The Story Of My Life

The Story Of My Life
Cinta Masa SMA



Berseragam putih abu-abu terasa paling menyenangkan dari hal lainnya, yang dimana dari masa Remaja menuju masa dewasa.


Banyak teman-teman baru, suasana yang baru dan cowok-cowok keren di sekolah. Awal memasuki masa ini, pasti selalu dihantui ketakutan luar biasa membayangkan eksperesi wajah-wajah seram kakak kelas dan banyaknya aturan.


.


.


.


Namaku Rara, aku adalah salah satu dari murid baru dan aku tidaklah menonjol seperti anak-anak lainnya. Pendiam, pemalu, murah tersenyum itulah aku.


Aku sudah mempunyai banyak teman di sekolah baruku ini, dan ada satu teman yang paling dekat denganku dan sudah kuanggap seperti saudara sendiri.


Namanya Salsabila, tapi aku biasa memanggilnya Caca. dia adalah sosok yang sangat menyenangkan buatku. Kita pun duduk sebangku dan dia juga adalah teman masa SMP ku.


Tiada hari tanpa tawa diantara kita, segala yang menyedihkan kita jadikan hal yang lucu. Kita berdua sangatlah kompak, orang akan bertanya bila melihat aku atau Caca sendiri karena mereka selalu bilang dimana ada Rara disitu ada Caca begitupun sebaliknya, dan kita tak dapat dipisahkan.


Sekolahku lumayan luas, mempunyai lapangan basket, futsal, dan volly. Teman-teman kelasku semuanya menyenangkan, mereka baik dan ramah padaku.


Terlebih temanku Hilda, dia begitu baik padaku dan Caca. Hidupku terasa lengkap punya sahabat dalam kelas ini.


.


.


.


Suatu hari, tak sengaja aku lewat di depan kelas tetangga. Aku melihat seorang cowok yang menurutku begitu kalem dan manis, dadaku rasanya sesak, jantungku berdegup dengan kencang, dunia rasanya akan runtuh.


Pelan-pelan perasaan mengagumi menjadi menyukai dia, Namanya Aldo Pratama. Aku tertarik padanya, aku pun sudah menceritakannya pada Caca dan Hilda.


Caca selalu setia menemaniku, setiap istirahat kita selalu menyempatkan diri untuk jajan melewati kelasnya Aldo.


di saat aku dan Caca lewat di depan kelas Aldo, tanpa sengaja Aldo keluar dari kelasnya dan hampir bertabrakan denganku.


Aku tak berani untuk melihat wajahnya itu, aku gugup dan rasanya bibir ini hanya bisa tersenyum tidak jelas. Karena kesaltinganku, aku bergegas pergi dan menarik Caca.


"Ra, lihat Aldo deh, dia senyum sama kamu tuh? Cie, ada yang jatuh cinta nih!" ucap Caca.


"Ahh, kamu. Ngga kok!" jawabku tersipu malu.


Tidak banyak yang aku tahu tentang Aldo, Aku hanya tahu bahwa dia sesosok cowok yang sabar dan lebih sering diam di dalam kelas.


Tapi, yang Aku dengar dari temanku yang kebetulan satu kelas dengan Aldo, bahwa Aldo itu pintar dalam semua mata pelajaran terutama dalam membaca Al-Qur'an, dia begitu fasih membaca. "Waah, orang yang tepat!" ucapku dalam hati dan tersenyum bahagia.


❤️❤️❤️


Tak terasa satu tahun pun berlalu, Aku naik ke kelas XI dan saatnya untuk pilih jurusan apakah IPA yang setiap hari akan sibuk menghitung angka, atau IPS dengan penghafalan dan pembisnis.


Aku, Caca dan Hilda sepakat memilih jurusan IPS. Ketika memasuki kelas XI IPS 1, banyak teman-teman baru yang menyenangkan terlebih lagi ada Aldo disana.


langsung saja kita bertiga mencari tempat duduk yang tepat agar setiap harinya Aku dapat melihat Aldo dan keinginanku itu pun terwujud, bangku yang Aku tempati bersebelahan dengan bangkunya Aldo.


Kini tugasku selain belajar dengan tekun bertambah lagi yakni Aku harus selalu terlihat pintar di depan Aldo. Untuk urusan dandan atau apalah itu tidak penting, karena bagiku prestasi paling penting.


Aku pun selalu masuk juara umum begitupun dengan Aldo, walaupun Aldo lebih pintar dariku. Tapi aku senang bisa sama-sama masuk juara umum dengannya.


Bahkan pada saat pembagian kelompok belajar, Aldo sekelompok denganku bersama beberapa teman lainnya. Saat ini Aldo sedang ikut dalam pelatihan Basket di sekolah.


Bila sudah saatnya bertanding, Aku mulai stres karena satu hari tidak melihatnya, maka Aku hanya berdoa agar hari itu cepat berlalu.


Aldo pernah memberikan Aku sebuah harapan, dia sering menatapku lama dan seolah berkata sesuatu kepadaku melalui tatapannya itu.


Banyak hal yang dia lakukan dan membuatku banyak berharap dan air mata pun tidak pernah bisa tertahankan kala Aku mendengar ternyata dia pacaran dengan adik kelas.


.


.


.


Melalui media sosial Facebook, Aku melihat foto mereka berdua dan itu membuatku sakit hati dan nyaris putus asa. Setiap setelah latihan basket, Aldo selalu mengantarkan pacarnya itu pulang dan selalu lewat dihadapanku.


Tapi matanya menatapku seolah ingin melihat kecemburuanku, dan yang Aku lakukan hanyalah tersenyum dihadapan mereka dan menyembunyikan rasa perih dihati ini.


.


.


.


Dua bulan telah berlalu, Aku mendengar bahwa Aldo putus dengan adik kelas yang pernah jadi pacarnya itu. Karena suatu masalah, adik kelasnya itu selingkuh dengan teman sebayanya. Tapi dari sorot mata Aldo, Aku tak melihat rasa sakit itu.


"Ca, setelah putus dengan adik kelas itu, Aldo kelihatannya tidak begitu sedih. Padahal kan, mereka cukup lama pacaran," ucapku bertanya-tanya.


"Tapi ... tapi, kenapa dia pacaran dengan adik kelas itu?" ujarku dengan penasaran.


"Iyah, itu dia hanya ingin membuktikan, apakah kamu benar-benar sayang sama dia atau tidak. Nah buktinya ketika Aldo pacaran kamu cemburu, kan?" ucap Caca.


"Jadi, dia mengantarkan pulang mantannya itu dengan sengaja dia lakukan?" Tanyaku.


"Iya, benar. Itu semua rencanaku dengan Aldo," jelas Caca.


💓💓💓


Tiba sudah diakhir ujung masa SMA, kini aku sudah kelas XII IPS 1. Perasaan sayang pada Aldo masih ada terukir dengan indahnya didalam hati.


Caca selalu menuntunku untuk tidak jatuh pada masalah hatiku, beruntungnya Aku memiliki sahabat-sahabat yang selalu menghiburku, Aku kembali dengan kebiasaanku bersaing pelajaran dengan yang lain, namun hati tetap terpusat pada Aldo.


"Caca, katanya Farid sayang sama aku. Ini sudah 6 bulan lamanya. Tapi kenapa, dianya nggak nembak-nembak juga. apakah dia sudah melupakan aku begitu saja, akhir-akhir ini dia juga sibuk dan jarang ketemu sama aku," ucapku dengan mengerucutkan bibirku.


"Semua akan indah pada waktunya," ucap Caca dengan nada yang begitu bermakna.


.


.


.


Ujian akhir sekolah kulalui dengan baik, nilai yang cukup memuaskan Aku dapatkan. Aku lulus, Caca dan Hilda pun lulus.


Masa depan kita ada di depan mata, saatnya kita melangkah. Acara perpisahan yang menyedihkan, aku pasti sangat merindukan masa-masa ini.


Suka duka yang ada selama 3 tahun, Semua menangis bahagia campur sedih. Aku, Caca dan Hilda pun berpelukan karena sebentar lagi kami akan berpisah.


Ijazah telah Aku dapat, aku melanjutkan masa depanku dengan kuliah di luar kota bersama sahabatku Caca. sedangkan Hilda melanjutkan kuliahnya ke luar negeri ikut dengan keluarganya.


Tapi kita telah berjanji untuk tidak akan melupakan masa-masa menyenangkan ini, begitupun dengan Aldo yang juga lulus, tapi saat itu sama sekali aku tidak melihatnya.


Kata teman-teman sih, Aldo tadi buru-buru dijemput oleh keluarganya setelah mendengar pengumuman kelulusan.


.


.


.


Di taman kota, Caca mengajakku untuk bertemu, aku pun pergi ke taman itu. Sesosok Pria keren dengan memakai topi membelakangiku, tepat didekat Caca.


"Siapa dia? Ahh, mungkin pacarnya Caca kali yang mau dikenalin sama aku," hatiku bertanya-tanya dengan penasaran, dan pria itupun membalikkan badannya.


"Hah? Kamu? Kamu Aldo kan!" ucapku terkejut.


"Iya, Aku Aldo. Kamu Rara kan?" Balas Aldo.


"Lama banget, kita nggak ketemu. Kamu lanjut dimana?" Tanyaku pada Aldo sambil menjabat tangannya.


"Sekarang, aku kuliah di salah satu Universitas di kota ini. Kamu gimana kabarnya?" ucap Aldo.


"Alhamdulillah, kabarku baik-baik saja," Jawabku sambil tersenyum.


"Hmm, Aku pergi kesana dulu yah. Sebentar aja kok, tunggu aku disini yah!" Ujar Caca.


"Jangan lama-lama yah?" Kataku pada Caca.


"Rara, kita cukup lama yah berpisah. aku kangen sama kamu. Ada suatu hal juga yang ingin aku utarakan ke kamu," Ucap Aldo dengan serius.


"Iya, apa?" balasku dengan penuh penasaran.


"Aaa ... kuu ... Aku sayang sama kamu Rara! Perasaan ini sudah lama aku pendam. Sejak SMA, dan saat inilah waktu yang tepat untuk aku mengungkapkannya. Kamu mau nggak jadi pacar aku sekaligus yang akan jadi istriku kelak?" Jelas Aldo memegang tanganku.


"Hmm, gimana ya aku jawabnya. Tapi sebenarnya aku juga sayang sama Aldo," ucapku dalam hati.


"Rara, kamu mau kan? aku sayang dan cinta sama kamu," tanya Aldo.


"Hmm ... Iii ... yah, Aku mau. Aku juga sayang sama kamu," jawabku dengan jantung yang berdetak begitu cepatnya.


"Cie, ada yang baru jadian nih! So Sweet banget dah!" ucap Caca yang datang menghampiri kita dan ternyata semua ini telah Caca rencanakan bersama Aldo.


.


.


.


Aldo adalah cinta pertamaku di Masa SMA. Dari dia, aku banyak belajar tentang memahami, berkorban tanpa pamrih, meneteskan airmata, bersabar, rajin belajar dan mengembangkan bakatku.


Tanpa di sadari, dia adalah inspirasiku untuk jadi lebih baik. Semua itu tidak sia-sia karena tiba saat waktunya, keinginanku untuk bersamanya terwujud.