THE SECOND MARRIAGE

THE SECOND MARRIAGE
Tas



Seperti perkataannya pada Alen kemarin, Yuka segera menghampiri salah satu toko merk ternama di Mall terbesar yang berada di sini. Pegawai toko yang melihat kedatang Yuka segera menyambutnya dengan hangat.


Saat ini Yuka mengenakan pakaian blazer putih dengan rok putih yang membalut kakinya dengan begitu sempurna. Apalagi warna rambut wanita itu berwarna merah mencolok membuat semua orang berpikir jika Yuka memang berasal dari keluarga kaya raya.


“Selamat siang Nyonya, ada yang bisa saya bantu?” pegawai toko berusia 30an itu tersenyum dengan lebar.


“Aku mendengar jika ada tas keluaran terbaru, aku ingin membelinya segera.” ucap Yuka dengan jelas. Namun pegawai itu nampak sedang berpikir. Tas itu memang baru keluar hari ini, tepat pukul 11 siang. Maka dari itu Yuka segera pergi ke toko ini dengan cepat. Namun ternyata tidak banyak yang mengincar tas itu dan kini Yuka sudah berada di toko itu untuk mencari tasnya.


“Mohon maaf sebelumnya, tas itu memang ada di toko kami, hanya saja di setiap toko diberikan satu tas. Jadi bisa dibilang, itu adalah tas limited edition.”


Kening Yuka berkerut ketika mendengarnya, “Terus kenapa?”


“Maaf Nyonya, takutnya tas itu sudah habis terjual sekarang.” Yuka bisa mendengar jika pegawai itu nampak gugup ketika membicarakannya.


“Bukankah tas itu masih ada di sini?”


Pegawai itu segera mengangguk dengan ragu. Yuka bisa mencium jika pegawai ini nampak tidak jujur.


“Panggilkan Manajermu!” pegawai itu nampak terkejut ketika Yuka meminta untuk memanggil Manajernya. Namun dia hanya seorang pegawai biasa dan tidak berani untuk menyinggung orang besar. Dengan cepat pegawai tersebut segera memanggil atasannya.


Dalam hitungan menit, seorang pria berusia 40an mendatangi Yuka. Bisa dilihat jika pria itu memakai pakaian yang rapi dan juga cukup modis.


“Selamat siang Nyonya, ada yang bisa saya bantu?” pria itu tersenyum dengan enggan, seolah-olah Yuka adalah pembeli yang sangat merepotkannya. Apalagi saat pegaiwanya memberitahukannya mengenai tas keluaran terbaru itu.


“Ya, saya ingin tas keluaran terbaru.” Yuka berusaha untuk tidak tersinggung dan bersikap biasa saja.


“Mohon maaf, tas itu saat ini sudah ada yang memesannya. Maka dari itu, silahkan Nyonya mencari di toko lain.”


Alis Yuka bertaut ketika Manajer yang berada di depannya berkata jika tas itu sudah habis. Lalu kenapa tas itu masih berada di toko ini?


Kemudian datang seorang wanita glamour yang datang dengan beberapa orang di belakangnya. Yuka melihat wanita itu memakai pakaian dari berbagai merk kalangan atas. Bahkan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya membuat wanita itu terlihat seperti sosialita kaya raya.


“Hardon, bagaimana dengan tas pesananku kemarin?” Manajer itu segera menghampiri wanita itu dengan senyum sumringah. Yuka bisa melihat jika prilaku Manajer itu sangat berbeda ketika berhadapan dengannya.


“Tentu saja Bu Zivia, saya akan meminta untuk dibungkuskan dengan hati-hati segera.” Manajer yang bernama Hardon itu segera memerintah pegawainya untuk melakukan perintahnya dan melupakan Yuka yang sampai duluan di toko itu.


“Permisi!” Yuka segera mengintrupsi pembicaraan Manajer dan wanita itu. Sontak Yuka menjadi pusat perhatian.


“Bukankah saya yang lebih dahulu datang kemari?” Yuka tersenyum tipis. Wajah Manajer Hardon menjadi masam karena kegiatannya di ganggu.


“Nyonya, saya sudah katakan jika tas itu sudah dipesan terlebih dahulu oleh member VIP kami.”


Kini Yuka mengerti mengenai prilaku seperti ini, dia sudah terlalu sering melihat jika member VIP akan selalu didahulukan. Yuka memaksakan untuk senyuman lebarnya.


“Ah saya baru mendengar jika hal ini bisa dilakukan, tapi bukankah ini tidak adil?” wanita member VIP itu menjadi murung karena ada seseorang yang berusaha untuk mengambil tasnya. Wanita itu membuka kacamata dan mendekati Yuka.


“Nyonya, saya tidak punya urusan apapun dengan anda. Tapi tas itu sudah milik saya sejak kemarin!” ucapan wanita itu terdengar tegas.


Yuka bukan tipe wanita yang harus mendapatkan segala apa yang dia mau, hanya saja saat ini Yuka mendapatkan prilaku yang tidak adil.


“Bukankah itu tindakan yang tidak adil? Saya lebih dulu sampai di sini, harusnya toko ini melayani saya terlebih dahulu.” semua pegawai sangat setuju dengan ucapan Yuka, namun mereka berhadapan dengan orang yang tak biasa. Mereka tidak ingin menyinggung member VIP dan memilih untuk diam.


“Lebih baik anda pergi dari sini!” Manajer Hardon berkata dengan muka yang emosi. Tak jarang ia menemukan seseorang yang terlihat kaya, namun ternyata orang itu adalah orang yang tidak mampu untuk membeli tas di tokonya. Kini Manajer Hardon menganggap jika Yuka adalah orang yang tak mampu dan hanya menimbulkan masalah di tokonya.


“Saya tidak akan pergi jika toko ini memberikan pelayanan yang adil.” Manajer Hardon semakin murka dan ingin segera memanggil kemanan, namun wanita member VIP itu segera mencegahnya.


“Apakah kau tidak tahu siapa saya? Beraninya orang rendahan sepertimu menghadang saya seperti ini!” kini toko itu menjadi pusat perhatiaan karena perkataannya sungguh keras dan membuat semua orang yang berada di Mall melihat mereka.


“Bu Zivia, maaf. Kami akan segera memanggil kemanan agar dia bisa diusir secepatnya.”


Yuka terkekeh kecil ketika prilaku Manajer toko ini semakin tidak masuk akal dan malah ingin mengusirnya. Manajer ini, apakah dia berkuasa untuk toko ini?


“Lupakan itu, saat ini saya ingin melihat seberapa mampu dia untuk menghadang saya untuk mendapatkan tas itu!” Manajer Haron semakin khawatir dan menatap Yuka dengan wajah yang memerah.


“Kau! Cepat pergi dari sini, kau tidak akan diterima lagi di toko saya!” Manajer Hardon menuding Yuka tepat di depan wajahnya.


Yuka masih terlihat tenang dan tidak emosi. Hal ini cukup membuat wanita member VIP itu semakin marah.


“Berlutut di depanku dan aku akan melepaskanmu.” wanita itu segera memberikan pilihan agar Yuka bisa lepas secepatnya. Namun Yuka diam saja.


Teriakan wanita itu membuat semua orang tercengang, mereka sangat tahu jika SJ Group saat ini sedang naik-naiknya dan menjadi populer.


“Sebaiknya kau berlutut dan lakukan perintah dari Bu Zavia!” Manajer Hardon segera menyuruh Yuka untuk segera berlutut, namun Yuka tetap bergeming dan tidak peduli dengan hal itu.


“KAU!” Zavia semakin geram.


“Ada apa ini?” tiba-tiba ada suara yang membuat kerumunan melihat kearahnya.


Manajer Hardon semakin panik dan segera menghampirnya, dia adalah Darren dan asistennya yang mendatangi mereka.


Yuka melihat kedatang Darren menjadi heran, apa yang dilakukan olehnya?


“Tuan Darren, ada sedikit keributan. Tapi saya akan segera menyelesaikan masalah ini secepatnya.” Manajer Hardon menjadi berkeringat ketika melihat atasannya yang berada di kursi roda. Meskipun Darren terlihat lemah karena cacat, tapi tatapan pria itu mampu membuat semua orang menjadi terintimidasi karenanya.


“Apakah masalah seperti ini sampai mengundang kerumunan?” Lay berkata dengan dingin. Selain Darren, ada Lay yang merupakan asisten pribadi Darren yang cukup ditakuti semua orang.


“Maaf Tuan, saya akan segera membubarkan kerumunan.” pihak keamanan segera datang dan membubarkan kerumunan.


Kini Darren segera mendekati Yuka yang berdiri tak jauh darinya. “Apa yang kau lakukan?” Yuka segera bertanya.


“Apa yang terjadi?” Darren mengabaikan pertanyaan Yuka dan segera meminta penjelasan dari Manajer Hardon.


Manajer itu segera menjelaskan mengenai apa yang terjadi dan mengubah sedikit perkatannya. Tentu saja Yuka akan segera mengkoreksinya.


“Tidak seperti itu!” Darren mengalihkan pandangannya pada Yuka.


“Darren,”


Semua orang yang berada di sana terkejut ketika Yuka memanggil nama atasannya dengan nama panggilan langsung. Kalau begitu, bukankah mereka sedang mencari masalah sekarang?


Yuka segera menjelaskan kejadian yang sebennarnya terjadi, bahkan para pegawai turut menyetujuinya dalam hati mereka. Kini Darren sudah mendengarnya dengan jelas dan segera melihat Manajer Hardon dengan tatapan dingin.


“Apa benar ada perlakuan seperti itu?” tanya Darren.


Manajer Hardon menjadi sangat gugup, “A-ah maaf Tuan, sebenarnya tidak ada.” kening Darren berkerut.


“Lalu kenapa kau menerima pesanan dari orang lain dan mengabaikan pembeli yang datang ke toko ini langsung?” meskipun wanita itu member VIP dan sudah memesannya langsung, itu adalah tindakan yang sangat tidak adil. Bahkan toko ini tidak menerapkan sistem itu. Lebih tepatnya toko ini menerapkan peraturan siapa yang datang cepat ke toko, maka dia akan mendapatkannya.


“Maafkan saya Tuan.” Manajer Hardon semakin menunduk.


“Apa-apaan ini?! Apa kalian tidak tahu saya siapa?” Zivia segera menyergah dengan emosi.


“Nyonya, anda member VIP kami. Namun untuk perlakuan seperti itu tidak ada di dalam toko kami. Maka dari itu, silahkan anda pergi dari toko ini dan member VIP anda akan segera kami cabut.” Lay segera berbicara mewakili Darren.


Wajah wanita itu menjadi pias dan murka. “Apa kau tak tahu siapa saya?! Beraninya kalian mengusir saya seperti ini, saya ini istri dari-,”


“Cukup Nyonya, silahkan segera keluar!” perkataan Lay begitu tegas.


“Kalian lihat saja nanti, aku tidak akan melepaskan kalian!” wanita itu segera pergi dengan para pengikutnya.


Yuka yang melihat itu menjadi terhibur. Bisa dia tebak jika Darren memiliki kuasa atas toko ini.


“Dan kau!” kini Lay beralih pada Manajer Hardon yang menunduk semakin dalam.


“Hari ini Tuan Darren mengampunimu, jika nanti ada kejadian seperti ini lagi. Jangan harap bisa lepas!”


“Terima kasih Tuan, terima kasih. Saya berjanji akan melakukan perkerjaan sesuai peraturan.” Manajer Hardon segera bersujud.


“Bungkuskan pesanan wanita ini dan beri secara gratis.” ucapan Darren membuat semua orang melongo tidak percaya.


“B-baiklah saya akan segera membungkusnya.” Manajer Hardon segera menyiapkannya. Kini mereka tahu jika wanita itu adalah seseorang yang dekat dengan Tuan mereka. Tentu saja sebuah keajaiban jika mereka saat ini mendapatkan pengampunan, jika tidak sudah pasti mereka akan tamat.


“Darren, terima kasih karena sudah membelaku. Tapi kalau gratis, itu terlalu banyak.” Yuka segera berbicara jika dirinya memang merasa keberatan diberikan barang mahal dengan gratis.


“Tidak apa-apa, anggap saja ini sebagai kompensasi.”


Yuka mendesah kecil karena Darren terlihat tidak akan mundur. Kini Yuka kembali ke hotel dengan tas yang sudah diincarnya.