THE SECOND MARRIAGE

THE SECOND MARRIAGE
Ayah Kandung Brina



“Panggil Darren dan berbicara jangan formal.” Darren tidak terlalu suka jika orang yang bukan bawahannya malah berbicara dengannya secara formal padanya.


Yuka segera mengangguk dengan cepat, meskipun dia sendiri tahu jika dirinya akan merasa canggung dengan memanggil nama langsung.


“Baiklah Darren.” wanita itu berdehem dan segera mencari posisi nyaman untuk duduk. Tapi setelah beberapa saat Yuka tidak bisa mendapatkan posisi yang aman. Darren melihat itu menjadi kebingungan.


“Ada apa Nyonya?” tanya Darren.


“Saya hanya merasa sedikit tidak nyaman, dan tolong panggil juga saya Yuka.” Yuka segera tersenyum tipis dan menghela nafas panjang. Apalagi saat pandangan mata mereka berdua mulai bertemu.


‘Ah pantas saja aku merasa tidak nyaman, kenapa pandangan matanya terlihat sangat menggelitik tubuhku.’ rutuk Yuka dalam hatinya.


“Apa masih tidak nyaman?” Darren terus memperhatikan Yuka yang menurutnya sangat aneh. Wanita itu terus menggerakan tubuhnya tak menentu. Darren segera mengambil inisiatif untuk mendekati Yuka dan mendorong kursi rodanya.


Yuka yang melihat itu menahan nafasnya, namun Darren segera mengambil bantal kursi yang berada di belakang punggung Yuka dan menaruhnya di atas paha Yuka. Wanita itu sedikit bergeming ketika Darren melakukan hal itu. Namun kini Yuka bisa merasakan sedikit nyaman dan memundurkan sedikit tubuhnya.


“Bagaimana sekarang?”


“Lebih baik, terima kasih.” Darren hanya mengangguk kecil.


“Jadi apa rencana selanjutnya?”


“Sebelum itu aku ingin memberitahukan jika kemarin suami aku mendatangi aku. Hanya saja dia tidak menyinggung masalah rumor itu dan pergi begitu saja. Menurutmu kenapa dia tidak menyinggungnya?” Yuka sudah menceritakan keseluruhan ceritanya, sama seperti dia menceritakannya pada Pak Ander.


“Suamimu itu tahu jika berita ini hanya rumor belaka dan tidak mempercayainya. Sepertinya suamimu mempercayai jika kamu masih berada di genggamannya.” Darren segera memberikan penjelasan yang memang masuk akal.


“Meskipun begitu, harusnya dia berkata jika dirinya tidak percaya dengan berita itu. Lalu kenapa malah membiarkannya saja?” Yuka mengernyit tidak mengerti dengan sikap Alen yang memang terlihat tidak peduli dengan rumor itu.


Darren sedikit berpikir. Setelah melakukan penyelidikannya menganai Alen Adiguna, menantu keluaraga Pradipto ternyata adalah sosok yang sangat cerdas. Tak heran jika pria itu memiliki berbagai macam trik dalam otaknya. Namun ini adalah Darren, ahli waris dari keluarga kaya raya. Sudah pasti Darren sangat tahu apa yang dilakukan oleh Alen sekarang.


“Dia berpikir jika rumor ini memang dilakukan oleh seseorang dan orang itu adalah kau sendiri. Harusnya kamu kemarin yang mengungkit masalah ini duluan. Jika begini, suamimu akan menganggap jika kau yang memulai rumor ini secara sengaja. Namun sekarang pria itu belum mengetahui mengenai mengapa kau melakukan ini. Jadi dia memilih untuk diam terlebih dahulu.”


Ucapan Darren benar, bahkan Yuka baru memikirkan hal sepele macam ini. Kenapa otaknya semakin tumpul saja rasanya. Darren menatap Yuka dengan ragu, namun pria itu sudah terlanjur berjanji akan membantunya.


Darren mendesah kecil karena sepertinya dia harus menjadi otak dari rencana ini. “Sekarang kau telpon suamimu dan berkata seperti biasanya.”


“Biasanya?” Yuka berkerut.


“Manja atau apalah. Aku tidak tahu bagaimana sikapmu pada suami sendiri.”


“Kau benar, aku akan segera menelponnya.” Yuka segera memanggil Alen beberapa kali, namuan telpon itu tidak diangkat sama sekali.


“Tidak diangkat.” Yuka merasa heran karena biasanya Alen akan selalu mengangkat telponnya dengan cepat.


“Terus telpon sampai dia mengangkatnya, jika tidak dia pasti kahwatir melihat banyaknya panggilan tidak terjawab.” tanpa berkata apapun, Yuka segera menelpon Alen beberapa kali dan pria itu tidak mengangkatnya sama sekali.


“Jika begini, aku harus menyimpan rencanaku selanjutnya sebelum Alen percaya jika orang yang menimbulkan rumor itu sebenarnya bukan aku.” Yuka memandang Darren dengan serius.


“Kau benar, untuk saat ini biarkan seperti ini.”


***


Alen memandang ponselnya dengan dingin. Dia membiarkan istrinya terus menelponnya dan tidak mengangkatnya sama sekali. Saat ini pandangan Alen pada istri cantiknya itu mulai berubah.


Sepulangnya kemarin dari Bali, Alen mengira jika Yuka yang menimbulkan rumor itu karena wanita itu tidak menyinggungnya sama sekali. Namun ketika mengetahui jika Yuka menelponnya beberapa kali seperti ini membuatnya menjadi ragu.


‘Kalau seperti ini, apa ada pihak ketiga? Brina?’ Alen menggelengkan kepalanya ketika memikirkan hal itu. Tidak mungkin Brina akan melakukan hal itu di belakangnya.


Saat ini perusahaan Pradipto sudah semakin berjaya dan sudah memperluas cabang hingga keluar negeri. Jika Yuka yang melakukan ini, untuk apa? Bukankah dirinya masih memiliki tempat penting di perusahaan ini. Jika Yuka mengusirnya, perusahaan ini akan berada di ambang kematian lagi.


Apalagi Alen mengetahui jika pria yang menjadi rumor bersama istrinya itu hanya cucu yang menjadi tak berguna dari keluarga Guanesha. Mungkin Yuka akan menjadi bodoh karena malah menggunakan pria cacat itu sebagai tamengnya.


Jika itu 3 tahun yang lalu, sudah pasti Alen akan menjadi ketakutan karena nama Darren Guanesha tidak bisa terucap oleh orang yang biasanya saja. Namun kini, pengusiran pria itu dari keluarganya sendiri sejak mengalami kecelakaan telah tersebar ke seluruh dunia.


Alen tertawa sinis ketika melihat istrinya kembali menelponnya. Namun kali ini dia akan mengangkatnya.


‘Halo sayang, maaf aku baru menyelesaikan meeting.’ ucap Alen dengan khawtatir.


Sedangkan Yuka kembali menelpon Alen ketika sampai di kamar hotelnya dan ternyata pria itu mengangkatnya dengan cepat.


‘Maaf, aku tidak tahu kalau kamu lagi sibuk.’ Yuka membuat-buat suaranya dengan lembut seperti biasanya. Meskipun saat ini dirinya sangat ingin muntah.


‘Gapapa, kenala telpon? Mau pulang sekarang?’ tanya Alen dengan nada khawatir.


‘Bukan itu!’


‘Aku hanya ingin menceritakan mengenai rumor yang terjadi padaku.’ mata Alen melebar tak percaya jika istrinya mulai membicarakan hal itu. Dari sebrang sana Alen bisa mendengar jika Yuka menghela nafasnya panjang.


‘Tolong jangan percaya mengenai rumor itu, aku tidak tahu kalau postinganku di media sosial akan menyebabkan rumor tak berdasar seperti ini.’ Yuka segera menjelaskannya dengan nada penyesalan.


‘Aku tahu, kamu pasti saat ini takut. Sejujurnya, kemarin aku ke sana ingin menceritakan masalah ini. Tapi kamu tidak mengungkitnya.’ percayalah jika Alen itu sangat pandai sekali bermain kata-kata seperti ini.


‘Aku takut kamu marah, jadi aku tidak membahas hal ini lebih dulu. Apalagi kamu terlalu sibuk dengan perusahaan, jadi aku menunda untu membahasnya.’ Yuka mendengar keheningan dari sebrang sana.


‘Halo sayang?’ panggil Yuka karena Alen tidak menjawab apapun.


‘Ah maaf sayang, aku ada meeting mendadak lagi. Nanti malam aku telpon lagi ya, aku sayang kamu.’ setelah itu Alen menutup telponnya tanpa mendengar jawaban dari Yuka.


Kening Yuka berkerut karena suara Alen nampak terburu-buru, sebenarnya apa yang sedang terjadi?


Tak lama kemudian ponsel Yuka bergetar dan ada panggilan ada Pak Ander.


‘Kenapa Pak?’ tanya Yuka tanpa basa basi.


‘Nona Yuka, sepertinya ada masalah dengan Kakak tiri Nona dan Ayah kandungnya. Sekarang mereka sedang adu mulut di ruang tamu.’ hubungan Brina dan Ayah kandungnya memang sangat buruk. Bahkan di kehidupan lampaunya Yuka sering menjadi saksi mata ketika mereka berdua sering bertengkar.


‘Terus perhatikan mereka dan jangan biarkan mereka merusak properti rumah.’


‘Baik, Nona.’


Yuka memijat pelipisnya karena merasa pusing, niat hati ingin membuat dirinya santai. Tapi ternyata hal itu sangat sulit untuk dilakukan. Saat seperti ini Yuka harus lebih fokus lagi untuk berhadapan dengan Alen.


Sedangkan di sisi Alen, kini pria itu baru mendapatkan pesan dari Ibu mertuanya jika saat ini kekasihnya sedang bertengkar dengan Ayah kandungnya yang sudah dicampakan.


Dengan cepat, Alen segera mengendarai BMW miliknya ke rumah. Dalam belasan menit Alen sudah ada di rumah dan dari luar pria itu bisa mendengar berbagai macam teriakan dari Brina.


“Mau apa lagi hah? Tidak puas dengan menelantarkan kami dan kau malah seenak hatinya datang kemari?!” rahang Brina mengeras dengan emosi. Brina tidak percaya jika dirinya memiliki Ayah yang tak tahu malu sepertinya.


“Putriku, kenapa kamu jadi sangat kasar? Apa itu ajaran dari Ibumu, hm?” Ryan menunjuk mantan istrinya yang kini berlindung di belakang Brina.


“Kurang ajar, aku tak pernah sudi untuk menjadi darah dagingmu!” Brina semakin berang karena pria baya yang berada di depannya ini malah menyalahkan Ibu kandungnya.


“Kirimi aku uang sekarang juga! Jika melihat kehidupan kalian, 100 juta mungkin cukup?” Ryan mengangkat alisnya tak tahu malu dan segera mendekati Brina dan juga mantan istrinya.


***