana, itulah tema yang akan kita buat karena kita suka dengan kesederhanaan dan kita juga tidak ingin membuat orang yang sedang istirahat terganggu dengan acara kita, maka aku dan Intan pun membuatnya dengan sesederhana mungkin.
Tak terasa jam pun sudah menunjukkan pukul 7 malam dan ini malam yang sudah kutunggu dari tadi, tapi kenapa Rendy belum datang juga ya? Apa mungkin dia lupa ya? Tapi tidak mungkin, karena dia bukan orang pelupa sepertiku, tapi kenapa aku tiba tiba memikirkannya? sudahlah bukan urusanku, dia mau datang atau tidak terserah dia lah kan yang datang dia.
Di saat ku sedang menyiapkan semua dengan Intan tiba\-tiba terdengar suara bel rumah berbunyi dan kemudian saat ku buka pintunya ternyata itu Rendy dengan penampilan yang begitu berbeda dan aku pun tak menyadari itu dia, karena sangatlah berbeda.
“Hay, Put?” sapa Rendy.
“E-eh hay juga, Ren,” jawab Putri.
“Kenapa kamu melihatku seperti itu? Ada yang salah dengan pakaianku ya?”
“Emm, tidak kok, kamu berbeda saja hari ini,”
“Put itu siapa?” tanya Intan berteriak dari dalam rumah.
“Rendy, Tan,” jawab Putri berteriak juga.
“Oh Rendy, yaudah suruh masuk sekarang, habis itu kita mulai acaranya,” sambung Intan lagi.
“Iya, yaudah ayo masuk, Ren,”
“Oh iya,”
“Hay, Ren?” sapa Intan ke Rendy.
“Hay juga, Tan,” jawab Rendy
“ Oke, di hari kebahagian kita ini, aku berharap kita akan selamanya menjadi sahabat, walaupun badai menghadang,” harap Putri.
“Iya, yaudah nyalain kembang apinya ya,”
“Satu … dua … tiga,” ucap Putri, Intan, Rendy bersamaan.
Dorrr ... door ... dddor
“Wah, indah sekali ya?” ucap Intan.
“iya” jawab Putri.
“Put, sebenarnya aku suka sama kamu?” ucap Rendy tiba-tiba.
“Hah? Apa, Ren?” kaget Putri.
“Putri?” panggil Intan.
“Iya, Tan,” jawab Putri.
“Rendy tuh beneran suka sama kamu,” ucap Intan.
“Iya Put, aku suka sama kamu udah lama tapi baru sekarang aku berani mengungkapkannya,” ucap Rendy.
“Tapi … sebelumnya aku minta maaf ya, aku juga sebenarnya suka sama kamu, Ren. Tapi aku nggak mau pacaran, karena aku takut kalau nanti kita putus malah menjadi hal buruk buat kita semua. Aku mau kita bersahabat saja dan jika kamu memang jodohku pasti kita bisa bersatu kok, suatu saat nanti di masa yang akan datang,” ucap Putri.
“Iya Put, nggak apa-apa kok. Aku juga ngertiin perasaan kamu,” jawab Rendy.
“Yaudah, kalau gitu kita happy happy saja ya hari ini,” ucap Putri lagi.
Akhirnya aku bisa merasakan kebahagian yang sangat mendalam, walaupun mungkin sakit bagiku dan Rendy. Tapi ini semua yang terbaik bagi aku dan juga Rendy serta semuanya, karena persahabatan itu melebihi segalanya, tidak ada yang bisa membuat kita bahagia selain sahabat sejati dan sekarang aku mengerti apa itu cinta dan apa itu sahabat.
Aku dan kedua sahabatku akan membuka sebuah lembaran baru yang di dalamnya terdapat sebuah cintaku dan Rendy, dan cinta itu akan ku buat untuk Intan dan ku bukus dalam sebuah cinta persahabatan.