
Alisha menatap kepergian Alaska dengan tatapan penasaran. Setelah selesai membersihkan tumpahan makanannya Alisha berusaha mencari laki - laki yang ia tabrak karena merasa bersalah.
Alisha berkeliling ke sudut- sudut sekolah dan menemukan laki- laki itu sedang duduk menghadap ke lapangan tanpa memakai jas. Alisha langsung menghampirinya dan duduk disebelahnya.
" Ini. " Alisha menyodorkan sebotol minuman kepada Alaska. Membuat Alaska menatapnya dengan wajah datar.
" Untuk apa?. " Tanyanya.
" Sebagai permintaan maafku karena sudah membuat jas mu kotor. " Jawab Alisha namun Alaska hanya diam saja.
" Ini ambilah mungkin harganya tidak sebanding dengan jasmu itu. Tapi hanya ini yang bisa kulakukan. " Ucap Alisha lagi.
Alaska pun mengambil minuman itu dari Alisha.
" Kenapa kau duduk disini sendirian?. Apa mereka membencimu juga?. Tapi sepertinya kau bukan anak orang miskin. " Ucap Alisha penasaran.
" Apa kau tidak tau aku siapa?. " Tanya Alaska dibalas gelengan oleh Alisha.
" Baiklah kenalkan namaku Alisha. " Alisha mengulurkan tangannya ke hadapan Alaska.
" Alaska. " Jawabnya tanpa menjabat tangan Alisha.
" Hei namamu sama seperti pangeran mahkota. Apa karena itu mereka membencimu?. " Tanya Alisha.
" Apa maksudmu?. "
" Apa karena mereka menganggap bahwa namamu itu meniru nama pangeran jadi mereka membencimu dan tidak mau berteman denganmu. " Terang Alisha.
Alaska menghembuskan nafasnya panjang malas menjawab pertanyaan Alisha.
" Hei apa beban hidupmu itu sangat berat ya?. Sampai-sampai kau tidak mau menjawab pertanyaanku. Bahkan wajahmu terlihat sangat murung. "
" Kau ini banyak bicara sekali. "
" Haha maaf hanya saja aku tidak punya teman untuk diajak bicara di sekolah ini. " Jawab Alisha ramah.
Alaska tetap diam dan melihat jam yang melilit ditangannya kemudian beranjak pergi.
" Hei kau mau kemana?. " Teriak Alisha namun tidak dihiraukan oleh Alaska.
~
" Pangeran apakah perempuan tadi mengganggumu. " Tanya Eldrick pengawal pribadi Alaska saat di dalam mobil.
" Lupakan saja dia tidak penting. " Ucap Alaska masih memandangi botol minuman yang diberikan Alisha.
" Baiklah pangeran jika ada yang mengganggumu katakan saja pada kami. "
" Iya paman. "
Sesampainya di Kerajaan Alaska segera masuk ke kamarnya untuk ganti baju. Setelah itu makan bersama keluarga kerajaan.
" Bagaimana sekolahmu Alaska?. " Tanya Jean.
" Semua baik seperti biasanya ayah. "
" Ingat Alaska kau harus fokus bersekolah agar kelak kau jadi raja yang cerdas sama seperti ayahmu. " Ucap Bianca antusias dibalas senyuman paksa oleh Alaska.
Selesai makan Alaska pergi bersantai di balkon sambil terus memegangi dan menatap botol minuman tadi.
" Dia adalah gadis pertama yang berbicara dan memperlakukan seperti orang biasa." Batin Alaska.
Tiba-tiba Aurora adiknya yang baru berusia 6 tahun datang menghampiri Alaska.
" Apa yang kakak lihat?. " Tanyanya.
" Bukan apa-apa Aurora. "
" Memangnya minuman itu dari siapa kak?. Kakak sudah memiliki teman ya disekolah?. " Tanya Aurora girang.
" Tidak Aurora ini hanya sebuah permintaan maaf dari gadis yang tadi menabrak kakak. " Jawab Alaska.
" Yahhh padahal aku sudah sangat senang kalau kakak punya teman. " Ucap Aurora kecewa.
" Tenanglah Aurora aku kan punya adik lucu sepertimu jadi aku tidak akan kesepian. Memangnya apa yang membuatmu datang kesini?. " Tanya Alaska.
" Itu aku ingin- " Belum sempat menyelesaikan ucapannya tiba- tiba Eldrick datang di tengah mereka.
" Maaf pangeran Yang Mulia Raja memanggilmu untuk datang ke ruangannya. " Ucap Eldrick.
" Ahh paman Eldrick aku baru saja ingin mengajak kakak bermain. " Aurora cemberut.
" Maaf Aurora lain kali saja ya aku pasti akan bermain denganmu. " Alaska mengelus rambut Aurora.
" Baik paman aku kesana sekarang. " Alaska pergi menuju ke ruangan Ayahnya.
~
Tok.. Tok.... Tok....
" Permisi yang mulia apakah anda memanggilku?. " Ucap Alaska masuk kedalam ruangan Jean.
" Iya duduklah. " Jean mempersilahkan Alaska duduk di kursi yang ada di depan mejanya.
" Ada apa yang mulia?. " Tanya Alaska.
" Besok akan ada pertemuan dengan perdana menteri dari negara tetangga kau ikutlah denganku. " Ucap Jean.
" Baik yang mulia. "
" Yasudah kamu bisa pergi. " Jawab Jean tersenyum.
Alaska beranjak pergi namun ia menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Jean.
" Yang mulia apakah aku boleh bertanya?. " Ucap Alaska.
" Tentu saja?. "
" Kenapa aku harus belajar di ruang yang terpisah disekolah?. "
" Agar kamu mendapatkan pendidikan yang maksimal tentunya. Karena negeri ini akan menjadi tanggung jawabmu kelak. Jadi kau harus benar- benar dipersiapkan. "
" Kalau memang begitu bolehkah aku meminta sesuatu darimu. Permintaan seorang anak kepada ayahnya. "
" Apa yang kau minta anakku?. "
" Aku ingin belajar di kelas seperti murid yang lain ayah. Aku ingin tau rasanya memiliki seorang teman. "
" Maafkan ayah Alaska, sebenarnya ibumu lah yang mengatur agar kau belajar diruang privat. Awalnya ayah juga tidak setuju. Namun alasan ibumu ada benarnya juga. Jadi ayah berharap kau bisa mengerti. "
" Baik ayah Terima kasih, aku permisi. " Alaska keluar dari Ruangan Jean dengan perasaan kecewa.
Sedari kecil hingga sekarang Alaska tidak pernah memiliki teman karena statusnya sebagai seorang pangeran mahkota. Dirinya selalu dituntut untuk pandai dalam segala bidang yang menyebabkan dirinya harus banyak belajar setiap harinya. Saat bersekolah dia juga ditempatkan di kelas khusus yang hanya ada dirinya dan seorang guru privat. Belum lagi ketika ada pertemuan-pertemuan penting terkadang dia harus mewakili ayahnya.
Semua tekanan dan beban berat yang dipikulnya menjadikan Alaska seorang yang pendiam dan tidak banyak bertingkah.
~
Disisi lain Alisha.....
" Bibi aku datang. " Ucap Alisha di dalam toko bunga meletakkan tasnya di meja.
" Sore Alisha. " Sapa Aileen.
" Bibi apa aku boleh bertanya?. "
" Tentu saja apa yang ingin kau tanyakan. " Aileen menghampiri Alisha.
" Apakah Lucas memiliki teman?. " Tanya Alisha.
Lucas adalah anak Aileen dan Louis atau juga sepupu Alisha.
" Tentu saja dia punya memangnya kenapa?. "
" Apa bibi dulu juga punya teman?. " Tanya Alisha lagi.
" Iya bibi juga punya. Hei ada apa denganmu kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal ini?. "
" Bagaimana rasanya memiliki teman bibi?. Aku sangat ingin sekali memiliki seorang teman. " Ucap Alisha lesu.
" Kau tau Alisha memiliki teman itu sangat menyenangkan jika temanmu itu bisa menerima semua kekurangan dan kelebihanmu. Tapi jika kau memiliki seorang teman yang tidak peduli tentang perasaanmu percayalah kau akan lebih memilih tidak memiliki teman. " Jawab Aileen menasihati Alisha.
" Bibi apakah aku akan selamanya seperti ini? Apa aku tidak akan pernah memiliki teman?. "
" Hei sayang tenanglah kau nanti pasti akan memilikinya mungkin sekarang memang belum ada orang yang tepat untuk menjadi temanmu. "
" Sudah ayo bantu bibi jangan sedih lagi nanti bunga disini ikut layu karena kau sedih. " Ucap Aileen lagi.
Alisha pun mulai membantu Aileen di toko bunga.