The Reincarnation Of The True Hero

The Reincarnation Of The True Hero
Bagian 4



Lalu pada saat, Rizzy sudah keluar dari UKS, dia menyandarkan tubuhnya ke pintu UKS yang baru saja ia tutup, dan di saat yang bersamaan, Rizzy berpikir serta bergumam dalam hatinya.


“Apa-apaan kekuatan yang dimiliki oleh, Emi itu...... Dia bisa melukaiku serta meninggalkan bekas luka yang tidak bisa kusembuhkan hanya dengan kekuatan airnya, aku merasa tidak asing dengan kekuatan itu, kenapa aku merasa seperti bernostalgia ketika mendapatkan luka dari serangannya.......”


Banyak tanda tanya yang muncul di kepala, Rizzy....... Tetapi meski begitu, Rizzy tidak bisa menyangkal bahwa, Emi adalah orang yang kuat. Bahkan, Emi satu-satunya makhluk yang bisa memberikan bekas luka kepada, Rizzy yang tidak dapat disembuhkannya.


Tak lama berselang, Bu Alice pun keluar untuk menemui, Rizzy dan memberi tahunya tentang keadaan, Emi Shizuka.


*Srekkkk!


"Rizz!?"


"........ehh iya, kenapa Bu? Bagaimana keadaan, Emi? Apa dia baik-baik saja?"


Bu Alice yang melihat wajah panik dari, Rizzy membuatnya tertawa tipis......


"Hahaha......."


"Lah, kok malah ketawa sih, Bu?"


"Engga, hanya saja saya baru pertama kali melihatmu panik seperti ini, ternyata ada wanita yang bisa membuatmu sepanik ini, kamu sudah tumbuh lebih dewasa, Rizz!!!!"


"Itu tidak benar, saya masih sama seperti sebelumnya, tidak ada perubahan yang signifikan dariku."


"Saya tidak bilang kalau kamu sudah berubah, hanya saja kamu sudah lebih dewasa, ngomong-ngomong, Emi sudah baik-baik saja, dia hanya perlu istirahat sebentar dan akan pulih setelahnya." jelas Bu Alice.


".....ohh, baiklah, terimakasih banyak, Bu!!"


"Jagalah dia baik-baik ya, Rizz!!! Saya percaya padamu."


*Tap tap tap


Bu Alice pun meninggalkan, Rizzy sendirian di UKS.....


Kemudian, Rizzy masuk kedalam UKS dan menemui, Emi yang sedang terbaring lemas ditempat tidur.


*Srekkkk!!


*Tap tap tap.....


"Yooo, apa kau baik-baik saja?" tanya Rizzy.


".....ya, aku baik-baik saja kok, hanya saja tadi kesadaranku tiba-tiba menghilang, tapi aku berhasil melukaimu kan? Jadi aku diterima ditim mu kan?"


"Kau sungguh berisik ya, meski dalam kondisi seperti ini, iya kau berhasil melukaiku dan aku akan sudah menerimamu untuk bergabung ke timku."


Ekspresi gembira dari wajah, Emi pun terlihat, dia benar-benar bahagia karena bisa diterima oleh, Rizzy untuk bergabung ke timnya....


"Yeayy, aku sangat senang mendengarnya, mulai sekarang mohon bantuannya, ya, Captain Rizzy!!!"


"Sudahlah jangan terlalu banyak bergerak, istirahatlah yang cukup dan pulihkan dirimu, lalu kau tidak perlu memanggilku seperti itu."


Anggota dari Courage Royal Garden pun bertambah menjadi 5 orang, dengan masuknya, Emi Shizuka membuat tim yang dibentuk oleh, Rizzy menjadi tim yang ditakuti, karena selalu banyak orang-orang yang kuat ingin bergabung ke timnya.


"Baiklah apa kamu bisa membantuku berjalan ke kelas?" tanya Emi.


"Hah? Apa yang kau mau?"


"Aku sudah baik-baik saja, lohh."


"Kau tidak perlu memaksakan dirimu, kau cukup istirahat saja, aku akan menemanimu disini." jelas Rizzy.


Seketika wajah, Emi pun memerah tersipu malu, setelah mendengar ucapan dari, Rizzy.


".......e-ehhh??? Lalu bagaimana dengan kelasnya?"


"Aku sudah izin kepada, Bu Reina untuk menemanimu disini, lagipula ini sudah jam terakhir pelajaran dan sebentar lagi akan pulang."


Disaat, Rizzy baru saja menyelesaikan ucapannya tiba-tiba dia merasakan energi yang sangat kuat sedang menuju ke bumi!!! Tidak salah lagi, itu adalah alien yang ada didalam mimpinya, Rizzy.


*Deg-deg.....


Seketika raut wajah, Rizzy menjadi sangat serius dan menatap tajam kearah langit untuk melihat alien yang akan datang ke bumi.


"Kamu kenapa, Rizz? Ada apa??" tanya Emi.


"Aku merasakan energi yang kuat sedang mendekat ke bumi, dan aku dapat merasakan energi yang tak terukur dari makhluk itu!!."


*Deg!!!


Emi pun langsung bangkit dari tidurnya, karena terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh, Rizzy....... Seolah tak percaya dengan apa yang sudah dikatakan oleh, Rizzy, sebab alien itu mempunyai energi yang tak terukur, ini benar-benar bukan lawan yang akan mudah dikalahkan oleh mereka.


"Hah!!!! Apa kamu serius, Rizz? Alien itu mempunyai energi yang tak terukur katamu? Sekuat apa dia sebenarnya......"


"Aku yakin bahwa alien itu memang benar mempunyai energi yang tak terukur, sepertinya ini bisa mengancam semua manusia yang ada di bumi, kita harus bergegas untuk mengalahkannya dengan cepat, agar tidak memakan korban yang terlalu banyak."


>Sementara itu diluar angkasa.......


Di sana terlihat ada pesawat luar angkasa yang sangat besar sedang menuju ke bumi.


"Hohoho......"


Tawa jahat dari alien itu sangat mengerikan dengan suaranya yang begitu berat bisa saja mengintimidasi para makhluk hidup yang ada di bumi.


"Ini planet yang bernama bumi itu? Planet yang cukup besar, semoga saja disana ada makhluk kuat yang bisa menandingi kekuatanku!!!"


*Vrooommmmpppp......


>Kembali ke tempat, Rizzy.


*Kringgggggg!!!!!


Bel akademi berbunyi menandakan bahwa pelajaran sudah selesai, disaat yang bersamaan, Rizzy segera bergegas menemui teman-temannya untuk memberitahu informasi yang besar ini kepada mereka.


"Emi, kau tunggu disini sebentar, aku akan menemui, Richard dan yang lainnya."


"Ehh, Rizz!!!! Aku ikut......."


Perkataan, Emi tidak digubris oleh, Rizzy dan langsung berlari meninggalkan UKS.


*Whoooossshh.....


"Richard!!!" teriak Rizzy.


Richard, Seryu, dan Anna pun menoleh kearah, Rizzy yang sedang panik juga terburu-buru.


"Ada apa, Rizz? Kau terlihat seperti sedang terburu-buru?" tanya Richard.


Anna yang berada disana pun menyela pembicaraan mereka.


"Kenapa, Rizz?"


Seryu hanya terdiam dan mendengarkan pembicaraan mereka semua.


"Ada sesuatu yang harus kalian ketahui, alien yang ada dimimpiku sudah berada di atmosfer bumi dan sebentar lagi dia akan sampai ke bumi." jelas Rizzy.


*Deg!!!!


"Yang benar saja!!" ucap Richard.


Seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh, Rizzy....... Seryu, dan Anna tak bisa berkata apa-apa lagi, dan hanya bisa terdiam membisu.......


".........dan juga aku merasakan energi yang tak terukur dari makhluk itu, sepertinya kali ini kita harus berhati-hati, juga kita harus mengurusnya dengan cepat agar tidak banyak orang yang tidak bersalah menjadi korban."


Untuk kedua kalinya, Rizzy mengejutkan teman-temannya.


"Apa kau bercanda?" tanya Seryu.


"Aku sangat serius kali ini." jawab Rizzy


Anna yang sedari tadi hanya diam, sekarang mulai berbicara lagi dan bertanya kepada, Rizzy.


"Rizz, apa kau tidak salah merasakannya? Apa kamu yakin dengan semua ini?"


"Ya, aku sangat yakin."


"Haruskah kita berkumpul di markas? Atau kita langsung menghajar mereka? Apa keputusanmu, Rizz...." sela Richard.


"Aku ingin mendengar rencana mu, Richard!"


Senyum sumringah terpancar dari wajah, Richard karena kali ini, Rizzy ingin mendengarkan rencananya.


"Kalian pergi ke markas duluan saja, aku mau mengantarkan, Emi terlebih dahulu."


Mendengar, Rizzy mengucapkan nama itu membuat, Anna merasa sedikit kesal lalu mencoba untuk menahan, Rizzy agar tidak menemui, Emi.


"Haa?? Memangnya ada apa dengan wanita itu, kenapa kamu harus mengantarnya, apa yang sudah kalian lakukan?" ucap Anna dengan wajah cemberut nya.


".........aku tadi hanya mengujinya, ternyata dia sangat kuat, dan juga dia berhasil melukaiku, nih lihat."


Rizzy menjawab pertanyaan dari, Anna lalu dengan polosnya menunjukkan bagian perutnya yang memiliki bekas luka akibat pertarungannya dengan, Emi. Luka itu berbentuk garis miring tetapi tidak terlalu panjang, dimana luka itu memiliki panjang sekitar 20-30 cm.


Anna sempat gagal fokus melihat tubuh, Rizzy..... Ditambah lagi perut, Rizzy yang berbentuk sixpack membuat perhatian, Anna sedikit teralihkan.


"Woah, Rizz..... Aku tidak mengira kalau kau juga melatih tubuhmu, andai aku wanita mungkin aku sudah terpanah melihat tubuhmu, seperti yang dilakukan oleh, Anna....."


Richard yang juga melihat luka ditubuh, Rizzy mencoba menyadarkan, Anna yang terpaku melihat tubuh atletis dari, Rizzy.


Lalu, Rizzy pun akhirnya menutup kembali tubuhnya dan seketika itu juga, Anna tersadar.


"Ehhhh....... Kok ditutup......." keluh Anna.


"Woi, kamu daritadi ngeliatin tubuhnya, Rizzy dengan tatapan penuh nafsu, loh." potong Seryu.


Wajah, Anna memerah tersipu malu, dan dia mencoba mengelak dari tuduhan, Seryu.


"Hehhhhh!!!!! Bohong, mana mungkin aku seperti itu..."


Richard dan Seryu pun tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi panik dan malu dari, Anna.


*Hahahaha......


Rizzy tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, serta dia hanya bisa diam membisu, lalu......


"Eh, woi malah becanda, ini ada alien mau kesini malah becanda......" bentak Rizzy.


"Oh, iya...... Yaudah katanya kau mau mengantarkan, Emi terlebih dahulu, 'kan?" jawab Seryu.


"Iya, Seryu benar, lebih baik kau pergi mengantarkan, Emi..... Kami akan menunggumu dimarkas." ucap Richard.


"Tunggu dulu, kamu belum menjawab pertanyaanku, loh." kata Anna.


"Tunggulah dimarkas, Anna...... Aku akan menjawabnya disana." jelas Rizzy.


"Oke, aku menantikannya."


"Baiklah teman-teman, kita bertemu lagi di markas, ya..... Aku akan segera menyusul kesana."


Mereka semua akhirnya berpencar lagi, Rizzy mengantarkan, Emi pulang. Serta, Richard, Seryu, dan Anna segera bergegas ke markas dan menyusun rencana untuk meminimalisir korban.


Tanpa pikir panjang, Rizzy langsung berlari menuju UKS untuk menemui, Emi dan berencana mengantarnya pulang.


*Whoooossshh...


Sesampainya di UKS.


"Emi!!!"


Disana, Emi sedang berusaha untuk bangkit dari kasur dan berjalan keluar dar UKS.


"Ehh, apa? Kamu membuatku terkejut."


"Apa yang kau lakukan? Sudah kubilang jangan memaksakan dirimu, dan aku akan memperingatkanmu bahwa kau tidak boleh ikut dengan kita."


Emi memasang ekspresi cemberut diwajahnya menandakan bahwa, Emi tidak setuju dengan keputusan yang diambil oleh, Rizzy.


"Hmph......"


"Apa? Kenapa kau memasang ekspresi seperti itu? Aku tetap tidak mengizinkanmu untuk ikut." Rizzy menegaskan keputusannya sekali lagi.


"Tapi kenapa? Aku sudah baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, aku sudah sehat, nih kamu bisa melihatnya sendiri, kan." Emi yang masih tidak bisa berdiri tegak memaksakan dirinya untuk melakukan itu, energi dari, Emi belum sepenuhnya pulih itu akan memakan waktu yang lumayan lama, maka dari itu, Emi mencoba meyakinkan, Rizzy bahwa dia sudah pulih sepenuhnya.


Sayangnya, Rizzy sangat peka terhadap hal seperti ini, yang membuatnya tetap tidak mengizinkan, Emi untuk ikut.


"Emi, kumohon jangan memaksakan dirimu."


Pada saat, Emi mencoba berjalan, tiba-tiba dia kehilangan keseimbangannya....... Lalu disaat yang bersamaan dengan sangat sigap, Rizzy langsung menangkap, Emi yang hampir terjatuh.


"Sudah aku bilang kau jangan memaksakan dirimu, harus berapa kali aku mengatakannya padamu, hah?" dengan nada yang sedikit lantang, Rizzy memarahi, Emi yang sedari tadi tidak mau menuruti perkataannya.


Emi yang mendengarnya langsung terdiam dan hanya bisa mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata.......


"Aku tidak bermaksud untuk memarahimu, tetapi aku tidak ingin kau terluka, pulihkan dulu energimu, lalu mari kita berjuang bersama." kali ini suara dari, Rizzy menjadi sangat lembut, yang membuat, Emi menyetujui ucapannya.


"Janji?" Emi mengulurkan jari kelingkingnya untuk membuat perjanjian dengan, Rizzy.


"Iya, aku berjanji." Rizzy langsung menerima perjanjian dari, Emi. "Baiklah aku akan mengantarmu pulang, jadi aku akan menggendongmu lagi, agar cepat sampainya dan tunjukkan jalan kerumahmu." sambung Rizzy.


Emi tersenyum senang mendengar perkataan dari, Rizzy namun juga membuatnya tersipu malu di waktu yang sama.


"......iya, maafkan aku karena sudah merepotkan, hingga membuatmu harus mengantarkanku pulang." dengan mimik wajah yang tersenyum, Emi menerima bantuan dari, Rizzy.


"Kau tidak perlu meminta maaf, kau sudah ku anggap sebagai teman, jadi tidak usah sungkan kepadaku, aku harap kau bisa memulihkan energimu dengan cepat, dengan kekautanmu itu akan sangat berguna untuk membantu kita, sip kau sudah siap?"


"Iyaaa...... Jangan terlalu cepat."


*Whoooossshh


Dalam sekejap, mereka pun sudah sampai di rumah, Emi.


Rizzy terpaku sesaat melihat rumah, Emi yang besar dan mewah, sudah seperti istana kerajaan yang sangat makmur, tak berhenti disitu, kawasan rumah, Emi memiliki lapangan yang luas serta memiliki taman dengan air mancur ditengahnya.


Rizzy bergumam dalam hatinya. "Sungguh rumah yang sangat indah." dia hanya bisa bergumam karena takut menyinggung, Emi jika di utarakan secara langsung, meskipun sebenarnya, Rizzy tidak peduli tentang itu.