The Story Of My Life

The Story Of My Life
Sepucuk Surat



Poooss .... !!! Teriakan tukang pos membangunkanku dari tidur siangku, aku yakin sekali surat kali ini untukku. Ini pasti dari sahabatku, Siska.


Aku dengan Siska sudah hampir setahun saling bertukar surat, awalnya kita berkenalan dengan tidak sengaja, pada awalnya aku mendapat surat tidak dikenal, saat aku cek ke kantor pos, ternyata surat itu memang salah kirim.


Surat itu dari Siska yang bermaksud mengirim surat tersebut kerumah neneknya, kebetulan alamatnya hampir sama dengan alamat rumahku.


Semenjak saat itu kita menjadi sahabat pena, Siska dan aku mempunyai hobi yang sama yaitu menulis.


.


.


.


Dan ternyata benar surat itu dari Siska, langsung saja aku membuka amplop yang berwarna ungu itu. Aku dan Siska sepakat untuk memakai amlop yang berwarna ungu jika saling berkirim surat.


21 November 2017


Ica, tak terasa hampir setahun kita saling kirim surat. Aku sangat senang sekali kejadian setahun yang lalu, menjadi hal yang sangat indah bagiku


Oh ya, bulan depan aku berencana mengunjungi kotamu, aku ingin menghabiskan liburan di rumah neneku, dan aku juga berencana mengunjungimu, aku sangat ingin bertemu dengan kamu secara langsung.


Sekian dulu yaa, aku menunggu balasanmu


Salam hangat,


Siska


Aku merasa senang sekali kala membacanya, ternyata Siska akan mengunjungi kota ku bulan depan.


Segera saja aku bilang kepada ibuku tentang rencana Siska yang akan berkunjung kesini, setelah itu aku langsung menulis surat balasan untuk Siska.


25 November 2017


Siskaaa, aku merasa senang sekali kamu mau mengunjungiku, tentu aku juga ingin bertemu denganmu, aku juga sudah bilang kepada ibuku bahwa kamu akan mengunjungi ku, ibuku juga senang, aku harap nanti kamu menginap dirumahku selama beberapa hari, aku mempunyai banyak rencana menarik untuk kita lakukan bersama.


Kamu akan kesini bulan depan kan? Itu berarti beberapa hari lagi.


Hati hati di jalan ya Siska.


Salam hangat,


Ica.


.


.


.


Tidak terasa hari ini hari terakhir sekolah sebelum liburan, berarti Siska akan kerumahku beberapa hari lagi, aku segera mandi dan berpakaian untuk pergi ke sekolah, sebelum itu aku sarapan pagi lalu berpamitan untuk sekolah.


Akhirnya pengumuman dari sekolah yang aku tunggu-tunggu datang juga, sekolah akan libur akhir tahun, teman-teman disekolahku sangat ramai, mereka bercerita rencana mereka untuk liburan nanti.


Tak terasa bel tanda akhir sekolah pun sudah dibunyikan, keadaan kelas smakin ramai. Setelah mengucapkan selamat liburan, kita semua pun pulang ke rumah masing-masing.


Di tengah perjalanan aku teringat mimpiku tadi malam, di mimpiku aku melihat Siska memakai gaun putih yang begitu indah dan dia tersenyum padaku, tapi semakin lama sosok Siska semakin menjauhuh, aku mencoba mengejarnya tetapi tidak bisa.


"Mengapa ya, aku bermimpi seperti itu tadi malam? Ah, mungkin aku terlalu senang Siska akan mengunjungi ku," pikirku.


"Aku pulaaang ...." teriaku. "Tidak seperti biasanya, biasanya kan ibu selalu menyambutku saat aku pulang sekolah," ternyata ibuku ada diruang keluarga dan disitu aku melihat ibu menangis sedih.


"Ada apa bu??" tanyaku.


Ibuku menatapku, lalu berkata, "Ica, ibu harap kau tabah,"


"Temanmu, Siska, telah mengalami kecelakaan pesawat," kata ibu terisak


"APA?" aku terkejut kala mendengar itu, lalu aku segera mengambil remote tv yang ada di atas meja dan segera menyalakan TV.


Di TV ditayangkan gambar yang sangat mengerikan, sebuah serpihan pesawat yang terombang-ambing di laut lepas. Reporter di TV mengatakan pesawat itu telah meledak di udara, dugaan sementara tidak ada satupun korban selamat.


"Tapi kan bu, belum tentu Siska ada di dalam penerbangan itu," tanyaku cemas.


"Tidak, Ica. Nenek Siska tadi menelpon ibu, dan menyampaikan berita ini," jawab ibu sedih.


Tidak terasa, air mata telah membasahi pipiku, aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, disekelilingku terasa berputar, dan tiba-tiba gelap. Aku pingsan.


.


.


.


Sudah genap sebulan setelah kecelakaan pesawat itu, jasad Siska belum juga ditemukan, diliburanku kali ini, aku merasa tidak bersemangat karena kejadian tersebut, keluargaku mencoba untuk menghiburku, tapi itu sama sekali tidak bisa membantu.


Poooss .... !!! Teriakan tukang pos membuyarkan lamunanku. "Aku malas untuk keluar, biar ibu saja yang mengambil suratnya," pikirku.


Pooooss .... !!! "Aihs, mana sih ibu?" gerutuku.


Dan aku pun baru ingat, aku sedang sendirian dirumah, ibu sedang menghadiri acara arisan.


Segera saja aku berlari keluar untuk mengambil surat itu, ternyata pak pos mengantarkan sebuah kotak yang ditujukan kepadaku.


Setelah mengucapkan terimakasih kepada tukang pos, aku masuk dan membuka isi dari kotak itu.


Isi kotak itu adalah bungkusan plastik yang didalamnya ada kertas-kertas yang dicover rapi dan sebuah amplop yang berwarna ... MERAH.


Aku membuka isi dari surat itu dan membacannya.


5 Desember 2017


Sahabatku Ica, saat kamu membaca surat ini, mungkin ini menjadi surat terakhir dariku, maafkan aku Ica, aku tidak bisa menepati janjiku untuk liburan bersama denganmu.


Ica, aku ada satu permintaan, semoga kamu menyanggupinya. Kamu ingat kan, aku pernah bercerita kalau sedang menyelesaikan menulis novel.


Aku ingin kamu menyelesaikannya. Ica, meskipun kita belum pernah bertemu langsung, tapi kamu adalah sahabat terbaiku.


Dan aku minta maaf karena tidak bisa menepati janji, terima kasih ya Ica, kamu telah menjadi sahabatku.


Salam persahabatan,


Siska


Air mataku pun kembali mengalir membasahi pipiku setelah membaca surat itu, dan aku mengambil kertas-kertas yang dicover rapi itu, itu adalah naskah novel yang belum sempat diselesaikan oleh Siska.


Dengan senang hati aku akan menyelesaikan novel Siska, aku akan mengerjakannya sebaik mungkin, dan semoga Siska tenang di alam sana.


.


.


.


Di dunia ini memang banyak kejadian yang tak terduga, persahabatanku dan Siska pun diawali dengan kejadian yang tak terduga, dan diakhiri dengan kejadian yang tak terduga juga.


Dan di dunia ini tak ada yang abadi, setiap pertemuan pasti ada perpisahan, entah cepat ataupun lambat.