
Kita semua pasti sering mendengar dengan kata peradaban yang sudah berbeda lalu apa sebenar nya yang di maksud dengan peradaban itu sendiri apa kah peradaban hanya berhubungan dengan wujud manusia nya saja kah atau kah begitu banyak aspek yang turut berubah, Seperti kali ini yang akan kita bahas mengenai kisah Putri Ahmanet yang kisah hidup nya cukup membuat bulu kuduk berdiri dan apakah di peradaban yang sudah sekian ratus tahun berlalu kisah tersebut masih berkelanjutan atau kah kita mampu melihat kisah nya hanya dari peninggalan yang di temukan oleh para peneliti, Mari kita tilik bersama kisah Putri Ahmanet di peradaban modern kali ini.
Jaman terus berkembang dan semua kegiatan manusia di dukung dengan kemajuan teknologi yang semakin berkembang pesat, Namun masih ada saja sekelumit manusia yang masih mengejar barang peninggilan kuno untuk di jadikan koleksi dan pasti nya hal tersebut di bayar dengan harga yang cukup mahal sebab untuk mendapat kan benda peninggalan prasejarah tidak lah mudah dan tidak hanya itu namun ada juga resiko kutukan bagi yang menerima atau memegang benda tersebut, Kali ini kita akan membahas dua lelaki yang memiliki hobi mencari benda kuno untuk di jual kembali di kota lain mereka berdua bernama Edi dan Leon, Lalu apa yang akan mereka hadapi kali ini saat tiba di daerah di mana tubuh Putri Ahmanet terkubur apakah mereka mampu membonkar makam Putri Ahmanet yang sudah terkubur selama ribuan tahun, Mari kita ikuti kisah perjalanan Edi dan Leon kali ini.
Saat ini udara cukup lah panas dan seperti nya Edi dan Leon terdampar di sebuah gurun yang jauh dari perkampungan dan saat itu mereka berdua hanya mampu melihat gunungan padangpasir di sekitar nya, Kemudian Edi pun mulai memutar otak nya agar bisa menemukan perkampungan sebelum matahari tenggelam dan pasti nya niatan tersebut di sampaikan kepada rekan nya bukan lain Leon yang saat itu sedang mencoba menghubungi kantor tempat nya bertugas untuk meminta bantuan.
" Hey Leon ... apa yang sedang diri mu lakukan sedari tadi?"
Tanya Edi sambil berdiri di sisi onta sebagai alat tunggangan nya.
" Aku sedang mencoba menghubungi kantor agar segera menjemput kita disisni,"
Jawab Leon yang sedang sibuk dengan radio komunikasi nya.
" Sudah berhenti lah Leon semua yang kamu lakukan itu sia-sia saja, Lebih baik sekarang kamu ikut aku untuk berburu barang antik dan kamu tahu bukan berapa mahal nya barang antik itu dan pasti nya hal itu membuat kita kaya dan merubah hidup kita,"
Ucap Edi mencoba mempengarui pola pikir Edi saat itu.
" Apakah otak mu sudah tidak waras Edi dan apakah kamu tidak mengetahui apa resiko bila kita sampai tertangkap oleh mereka, Tidak jadi kaya yang ada kita akan mati konyol di tangan mereka,"
Jawab Leon dengan nada tidak setuju dengan ide Edi saat itu.
" Baik lah bila kamu lebih memilih mati mengering di gurun pasir ini silahkan saja dan pasti nya aku tidak sebodoh diri mu yang akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah di depan mata."
Ucap Edi sambil menaiki onta yang berada di sisi kanan nya sambil sesekali melirik ke arah Edi.
Pasti nya Leon mempertimbangkan perkataan Edi dan ia pun berfikir dengan cepat tidak ingin di tinggal oleh Edi lalu dengan berat hati Leon pun menaiki onta yang masih terikat di sebuah pasak kayu kemudian Leon pun mengikuti onta yang di tunggangi Edi saat itu, Pasti nya saat itu merasa sangat senang sebab ia merasa sudah mampu mengalahkan ego nya Leon yang awal nya berusaha untuk tetap meminta bantuan ke kantor, Mereka berdua bekerja di sebuah instansi negara yang bertugas untuk menjaga perbatasan negara yang sedang berkonflik.
Namun selain meraka berdua bertugas menjadi pembela bangsa mereka juga memiliki kebiasaan unik mencari benda antik di setiap daerah yang mereka kunjungi dan akan menjuak nya ke kolektor di wilayah lain pasti nya dengan harga yang cukup fantastik, Maka tidak lama kemudian mereka berdua pun tiba di suatu pedesaan yang tidak cukup besar dan saat itu mulai lah Edi mengeluarkan jurus andalan nya untuk mencari informasi mengenai situs barang antik di wilayah tersebut dan saat itu Leon hanya mengikuti apa yang di perintah kan oleh Edi.
" Leon nanti saat aku sedang berbincang dengan masyarakat setempat kamu diam saja dan mendengarkan jangan ikut berbicara dan kamu cukup mengangguk saat aku bertanya kepada mu,"
Ucap Edi sambil mengikat kan tali ke sebuah kayu yang tersedia di depan sebuah kedai minum.
Tanya Leon dengan tatapan bingung kepada Edi.
" Kamu mau kaya atau mau berakhir di sini kita berdua."
Jawab Edi sambil melangkah memasuki kedai dan saat itu Leon hanya mampu diam dan mengikuti apa yang di kata kan Edi kepada nya.
Kemudian mereka berdua pun mengambil tempat duduk dekat jendela sebab mereka sambil mengawasi onta mereka berdua yang sedang di ikat lalu tidak lama kemudian datang lah seorang pelayan meghampiri mereka berdua dengan menggunakan busana khas daerah tersebut, Setelah mereka berdua memesan minuman dan makanan sambil menunggu pesanan mereka di hidangkan saat itu pandangan Edi mulai menyebar keseluruh ruangan dan pasti nya hal tersebut membuat beberapa pengunjung merasa curiga kepada mereka berdua yang memiliki kulit putih dan pasti nya berbeda dengan warga setempat.
Maka saat itu terjadi lah perbincangan antara Edi dengan seorang lelaki yang bernama Umar yang terlihat sedari tadi memperhati kan Edi dan Leon, Di saat Edi sedang berbincang mengenai situs peninggalan kuno terlihat ekspresi wajah Umar sedikit berubah dan hal tersebut membuat Leon merasa tidak nyaman dan berniat untuk meninggal kan mereka berdua namun di tahan langkah nya oleh Edi yang menginjak kaki Leon dan hal tersebut sudah menjadi isyarat bagi Leon agar tidak pergi.
" Hay Umar ... apakah kamu mengetahui di mana letak situs bersejarah di wilayah ini, Bila kamu mengetahui bisa kah aku meminta bantuan mu untuk mengantar kan kami berdua?"
Tanya Edi diiringi senyum ramah kepada Umar yang duduk di seberang meja mereka berdua.
" Untuk apa kalian mempertanyakan situs bersejarah di daerah kami, Apakah kalian arkeolog yang sedang mencari sejarah dari bangsa kami,"
Jawab Umar dengan tatapan penuh tanya kepada Edi yang berusaha menutupin tujuan sebenar nya.
" Bukan ... kami berdua bukan arkeolog tapi kami budayawan yang sedang berkunjung ke daerah ini, Jadi apa salah nya kita bila ingin mempelajari sejarah di daerah kalian."
Ucap Edi sambil menginjak kaki Leon yang hendak beranjak dari tempat duduk nya saat itu.
Pasti nya saat itu pandangan Umar semakin curiga kepada mereka berdua dan tatapan Umar sangat misterius memandangi Edi dan Leon dari ujung kepala hingga ujung kaki sebab bagi Umar tidak lah mungkin seorang budayawan menggunakan sepatu lars militer dan terlihat juga radio komunikasi yang berada di dalam tas milik Leon berada di atas meja dan yang lebih membuat Umar tidak yakin bahwa mereka berdua budayawan adalah kartu tanda anggota militer yang tergantung di leher mereka.
Maka terjadi lah kesalah pahaman antara Edi dan Umar saat itu sehingga Umar memanggil beberapa teman nya dan ternyata Umar adalah pimpinan dari sebuah golongan pemberontak negara yang sedang di buru oleh seluruh aparat negara, Maka terjadi lah perseteruan antara mereka berdua saat itu dan mereka berdua pun mendapat serangan yang cukup brutal dari kubu Umar dan mau tidak mau Leon dan Edi bersembunyi di sebuah bangunan kuno sambil terus memanggil meminta bantuan ke instansi nya agar mendapat kan bala bantuan saat itu.
Lalu apa yang akan terjadi dengan Edi dan Leon saat ini setelah mendapat penyerangan dari kubu pemberontak negara yang memang sedang di buru oleh negara, Apakah mereka berdua akan di tangakap dan di jadi kan sandra bagi kubu Umar sang pemberontak negara atau kah Edi dan Leon akan mendapat bantuan dari instalasi nya dan mampu terlepas dari serangan kubu Umar yang cukup beringas dan apakah mereka berdua akan tetap menjalan kan rencana nya untuk mencari situs prasejarah di daerah tersebut?
Jangan pernah beranjak dari kisah mereka berdua dan temukan jawaban nya hanya di THE RISE A PRINCEES AHMANET dan jangan pernah bosan untuk selalu dukung author agar semangat nulis nya.