THE SECOND MARRIAGE

THE SECOND MARRIAGE
Panggil Darren



“Mati kembali?”


Yuka membelalakkan matanya karena ia malah salah berkata, sesaat Darren menatap Yuka dengan semakin curiga. Sedangkan Yuka segera menormalkan dirinya dan berkata, “Ah maksud saya mati kembali karena suami saya sudah melakukan pengkhianatan hingga membuat hati dan tubuh saya menjadi mati.”


Darren menelisik wajah Yuka. Pria itu melihat jika wanita berusia 25 tahun yang berada di depannya ini memang sangat cantik, kulitnya putih, hidung yang macung dengan bibir tebalnya membuatnya terlihat begitu menarik untuk dilihat. Darren berdehem dan mengembalikan kesadarannya kembali.


“Jadi bagaimana, Pak?” Yuka bertanya dengan ragu. Meskipun pria ini cacat, tapi sudah dipastikan jika Darren akan bisa mengalahkan Alen. Kuasa yang dimiliki oleh Darren tetap tidak dapat tergoyahkan oleh siapapun.


Darren berpikir sejenak, hal ini membuat Yuka sangat gugup setengah mati.


“Baiklah.” Yuka tersenyum lebar ketika Darren akan bekerja sama dengannya. Saat ini Yuka terlihat begitu lega dan senang secara bersamaan.


“Kalau begitu kita resmi menjadi partner, mohon bantuannya Pak Darren Guanesha.” setelah mengatakan itu, Yuka segera keluar kantor Darren dengan hati yang berbunga-bunga. Misi keduanya telah berjalan dengan lancar.


Yuka tidak mungkin akan bekerja sama dengan Darren semudah itu. Jika saja di kehidupannya ini akan sama dengan kehidupannya dulu, maka membuat bisnis dengan Darren adalah sebuah keberuntungan.


Bagaimana tidak? 5 tahun kemudian dari sekarang, Darren akan mengambil kembali kuasanya sebagai ahli waris dari Guanesha. Bahkan secara ajaib pria itu bisa sembuh dari kecacatannya. Namun satu hal yang Yuka lewatkan.


‘Kenapa aku baru mengingat ini?’ keningnya berkerut keras dan segera menuju kamar hotelnya sendiri.


“Yuka!” tiba-tiba seseorang mencekal tangannya begitu kuat, dengan cepat Yuka segera melihat pemilik tangan itu dan membuat Yuka cukup gemetar.


“A-len.” ucap Yuka dengan lemah. Tubuh Yuka bergetar ketika melihat sosok suaminya yang kini sedang menatapnya dengan sendu. Baru 2 hari Yuka kembali ke tubuh ini, tapi Yuka sudah bertemu dengan Alen. Orang yang membunuhnya.


“Kamu kenapa?” Alen segera memegang tangan Yuka yang sedang menggantung. Yuka menahan nafasnya terkejut ketika Alen memegang tangannya.


“Sayang.” Alen mendekatkan tubuhnya pada Yuka. Namun Yuka mundur satu langkah, hal ini tertangkap oleh mata Alen dan keningnya menjadi berkerut.


“Ada apa?” Yuka segera tersadar dari rasa terkejut dan ketakutannya. Wanita itu segera berdehem untuk menormalkan kembali wajahnya menjadi tersenyum lebar.


“Alen, kenapa kau ada di sini?” senyuman lebar Yuka begitu sangat cantik dan menarik di mata Alen. Pria itu membalas senyuman lebar Yuka dengan mengecup kening kening istrinya itu. Yuka mengepalkan tangannya dengan erat karena kecupan itu terasa begitu sangat menjijikkan.


“Aku mengkhawatirkanmu. Kenapa tidak mengangkat telponku hm?”


“Ah itu ya, aku meninggalkan ponselku di kamar.” balas Yuka dengan masih tetap tersenyum.


“Kalau begitu ayo masuk.” dalam hati Yuka terus mengutuk Alen yang malah ingin masuk ke kamar hotelnya. Dengan berat hati Yuka membuka kunci pintu kamar dan mempersilahkan suaminya untuk masuk.


“Guanesha hotel emang yang terbaik.” Alen mengelilingi kamar ini dan terus berdecak kagum. Yuka berdecak kesal karena saat ini liburannya malah diganggu oleh suami brengseknya itu. Namun melihat sikap Alen yang polos seperti itu memang sangat terlihat murni dan tidak ada kebohongan sama sekali. Pantas saja dulu Yuka selalu tertipu.


“Bukankah kemarin kamu masih di Maldives? Lalu kenapa sekarang ada di sini?” Alen mendekati Yuka kembali dan menarik tangan Yuka untuk duduk bersama. Sedangkan Yuka hanya merelakan tangannya untuk disentuh oleh suaminya itu dan duduk bersampingan.


“Aku merasa kesepian di sana, kamu tahu sendiri kalau aku suka pantai. Jadi aku memilih buat pindah kemari.” Yuka segera membalasnya dengan bersikap manis pada Alen agar pria itu tidak mencurigainya.


Alen menatap Yuka dengan merasa bersalah. “Maafkan aku, ini semua salahku.” Alen mengecup punggung tangan Yuka dengan begitu lembut. Yuka menikmati semua perlakuan Alen dari luar, tapi dalam hatinya selalu merutuki sikap Alen yang sangat membuatnya ingin menendang pria itu jauh-jauh darinya.


“Aku ngerti kok, kamu sibuk juga karena perusahaan keluargaku.” sesaat Alen termangu ketika mendengar Yuka menyebutkan ‘keluargaku’, namun pria itu segera menormalkan kembali wajahnya dengan tersenyum tipis.


“Tentu saja, aku tidak ingin membuatmu tinggal di rumah yang sederhana.” perkataan dan sikap Alen begitu sangat manis. Siapa yang tidak akan jatuh cinta jika diperlakukan bak seorang ratu?


“Lalu kenapa kamu kemari? Bukankah kamu sedang sibuk?” tanya Yuka dengan heran.


“Aku mengkhawatirkanmu setelah melihat unggahan di sosial media. Maka dari itu aku langsung terbang kemari dan meninggalkan semua pekerjaanku. Tapi sekarang hatiku sudah lega karena melihat istriku sekarang baik-baik saja.” Alen segera menjelaskannya dengan tangan yang setia memegang tangan Yuka.


“Benarkah? Nanti pekerjaanmu tambah menumpuk.” Yuka memasang wajah raut yang senang dan juga khawatir dengan kondisi Alen secara bersamaan. Tentu saja itu semua hanya akting saja.


“Tidak apa, asalkan aku bisa melihatmu saat ini.” Alen memberikan senyuman manisnya dengan lesung pipi yang menambah kesan manis padanya menjadi sangat bertambah.


“Terima kasih.” Yuka segera mengucapkan kata itu agar Alen selalu melihat jika dirinya hanya wanita yang polos dan mudah untuk dibodohi.


“Apapun untuk kesayanganku.” Alen mendekati wajahnya pada wajah Yuka.


Cup


Yuka mengira Alen hanya akan mengecup bibirnya saja, pria itu malah menuntut lebih dan melakukan cumbuan yang biasanya mereka lakukan. Namun kali ini berbeda! Yuka sangat tidak menginginkan hal ini.


“Mmh Alen..” Yuka segera berusaha menjauhkan badan Alen yang terus mendekatkan badannya dan melepaskan ciuman itu. Alen terlihat memerah dan nafasnya begitu memburu. Pria itu berkerut karena kegiatannya diganggu.


“Aku ingin ke toilet sebentar.” setelah mengatakan itu, Yuka segera melepaskan dekapannya dan pergi dari hadapan Alen.


Yuka bergidig jijik ketika merasakan bibir Alen kembali. “Bibir itu pasti sering mencicipi tubuh Brina!” membayangkan itu membuat Yuka semakin bertambah jijik pada Alen. Namun kini Yuka harus meredakan emosinya agar bisa melakukan akting dengan sempurna.


Setelah perasaannya normal kembali, Yuka segera menyusul Alen yang kini sedang sibuk dengan ponselnya. “Sayang.” panggil Yuka dan segera mendekati Alen.


“Kenapa?” tanya Alen.


“Aku baru ingat, kemarin ada tas baru keluaran LV. Bisakah aku mendapatkannya?” sebenarnya Yuka sama sekali tidak menginginkan tas itu. Ini hanya bualannya saja agar Alen tidak menciumnya kembali.


“Beli saja apapun yang kau suka, aku tidak akan melarangmu.” Alen mengusap rambut Yuka dengan lembut.


“Ohya, apa kamu ingin tinggal di sini untuk sementara?” Yuka segera bertanya dengan was-was. Bagaimanapun Yuka sangat tidak sudi untuk terus bersama dengan pria itu, apalagi harus satu ranjang dengannya.


“Maafkan aku sayang, sepertinya tidak bisa. Aku harus segera menyelesaikan proyekku secepatnya agar klien tidak ada yang komplen.” Yuka berpura-pura cemberut dengan memajukkan bibirnya.


“Baiklah, jika suamiku sibuk aku tidak akan melarangnya.” dalam hatinya, Yuka sungguh senang kepalang.


“Kita baru menikah, tapi perusahaan tidak memberiku waktu untuk libur. Padahal aku Direkturnya.” ya saat ini Alen menanggung jabatan sebagai Direktur dan Yuka sebagai CEO. Namun semua orang juga tahu jika Yuka hanya seorang CEO diatas kertas saja dan Alen yang melakukan pekerjaan yang seharusnya Yuka lakukan.


“Kalau begitu, bagaimana jika aku turun tangan saja?” tanya Yuka dengan antusias.


Alen terlihat bergeming dan tidak langsung menjawab.


“Kenapa sayang?” Yuka memegang bahu Alen.


“Ah tidak. Lebih baik kamu tinggal di rumah dan aku yang mengurusi perusahaan.” Alen memaksakan senyumannya.


Yuka hanya mengangguk meskipun dalam pikirnnya saat ini sudah mengetahui jika Alen sangat menginginkan perusahaannya dan tidak akan membiarkannya untuk turun tangan mengurusi perusahaan langsung.


“Aku harus pergi sekarang. Bersenang-senanglah selama di sini, jika mau pulang kabari aku.” Alen bergegas berdiri dan mengecup kening Yuka yang ke sekian kalinya.


“Baiklah, hati-hati.” Yuka segera menganter Alen keluar pintu kamar hotel dan membiarkan pria itu pergi.


Yuka menutup pintu dengan perasaan yang campur aduk. “Alen sialan! Pria itu gak boleh lepas gimanapun caranya!”


Sepertinya akan ada hal yang direncanakan oleh Alen, pria itu tidak menyinggung masalah rumor itu. Bukankah Alen mendatanginya karena rumor itu kini makin panas? Bahkan Yuka kira Alen akan membahas mengenai hal itu.


Namun ternyata Alen tidak menyinggung masalah itu dan malah pergi dengan begitu mudah setelah melihatnya baik-baik saja. Bagi Yuka, Alen itu terlalu rumit, otak cerdas Alen pasti penuh dengan rencannya kelicikannya. Kali ini Yuka tidak boleh lengah!


Keesokan harinya di hotel VIP Guanesha. Lay, asisten pribadi Darren segera menghubunginya dan memintanya untuk datang ke rumah Darren.


Yuka mengamati rumah yang berada di depannya dan mencocokannya dengan alamat yang dikirimkan. Wanita itu terlihat ragu, namun dengan cepat segera menekan belnya.


Rumah yang berada di depannya terlihat sangat sederhana. Apakah Darren terlalu rendah diri atau memang dia diberikan rumah kecil ini oleh keluarganya? Apalagi mengingat jika Guanesha mulai mengacuhkannya.


Namun Yuka tidak memperdulikannya dan seseorang membuka pintunya. “Permisi, saya mau bertamu dengan Pak Darren.” tanpa berbicara, wanita paruh baya itu segera membuka pintu untuk Yuka masuk.


Yuka sedikit heran karena wanita baya itu tidak berbicara padanya dan menatapnya dengan sinis. Yuka memilih untuk mengabaikannya dan segera masuk ke dalam.


Meskipun rumah ini terlihat sederhana, tapi di dalam rumah ini tidak terlalu buruk. Dekorasinya sangat nyaman untuk dipandang. Ketika Yuka menginjak ruang tamu, di sana ada Darren yang terus memperhatikan laptopnya.


“Duduk!” meskipun fokusnya pada layar di depannya, namun pria itu ternyata sangat peka dengan kehadirannya.


Yuka segera duduk tepat di depan Darren. Jika dilihat seperti ini, Darren sangat semakin terlihat tampan. Apalagi jari-jari besarnya dengan lincah terus menekan keyboard. Otak kotor Yuka mulai bergelirya tak menentu arah.


Wanita itu segera berdehem untuk mengalihkan pandangannya dan melihat sekelilingnya. Tidak ada foto apapun yang terpajang, namun Yuka bisa melihat ada berbagai foto yang berasal dari pelukis ternama.


Yah Yuka tidak terlalu mengerti dari seni, namun dia cukup tahu mengenai pengetahuan dasar seperti ini.


“Berita semakin panas dan kita belum melakukan konfirmasi. Apa yang akan kau lakukan?” Darren mengalihkan pandangannya pada Yuka yang kini memakai dress rok pendek berwarna pink yang sangat cantik di tubuhnya.


“Karena Bapak sudah menyetujuinya, saya akan membuat berita ini semakin panas.” Darren berkerut dengan tidak suka.


“Tolong jangan panggil saya Bapak, saya bukan atasan kamu. Saya juga baru berusia 30 tahun.” awalnya Yuka mengira jika Darren tidak menyukai rencannya, namun ternyata pria itu tidak menyukai cara memanggilnya.


“Ahh maaf, saya tidak tahu harus memanggil apa.” Yuka terlihat kikuk karena dia memang tidak tahu harus memanggil seseorang seperti Darren apa.


“Panggil Darren.”