
“Ryan! Aku peringatkan kau untuk menjauhi kami, atau kami akan memanggil polisi?!” Vina segera bersuara karena saat ini ia sungguh tidak ingin berhubungan lagi dengan mantan suaminya dan mengancamnya.
“Hahahaha polisi? Tidak ada yang berani padaku, bahkan polis!” Ryan berkata dengan begitu kerasnya.
“Ada apa ini? Kenapa ada tamu datang dengan tanpa undangan?” tiba-tiba Alen datang menyela perdebatan keluarga kecil itu.
Sontak Brina dan Vina segera menghampiri Alen dan berlindung di belakang punggungnya. Alen segera mengelus pipi Brina dengan lembut. “Apa pria tua itu melakukan sesuatu padamu?” tanya Alen. Brina segera menggelengkan kepalanya.
“Hahaha drama macam apa ini? Kenapa kalian terlihat seperti sepasang kekasih?” dalam satu kali lihat Ryan bisa tahu jika Alen memiliki perasaan pada putri kandungnya. Bahkan Ryan tahu jika pria itu adalah suami dari Adik tiri Brina.
“Pria tua, kau saat ini tidak diterima di rumah ini. Jadi lebih baik pergi!” Alen memberikan tatapan yang tajam. Ryan melihat tatapan itu menjadi sedikit gemetar, namun hatinya sudah berpegang teguh untuk meminta uang pada mantan istrinya dan dia harus mendapatkannya sore ini juga.
“Sepertinya kamu akan menjadi menantuku. Untuk mendapatkan restu, lebih baik kamu kirim uang 100 juta sore ini juga dan aku akan melepaskan kalian.” Ryan tersenyum miring dan dengan berani mendekati Alen.
“100 juta? Kau kira kamu bank! Lebih baik anda pergi dan jangan kembali lagi!”
“Hehehe, ancamanmu tidak akan mempan. Atau mungkin aku bisa memberitahukan hubungan terlarang kalian pada istrimu sendiri.” Ryan segera mengancam Alen. Sebenarnya Alen tidak takut jika pria tua yang berada di depannya ini akan memberitahu hubungannya, namun jika terjadi sekarang hanya akan memperumit segalanya.
Alen menghela nafasnya panjang. “Kirimkan nomor rekeningnya.” putus Alen. Brina dan Vani melihat Alen dengan pandangan tidak percaya.
“Alen! Jangan memberinya uang sebesar itu!” Brina tidak rela jika kekasihnya akan memberikan uang dengan jumlah yang banyak pada pria tua itu.
“Itu benar, kita jangan terpengaruh oleh omongan busuknya!” Vanni segera mendukung putrinya. Bagaimanapun Vani juga tidak ingin jika mantan suaminya bisa mendapatkan uang dari mereka. Ibu dan Anak ini memang sungguh luar biasa!
“Tidak apa Sayang, Bu. Uang 100 juta bukan apa-apa bagiku, yang terpenting sekarang wanita itu belum mengetahui hubungan ini.” keputusan Alen sudah bulat.
Brina dan Vina hanya mendesah tak rela dan membiarkan Alen mengirimkan uanganya dengan cepat.
“Hahaha menantu yang sangat baik, kalau begitu aku akan menyetujui kalian.” Ryan sangat terhibur dengan drama ini. Segera dia melihat ponselnya dan ada pemberitahuan dari bank ketika uang 100 juta itu sudah masuk.
“Bagus, bagus. Sekarang aku akan menutup mulutku dan pergi dari sini juga.” setelah mengatakan itu, Ryan segera pergi keluar dari rumah dengan perasaan yang berbung-bunga. Baginya uang 100 juta itu sangat banyak. Akhirnya malam ini Ryan bisa berjudi kembali dengan jumlah uang sebanyak ini.
Sedangkan Brina menatap Alen dengan tidak percaya karena telah melepaskan uang sebesar itu. Alen segera menyadari pandangan Brina yang kecewa padanya. “Kenapa? Bukankah akan lebih baik menutup mulut Pak tua itu agar hubungan kita terus berjalan seperti ini?”
“Begitu mudahnya mengeluarkan uang 100 juta, bukankah akan lebih baik jika uang itu dikirim ke rekeningku?” Brina bergelanyut manja pada lengan Alen.
“Itu benar, bahkan Ibu sendiri belum pernah mendapatkan uang sebesar itu darimu.” Vani ikut cemberut karena merasa iri dengan uang 100 juta itu malah jatuh ke tangan orang lain, bahkan orang itu mantan suaminya sendiri.
“Baiklah, baiklah. Aku akan mengirim uang 100 juta ke rekening kalian masing-masing.”
“Yeayy benarkah?” Brina bersorak kegirangan.
“Alen, kau akan menjadi menantu yang paling baik.” Vani turut memberikan pujian untuk Alen ketika melihat saldonya mulai bertambah banyak.
***
Yuka sedang menikmati liburannya dengan hati yang begitu gembira, hanya saja kesenangan itu menjadi sementara ketika Pak Ander memberitahukannya kalau Alen mengeluarkan uang 300 juta dengan enteng.
Jika itu uang Alen sendiri, Yuka tidak akan mempermasalahkannya. Tapi ini adalah uang perusahaan! Beraninya pria itu menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan pribadinya.
Uang 300 juta mungkin bukan apa-apa, hanya saja Yuka tidak tahu sudah berapa ratus juta yang Alen keluarkan untuk kepentingan pribadinya. Bahkan Alen sendiri tidak pernah memberikannya uang saku, Yuka selalu menggunakan uang dari gajinya sebagai CEO.
Apa kalian pikir jika Yuka benar-benar CEO yang hanya sekedar nama saja? Tentu saja tidak seperti itu.
Satu tanda tangan Yuka sangat berarti dan begitu sangat penting bagi Alen, bahkan tanda tangan Yuka bernilai miliaran. Yuka sangat pintar untuk menilai apakah proyek yang diajukkan oleh Alen akan memberikannya keuntungan atau kerugian.
Bahkan Yuka sudah menolak banyak sekali proyek yang diajukan oleh Alen karena Yuka tahu jika proyek itu dipegang oleh orang-orang yang tak jujur dan memiliki maksud tertentu.
“Apa yang kau lakukan?” Yuka melihat ke belakangnya dan ada Darren dengan kursi rodanya. Saat ini Yuka sedang menggunakan pakaian yang terbuka karena sedang berjemur di pinggir kolam, matahari di Bali saat ini sedang hangat-hangatnya dan cocok untuk berjemur.
“Aku sedang berjemur.” Yuka segera membalasnya dan bersikap tidak peduli. Meskipun saat ini Yuka merasa sedikit risih karena Darren melihat dirinya sedang menggunakan baju terbuka. Padahal biasanya Yuka selalu percaya diri pada tubuhnya dan sering memamerkannya, namun kenapa ketika Darren melihatnya malah membuatnya menjadi malu.
“Kenapa tidak berjemur di pantai?” Darren tepat berada di samping Yuka dan melihat ke depan sana ada pantai yang saat ini sedang ramai dikunjungi. Yuka sedikit membuka kacamata hitamnya dan mengubah posisinya menjadi duduk.
“Terlalu malas berjalan dan banyak orang.” Yuka mengalihkan pandangannya pada Darren. Pria berusia 30 tahun ini sangat terlihat muda dan sangat tampan, bahkan Yuka menyangka jika Darren saat ini seumuran dengannya.
“Kadang aku heran, kenapa mereka rela berdesakkan hanya demi mendapatkan sesuatu.” Yuka menolehkan pandangannya pada yang Darren lihat.
Di sana ada pedagang yang penuh dengan para pembeli dan banyak yang mengantri. Bisa Yuka pastikan jika makanan yang pedagang jual itu sangat enak.
“Anak konglomerat sepertimu mungkin tidak tahu jika mengantri seperti itu sangat seru. Apalagi saat itu giliranmu untuk mendapatkannya. Tentu saja hal itu sangat berarti bagi mereka.” jelas Yuka.
“Lalu apa putri manja sepertimu pernah mengantri dan berkerumun untuk mendapatkan sesuatu seperti itu?” tanya Darren.
Ingatan Yuka kembali terlempar pada saat dirinya masih kuliah. Waktu itu Yuka sering pulang bersama Alen dan mereka berdua sering makan di pinggir jalan, apalagi jika makanan yang mereka incar selalu mengantri dan membuat mereka berdua harus menunggu lama.
“Tentu saja pernah, hal itu sangat sulit untuk dilupakan.” tanpa sadar Yuka tersenyum tipis ketika mengingatnya.
“Yah sepertinya kenangan dengan suamimu itu sangat menyenangkan.” Darren melihat ekspresi Yuka yang tadinya senang menjadi cemberut.
“Aku tidak memikirkan Alen!” ucap Yuka dengan tegas. Darren mendengus dan segera mengganti topik pembicaraan.
“Berita saat ini masih sama, bahkan kita menjadi trending di media sosial. Selanjutnya apa yang akan kau lakukan?” Darren segera bertanya karena berita itu semakin hari semakin panas saja.
“Semalam aku sudah membicarakannya dengan asisten pribadiku. Aku akan membuat berita ini menjadi panas lagi, bahkan di sekitar kita ada paparazzi yang terus memotret kebersamaan kita sekarang.” Yuka berbisik tepat di samping Darren.
Darren bisa merasakan hembusan nafasnya pada tengkuk lehernya. “Aku sudah menyadarinya sejak tadi, apa kau yang menyewanya?”
Yuka menggelengkan kepalanya jika bukan dia yang melakukannya dengan sengaja. “Sepertinya salah satu stasiun tv nasional mulai bergerak cepat.” Yuka tersenyum miring dan melihat Darren yang selalu terlihat santai.
“Lalu apa yang harus kita lakukan? Jika kita berjauhan seperti ini, apakah paparazzi itu akan percaya jika kita memiliki hubungan gelap?” Darren memancing Yuka dengan menaikkan alisnya. Yuka segera aktif mendekatkan dirinya pada Darren.
“Sentuh aku!” perkataan Yuka membuat Darren tidak mengerti.
“Sentuh aku di kepala atau pipi, atau bibir mungkin?” Yuka terlihat yakin dan tidak ragu sama sekali. Darren tidak menyangka jika Yuka menginginkan akting yang totalitas seperti ini. Pria itu mendesah kecil dan tangannya mulai bergerak untuk menyelipkan rambut Yuka yang terus berterbangan karena angin.
Yuka menahan nafasnya ketika Darren melakukannya. Bahkan kini jarak wajah mereka menjadi sangat lebih dekat. Di bawah sinar matahari ini Yuka bisa melihat kulit putih Darren dengan kedua mata yang tajam. Apalagi bulu mata Darren terlihat sangat lentik.
“Kenapa kau menahan nafasmu?” tanya Darren dan segera mengalihkan tangannya pada pipi Yuka dengan mengelusnya lembut.
‘Apakah ini tangan seorang pria? Kenapa terasa lembut?’ tanpa sadar Yuka menikmati sentuhan Darren dan memejamkan matanya.
“Hey, are you okay?” Darren segera bertanya karena Yuka tidak menajawab matanya dan malah memejamkan matanya.
Yuka segera sadar dan menjauhkan dirinya dari Darren hingga sentuhan itu terlepas. Wanita itu terlihat gugup dengan wajah yang terlihat semakin merah. “Ah sepertinya aku harus pergi karena mau berbelanja. Kalau begitu sampai jumpa, Darren.”
Yuka segera pergi meninggalkan Darren yang kini termangu. Pria itu terlihat tidak mengerti mengapa sikap Yuka berubah dengan cepat.
“Apa mungkin semua wanita seperti itu?” gumam Darren.
***