
Aisyah dan Afifah, dua orang sahabat itu tampak sibuk dengan pembicaran mereka.
"Kak, ehm ... aku mau nanya nih. Tapi, aku malu," ucap Aisyah tiba-tiba.
Dia mengatur desah nafasnya yang tertahankan. Entah mengapa, gadis itu selalu grogi jika berhadapan dengan Afifah, kakak kelasnya.
"Malu? Kamu ini aneh, dek. Belum juga bertanya kok sudah malu. Kenapa harus malu?"
Aisyah tersenyum simpul, dalam hitungan detik, dia menggeleng pelan dan berkata, "Habisnya, nanti pasti diketawain sama kakak,"
Afifah memperhatikan adik kelasnya itu, "Mana bisa kakak ketawa, orang masalahnya aja kakak belum tahu? Udah buruan, kamu tuh mau tanya apa?"
"Tapi beneran yaa, kakak janji ya nggak bakal ngetawain aku," ancam Aisyah cemberut. Afifah pun mengangguk pelan dan berjanji, setidaknya untuk melegakan.
"Hmm, kakak pernah jatuh cinta nggak? emm ... sama seorang laki-laki?"
Afifah menyeringatkan dahinya, tak lama dia pun tertawa pelan sembari menatap Aisyah yang ada dihadapannya.
Dia dapat menebak apa yang sedang dipikirkan adik kelasnya itu. "Jadi ceritanya kamu lagi jatuh cinta nih? Hayoo sama siapa?"
"Ihh, kakak mah ... Tuh kan diketawain. Enggak kok ... aku cuma tanya aja,"
"Ah, yang bener? Habisnya kamu lucu sih,"
"Apanya yang lucu? Ini beneran kak, aku serius nanyanya,"
"Ehm, mau jawaban yang bohong apa yang jujur nih?" Afifah mulai menggoda.
"Yah, kak Afifah mah," gadis itu kembali cemberut, merengek dan memanyunkan bibirnya untuk kesekian kalinya.
"Terus gimana? emm ... maksud aku, gimana sikap kakak dalam menanggapi permasalahan itu? Apakah orang yang kakak cintai itu tahu perasaan kakak sebenarnya?"
"Entahlah, kakak tidak tahu. Bisa jadi dia sama sekali tidak tahu akan hal itu,"
Aisyah terdiam, dia memandang lamat-lamat wajah kakaknya yang teduh. Pikirannya masih melayang untuk mencari jawaban atas apa yang Afifah sampaikan tadi.
"Kenapa kakak tidak berusaha mengungkapkan perasaan kakak itu?" tanya Aisyah kemudian.
Afifah tersenyum simpul menanggapinya, dia dapat menebak dengan jelas keingintahuan Aisyah.
"Harus begitukah? Untuk apa? Kakak pikir perasaan itu tidak perlu di umbar atau disebarkan, karena cukup untuk disimpan dalam hati,"
"Perlu kamu tahu, perasaan itu sederhana. Rasa cinta memang bukanlah substansi yang di larang atau ditakutkan, rasa tersebut adalah sebuah proses kemanusiaan yang wajar. Tak bisa dibuat-buat, kadang muncul dengan tiba-tiba tanpa diduga. Yang menjadi masalahnya adalah pelampiasan rasa cinta itu sendiri, bila rasa itu dilampiaskan dalam jalur yang dianjurkan oleh syariat maka akan berbuah kebaikan sekaligus berakhir dengan indah. Namun, sebaliknya, jika rasa cinta tersebut dilampiaskan pada jalur-jalur larangan, maka itulah yang akan menimbulkan dosa dan murkanya Allah, seperti halnya dengan mengumbar perasaan kita kepada orang lain. Bisa jadi tindakan seperti itu memungkinkan untuk terjadinya fitnah yang tidak kita duga dan yang tidak kita inginkan,"
"Lalu bagaimana sebaiknya kita untuk menyikapinya, kak?"
"Berdiamlah dan simpan rapat-rapat rasa itu, Cintailah dalam diam. Akhir dari sebuah cinta yang hakiki sebenarnya adalah pernikahan, itulah solusi terbaik yang dapat dilakukan. Kita harus berusaha untuk menekan rasa itu agar tidak meluap pada hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Tentu saja ada usaha yang kita lakukan untuk menanganinya, seperti menyibukkan diri dengan beribadah, perbanyak puasa sunnah, dan melakukan aktivitas-aktivitas duniawi lainnya yang bermanfaat, hingga seluruh pikiran kita tidak ada lagi celah untuk menerawang dan melambungkan masalah cinta,"
"Apakah itu usaha yang kakak lakukan selama ini? Apakah aku bisa melakukannya juga?"
"Bisa, Kamu pasti bisa melakukannya. Meskipun awalnya sulit, tapi lama-kelamaan juga kamu akan terbiasa, seperti halnya apa yang kakak lakukan. Jika semua diniatkan untuk kebaikan, pasti akan selalu ada jalan,"
Aisyah merasa kagum dengan semua perkataan yang Afifah sampaikan kepadanya.
"Tidak perlu risau masalah jodoh, Ai. Allah sudah menuliskan masing-masing dari mereka untuk kita. Mau jauh atau dekat hubungan, lama atau singkat jalinan, kalaupun tidak berjodoh, kan sama saja. Bukankah diam adalah satu-satunya cara terbaik yang dianjurkan untuk kita?"
Aisyah tersenyum simpul, dia mengangguk pelan dan mulai mengerti apa yang Afifah sampaikan. Ada kebenaran dari hal yang dia yakini, bukanlah hal yang sulit untuk tetap menyimpannya, hingga tiba waktu yang telah ditentukan.