THE SECOND MARRIAGE

THE SECOND MARRIAGE
Kembali



Seorang wanita sedang sibuk bergelung di kasurnya dengan begitu nyaman. Namun tiba-tiba keningnya berkerut dan menahan dadanya yang kesakitan.


“Hah apa itu!” perempuan itu membuka matanya tiba-tiba dan merasakan aneh pada tubuhnya sendiri.


“Kenapa ini? Bukankan aku sudah mati?” perempuan itu meraba raba tubuhnya sendiri dan merasa tidak menyangka.


“Kenapa tidak terasa sakit?” keningnya berkerut dengan berpikir keras mengenai apa yang baru saja terjadi padanya. Kemudian dia baru menyadari jika dirinya saat ini merasa asing dengan kamar yang sedang dia diami sekarang. Namun di satu sisi ia juga pernah merasa pernah melihat kamar ini.


Perempuan itu turun dari ranjangnya dan melihat keluar jendela. Bisa dilihat olehnya jika saat ini ia berada di lantai atas dengan pemandangan kota yang begitu sangat indah. Tiba-tiba ia juga merasa tidak asing dengan pemandangan ini.


Perempuan itu segera bergegas untuk melihat cermin. “Shit!”


“Ini masih aku yang sama.” gumam Yuka.


Yap, perempuan itu adalah Yuka Agnesa Pradipto. Putri bungsu dari keluarga Pradipto yang berhasil dibunuh oleh suaminya sendiri. Namun kini perempuan itu terlihat baik-baik saja dan masih begitu sehat.


Yuka mendengar suara ponselnya berdering, dia segera mencari ponselnya dan melihat ada panggilan dengan id caller ‘Suamiku’.


DEG


Perasaan amarah dan dendam tiba-tiba menjalar perasaannya. Namun kenapa rasanya situasi ini begitu terasa aneh. Bukankah harusnya dia mati dan tidak bertemu dengan suami brengseknya ini?


Namun Yuka harus mencari tahu jawabannya sekarang. Yuka memberanikan dirinya mengangkat telpon dari Alen dan apa yang akan dibicarakan pria brengsek itu.


‘Sayang, apakah tidurmu nyenyak? Maafkan aku karena kita baru tiba semalam dan pagi-pagi sekali aku harus pergi lagi. Padahal ini hari kedua kita sebagai suami istri.” Yuka semakin tidak mengerti mengenai apa yang sebenarnya terjadi sekarang. Namun sepertinya dia pernah merasakan situasi seperti ini dan jika diingat-ingat situasi ini terjadi saat mereka menjalani bulan madu setelah pernikahan mereka.


'Mengapa Alen berkata jika hari ini adalah hari kedua sebagai suami istri? Bukankah kita sudah menjalani pernikahan selama 10 tahun?' pikir Yuka.


‘Halo sayang kamu baik-baik aka?’ suara Alen kembali terdengar. Yuka harus segera menjawabnya dan berdehem kecil untuk menormalkan perasaannya yang sedang campur aduk.


‘Ah aku gapapa.’ Yuka mengepalkan tangannya dengan emosi dan berusaha untuk bersikap baik-baik saja.


‘Yasudah kalau begitu nikmati saja liburanmu di Maldives. Beritahu aku kalau kamu ingin pulang ke Jakarta.’


‘Iya.’ Yuka segera mematikan telponnya sepihak dan melihat kalender yang berada di ponselnya.


22 Desember 2065


‘APA-APAAN INI?!’


Yuka mengalami shock berat karena saat ini ia kembali pada 10 tahun lalu, tepat dimana kemarin dia melangsungkan pernikahannya dengan Alen.


“Ini terlalu mustahil. Aku kembali ke-10 tahun yang lalu?" Yuka mondar mandir berusaha untuk berpikir tentang apa yang terjadi padanya saat ini.


Marah, takut, dan kebingungan secara bersamaan membuat Yuka tidak bisa berpikir dengan begitu jernih. Yuka bisa mengingat dengan jelas mengenai apa saja yang telah ia lalui setelah pernikahannya dengan Alen.


Alen harus kembali ke Indonesia karena memiliki pekerjaan yang begitu mendesak hingga membuat bulan madu mereka berdua di Maldives gagal. Dulu Yuka sangat begitu kecewa dengan keputusan Alen, padahal pria itu sudah mendapatkan cuti seminggu untuk melakukan bulan madu.


Namun kini, Yuka merasa kebingungan. Selalu berpikir kenapa bisa dirinya kembali ke-10 tahun yang lalu? Padahal Yuka sangat begitu merasakan bagaimana racun itu menyakiti tubuhnya dan belati pemberiannya tertancap di perutnya sendiri.


Yuka mencoba untuk menenangkan dirinya dengan mengambil nafas sebanyak mungkin dan menghembuskannya perlahan. Hal itu dilakukan olehnya beberapa kali hingga akhirnya perempuan itu bisa merasakan ketenangan.


“Okay tenang Yuka, kamu harus berpikir optimis dari kejadian ini. Persetan dengan alasan kenapa bisa kembali ke masa lalu. Bukannya ini hal yang baik? Ya, tentu saja aku harus melakukan balas dendam dan mengambil perusahaan milikku agar tidak jatuh pada tangan mereka.” Yuka tersenyum miring ketika memikirkan itu.


Tiba-tiba saja rasa semangat mulai membakar dirinya untuk melakukan balas dendam pada suami tercintanya itu bersama dengan Kakak tirinya.


“Kalau aku yang menyerangnya sendirian akan terasa begitu mustahil. Apa aku harus mencari bantuan pada orang lain? Tapi siapa? Siapa orang yang aku percaya?”


Yuka berpikir dengan keras mengenai siapa saja orang-orang yang akan selalu berada di pihaknya dan tidak akan mengkhianatinya. Perempuan itu mendesah kesal karena tidak menemukan satu orangpun yang dipercayainya.


“Ini yang namanya krisis kepercayaan. Terlalu sulit untuk memberikan kepercayaan pada orang lain lagi.” Yuka membaringkan badannya karena rasa semangat yang membakarnya tadi tiba-tiba menjadi surut.


Kemudian Yuka melihat kedua tangannya sendiri. “Apa aku bisa melakukannya dengan tanganku sendiri?” gumamnya sambil mengingat kembali ekspresi puas dari Alen dan Brina yang terlihat sangat begitu mengejeknya.


Rasa amarah tiba-tiba kembali muncul, Yuka mengepalkan tangannya dan segera bangkit kembali. “Aku gak boleh nyerah!” Yuka membuka ponselnya kembali dan menghubungi seseorang.


‘Pak Ander, tolong pesankan tiket pulang ke Indonesia untuk penerbangan siang nanti.’


***


Semua orang menilai jika perempuan itu bukanlah orang biasa. Apalagi di belakangnya ada beberapa bodyguard dengan membawa kopernya.


Di depan sana sudah ada mobil yang menunggu untuk menjemput Yuka. Lantas semua orang yang melihatnya semakin yakin jika Yuka berasal dari keluarga kaya raya karena mobil yang dipakai olehnya adalah mobil yang sangat mewah.


Sudah berada di dalam mobil, Yuka membuka kacamatanya. “Pak Ander, kita ke apartemen.”


“Nyonya sudah memberitahukannya pada Tuan?” Yuka berdecak kesal karena asisten pribadinya ini malah bertanya hal yang sangat tidak penting.


“Jalan saja!” mengetahui jika majikannya sedang tidak berada dalam mood yang baik, Pak Ander segera menganggukkan kepalanya.


“Baik, Nyonya.” mobil mewah itu segera pergi menuju apartemen milik Yuka. Satu-satunya tempat pribadi milik Yuka yang tak pernah terjamah oleh suaminya. Bahkan Yuka ragu apakah Alen mengetahui apartemen ini atau tidak.


Yang pastinya, saat ini Yuka masih belum ingin bertemu dengan suaminya itu. Yuka tidak tahu harus bereaksi seperti apa pada pembunuhnya sendiri nanti. Jadi untuk berjaga-jaga, Yuka akan di apartemen terlebih dahulu untuk menenangkan dirinya dan mencari solusi untuk menghadapi Alen.


Yuka melirik asisten pribadinya, jika dipikir-pikir Pak Ander merupakan salah satu orang kepercayaan Ayahnya. Bahkan Pak Ander dipercaya oleh Ayah Yuka untuk menjadi orang yang selalu berada di sisinya.


Jika diingat-ingat, memang Pak Ander selama ini selalu setia padanya dan tidak pernah mengeluh atas semua pekerjaannya.


‘Apa Pak Ander bisa dipercaya?’ batin Yuka.


Perjalanan menuju apartemen menghabiskan waktu satu jam lamanya karena jaraknya yang berada di pinggir kota. Namun Yuka memilih tempat ini untuk menenangkan dirinya sendiri dan hanya Pak Ander saja yang mengetahuinya.


“Mari masuk Pak, ada yang mau saya obrolkan.” Yuka segera mempersilahkan asisten pribadinya itu untuk masuk ke dalam apartemen. Baru kali ini Yuka mempersilahkan orang lain masuk ke tempatnya, namun hanya tempat ini yang aman.


Yuka segera duduk, “Duduk saja.” Pak Ander terlihat sungkan untuk duduk di depan majikannya. Pria berusia 45 tahun itu tidak pernah duduk berhadapan dengan majikannya.


“Gapapa duduk saja.” namun melihat Yuka yang terlihat biasa saja dan terus mempersilahkan duduk membuat Pak Ander akhirnya duduk di depan Yuka.


Yuka melihat Pak Ander dengan pandangan yang serius, hal itu cukup membuat bawahannya menjadi sangat gugup.


“Nyonya maaf, apa saya membuat kesalahan?” tanya Pak Ander dengan gugup. Meskipun pria itu lebih tua dari Yuka, namun Pak Ander tahu diri dengan derajatnya yang hanya merupakan seorang bawahan dari majikan yang masih berusia setengah umurnya.


“Saya hanya sedang berpikir, apa Pak Ander ini akan mudah untuk goyah atau tidak.” Yuka segera memberikan perkataan pemancing terlebih dahulu.


Pak Ander yang mendengar perkataan Yuka segera membelalakkan matanya terkejut. “Saya orang yang setia Nyonya. Bahkan saya sudah melakukan perjanjian dengan Ayah Nyonya untuk setia pada keluarga Pradipto. Saya berani bersumpah atas apa yang saya katakan saat ini benar!”


Perataan Pak Ander cukup meyakinkan, apalagi dari cara bicaranya yang meyakinkan membuat Yuka sedikit percaya padanya.


“Benarkah? Kenapa saya tidak tahu mengenai perjanjian itu?” Yuka mengerutkan keningnya karena baru kali ini dia mendengar mengenai perjanjian itu.


“Memang perjanjian ini dirahasiakan oleh Ayah Nyonya, namun saya terpaksa mengatakannya agar Nyonya bisa percaya pada saya. Perjanjian itu ada pada pengacara pribadi Ayah Nyonya.”


Perkataan Pak Ander cukup meyakinkan, untuk saat ini mungkin Yuka akan mempercayainya hingga melihat perjanjian itu sendiri. Namun ada sedikit kejanggalan yang harus segera Yuka tanyakan.


“Lalu apa kesetiaan Pak Ander hanya berpusat dari perjanjian itu? Jika perjanjian itu tidak ada, apakah Pak Ander akan berkhianat?”


Pak Ander yang mendengar perkataan majikannya segera menenangkan dirinya karena kunci dari pertanyaan dari Yuka adalah menjawabnya dengan tenang dan meyakinkan jika perkataannya memang benar.


“Nyonya, saya berani bersumpah untuk setia pada anda yang merupakan darah keturunan dari keluarga Pradipto. Bahkan Kakek saya merupakan salah satu pekerja di sini sejak dulu dan saya ditunjuk untuk menjadi penerusnya hingga saat ini saya akan selalu setia pada anda.” Pak Ander bersujud di bawah Yuka dengan kata-kata yang begitu tegas.


Yuka memang tahu jika keluarganya Pak Ander sudah pernah bekerja pada keluarganya sejak dahulu kala. Bahkan Pak Ander sendiri sudah bekerja di sini saat Yuka masih bayi.


“Baiklah, jika begitu saya akan mempercayai Pak Ander. Jadi, rahasiakan semua yang saya lakukan pada Alen.” Pak Ander nampak sedikit terkejut dengan ucapan majikannya. Namun dia tidak berhak untuk bertanya lebih lanjut selain mematuhi perkataannya.


“Baik Nyonya.”


“Silahkan duduk lagi, ada yang mau saya omongkan mengenai hal yang penting mengenai Alen,”


“Saya harap kepercayaan saya pada Pak Ander tidak akan sia-sia.” lanjut Yuka dengan tatapan peringatan.


“Tentu saja Nyonya, percayakan semuanya pada saya.” Pak Ander nampak begitu lega karena Nyonya ini bisa percaya padanya.


***