
Jakarta, 21 Desember 2075
Sebuah hotel mewah sudah dipesan oleh Alen untuk merayakan hari anniversary pernikahannya dengan sang istri yang ke-10. Yuka yang merupakan istri dari Alen sangat menyukai hal yang berbau romantis dan elegan.
Maka dari itu, Alen sudah menyewa hotel mewah ini hanya untuk mereka berdua saja. Bahkan kini Alen sudah siap untuk menyambut sang istri yang kini sudah masuk ke dalam hotel dengan membawa sebuket bunga mawar yang sangat indah dan menawan.
Setelan pria itu begitu rapih dengan jas hitam dan dipadukan dengan dasi biru gelap bermerk. Bahkan ruangan yang didiami olehnya tak kalah jauh mewah karena Alen yang menyiapkannya sendiri dekorasinya untuk sang istri.
Pintu utama terbuka, Alen tersenyum lebar ketika melihat istrinya yang terlihat cantik dengan gaun putih selutut dan bahu yang tebuka. Yuka yang melihat Alen sedang tersenyum kagum padanya menjadi salah tingkah. Bahkan tanda kemerahan mulai muncul di pipinya.
“Selamat malam istriku yang cantik.” Alen mengambil tangan kanan Yuka dan mengecup punggung tangan wanita itu dengan lembut. Kemudian memberikan sebuket bunga itu pada Yuka.
Yuka yang menerima perlakuan seperti itu semakin menjadi salah tingkah. “Selamat malam suamiku yang tampan.” Yuka segera mengecup pipi Alen dengan penuh cinta.
Semua orang yang berada di ruangan ini menjadi saksi dimana sepasang suami istri terlihat sangat begitu mencintai satu sama lain. Bahkan usia mereka yang sudah menginjak kepala tiga saja membuat keduanya malah terlihat lebih seperti pengantin baru. Padahal hari ini adalah tepat kesepuluh tahunnya pernikahan Yuka dan Alen berjalan.
Seperti pria gentleman pada umunya. Alen segera menggandeng Yuka dan membawa sang istri pada meja yang sudah dipesan. Tak lupa Alen menarik kursi untuk istrinya dan setelah itu Alen segera duduk di sebrang Yuka.
Senyuman lebar Yuka terus terpasang. Bukan senyum terpaksa dan senyum pahit. Melainkan senyum ketulusan dan kekaguman dengan apa yang sudah disiapkan oleh sang suami untuknya.
“Sayang, kamu tahu kalau aku akan selalu memberikan hal yang romantis seperti ini untukmu.” Alen segera memegang punggung tangan Yuka yang berada di atas meja dan mengelusnya dengan lembut.
“Terima kasih, aku tahu kalau kamu adalah pilihan yang tepat untukku.” Yuka berkata dengan begitu tulus. Ia selalu bersyukur karena memiliki suami yang begitu baik hati dan romantis padanya.
Alen yang mendengar itu tersenyum senang. “Aku akan menyiapkan sebuah kejutan untukmu nanti. Sebelum itu, ayo kita makan malam dulu.”
Setelah mengucapkan itu, pada pramusaji segera membawa berbagai jenis hidangan mewah dan suara alunan musik yang merdu mulai terdengar menambah keromantisan suasana ini.
Yuka melihat makanan favoritnya tersaji rapi di depannya. Wanita itu mengalihkan pandangannya pada Alen, “Terima kasih.” ucap Yuka. Alen hanya mengangguk dan segera memotong steik dengan anggun.
Dalam diam Yuka bisa melihat jika suaminya itu sangat begitu tampan dan sempurna. Bahkan setiap pergerakan dan ucapannya saja selalu membuatnya semakin jatuh cinta.
Yuka segera menyantap makanannya dengan pelan-pelan, sesuai dengan apa yang sudah diajarkan olehnya sejak kecil.
Tumbuh besar di keluarga konglomerat memang bukan hal yang mudah. Sejak kecil Yuka sudah mendapatkan pelajaran mengenai etika dalam bersikap. Bahkan dari cara berjalan, berbicara, atau melakukan sesuatu harus bisa seanggun mungkin.
Seperti seorang pria pada umumnya. Alen memotong steik dengan potongan kecil dan memberikannya pada Yuka. Hal kecil seperti ini saja sangat begitu diperhatikan oleh Alen.
“Perusahaan sekarang lagi untung besar. Kemarin aku juga berhasil memenangkan tender besar.” Alen tersenyum dengan lebar ketika membicarakannya.
“Hm Alen? Di saat kita lagi berdua bisakah kita tidak membahas hal yang berhubungan dengan pekerjaan?” gerakan Alen terhenti saat pria itu sedang memotong steiknya. Pria itu menatap Yuka, kemudian mengangguk kecil.
“Kau benar, hari ini adalah hari jadi kita yang ke-10 dan aku malah membicarakan pekerjaan.” Yuka tersenyum lebar ketika mendapatkan respon yang positif dari Alen. Namun Yuka tidak melihat saat raut muka Alen berubah menjadi datar.
“Daripada itu, aku dapat berita yang membahagiakan.” Alen tersenyum kembali saat Yuka melihatnya.
“Apa?” tanya Alen dengan raut yang pensaran.
“Kamu tahu sepupu aku yang di Kanada, dia sekarang lagi hamil 2 bulan. Padahal dia baru aja menikah 4 bulan lalu.” Alen sangat tahu, meskipun Yuka menceritakannya dengan raut muka yang senang tapi dalam nada bicaranya terdapat sebuah keirian yang mendalam.
“Mereka sudah diberikan kepercayaan untuk mendapatkan buah hati.” Alen segera menyuapkan satu suapan pada Yuka yang disambut dengan senang oleh wanita itu.
“Yah beda dengan kita, selama 10 tahun kita berusaha tapi gak ada hasilnya.” mood Yuka saat ini menjadi buruk.
“Pelayan, ambilkan makanan penutup!” cara untuk menghibur Yuka adalah dengan makanan yang manis.
Yuka melihat pramusaji itu membawa pie dengan toping buah-buahan yang begitu menyegarkan. Yuka tersenyum lebar dan segera mencicipi makanan penutup itu.
“Tunggu dulu, sebelum itu aku mau kamu tanda tangani ini dulu.” tiba-tiba Alen mengeluarkan sebuah dokumen yang entah apa isinya. Alen menatap Yuka dengan tersenyum lebar, wanita itu hanya melihat jika suaminya sangat mencintainya tanpa tahu jika sebenarnya senyumannya itu terdapat sebuah tujuan yang sangat mengerikan.
“Dokumen apa itu?” Yuka segera bertanya.
“Langsung tanda tangan saja, ini tender yang aku menangkan kemarin.” Yuka menganggukkan kepalanya san segera menandatangani dokumen itu tanpa ragu.
“Terima kasih, Istriku!” Yuka melihat senyuman Alen yang terasa aneh. Namun wanita itu segera menepisnya dan akan segera menyantap penutup mulutnya.
“Sama-sama, Suamiku.” Yuka mulai menyantap pie itu dengan tanpa merasa curiga.
Satu suapan berhasil masuk ke dalam mulut. Yuka melihat Alen yang sedang tersenyum puas ke arahnya menjadi sangat tidak enak hati. Apalagi saat Yuka mulai merasakan debaran yang begitu kuat pada jantungnya.
Yuka memagangi dadanya, nafasnya tersenggal. Yuka melihat Alen yang malah diam saja.
“A..len, ak-ku kenap-a?” ucap Yuka dengan suara yang terbata-bata.
Alen diam saja dan tidak berkata apapun selain menatapnya dengan tatapan yang datar. Namun Yuka bisa melihatnya dengan jelas jika suaminya itu menatap Yuka dengan penuh kemenangan.
Samar-samar Yuka mendengar suara heels yang berjalan ke arahnya. Yuka melihat ada Brina, Kakak tirinya. Brina datang tepat di belakang Alen dan merangkul pria itu dengan mesra. Yuka yang melihat itu menatapnya dengan tidak percaya.
“Apa yang kau lakukan?!” Yuka mengumpulkan suaranya dan mengucapkan itu dengan jelas.
Brina menatap Adiknya dengan pandangan yang kasihan dan juga senang. Wanita itu mendekati Yuka dan memutar kursinya hingga berhadapan dengannya.
“Adikku yang manis,” Brina mengelus pipi Yuka dengan lembut.
“Kamu baik sekali membiarkan suamimu sendiri untuk mencari wanita lain.” Yuka mengernyitkan alisnya tak mengerti. Apalagi rasa sesak ini semakin mencekik tenggorokannya dan jantungnya terasa sangat menyakitkan.
“Dengar, akan aku akhiri semua ini sekarang dan merebut semua yang menjadi milikmu. Termasuk kekayaan dan juga suamimu, Alen.” Yuka mendengar itu dan menatap Brina dengan nyalang. Hatinya merasa sakit karena ia dikhianati oleh Kakaknya sendiri.
Bahkan suaminya hanya diam dan melihatnya yang saat ini sedang tersiksa. Yuka segera menatap Alen untuk meminta bantuanya, namun sayangnya pria itu hanya menatapnya dengan datar seolah-olah kejadian ini adalah yang pria itu tunggu.
“A-alen.” Yuka memanggil pria itu.
“Ah sepertinya dia sudah kehabisan nafas dan ingin berbicara terakhir kalinya denganmu, sayang.” Brina menghampiri Alen dan mengecup bibir pria itu.
Yuka mengepalkan tangannya dengan emosi, tidak ada air mata yang keluar saat ini karena dia hanya merasakan sakit yang berusaha menelan jiwa dan juga perasaannya.
Tubuh Yuka lemah dan luruh ke lantai sambil menahan betapa sakitnya tubuhnya saat ini. Alen yang melihat itu segera menghampiri istrinya dan berjongkok serta meremas dagu Yuka dengan kuat.
“Ah sayang sekali wanita secantik dirimu harus aku lenyapkan. Kalau aku pajang wajahmu di museum apakah masih ada harganya?” Alen menyunggingkan senyuman miringnya. Yuka yang mendengar perkataan suaminya sendiri merasakan sakit dan amarah yang menguasai dirinya.
“Ssttt jangan bicara, kamu gak punya tenaga lagi buat ngelakuin itu.” Alen menaruh jari telunjuknya di depan bibir Yuka, lalu mengelus bibirnya dengan lembut.
“Maafkan aku sayang, aku sungguh mencintaimu.” Yuka menatap mata Alen yang terlihat begitu tulus. Namun dia tahu jika suaminya ini ternyata hanyalah seorang pria yang sangat pintar manipulatif!
“K-kau, ak..u tidak ak-an pernah percaya p-adamu lagi!” Yuka menatap suaminya dengan amarah yang sudah menguasainya. Tidak ada lagi ingatan-ingatan mengenai hal romantis yang sudah mereka jalani selama mereka menjalin hubungan.
“Ya, jangan percayai aku. Kamu hanya cukup tahu kalau aku mencintaimu.” Alen membisikannya tepat di dekat telinga Yuka.
“Aku sungguh mencintaimu.”
JLEBB!
Yuka membelalakkan matanya ketika merasakan ada yang menancap di perutnya. Alen menjauhi tubuh Yuka dan kini Yuka bisa melihat jika suaminya sendiri yang menusuknya seperti ini. Tidak cukup dengan racun, bahkan Alen menusuknya dengan tepat sasaran.
Yuka melihat jika Alen menggunakan belati yang diberikan oleh Yuka sendiri pada Alen saat hari jadi pernikahan mereka berdua yang pertama. Namun siapa yang menyangka jika Alen dengan beraninya menggunakan itu untuk membunuh istrinya sendiri.
Brina yang melihat itu terkejut dan merasa tidak percaya, namun kemudian wanita berusia 27 tahun itu bertepuk tangan dengan meriah. “Wahh sayang kau tidak memberitahuku tentang adegan penusukan ini!” Brina menghampiri Alen dan menggandeng tangannya.
Sedangkan Yuka berada di bawah mereka sedang menahan kesakitan dan kedua sejoli itu nampak tidak peduli dengan apa yang terjadi padanya.
Mata Yuka saat ini sudah berat, dia sendiri sudah bisa merasakan jika ini adalah akhirnya.
“Aku bersumpah tidak akan memaafkan kalian, bahkan di kedihupanku yang kedua aku bersumpah untuk mengingat setiap rasa sakit ini dan akan membalaskan dendam atas semua yang menimpa padaku.” batin Yuka untuk terakhir kalinya.
***