
Setelah memberikan beberapa peringatan dan perintah pada Pak Ander semalam, kini Yuka bisa sedikit lebih tenang karena akhirnya ada orang yang bisa dipercayai olehnya. Namun saran dari pria berkepala empat itu cukup menganggunya.
Flashback on
“Menurut saya, bagaimana jika Nyonya mencari seseorang yang bisa melindungi Nyonya dari Tuan Alen.” saran Pak Ander setelah mendengarkan cerita dari Yuka.
Yuka tidak menceritakan kejadian dimana dia sudah mati di masa depan dan tiba-tiba kembali ke masa lalu. Yuka sedikit mengarang cerita jika Alen melakukan perselingkuhan dengan Brina hingga membuat Yuka ingin membalas dendam atas pengkhianatan yang dilakukan oleh Alen.
Tentu saja Pak Ander akan langsung begitu percaya karena yang berbicara adalah majikannya sendiri. Bahkan Yuka sendiri yang mempercayakan hal itu padanya.
“Saya juga sempat memikirkan hal itu, namun akan terasa sangat sulit untuk memberikan kepercayaan pada orang lagi.”
Pak Ander melihat majikannya dengan kasihan, namun majikannya sendiri terlihat baik-baik saja setelah dikhianati seperti itu. Biasanya semua wanita akan menangis, namun majikannya ini sangat berbeda. Hal ini sangat begitu membuat Pak Ander kagum.
“Apa Nyona Yuka ingat dengan lamaran yang satunya lagi?”
Yuka mengerutkan keningnya mengingat mengenai lamaran yang dimaksudkan oleh Pak Ander. “Maksudnya putra cacat itu?” tanya Yuka pada Pak Ander.
Pak Ander mengangguk dengan cepat, “Nyonya tahu sendiri kalau orang itu memiliki latar belakang yang tak biasa. Jika Nyonya bisa mengurusinya, mungkin saja dia bisa melindungi Nyona.”
Yuka sedikit menimang mengenai apa yang dikatakan oleh asistennya. “Kalau begitu akan saya pertimbangkan. Sudah pasti tidak akan mudah masuk ke keluarga itu,”
“Ohiya Pak Ander, tolong panggil saja saya Nona.” Pak Ander mengangguk mengerti atas permintaan dari majikannya. Sudah pasti majikannya itu akan terasa risih jika dipanggil Nyonya dengan kejadian yang seperti ini.
Flashback off
Sebelum Alen mengirimkan lamarannya, memang sudah ada yang mengirim lamaran kepada Yuka terlebih dahulu. Pada saat itu Yuka menolak mentah-mentah karena sudah memiliki Alen, bahkan Ibu tiri dan Kakak tirinya mendukung keputusan Yuka untuk menolak lamaran dari keluarga itu.
Bahkan Yuka langsung tahu orang yang melamarnya adalah seorang putra cacat dan menjadi tidak berguna dari keluarga kaya raya.
Meskipun Pak Ander sempat mewanti-wanti Yuka untuk menerima lamaran itu karena datang dari keluarga yang tak biasa saja. Namun Yuka tetap tidak mau dan hanya ingin menikah dengan Alen seorang.
Yuka sangat sadar dengan maksud dari ucapan Pak Ander apa. Mendekati pria lain disaat kondisinya sudah bersuami sama saja dengan melakukan perselingkuhan. Jika begitu, apa bedanya Yuka dengan Alen?
Namun Yuka akan memikirkan alternatif lain agar tidak terlibat dalam kasus perselingkuhan secara langsung. “Kalau begitu aku harus membuat rumor mengenai hal ini.” Yuka berpikir dengan begitu keras.
Tiba-tiba sebuah pemberitahuan menyala di ponselnya, Yuka segera membukanya dan melihat ada sebuah pemberitahuan dari salah satu akun media sosialnya.
“Media sosial?” Yuka mengangkat alisnya dan tersenyum miring ketika memikirkan salah satu ide yang wajib sekali untuk dicoba.
***
Dalam sekejap Yuka sudah berada di Bali, lebih tepatnya Yuka berada di salah satu hotel terbesar di Bali milik salah satu anak perusahaan Guanesha Company. Hotel ini dikenal dengan surganya diantara para hotel. Tentu saja Yuka pernah mengunjungi beberapa hotel milik Guanesha Company.
Hanya saja cabang di Bali ini sangat begitu megah dan mewah. Hotel ini begitu memanjakan para turis asing dengan keindahan alam dari Indonesia. Bagaimana tidak, Yuka selalu melihat properti mengenai hewan dan tumbuhan asal Indonesia di setiap sudut hotel ini.
Yuka mengambil kamar VIP dengan pemandangan yang sangat indah, tak lupa untuk mengambil akses kartu kamarnya. Setelah itu Yuka dengan bersemangat untuk segera menuju kamar pilihannya.
Tentu saja Yuka ke sini memiliki tujuan yang sangat penting. Hal ini merupakan salah satu rencana pertamanya untuk membuat rumor.
Kamar yang dipesan oleh Yuka merupakan salah satu kamar istimewa diantara kamar yang lainnya. Sangat tidak mudah untuk memesan kamar ini, apalagi dia memesannya dalam waktu semalam. Namun keberuntungan memang sedang memihaknya hingga bisa mendapatkan kamar istimewa ini dengan mudah.
Yuka segera mengambil ponselnya dan mengambil foto kartu kunci kamar ini dengan beberapa pemandangan dari luar kamar yang berada di lantai paling atas. Setelah itu, Yuka segera duduk di kasur yang sangat luar biasa empuk. Bahkan Yuka curiga jika kasur ini terbuat dari banyaknya bulu domba karena sangat empuk.
Ia membuka sosial media miliknya dan mengunggah beberapa foto tadi, tak lupa dengan foto dirinya sendiri dengan caption yang akan membuat semua orang bertanya-tanya.
Yukapradipto Thank you for the service @guaneshacorp
Yuka segera mengirimkan unggahannya dan menutup ponsel itu untuk melihat bagaimana reaksi dari para pengikutnya. Jangan khawatir, karena Pak Ander sudah menyewa beberapa buzzer agar publik bisa terkecoh.
Ponselnya berdering dan di sana sudah ada Alen yang menelponnya. Padahal Yuka baru saja menunggahnya 2 menit lalu. Sepertinya suaminya ini memang memiliki waktu luang untuk aktif di sosial media.
Namun Yuka memilih untuk tidak mengangkat telponnya dan segera keluar dari hotel untuk menikmati semua fasilitasnya. Yuka sudah mengganti bajunya dengan baju yang sedikit terbuka karena hotel ini langsung mengarah menuju pantai. Tentu saja Yuka tidak boleh melewatkannya, karena ia sangat menyukai pantai.
Saat lift yang Yuka masuki akan tertutup, tiba-tiba lift tersebut terbuka kembali. Yuka segera menggeser badannya karena 2 pria yang memasuki lift ini salah satunya duduk di kursi roda. Kemudian yang satunya lagi mendorong kursi roda itu.
Di dalam lift hanya ada mereka bertiga saja, suasana begitu hening. Yuka melihat ke depan lift yang memperhatikan tubuhnya, kemudian Yuka melirik sedikit ke samping dan melihat pria yang berada di kursi roda itu.
‘Sialan tampan!’ pandangan pertama Yuka pada pria itu tak dapat terduga. Bahkan perempuan itu membelalakkan matanya saat pandangan pria itu seperti melihat kearahnya. Yuka segera berdehem untuk menormalkan kegugupannya.
Ting
Pintu lift segera terbuka, Yuka bergegas pergi terlebih dahulu karena ia tidak bisa bertahan lama berdekatan dengan pria tampan itu.
“Kayak orang penting.” Yuka mengerutkan keningnya karena baru kali ini melihat pria yang luar biasa tampan menggunakan kursi roda. Yuka segera menengok ke belakang, dimana mereka berjalan bertolak belakang. Setiap orang yang dilewati oleh kedua pria itu pasti menunduk seperti menyapa atasannya.
Yuka menghela nafas panjang dan segera menepis pikirannya yang makin kesana kemari. “Sekarang waktunya mantai!” Yuka tersenyum lebar dan memakai kacamata hitamnya.
Dia sengaja meninggalkan ponselnya yang saat ini sangat begitu bising karena terdapat ratusan notifikasi dari media sosialnya. Sedangkan Yuka sendiri sedang berjalan-jalan santai di pinggir pantai. Apalagi saat ini menunjukkan pukul 9 pagi, sudah pasti ini waktu yang cocok untuk berjemur.
***
“Rumor macam apa ini?!” seorang pria baya terlihat begitu emosi ketika berita mengenai rumor itu begitu membludak begitu tinggi. Kemudian dia segera mengambil ponselnya dengan amarah yang menguasainya.
“Panggilkan Darren ke ruangan saya, sekarang juga!” menutup ponselnya dengan kesal dan mengusap pelipisnya karena merasa pusing dengan rumor yang beredar.
Tak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar, setelah memberikan izinnya. Seorang pria yang bernama Darren segera masuk dengan menggunakan kursi roda dan seseorang yang mendorong kursinya dari belakang.
Pria baya itu menatap tajam Darren yang terlihat datar. “Apa kau sudah melihat berita yang saat ini sedang heboh?” pria baya itu segera bertanya.
“Sudah.” Darren menjawabnya dengan ekspresi yang sama, sedangkan pria baya itu terlihat begitu emosi karena pria yang berada di depannya ini terlihat begitu santai.
“Lalu kenapa kau diam saja hah!” gebrakan meja terdengar begitu keras, beruntung saja kantor ini kedap suara hingga tidak akan bisa menimbulkan desas desus yang lebih ramai.
“Tuan, mohon maafkan Tuan Darren. Tuan Darren baru saja mengetahui hal itu-,”
“Diam kamu!” pria baya itu segera memotong perkataan dari asisten pribadi Darren. Kini pria baya itu terlihat semakin emosi dengan mengusap rambutnya kasar.
“Saya tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan. Tapi bisakah kau menjadi berguna dan tidak menimbulkan rumor itu?” rahangnya mulai semakin mengeras ketika melihat Darren yang terlihat datar dan tidak terganggu sama sekali.
“Kau sudah menjadi orang yang tak berguna dan malah bersikap tidak berguna seperti ini!” gebrakan mulai terdengar kembali. Namun Darren tidak nampak terkejut sama sekali.
“Argghh sakit!” tiba-tiba pria baya itu merasa sangat sakit pada area jantungnya.
“Tuan Kalypso!” asisten pribadi Darren segera mendekati pria baya yang bernama Kalypso. Terlihat Kalypso merasakan keram pada jantungnya. Umurnya saat ini sudah menginjak 50an, jadi wajar saja jika dia mengalami penyakit seperti ini.
“Anak kurang ajar! Beraninya kamu malah memandang dingin pada Pamanmu seperti itu!” Kalypso semakin murka sambil menahan sakitnya.
“Lay, panggilkan Dokter Scheca.” suara dingin dari Darren terdengar. Lay segera menganggukkan kepalanya mematuhi perintah Tuannya yang kini akan keluar dari kantor Ayahnya sendiri.
Dokter Scheca segera datang setelah mendapatkan panggilan. Kalypso mendapatkan perawatan yang cepat berkat kecekatan Dokter pribadi keluarganya.
Lay segera keluar dari ruangan itu dan melihat Tuannya sendiri sedang melihat media sosial. “Tuan, apa yang harus saya lakukan?” Lay segera bertanya untuk menindak lanjuti para penyebar rumor itu. Sudah pasti rumor itu akan membuat Tuannya itu menjadi sangat rugi.
“Biarkan saja.”
“Huh?” Lay termenung sesaat ketika Tuannya sendiri malah ingin membiarkan rumor itu semakin merembak luas.
“Panggil saja wanita itu ke ruangan saya siang nanti.” jika wanita itu baru mengunggah foto itu tadi pagi, bisa dipastikan jika dia masih berada di hotel ini. Sudah pasti Darren harus menemuinya terlebih dahulu.
“Tapi Tuan, wanita itu sudah menikah dan merupakan putri dari keluarga terpandang. Jika-,”
“Aku tau, panggil saja.”
‘Satu keluarga memang sama saja sering memotong perkataan orang.’ rutuk Lay dalam benaknya.
“Baiklah Tuan.” Lay tidak bisa menentang ucapan dari majikannya sendiri. Lay sangat tahu jika Tuannya ini sangat begitu cerdas.
Hanya saja, sejak kecelakaan yang menimpanya 3 tahun lalu membuat Tuannya menjadi bahan hinaan bagi keluarga Guanesha. Tak tanggung-tanggung, bahkan banyak anggota keluarga Guanesha menyetujui pengusiran Darren.
Selama 3 tahun ini Lay menjadi saksi dimana Tuannya sendiri sering dirundung. Bahkan kepala keluarga Guanesha mengusirnya ke sini karena Tuannya kini sudah lumpuh dan menjadi cucu yang tidak berguna.
Sedangkan wanita yang dimaksudkan oleh Darren sendiri saat ini sedang asyik bermain air dan merasakan jika sinar matahari semakin panas. Yuka segera duduk di pinggir pantai dengan menikmati air kelapa yang begitu menyegarkan mulutnya.
“Betapa indahnya hidup kalau setiap hari menikmati pemandangan seperti ini.” Yuka merupakan seorang pecinta pantai. Bahkan Gadis itu sering mengunjungi pantai setidaknya sebulan 3 kali dikala waktu senggangnya.
“Nyonya Pradipto?” panggilan seseorang cukup mengejutkannya. Sesaat dia berpikir jika orang yang memanggilnya adalah suruhan dari Alen. Yuka segera melihatnya dan keningnya menjadi berkerut.
“Siapa?” Yuka merasa tidak asing dengann wajah orang yang kini menatapnya datar.
“Tolong ikut saya.”
Yuka ingat, pria ini adalah orang yang dia temui di lift tadi. Oh tidak! Apakah Piya sudah membuat kesalahan?
***