The Other Side Of Me

The Other Side Of Me
duapuluh menit yang berharga



3.30 dini hari


“David, please help me!!!” gadis itu berteriak dan meronta dibawah tubuh ayahku yang menghujamnya tanpa ampun.


Aku berusaha keras menggerakkan tubuhku untuk menyelamatkannya tapi sesuatu membuat tubuhku membeku di tempat. Aku yang saat itu masih berusia lima belas tahun hanya bisa menangis dan memohon pada ayah agar dia menghentikan aksinya.


ayah tersenyum puas sambil terus melanjutkan aksinya. Dia merusak gadis yang nggak berdosa itu dan meninggalkannya tergeletak nggak berdaya di atas lantai.


Lidahku kelu, aku menatap nanar gadis yang sudah nggak berdaya itu. Dia memberiku tatapan kekecewaan karena aku nggak mampu melakukan apapun untuk menyelamatkannya. Apa dayaku? aku hanya anak laki-laki berusia limabelas tahun.


“see, David? You cant do anything against me! You are weak! You dont deserve a life!” ayahku berjalan ke arahku dan mencekikku. Dia mengangkat tubuhku ke atas seperti iblis yang mendapatkan mangsanya, sampai aku hampir kehabisan nafas.


Aku berteriak meminta pertolongan dan entah bagaimana, Sandra muncul dan berusaha melepaskan tangan ayah dari leherku. Dia terus meneriakkan “David, bertahanlah!”


Aku bisa merasakan nafasku hampir habis. Aku sekarat di tangan ayah sampai akhirnya pria itu melepaskan tangannya dariku dan beralih pada Sandra karena gadis itu terus mengusiknya.


“Go away and mind your own damn bussiness!”


Ayah mencekik Sandra, mendorong tubuh gadis itu hingga terjatuh di lantai, di samping Lea, gadis pertama yang kucintai.


Aku berteriak lagi, memohon, meronta, berusaha melepaskan tangan ayah dari tubuh Sandra, tapi aku nggak kuasa melakukannya. Tangan besarnya merobek pakaian Sandra, tubuhnya menghujam gadis itu dan dia berkata pada sandra “you.. come to hell!”


“NOO! DAD! PLEASE, NO!!!”


Aku terbangun dengan tubuh gemetar, keringat dingin membasahi sekujur tubuhku.


Bernafas pun berat rasanya


Tiba-tiba saja Hadi dan ibuku masuk ke kamar tanpa permisi, mereka terlihat khawatir. Ibuku spontan memelukku dan berkata “everything is okay son.... Dont worry, it wont happen”


Hadi kembali turun ke bawah untuk mengambilkan segelas air hangat untukku


Aku diam, nggak sanggup bicara. Ini bukan pertama kalinya aku bermimpi buruk. mereka berdua juga sudah cukup terbiasa dengan aku yang tiba-tiba berteriak histeris di tengah malam atau dini hari. Tapi kali ini lebih buruk.


Kenapa Sandra tiba-tiba muncul di mimpiku?


Semuanya terasa begitu nyata. Kejadian delapan tahun lalu masih terekam jelas dalam ingatanku. Lea yang nggak berdaya karena ulah ayahku, dan sekarang Sandra... Apakah dia akan bernasib sama?


Aku menepis pikiran itu. Ayah kandungku bahkan nggak ada disini. Itu nggak mungkin terjadi. ini hanya mimpi buruk.


tapi mungkin saja ini bukan sekedar mimpi.


Mungkin ini sebuah peringatan untukku.


Sandra nggak boleh terlalu dalam masuk dalam kehidupanku, atau dia akan terluka. Cepat atau lambat.


I have no one to trust. I wanna have one but this nightmare keep coming and haunting me.


I cant let her know how broken i am and my family.


But i’m not that strong. I don't know how much longer I can endure this fucking feeling alone


Aku meneguk habis air hangat yang diberikan Hadi tanpa memberinya ucapan terimakasih. Aku menatap pria itu yang kini sedang memberikanku kata-kata pengharapan sambil menepuk bahuku. Jangan kira aku fokus mendengarkannya. nggak. Aku nggak akan pernah menerimanya sebagai ayahku betapapun baiknya dia. Aku nggak bisa mempercayainya, atau ibuku, atau siapapun.


Mereka yang kupercaya sudah melukaiku.


hanya tinggal menunggu waktu sampai pria ini menyerah menghadapi sikapku. Kapan dia akan sampai pada ujung kesabarannya dan akhirnya membuangku?


Nggak ada figur ayah yang baik. Aku nggak percaya akan hal itu. Kebanyakan figur ayah nggak pernah memainkan peran yang berarti bagi anak mereka. Mereka hanyalah penyumbang genetik yang menghasilkan anak dalam rahim seorang wanita. Selebihnya, mereka nggak peduli.


Aku yakin Hadi melakukan hal baik padaku karena dia punya tujuan untuk mendapatkan ibu. setelah mendapatkan ibu, aku yakin dia akan mengabaikanku.


Hell. I cant trust anyone. Even myself


“Bisa kamu keluar dari kamarku? Aku capek dan pengen istirahat” aku memotong pembicaraannya dan mulut pria itu langsung mengatup, membentuk garis lurus. Dia sudah bicara terlalu banyak dan membuang waktu di sini


“Oke, om bakal keluar. Tenangin dulu dirimu” jawabnya. dia memberiku senyuman ramah yang jujur saja membuatku ingin meludah di wajahnya untuk memberitahunya betapa aku nggak menyukainya. Tapi sudahlah. Dia sudah cukup baik padaku. Dia nggak mencoba mendebatku itu saja sudah cukup bagus.


Ibuku turut berdiri sambil memijit pangkal hidungnya dengan frustasi. Dia terlihat sedih pula melihatku dihantui mimpi buruk. Tak lama kemudian, mereka meninggalkan kamarku, dan aku kembali sendirian.


Kutatap tanganku yang masih gemetar karena mimpi tadi..


Kondisi ini seperti penyakit psikologis bagiku. Sudah cukup lama aku nggak merasakannya kembali. Kuharap ini nggak akan bertambah parah...


Aku masih ingat betul saat pertama kali tubuhku gemetar hebat dan aku membanting barang di sekolahku karena ketakutan melihat ayah datang ke sekolah untuk menjemputku.


akan selalu ada kejadian buruk kalau ayah menjemputku.


Dan benar saja. dia membawaku ke sebuah tempat yang sepi dan memaksaku untuk mengakhiri hidupku sendiri dengan minum sebuah cairan yang entah apa sambil memakiku. dia bilang aku hanya menjadi beban baginya.


Aku yang waktu itu masih polos, sama sekali nggak tahu kenapa dia begitu membenciku.


Aku masih ingat betul berulang kali aku dan ibu hampir saja mengalami kecelakaan mobil dan perampokan rumah sampai kami hampir gila karenanya. Entah apa yang terjadi, tapi setiap kali kejadian itu berlangsung, ayah nggak ada disana.


beberapa tahun kemudian, setelah aku mulai mengenal transaksi keuangan dan perbankan, aku tahu, dan aku mendengar dari mulutnya sendiri. Ternyata ayah mencoba melakukan itu demi klaim uang asuransi. Jika aku meninggal, dia bisa mengklaim uang asuransi atas namaku dan mendapat uang dalam jumlah yang nggak sedikit.


Tuhan begitu baik bagiku karena Dia menyelamatkanku berkali-kali sampai ayah lelah mencoba menghabisi nyawaku.


tapi dia nggak berhenti disitu. Dia melampiaskan kebenciannya padaku ke Lea. Sejak kejadian dengan Lea, penyakit ini mulai muncul dan aku merasa lemah karenanya.


Setelah getaran di tanganku berhenti, aku mengambil ponselku dari atas nakas dan mecari kontak Sandra di grup chat mahasiswa fakultas lalu menelponnya.


Pikiranku berjalan begitu saja tanpa kontrol meskipun aku sejujurnya takut untuk mempercayainya. Tapi siapa lagi yang ku punya? Reagan sudah bersama Kristi. Dia pasti lebih peduli pada kekasih barunya. Aku cukup tahu seberapa lemahnya sahabatku itu soal cinta. Pertemuan di kafe kemarin juga nggak berakhir dengan baik.


Surprisingly, she answered my call


Aku menghembuskan nafas lega, setidaknya aku punya seseorang untuk diajak bicara


“Oi”


“oi” jawabnya. Suaranya terdengar parau. Aku pasti sudah mengganggu tidurnya


“sorry. I didnt mean to wake you up this early” gumamku.


You didnt mean it? Damn it David! You just called her at 4AM!


“kamu udah nelepon aku, David.” Jawab Sandra sambil tertawa kecil. seketika aku membayangkan wajah mengantuknya tertawa konyol di atas tempat tidur.


Aku lantas tersenyum kecut. apa yang kupikirkan? Aku sendiri juga nggak tahu kenapa aku memutuskan meneleponnya


“ada apa?”


“aku...ermm” gumamku


Aku barusaja mimpi buruk dan kamu ada didalam mimpiku. Ayahku merusakmu dan hampir saja membuatmu kehilangan nyawa!


“Aku nggak bisa tidur” jawabku. Kuputuskan mengurungkan niat bercerita soal mimpi itu. Sandra pasti menganggapku gila.


“Apa ada sesuatu yang lagi ganggu pikiranmu?”


Banyak sekali


“Entahlah. Mungkin”


“Okay....? Apa kamu mau ceri—“


“apa kesan pertamamu waktu kita ketemu?” pertanyaan acak itu tiba-tiba muncul di pikiranku. Aku ingin tahu, aku butuh meyakinkan diriku kalau aku bisa mempercayainya. Selain itu, aku nggak mau dan nggak berniat menceritakan mimpiku padanya


“Mmmm..” gadis itu bergumam


“Jangan mikir terlalu lama. Jawab apa yang pertama terlintas di pikiranmu”


“jadi kamu nelepon aku subuh-subuh cuma buat tahu kesan pertamaku? David, serius. Mataku rasanya berat. Can we please just make a small talk instead of this?”


“no. Aku butuh jawabanmu sekarang”


Aku bisa membayangkan gadis itu mengernyit di seberang sana. Mengukir wajah cemberutnya yang konyol.


“aku kira kamu orang yang baik” jawabnya


“Jadi sekarang kamu mikir aku bukan orang baik?”


“Apa yang salah?” aku membaringkan tubuhku kembali dengan posisi telentang. Satu tangan menopang kepalaku, dan tangan lainnya memegang ponsel


“Apa kamu bakal benci aku kalau aku jawab pertanyaanmu dengan jujur?”


Membencinya? Demi Tuhan, aku bahkan nggak menaruh rasa apapun padanya jadi kenapa harus membencinya?


“dont be such a thinker. Just say what’s on your mind” perintahku. Aku berdiri dari tempat tidurku, mondar mandir di kamar menunggu gadis itu menjawabku.


Apa yang kamu lakukan David? Sudah tutup saja teleponnya!


“aku ngerasa kamu nyimpen terlalu banyak luka dan rahasia. Dan itu bikin kamu jadi orang yang emosional banget. Aku masih syok kalau inget gimana kamu mukul Jason dan ngerusak perabotan rumah orangtuamu. Aku... Sedikit takut berhadapan sama kamu”


Aku juga takut pada diriku sendiri. Aku punya darah ayahku dan sangat mungkin di masa depan aku jadi seperti dia.


“Oh ya? Gimana kamu tahu? Itu cuma asumsimu” aku menjawab


“Enggak. Aku cukup tahu.. karena akupun juga sama” gumamnya


“Luka seperti apa yang kamu punya?” tanyaku. Entah kenapa aku jadi penasaran pada kisahnya. Apakah dia juga melalui hal yang sama denganku?


“Keluarga dan hubunganku.. you know.. quarter life crisis. I honestly think a lot these days.. i’m afraid of my past... And i’m anxious for my future”


“okay, so what would you do if you find someone like me? Someone who have the same, or maybe worse scars than you”


“aku pikir kita bisa nyoba saling berbagi. Teman bicara yang paling baik adalah mereka yang pernah merasakan apa yang kamu rasakan.”


berbagi? teman bicara?


itu nggak ada dalam kamusku.


“Itu nggak masuk akal. Kalau kamu ngomong sama orang yang terluka, kamu nggak akan


dapet apapun kecuali dorongan untuk semakin membenci orang yang udah ngelukai kamu. Orang nggak akan bisa memberi di luar apa yang dia punya”


“jadi kamu pikir, dengan aku ngomong sama kamu, aku bakal semakin benci sama orang yang udah nyakiti aku?”


“Yup. Karena aku cuma punya kebencian dan


rasa marah dalam hatiku” jawabku jujur


“David, kamu lagi mabuk?”


“Nggak. Aku seratus persen sadar. Kenapa?”


“nggak... Aku cuma kaget kenapa kamu bisa sejujur itu”


Aku diam nggak menjawabnya. Aku sendiri heran mengapa aku tiba-tiba ingin membuka diri padanya.


Mungkin benar kata orang, kalian akan lebih jujur saat tengah malam atau dini hari. Percakapan yang mendalam selalu terjadi di jam-jam tersebut.


“Lantas gimana dengan kamu? Apa yang kamu pikir bisa aku ke kasih ke kamu sebagai respon atas ceritamu?”


“I think you can give me some positive vibes, Sandra. You seems like a strong girl”


“so... does this mean you trust me now? ” tanyanya


“as long as you can prove that you are worth my trust” entah kenapa aku terdengar begitu yakin, namun aku nggak ingin membuatnya berharap lebih padaku.


Kalian tahu apa yang kupikirkan ketika memberikan jawaban itu padanya? aku mengingat saat dimana gadis itu memelukku.


Seperti... entahlah. Rasanya seperti ada sesuatu yang menyentuh hatiku. Dia memberiku sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya.. entah mengapa aku merasa tenang waktu itu. seumur hidup aku hanya menyaksikan pecahan perabotan rumah, teriakan, kata-kata makian, ketakutan, dan kekerasan.


and she gave me a hug. a warm hug that gives me peace. something I haven't felt in the twenty-three years of my life


“Sandra, are you still there?” tanyaku ketika nggak mendapat jawaban apapun darinya.


“yea” jawab gadis itu dengan lirih.


Seketika aku memeriksa waktu di layar ponselku. 4.15 dini hari. Dia pasti masih mengantuk, dan dia berusaha tetap sadar demi mendengarkanku.


“do you thing you deserve my trust?” aku mencoba sekali lagi meyakinkan diri.


“entahlah. Aku sendiri punya luka yang sama. Seperti yang kamu bilang, seseorang nggak akan bisa memberi di luar apa yang dia punya”


“jadi.. apa luka itu bisa disembuhkan?” kenapa aku terdengar begitu putus asa?


“mhhm” gumamnya


“apa lukamu ada hubungannya sama dia?” seketika aku membayangkan wajah Jason yang babak belur. Bagaimana nasibnya sekarang?


“sebagian besar....iya”


“gimana keadaannya sekarang?” tanyaku penasaran


“dia...” Sandra terdengar ragu untuk menjawab


“just say it” perintaku


“septal hematoma. Semacem kerusakan pembuluh darah. Dia harus operasi buat memperbaiki struktur hidungnya”


Sungguh? Separah itukah yang kuperbuat padanya?


Aku bangun kembali dari tempat tidurku, ada sedikit rasa bersalah, tapi kurasa dia pantas mendapatkannya. Maksudku, pria macam apa dia? Mengancam seorang perempuan dengan berpura-pura bunuh diri? Aku yakin Jason nggak ngerti sama sekali soal trauma dan kesehatan mental. Hell.. he is a psychopath.


“whoa...” hanya itu yang keluar dari mulutku. Aku mengigit bibir bawahku, menunggu jawaban darinya. Namun dia hanya diam


apa yang dia pikirkan?


“apa kamu marah karena apa yang aku lakuin ke dia?”


“mmm... mungkin. Aku nggak tahu apa yang aku rasain soal itu”


“kamu nggak perlu menyesalinya. Dia layak buat pukulan itu”


“aku tahu, tapi nggak seharusnya kamu— lupakan. Makasih udah nyelametin aku waktu itu“


Aku tahu apa yang hendak dikatakannya, hanya saja aku nggak ingin mendengarnya. Dia akan menghakimiku karena tindakanku. Dia nggak mengenalku, dia nggak tahu alasan kenapa aku seperti ini. Dia belum melihat yang lebih buruk. Jadi kuputuskan untuk nggak berdebat dengannya.


“okay..” jawabku.


“ngomong-ngomong... apa yang terjadi sama mamamu? Aku penasaran sejak hari dimana kamu bilang—“


“you’ll know it soon. Just give me some time” sahutku.


Ku kira Sandra nggak bisa membedakan batasan antara orang yang sudah lama kenal dan baru saja saling kenal. Apakah dia benar-benar ingin tahu tentangku.


“go back to sleep.. i’m sorry for calling you this early”


“okay”


“thanks a lot. See you soon, Sandra”


Aku menutup telepon dan melihat durasi panggilan yang barusaja kulakukan. duapuluh menit. Wow.. aku nggak pernah meluangkan waktu selama itu untuk bicara dengan seseorang di telepon. Sungguh, aku masih nggak percaya aku memutuskan menelepon gadis itu sepagi ini, setelah mimpi buruk yang kualami. Meskipun pembicaraan kami berlangsung singkat dan aku nggak memberitahunya apapun soal mimpiku, aku merasa sedikit lega.


“thanks a lot” kataku lirih sambil menatap ruang chat Sandra di layar ponselku.


Kuletakkan kembali ponselku di atas nakas dan membaringkan diri, memikirkan kembali soal percakapan singkat kami tadi.


Ada sedikit rasa penasaran di benakku tentang gadis itu. sejak pertama kali aku bertemu dan menatap matanya, aku melihat rasa putus asa di mata gadis itu. melihat Jason yang memperlakukannya seperti itu... itu hanya apa yang terlihat. Lantas bagaimana gadis itu diperlakukan sehari-harinya?


Apa dia butuh pertolongan?


Dia bilang, Jason adalah luka terbesarnya...


Ku kira dia juga mempunyai trauma... sama sepertiku. Kami bertemu dengan luka masing-masing..


Aku lantas bertanya dalam hati... apakah kami bisa saling memahami?