
Yuka meneguk ludahnya susah payah ketika masuk ke dalam kantor. Dia bisa menebak jika ruangan ini milik orang yang penting. Namun seorang pria yang berada di depannya sedang duduk dan terus membelakanginya.
“Permisi Pak.” Yuka segera membuka suaranya dengan begitu gugup. Sudah 5 menit dia berasa di sini dan pria itu terlihat tidak bergerak sama sekali.
“Apa yang kau inginkan?” suara berat itu cukup membuat bulu kuduk Yuka merinding. Tiba-tiba ia merasa semakin gugup karena aura dominan mulai keluar dari pria itu.
Kursi yang di dudukinya mulai beputar, kini Yuka bisa melihat wajah pria itu.
‘Bukankah dia pria yang berada di kursi roda itu?’ tanyanya dalam hatinya.
“Jawab saya!” Yuka tersadar dari lamunannya dan kembali wajah tampan itu dengan pandangan yang gugup. Meskipun wajah tampan itu sangat sesuai dengan tipenya, tapi Yuka sangat sadar diri jika dirinya tidak sepadan dengannya.
“Apa yang kau inginkan?” pertanyaan itu kembali tersuarakan oleh Darren.
“Maksud Bapak apa ya?” Yuka tidak mengerti mengani apa yang dibicarakan oleh pria yang berada di hadapannya ini. Bukankah mereka baru bertemu? Lalu mengapa pria itu malah bertanya hal yang sangat tidak masuk akal.
Darren sedikit melemper tabletnya ke meja, Yuka yang melihat itu melotot terkejut karena pria itu nampak tidak sayang pada barangnya sendiri.
“Lihat!” Darren segera mengkode agar Yuka melihatnya.
Yuka segera mengambilnya dan melihat berita artikel mengenai rumor yang memang dia ciptakan. Bukannya terkejut, Yuka melebarkan senyumannya karena rencananya ternyata berhasil.
Sudut bibir Darren berkedut keras karena Yuka malah terlihat senang dan bukannya merasa menyesal. Dalam satu kesimpulan Darren bisa tahu jika Yuka memang sengaja melakukannya.
“Jadi ini ulahmu?” Darren menatap Yuka dengan tajam.
“Ah…” Yuka nampak canggung dan senang bersamaan karena baru mengatahui jika pria yang berada di depannya ini adalah putra cacat itu, orang yang pernah melamarnya.
Darren mengangkat sebelah alisnya menatap Yuka dengan berbagai tuntutan penjelasannya. Yuka berdehem kecil karena saat ini ia harus bisa bernegosiasi dengan pria yang berada di hadapannya ini.
“Aku membutuhkan bantuanmu.”
Darren tersenyum miring ketika mendengarnya. “Apa untungnya bagi saya?”
Yuka mengulas senyuman manisnya, “Tentu saja Bapak akan menjadi untung, Bapak sendiri tahu saya siapa. Jika Bapak mau membantu saya, saya akan memberikan keuntungan yang besar bagi perusahaan Bapak di masa depan nanti.”
Darren nampak berpikir menimang-nimang, “Menarik,” Yuka tersenyum lebar ketika mendengar tanggapan positif.
“Tapi saya tidak ingin, silahkan keluar.” senyuman Yuka menjadi lunturan karena pria itu malah menolaknya.
“Tunggu dulu, Bapak tahukan saya putri bungsu dari keluarga Pradipto. Harusnya Bapak setuju!” Yuka sedikit menekankan perkataannya. Namun bagi Darren suara itu terdengar seperti rengekan anak kecil yang meminta permen.
“Tidak!” tegas Darren.
Namun sayangnya Yuka bukan tipe orang yang akan menyerah begitu saja. “Tolong bantu saya sekali ini saja.” Yuka mengeluarkan tatapan berbinar agar Darren bisa menjadi luluh.
Hanya saja, wajah Darren masih dingin. Bahkan menjadi lebih dingin dibandingkan dengan tadi. Yuka mengerecutkan bibirnya kesal karena usahanya menjadi sia-sia saja.
“Baiklah kalau begitu, sampai jumpa Bapak tampan.” tubuh Yuka menjadi lesu dan akan segera berbalik untu keluar dari rungan.
“Tunggu dulu!”
Senyuman penuh kemenangan tiba-tiba terbit dari wajahnya. Yuka segera membalikkan kembali badannya dan mengubah ekspresinya menjadi lebih menyedihkan agar pria itu bisa melihat jika saat ini Yuka sangat kecewa.
“Kemari!” Darren mendesah kecil dan segera memerintahkannya untuk duduk kembali. Dengan cepat Yuka segera duduk kembali di depan Darren.
“Apa yang kau rencanakan?” Yuka tersenyum puas karena akhirnya pria ini sudah bersedia menjadi sekutunya.
***
Alen Adiguna adalah kekasih Yuka sejak mereka duduk di bangku SMA. Keduanya bertemu karena pernah berada di dalam satu kelas yang sama. Yuka yang merupakan seorang gadis pecinta romansa menjadi luluh karena sikap Alen yang selalu memanjakannya.
Apa kalian pikir Alen adalah seorang anak dari keluarga kaya raya? Tidak! Alen hanya lahir dari keluarga yang sederhana dan selalu berbakti kepada kedua orang tuanya. Alen adalah seorang jenius yang luar biasa dan sering memenangkan berbagai macam perlombaan non akademik. Pria itu sangat pandai menggunakan otaknya.
Mereka berdua menjalin hubungan sejak kelas 2 SMA dan akhirnya memutuskan untuk menikah pada saat usia mereka menginjak usia 25 tahun. Hubungan mereka memang terbilang sangat lama.
Hal ini dilakukan karena Yuka memikirkan kondisi perusahaan yang diturunkan oleh Ayahnya. Saat itu perusahaan Pradipto mengalami kemerosotan karena diurusi oleh Pamannya yang tidak kompeten.
Akhirnya Alen mulai mengajukkan dirinya untuk mengurusi perusahaan itu dengan melakukan penikahan agar Alen bisa masuk ke dalam perusahaan dengan begitu mudah. Sejak saat itu Yuka menjalani kehidupan yang tenang dan membiarkan perusahaannya diurus oleh suaminya.
Namun sebelum menjadi suami Yuka, Alen sudah memegang perusahaan Pradipto dan menjadi kepercayaan Yuka. Hingga kini Alen bisa masuk menjadi atasan karena memiliki hubungan yang kuat dengan Yuka.
“S-sayang.” Brina terkejut dengan sikap Alen yang terlihat murka dengan kepalan tangannya yang siap mengenai muka seseorang sebagai sasarannya.
Dengan hati-hati Brina mendekati Alen dan mengelus dada bidangnya. Pelan-pelan Alen mulai mengontrol emosinya sendiri dan merasakan elusan tangan Brina pada dada bidangnya. Dalam sekejap rasa emosi itu berubah menjadi tatapan bernafsu pada Brina.
Alen memindahkan tubuh Brina pada pangkuannya dan mengelus paha Brina dengan lembut. “Apa kau butuh sesuatu untuk meredakan amarahmu?” tanya Brina dengan tatapan yang genit.
Alen diam seolah sedang berpikir sesuatu, “Apa kamu pikir berita itu benar?” tiba-tiba Alen bertanya masalah itu. Brina berpikir sejenak untuk memberikan jawaban yang bisa menenangkan hati pria yang sedang memangkunya.
“Rumor seperti sudah biasa, bahkan media massa bisa melakukannya dengan mudah hanya untuk mencari keuntungan. Aku pikir ini hanya taktik yang dilakukan seseorang untuk mencari keuntungannya sendiri.” jelas Brina sambil terus mengelus dada Alen.
Alen memejamkan matanya menikmati elusan lembut dari tangan cantik Brina. “Kau benar, aku sempat berpikir jika rumor itu memang benar. Apalagi sejak pagi istriku itu tidak mengangkat telponnya.” dalam sekejap Brina menjadi kesal karena Alen malah mengungkit Adik tirinya tepat di depan Brina. Namun wanita itu segera menepisnya dan kembali menggoda Alen sebagai tujuan utamanya.
Pada akhirnya Alen mulai jatuh dan terjerat oleh godaan Kakak iparnya yang sangat sexy dan montok. Siapa yang tidak mengetahui Brina? Jika Yuka terkenal dengan kecantikan dan keanggunannya, maka Brina adalah seorang wanita yang begitu sexy dan juga pandai dalam menggunakan tubuhnya.
Awalnya Brina hanya seorang gadis cantik dari kampung. Namun siapa yang menyangka jika Ibunya menjalin pernikahan dengan duda kaya raya dan membuat status derajat mereka menjadi ikut naik.
Sejak saat itu Brina mulai mengerti mengenai kehidupan yang mewah. Bahkan Brina tanpa malu sering meminta pada Ayah tirinya pada saat waktu masih hidup untuk membelikannya barang-barang mewah.
Brina menjadi semakin tamak dengan hanya melihat perhiasan dan barang mewah saja. Dari sana, Brina dengan Ibunya memiliki ambisi untuk memiliki semua kekayaan keluarga Pradipto. Namun kini mereka harus berhadapan dengan Yuka yang merupakan seorang ahli waris.
Tentu saja Brina harus melakukan tak tik untuk menyingkirkan Adik tirinya dengan menggunakan suaminya sendiri. Bahkan hubungannya dengan Alen sudah berjalan sebelum pernikahan Alen dan Yuka berlangsung. Saat ini Yuka tidak mengetahui itu karena keduanya menutup hal ini dengan pintar.
Brina dan Alen menghabiskan waktu mereka berdua di kantor Alen dengan saling mencicipi tubuh satu sama lain. Mereka berdua melupakan masalah yang saat ini sedang terjadi.
***
Yuka tersenyum dengan puas ketika pria tampan yang berada di depannya ini mendengarkan dengan seksama mengenai rencananya. Tentu saja hal ini akan memudahkan Yuka untuk meminta bantuan pada Darren agar bisa melindunginya dari Alen.
Namun tiba-tiba wajah Darren menajam dan terlihat tidak senang. Yuka berkerut heran dengan ekspresi wajah Darren yang tiba-tiba berubah sekejap.
“Nyonya, apa kau tahu siapa saya?” Yuka segera mengangguk dengan tegas.
“Tentu saja, Tuan Darren Guanesha. Sang ahli waris dari keluarga Guanesha.”
“Hahahaha!” tanpa aba-aba Darren tertawa dengan keras. Wajah Yuka menjadi kebingungan karena Darren malah mentertawakan jawabannya.
“Kau lucu sekali Nyonya.” kening Yuka semakin berkerut tinggi.
“Apa maksudnya?” Darren mulai menormalkan kembali wajahnya dan menatap Yuka dengan tajam.
“Kau salah mencari orang, saya bukan orang yang berkuasa lagi.” Darren berkata dengan begitu pahit mengenai hal itu. Sedangkan Yuka sendiri terlihat termangu tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi sekarang.
“Sepertinya kau ketinggalan berita ya,”
Darren segera menggeser kursi rodanya dan bergerak mendekati Yuka. Yuka melihat pergerakan Darren yang ternyata berhenti tepat di sampingnya duduk.
“Kau lihat!” ucap Darren dengan tajam melihat kakinya sendiri.
“Bukankah kau tahu jika saat ini saya cacat dan tidak bisa melakukan apapun? Lalu apa yang kau harapkan dari pria cacat seperti saya?“ Yuka mulai mengerti mengenai apa yang dikatakan oleh Darren.
Yuka tersenyum tipis menanggapi itu, “Tuan Darren, saya mengerti mengenai maksud anda. Tapi saya menawarkan hal ini juga untuk memebuat reputasi anda naik kembali.” alis Darren menajam ketika mendengar perkataan Yuka.
Dalam hati Darren bertanya mengenai apa yang akan dilakukann olehnya? Bukankah wanita ini hanya seorang ahli waris tak berguna dan bahkan sejak dulu hanya pria yang bernama Alen yang mengurusi perusahaan keluarga Pradipto.
Darren memandang Yuka dengan skeptis. Bagaimanapun sikap Yuka saat ini memang sangat mencurigakan. Apa yang bisa dilakukan oleh wanita sepertinya?
Yuka mengerti jika Darren saat ini sedang merendahkannya dan masih mempertanyakan kemampuannya. Memang selama ini Yuka selalu terlihat lemah dihadapan orang-orang dan memilih untuk bergantung pada Alen.
Bahkan Alen sudah memegang jabatan di perusahaannya sejak pria itu masuk ke bangku perkuliahannya. Entah batu loncatan seperti apa yang ia lakukan hingga memenuhi kejeniusannya, bahkan pada usianya yang ke-25 tahun sudah bisa memegangi perusahaan Pradipto.
“Saya tahu jika Bapak meragukan saya. Bagaimanapun saya hanya seorang sarjana pengangguran.” Yuka tersenyum dengan rendah hati.
Darren berdehem kecil karena terpergoki sedang merendahkan wanita yang berada di depannya ini. Bahkan Yuka sendiri tidak merasa tersinggung karena apa yang dipikirkan oleh Darren memang benar adanya.
“Tapi saat ini saya harus melakukannya. Jika tidak, saya akan menyesal seumur hidup saya. Daripada itu, saya memilih untuk mati kembali dan tidak ingin menjalani kehidupan ini lagi.”
“Mati kembali?” Darren mengernyit tak mengerti.
***