The Story Of My Life

The Story Of My Life
Cinta Untuk Sahabat



Surya, Alvin dan Rendy adalah 3 sekawan sehidup semati. Kemana-mana mereka pergi pasti selalu bersama. Dari mereka kuliah di universitas yang sama sampai tempat makan favorit mereka pun sama.


Tetapi hanya tempat tinggal dan nasib mereka saja yang berbeda. Surya dan Alvin tinggal di kos-kosan yang sederhana, di sana mereka bisa menaungkan hidupnya, yang menjadi tempat untuk berteduh dan yang melindungi mereka dari dinginnya hujan dan panasnya matahari.


Sedangkan Rendy, dia tinggal di perumahan yang begitu mewah, karena Rendy adalah anak orang kaya raya, dan dia anak tunggal pewaris tahta keluarganya. Orangtuanya pun masih utuh. Jadi sudah pasti Rendy mendapatkan kasih sayang sepenuhnya dari orangtuanya.


Tapi walaupun begitu, Rendy itu anaknya tidak pernah sombong. Dia itu orangnya baik hati, suka membantu orang-orang yang sedang dalam kesusahan, dan dalam beribadah pun dia selalu menunaikannya tidak pernah ada kata terlewatkan.


***


Suatu hari, Surya dan Alvin pergi kerumah Rendy. Sesampainya, mereka langsung diajak masuk oleh Rendy untuk ke kamarnya, yang besarnya dua kali lipat dari kamar kos-kosan Surya dan Alvin.


Rencananya mereka akan bermain game sambil makan snack, tapi stock makanan di kulkas Rendy habis. Jadi, Rendy mengajak Alvin untuk berbelanja, sedangkan Surya menunggu didalam kamar Rendy.


Surya mulai merasa bosan dengan kesendiriannya saat ini didalam kamarnya Rendy. Disaat Surya sedang melamun memikirkan apa yang harus dia lakukan agar tidak merasa bosan atau jenuh lagi, dia melihat ada sebuah buku TTS di kamar Rendy, dan Surya pun berpikir dari pada jenuh menunggu mereka pulang yang tak pasti berapa lamanya lagi, lebih baik dia mengisi TTS itu.


Surya berniat mencari sebuah pulpen didalam laci, tapi yang Surya temukan malah obat-obatan sama beberapa infus. Surya merasa bingung sekaligus penasaran itu semua punya siapa? Apakah Rendy sedang sakit?


Beberapa menit kemudian Rendy dan Alvin datang membawa makanan dan minuman. Surya hanya diam, dia tidak mau menanyakan masalah tadi dulu ke Rendy, karena dia pikir, mereka mau bersenang-senang terlebih dahulu. Jadi, Surya tidak mau merusak mood mereka.


Waktu berjalan begitu cepat, sampai tidak terasa malam hari pun datang, saatnya Surya dan Alvin pulang. Mereka pamit kepada Rendy dan ke orangtuanya Rendy.


***


Hari demi hari telah berlalu, Surya masih memikirkan soal apa yang dia temukan di kamarnya Rendy. Karena tidak tahan memendam semuanya sendiri, jadi dia menceritakan semuanya ke Alvin, tapi Alvin malah menjawab dengan candaannya.


“Alah … paling itu cuma buat cadangan aja, orang kaya kan bisa sakit juga. Jadi kalau mereka sakit, bisa di rawat di rumah aja gitu, ngirit duit!”


“Nggak lucu tau, Al!” kesal Surya.


“Emang nggak, lagian siapa juga sih yang ngelucu, Sur?“


Surya lebih memilih untuk diam dan menyimpannya di dalam hati aja masalah tersebut. Daripada dengerin jawaban yang nggak benar dan nggak guna itu. Surya yakin kalau ada apa-apa dengan Rendy, Rendy pasti cerita ke mereka.


***


Pada suatu hari, tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, tiba-tiba Rendy datang ke kos-kosannya Surya dan Alvin sambil membawa makanan dan minuman serta seperangkat alat sholat seperti, sarung, peci, dan sejadah. Rendy hanya bilang, itu makanan buat cemilan teman kumpul aja.


Tapi Surya masih bingung, karena kan biasa nya kalau kumpul itu di rumahnya Rendy. Karena, nggak mungkin juga Surya atau Alvin mengajak Rendy ke kos-kosannya, buat Surya dan Alvin aja udah padat banget, apalagi di tambah satu orang tambah sesek aja tuh kos-kosan.


”Maaf ya Ren, tempatnya sempit nggak kaya rumah lo yang begitu luasnya,”


“Nggak apa-apa kok … gue juga mau merasakan hidup kaya kalian walaupun Cuma sebentar. Lagian gue juga mau bareng-bareng terus sama kalian. Kalian nggak keberatan kan?”


Belum sempat Surya menjawab, Alvin sudah jawab duluan.


“Mana mungkin kita keberatan, kan loe sahabat kita. Apalagi kalau loe bawa makanan kaya gini, sering-sering aja ya loe kemari,”


Rendy Cuma tersenyum mendengarkan jawaban dari Alvin.


“Terus ini perlengkapan sholat juga buat kita?” Tanya Surya.


“Iya … biar kalian rajin sholatnya. gunain baik-baik ya, buat amal ibadah kalian,” jelas Rendy.


“Makasih ya, Ren?”


“Iya, sama-sama,”


Sontak Surya kaget banget, karena nggak biasanya Rendy begitu. Hingga sore hari pun tiba Rendy memutuskan untuk pulang.


Sebelum pulang Rendy melihat rambut hitam lembut nya berantakan, jadi Rendy merapihkannya terlebih dahulu. Surya terkejut waktu melihat banyak banget rambut Rendy yang rontok dan tersangkut di sisir. Tapi, Surya tidak terlalu menghiraukannya, karena dia pikir cuma rontok biasa.


“Gue pulang dulu ya guys, assalamu’alaikum?” pamit Rendy.


”Wa’alaikumussalam,” jawab Surya dan Alvin barengan.


Setelah Rendy pulang, Surya mencoba untuk membicarakan itu sama Alvin.


“Al ....”


”Eemm ....”


”Loe merasa ada yang beda nggak sih sama Rendy?”


”Beda gimana sih? Jelas-jelas mata, hidung, dan mulutnya nya masih ada kok nggak hilang!”


”BUKAN ITU MAKSUD GUE OGEB!!! Sifat dia itu akhir-akhir ini beda dari biasanya,”


”Hfuh .…“ Alvin mengangguk-anggukan kepalanya.


”Bener-bener ngerti nggak sih loe?” Surya memastikan.


”Nggak,” jawab Alvin.


“Aihs! Maksud gue, sifat Rendy tuh aneh banget sekarang, nggak kaya dulu gitu,”


”Yaa biarin aja napa? Yang penting dia masih jadi sahabat kita. Masih inget sama kita. Mungkin dia Cuma mau berusaha berubah,”


”Iya juga ya, walaupun otak loe ogeb, tapi terkadang loe bisa jadi cerdas juga ya,”


”Yaa loe nya aja yang baru tau, gue dari dulu emang gini kali,”


”Terserah loe aja dah,”


***


Di kampus, Rendy tidak terlihat seperti biasanya. Biasanya Rendy itu selalu terlihat fit and fresh. Tapi entah kenapa hari ini Rendy terlihat pucat banget.


“Sehat kok, Sur!” jawab Rendy.


Untuk memastikan Surya Bertanya lagi.


“Loe yakin?”


“Yakin atuh! gue nggak apa-apa kok!”


“Emmm, syukur deh kalau gitu,” Surya ngga mau memaksa Rendy untuk bilang, walaupun Surya tau ada sesuatu yang Rendy sembunyikan.


Hari ini, jadwal kuliah sampe sore hari. Pada waktu makan siang, seperti biasa mereka pergi ke kantin. Mereka hanya membicarakan tentang beberapa hal, tiba-tiba saja Rendy meremas-remas tasnya dan mengkerutkan jidatnya seperti orang yang sedang Manahan rasa sakit dan sesekali dia memegang kepalanya, Tidak lama kemudian hidung Rendy mengeluarkan darah dan Rendy pun pingsan.


Langsung saja Surya dan Alvin membawa Rendy ke UGD yang ada di kampus. Dan di saat Rendy sudah sadar, Surya langsung mengantarkan Rendy pulang.


***


Sudah hampir seminggu Rendy tidak kuliah, setelah kejadian waktu itu. Surya mencoba menghubungi Rendy, tapi nomor teleponnya tidak aktif.


Beberapa menit kemudian, HP Surya tiba-tiba berbunyi, dan dia mengangkatnya, dari seberang sana terdengar suara yang begitu lembut.


“Maaf nak mengganggu, tante cuma mau bilang kalau Rendy selama ini sakit. Dia di rawat di rumah sakit. Maaf juga ya, kalau tante baru mengabarkannya sekarang,”


Surya begitu terkejutnya mendengar kabar bahwa Rendy sekarang sedang di rawat di rumah sakit.


“Kenapa loe, Sur?”


“Rendy … Al … Rendy,”


“Iya, kenapa sama Rendy, Sur?”


“Ternyata selama ini dia itu sakit. Sekarang dia dirawat di rumah sakit, Al,”


“Yaudah, ayo kita ke sana. Tunggu apa lagi? Ayo kita jenguk dia!”


Surya lagsung mengambil kunci motornya. Surya menjalankan motornya menuju rumah sakit yang tadi sudah diberi tau oleh mamanya Rendy.


Sesampainya di rumah sakit, dengan informasi di mana keberadaan kamar Rendy dari seorang suster, mereka mulai mencarinya, dan akhirnya dapat juga. Surya membuka pintu kamar ruang ‘Anggrek’ itu secara perlahan.


“Assalamu’alaikum?“ ucap Surya.


“Wa’alaikumussalam!” jawab mamanya Rendy.


Alvin terdiam melihat kondisi Rendy yang lemah dan pucat, apa lagi rambut Rendy yang sudah hilang entah kemana.


“Sebenarnya, Rendy itu sakit apa ya, Tante?”


Tiba-tiba mamanya Rendy meneteskan air matanya, dan mengajak Surya untuk bicara di luar saja.


“ Begini nak Surya, sebenarnya Rendy terkena penyakit kanker otak stadium 4, dokter mengvonis hidupnya tidak akan lama lagi,” kata mamanya Rendy.


“APA? Tapi kenapa Rendy tidak pernah menceritakannya kepada kami, Tante?”


“Tante sebenarnya juga pernah bilang sama Rendy untuk memberitahukan semua ini ke kalian, dan tante juga meminta dia untuk istirahat dirumah saja, agar keadaanya tidak semakin memburuk, tapi Rendy tidak mau, dia bilang, dia tidak ingin membuat kalian mencemaskan diriya. Rendy ingin melihat kalian tetap terlihat bahagia di akhir hidupnya, dan dia tidak ingin membuat kalian terbebani karena penyakitnya,”


Surya hanya terdiam, hingga tak terasa air matanya terus saja mengalir ke luar dari matanya ketika mendengar semua penjelasan tadi. Tidak disangka selama ini Rendy menderita demi kebahagiaan mereka.


Terungkap sudah semua kejanggalan-kejanggalan yang selama ini Surya temukan. Obat-obatan dan infus itu, ternyata untuk simpanan kalau tiba-tiba penyakit Rendy kambuh. Surya tidak tahu harus apa lagi atau harus mengatakan apa lagi.


Surya kembali masuk ke kamar itu lagi, dia memandangi tubuh lemah sahabat nya, air matanya pun tidak tertahankan untuk tidak ke luar dari matanya, dan kini Surya memeluk tubuh sahabat terbaiknya itu dengan lembut.


“Kenapa loe nangis, Sur?” Suara Rendy dengan nada lemah.


“Kenapa, Ren? Kenapa loe nggak pernah bilang ke kita kalau loe itu sakit?”


Pandangan Rendy tertuju pada mamanya.


“Maaf sayang, mama terpaksa dan mama rasa sudah saatnya mereka tau semua ini,” kata mama Rendy.


“Maafin gue ya! gue nggak bermaksud bohongin loe pada! gue cuma nggak mau loe semua khawatir sama gue,” jelas Rendy.


“Maafin gue juga, Sur” tiba-tiba Alvin meminta maaf pada Surya.


“Maaf? Buat apa?” ucap Surya tak mengerti.


“Karena sebenernya gue udah tau tentang masalah ini, Rendy pernah cerita ke gue waktu kita belanja makanan. Dan masalah obat-obatan dan infus itu sengaja gue pura-pura nggak tau, gue takut lo curiga. Tapi ini semua karena Rendy juga yang minta,”


“Jadi selama ini loe bohong sama gue, Al?”


“Loe jangan marah sama Alvin, Sur … ini semua salah gue. Tapi sekarang yang penting loe udah tau kan. Dan gue kira urusan gue udah kelar sekarang, nggak ada lagi yang gue sembunyiin dari kalian. Jadi, gue bisa pergi dengan tenang,” ucap Rendy.


“Loe nggak boleh ngomong gitu lah, Ren. Loe harus tetep kuat, loe bisa sembuh,” Surya mencoba untuk menyemangati Rendy.


“Nggak ada lagi yang bisa gue harapkan Sur. Gue udah nggak kuat lagi. Sakit banget yang gue rasa, Sur. Tolong jagain mama sama papa gue ya. Dan gue sayang banget sama loe berdua, MY BEST FRIEND,”


“Kita juga sayang banget sama loe Ren,” ucap Surya dan Alvin bersamaan.


Beberapa detik kemudian, Rendy pun menghembuskan napas terakhirnya.


Surya menangis sejadi jadinya. Begitu juga dengan Alvin. Mamanya Rendy pingsan. Surya memanggil suster untuk menanganinya.


Keesokan harinya pemakaman dilaksanakan. Tidak rela rasanya melihat tubuh orang tercinta di timbun oleh tanah. Namun, itu semua adalah takdir yang harus di terima dengan ketabahan dan keikhlasan.


Surya membersembahkan sebuket bunga untuk sahabat tercintanya. dia meletakannya di atas tanah tempat terbaringnya tubuh sahabatnya itu. Setelah itu Surya melangkahkan kakinya menjauh dari makam itu.


Teringatlah kembali semua kenangannya dengan Rendy. Sungguh tidak pernah terfikirkan olehnya, bahwa dia akan kehilangan seorang sahabat sebaik Rendy.