
**DAVID’S POV
21.32, apartemen Reagan**
“aku nggak percaya kamu bener-bener bela anak itu. Maksudku, David.. kamu terancam di D.O dari kampus gara-gara nolongin dia!” Kristi meneguk minumannya. Ini sudah gelas ketiganya. Entah kenapa gadis itu memutuskan untuk ikut minum, padahal hanya aku yang berniat minum malam ini.
Reagan menyimpan beberapa botol ... Di apartemennya jadi terkadang aku datang kesini untuk minum.
“nggak masalah, cewek itu emang butuh bantuan” jawabku cuek sambil meneguk minumanku.
“Siapa dia sampai-sampai kamu ngebelain dia? Serius David?” Kristi mengayunkan tangannya ke udara dengan frustasi. Gadis itu rupanya masih menganggap aku kekasihnya. Kualihkan pandanganku pada Reagan yang hanya sibuk dengan kaleng sodanya. Entah kenapa dia memilih untuk tetap sadar di saat dua temannya menghabiskan hampir separuh botol alkoholnya. Wajahnya terlihat nggak nyaman mendengar percakapan kami. Poor Reagan for his unrequited* love.
“Gan, ayo minum” aku menawarkan segelas alkohol padanya namun dia menggeleng sambil tersenyum
“I’m okay” jawabnya.
“David, aku lagi ngomong sama kamu” protes Kristi. Aku memejamkan mata sejenak, menghela nafas pendek sebelum akhirnya menjawab gadis bawel itu
“Kristi, i can do what i want to do. Are you jealous or what?”
“Jealous? Me? Jealous?” gadis itu mengangkat satu alisnya “who am i to jealous? You dont even admit me as your girlfriend”
“We never date, remember?”
“aku nggak percaya pikiranmu sedangkal ini. David, please, cobalah bertahan di kampus dan terima tawaran dewan buat nyari character witness” katanya memohon padaku
“Hell, Kristi! Kenapa kamu nggak bisa berhenti ngomong? Oke, aku bakal ambil kesempatan itu tapi siapa yang bakal bikin pernyataan itu ketika banyak saksi yang ngelihat aku ngehancurin wajah orang lain didepan kampus?!”
“I’ll do it” jawab Reagan
“You’ll do it for him, right?” kristi meyakinkan Reagan. Pria itu memberinya senyuman dan mengangguk.
“No, you dont have to” aku menatap tajam mata Reagan, sahabatku itu
Dia lantas mengangkat bahu “aku nggak mau temen baikku didepak dari kampus cuma gara-gara cewek. You deserve a chance, David. You’re not that bad”
Aku mendengus kesal. Kenapa semua orang berharap aku nggak dikeluaekan dari kampus?
“Fine! Do it then!” aku mengambil gelas minumanku dan berjalan ke balkon apartemen. Reagan membiarkanku pergi, sementara Kristi mengikutiku
Gadis itu selalu saja mengikutiku
Kami diam selama beberapa saat. Baik aku maupun dia nggak mengucapkan sepatah katapun. Aku tahu dia sedang bergumul dan menyusun kata-kata untuk diucapkan padaku.
Ya, Kristi, gadis yang sedang duduk disampingku ini memang mempunyai hati untukku. Jika aku mau menerimanya, mungkin dia punya segudang stok kesabaran untuk menghadapiku. Sudah dua tahun aku membiarkannya tanpa kejelasan dan dia masih disini, berharap aku akan membalas perasaannya. Tapi nggak, aku nggak bisa. Aku nggak menginginkan Kristi menjadi kekasihku.
Aku nggak menginginkan perempuan manapun.
I dont date. I dont make a commitment.
Love is hell for me.
Maksudku, manusia bodoh macam apa yang mau mengorbankan diri dan menjadi lelah hanya karena sesuatu bernama cinta? Kenapa seseorang mau tersiksa bertahun-tahun dan mengharapkan pasangannya berubah?
Bagiku cinta dan pernikahan hanyalah omong kosong.
Orang akan selalu terluka karena cinta. Dan mereka hanya membuang waktu menghabiskan hari-hari mereka dalam sebuah pernikahan.
“Kenapa dia?” Kristi memulai pembicaraan. Suaranya serak dan gemetar. Apa dia menangis?
“entah. Aku juga nggak tahu” aku berbohong
“Aku tahu kamu nggak jawab dengan sebenernya, Vid. Aku bukan baru setahun dua tahun kenal kamu”
“ngapain kamu nangis?” aku dengan terang-terangan bertanya padanya. Mulutku selalu mengatakan apa yang kupikirkan tanpa khawatir harus meyaringnya terlebih dahulu
“Karena aku cemburu! Kenapa aku nggak bisa dapetin perhatianmu meskipun udah bertahun-tahun aku nyoba? Sementara dia? Siapa dia sampai-sampai kamu mau ambil resiko kayak gini? Apa nggak bisa kamu buka hati buat aku, Vid? Harus berapa lama lagi aku nunggu tanpa kejelasan?”
Aku memutar bola mata “Kris.. udah nggak usah nangis”
“Apa aku harus kayak dia dulu baru kamu bisa peduli sama aku?”
Aku menepuk pundak sahabatku itu, dan berusaha menenangkannya. Reagan pasti akan marah jika dia tahu gadis impiannya menangis karena laki-laki brengsek sepertiku. Aku merasa kasihan padanya, namun jujur saja, aku memang nggak menaruh minat pada Kristi betapa keraspun dia mencoba
“Udahlah Kris.. nggak usah nangisi hal kayak gini” shit. I’m so bad at words.
Kristi nggak mengatakan apapun, dia juga nggak menepis sentuhanku. Dia hanya menatapku dengan miris.
“You know it that i dont date. I’m sorry but you deserve a better man. Not a man like me”
“What if i only want you? What you’re someone i just want around?”
“You cant”
Gadis itu tersenyum kecut
“jadi siapa yang kamu maksud lebih baik buat aku?” tanyanya dengan putus asa
Reagan
“Apa aku nggak bisa jadi orang yang kamu percaya buat bantu kamu sembuh, Vid?”
“Nggak ada yang bisa bantu aku sembuh. Lukanya udah terlalu dalem.” Aku lantas meninggalkan Kristi dan kembali ke ruang tamu. Gadis itu nggak bergeming sedikitpun. Dia hanya menatap kepergianku. Sementara ketika aku masuk, Reagan berdiri cemas di ruang tamu, dia menatapku dengan khawatir. Dia mendengar pembicaraan kami. Aku tahu itu
“She needs you” gumamku
Reagan nggak menjawab, dia langsung berjalan menuju balkon dan memeluk gadis yang dia sukai itu. Aku hanya menatap mereka dengan tatapan datar. Mereka lebih baik tanpaku.
Cepat atau lambat, persahabatan ini juga akan rusak karena cinta.
***
Persahabatan kami sudah berlangsung selama empat tahun, tapi aku cukup tahu kami saling menyimpan rasa nggak nyaman satu sama lain. Semua baik-baik saja pada awalnya sampai rasa cinta tumbuh di hati Kristi buatku.
Kami memang selalu menghabiskan waktu bertiga. Kami adalah trio mahasiswa yang menjalani kuliah alakadarnya dan punya dunia kami sendiri. Bar, alkohol, mengemudikan mobil dengan atap terbuka dan musik keras di malam hari, itulah kami. But we dont do s*x. Especially me. I hate it. I hate being in an intimacy with someone.
Semua berubah ketika Kristi mengakui perasaannya padaku di tahun kedua kuliah.
Dan sejak itu, kami mulai jarang menghabiskan waktu bersama. Reagan nggak lagi seakrab dulu denganku. Dia mulai membuat jarak, sampai dia tahu aku menolak Kristi. Dia seakan punya secercah harapan tapi gadis itu terlalu keras kepala untuk melihat bahwa ada orang lain yang lebih peduli padanya daripada aku.
Cinta membuatnya buta.
Dia pernah menawarkan padaku untuk mencoba menjalani hubungan dengannya. Aku menolaknya. Aku nggak ingin mencoba-coba dan membuatnya berharap padaku. Aku nggak bisa memberinya lebih daripada yang aku punya.
She kissed me one day when i was in her house. But she was too drunk and frustrated. So it means nothing for me.
Aku mengemudi dengan kecepatan pelan kembali ke rumahku, rumah calon suami ibuku. Sudah dua bulan sejak mereka bertunangan dan ibuku pindah kesini. Mereka bahkan nggak memberitahuku mereka sudah bertunangan dan semalam tiba-tiba saja Hadi Sanjaya bilang kalau mereka akan menikah dua minggu lagi. What the hell was that?
Ibuku sendiri bahkan nggak membicarakannya denganku
Aku marah. Aku kecewa padanya. Dia lebih memilih cintanya daripada aku sebagai anak kandungnya.
Dia bahkan nggak menganggap bicara denganku sebagai hal yang penting.
Jelas saja. Hadi Sanjaya adalah seorang anggota dewan daerah tanpa anak. Istrinya meninggal karena sakit. Perempuan mana yang bisa menolaknya? Apakah ibuku sebuta itu pada harta dan jabatan sehingga dia melupakanku?
****. Of course she is.
Ku kira dia akan bertahan dan mendengarkanku untuk nggak menikah lagi. Aku cukup bahagia hidup berdua dengannya meskipun kami hidup pas-pasan. Tapi semua berubah sejak dia bertemu Hadi. i hate him for taking my mum's attention from me.
Dia satu-satunya yang kupunya dan sekarang aku sendirian. Aku bergumul dengan pemikiranku sendiri, mencoba menemukan jalan untuk tetap waras menghadapi masalah hidupku tanpa ada seseorang yang peduli.
Lagipula, siapa yang mau peduli pada pria tempramen, kasar, dan keras kepala sepertiku?
Ketika aku memasuki ruang tamu, Hadi Sanjaya masih duduk disana menungguku dengan secangkir kopi dan koran di tangannya. Membaca koran di tengah malam? Dia pasti sudah gila
“David, kemana aja kamu?”
“bukan urusanmu” aku menepis tangannya ketika dia mencoba menyentuh pundakku
“David, nak, dengerin om ngomong”
“Denger apa lagi? Aku udah cukup denger berita buruk dari kamu semalem”jawabku kasar
“om pengen menjalin hubungan yang baik sama kamu., david. Sebentar lagi aku sama mamamu bakal nikah”
“kenapa harus nyoba jalin hubungan baik sama aku ketika kamu sendiri nggak butuh pendapatku soal ngelamar mamaku! Look what you did! She always be on your side now!”
“sama sekali enggak, dia masih peduli sama kamu”
“bullshit!”
“david, berapa banyak yang kamu minum? Kamu bau alkohol”
“bukan urusanmu”
“om peduli sama kamu David”
Aku hanya memberinya senyum sinis dan meninggalkannya menuju kamarku.
Harus kuakui, dia baik. Dia berusaha menolongku dan ibuku melewati masa-masa sulit... Tapi tetap saja....
Aku nggak bisa menerimanya.
Aku nggak bisa menerima kenyataan bahwa dia akan menjadi ayah tiriku.
Aku marah, frustasi, dan kecewa
Detik berikutnya, beberapa perabotan di kamarku hancur menjadi puing puing kecil. Lampu meja, vas, nakas, bahkan layar ponselku.
Buku-buku tanganku pun menjadi korban atas tindakan yang kulakukan. Darah menetes menorehkan noda pada pada lantai granit berwarna putih itu. Ibuku memekik kaget saat menerobos masuk ke dalam kamarku bersama calon suaminya, menyaksikan perabotan rumah yang hancur dan kamarku yang berantakan
Aku sungguh kecewa.
*unrequited \= tak terbalaskan , bertepuk sebelah tangan