The Other Side Of Me

The Other Side Of Me
drunk and shocked



21.23, di kafe


Matanya menangkapku. Dia langsung berhenti melakukan aksinya yang tadi hampir saja melukai pelayan perempuan itu. mata gadis itu mengikuti kearah mana pria itu memandang dan begitu melihatku dia langsung kabur menjauhi David.


Aku bertanya pada gadis itu dan dia menjawab “dia lagi mabuk berat, saya bermaksud melarang dia makan disini karena kondisinya”


Aku menghela nafas, tadinya aku bermaksud hanya makan disini sambil menenangkan diri sejenak tapi sepertinya waktu nggak mengizinkanku mendapatkannya. Lepas dari Jason, aku justru bertemu David disini, dalam kondisi mabuk berat pula. Ingin rasanya aku berpura-pura nggak mengenalinya, tapi dia sudah melihatku dan tersenyum miring.


Aku mendekati meja tempat dia duduk, berpikir sejenak apakah aku bisa mengajaknya bicara atau nggak dengan kondisi seperti ini. Seingatku, kafe ini nggak menyediakan menu bir sama sekali. Dia pasti datang kesini setelah minum entah dimana. Dugaanku, nggak jauh dari sini. David nggak mungkin mengemudi sejauh itu..


“david, bisa denger aku?”


“hei.. here comes another suprise~” jawabnya meracau sambil berdiri menyambutku dengan sebuah seringaian dan ayunan tangan



David terlihat frustasi. Mata merahnya menyiratkan hal itu. pipinya juga memerah, entah sudah berapa banyak yang dia minum


“boleh aku duduk disini?”


David mengayunkan tangannya ke arah kursi yang ada di hadapannya “sure..” jawabnya dengan logat britishnya yang khas


Begitu aku duduk, dia langsung tertawa, tapi bukan tawa bahagia. Sebuah tawa miris yang kudengar. Aku hanya menatanya dengan bingung, entah harus berbuat apa. Pasangan muda yang barusaja datang dan hendak duduk di meja semi outdoor langsung mengurungkan niatnya begitu melihat seorang pria mabuk dan seorang gadis kalut sedang duduk bersama. Aku nggak menyalahkan mereka. aku sendiri takut melihat David seperti ini.


“you know Sandra? i got a very very very gooooddd.... news” katanya, masih sambil tertawa


“what kind of good knews is that so it can make you laugh like this?”


“my mum.... guess what... i’m really shocked... she’s a very great secret keeper, and she’s very good at make me pissed. ****... guess it”


“i have no idea” jawabku


BRAK!


David menggebrak meja dan membuatku tersentak


“SHE’S GETTING MARRIED IN A WEEK! SURPRISE SURPRISE~”


Lagi-lagi dia tertawa frustasi, mengacak-acak rambutnya, berjalan mondar mandir di sekitar meja dan terus meracau, kemudian dia berbalik kembali menatapku


“guess how i feel right now...? if you can answer it right i will buy you a vodka. We should drink together to celebrate this... this... this news! Right.. this damn happy news”


“David, aku nggak minum” gumamku


“of course you dont! What a naive girl. You should try cranberry vodka! I swear it would get you high in only three glasses~”


Cranberry vodka? Itukah yang baru saja dia minum?


Berapa persen kadar alkoholnya sampai bisa membuatnya semabuk ini


“David kamu harus pulang”


“no....no....no... i wont be going home. That house isn’t even mine”


“can you tell me your address? Please....?”


“no, you stay with me here” jawabnya.


David lantas berhenti bicara, matanya menatap bingung ke arah belakangku. Aku mengikuti arah pandangnya dan menemukan dua orang pelayan kafe saling dorong satu sama lain. mereka membawa sebuah nampan, kurasa itu pesananku. Aku dan David adalah satu-satunya yang menempati meja semi outdoor. Aku menghampiri kedua pelayan itu dan mengambil pesananku.


Kuyakinkan mereka untuk nggak menelepon polisi, aku bisa mengurusnya, meskipun aku sendiri nggak yakin apa yang harus kulakukan pada seseorang yang sedang mabuk berat. Kedua pelayan it hanya mengangguk dan langsung meninggalkan kami. Kurasa gadis yang tadi bicara degan David menceritakan apa yang dia alami pada temannya. Itu sebabnya mereka berdua sama-sama ketakutan


Aku kembali membawa nampan pesananku dan berusaha bersikap senetral mungkin, sesantai mungkin.


“that girl was trying to throw me out” ujar David


“and you scared her?”


“i was just trying to made her stop trying to call the police”


“you nearly hurt her, David”


David mengangkat bahu “i dont care. I’m coming here to buy a food but she didnt allow me to”


“how manny glasses did you drink?”


“five”


Lima? Dia pasti sudah gila


“god.... you must be insane"


“blame my mum and her surprising news”


Aku menghela nafas, dan menyibukkan diri dengan makananku. Kurasa percuma aku mencoba menggali informasi dari David sekarang. Dia sedang mabuk berat dan nggak bisa bicara dengan benar. Aku harus segera menghabiskan makananku dan membawanya keluar dari sini sebelum dia membuat semua pengunjung kafe takut. David terus memandangiku yang sibuk dengan makanan. Aku lantas berhenti dan bertanya


“sudah makan?”


David menggeleng. Seketika aku merasa jahat karena membiarkannya diam tanpa makanan.


“tunggu disini. Biar aku yang pesen makan”


David menahan tanganku ketika aku hendak berdiri


“my head is too dizzy to compromise. I can’t even remember how to chew a food”


jawabnya sambil tertawa


"fine”


***


Aku mengemudikan motor David menuju ke rumahnya. Aku meminjam ponselnya dan menelepon nomor ibunya, memintanya untuk mengirimkan alamat karena David terlalu mabuk untuk menyebutkan dimana dia tinggal dan dia hanya punya paspor dan kartu mahasiswa yang nggak menyertakan alamat rumah. Ibunya terdengar kaget ketika tahu aku sedang bersama anaknya yang mabuk berat


Aku mengemudi dengan perlahan, sepanjang perjalanan aku dihantui rasa khawatir kalau saja David nggak bisa menahan tubuhnya untuk tetap duduk tegak di atas motor. Dia terus memakiku karena menelepon ibunya dan membawanya pulang, tapi dia terlalu lemah untuk melawan. Aku nggak peduli. Satu-satunya tempat yang aman hanyalah rumahnya. Aku menyuruhnya berpegangan pada pundakku untuk memastikan bahwa dia masih sanggup bertahan.


Tigapuluh menit kemudian, kami sampai.


Tante Hana dan Om Hadi langsung menyambut kami dan mengajukan banyak pertanyaan padaku. Hanya satu yang dapat kujawab.


Waktu menunjukkan pukul sebelas malam ketika kami sampai di rumah David. tanpa ponsel, tanpa kendaraan, dan uang di dompet yang menipis. Aku seperti orang hilang.


“david, berapa banyak yang kamu minum?”


“dont touch me!”


“we just trying to help—“


BRAKKK!


Tangan David memukul lemari perabotan yang ada di sampingnya, melemparkan barang apapun yang bisa dijangkau tangannya sampai semua hancur berkeping-keping.


Kami yang melihat kejadian itu tersentak dan mematung seketika, menyaksikan David menghancurkan perabotan rumah orangtuanya sambil memaki mereka


“I HATE YOU! I SWEAR I HATE YOU BOTH FOR HIDING THIS SECRET FOR ME! GO AND MARRY HER WITHOUT ME! I DONT FUCKING CARE TO COME TO YOUR SHIT WEDDING AND I DONT BOTHER TO TRYING TO BE FRIENDLY WITH YOU!” David menunjuk kedua orangtuanya secara bergantian, tertawa miris, lalu berjalan dengan sempoyongan menuju ke halaman belakang rumah. Aku mengikutinya dan berusaha meraih lengannya namun dia menepisku dengan kasar


“dont”


Aku menyerah dan membiarkannya pergi sendirian. Duduk di pinggir kolam sambil menatap kosong entah kemana.


Sekacau itukah keadaan keluarga ini sampai David bersikap seperti itu?


“nak, kami minta maaf kamu harus lihat kekacauan di rumah kami” ujar Om Hadi sambil menepuk bahuku. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman ragu, entah harus bereaksi seperti apa.


“dimana rumahmu? Biar Om anter kamu pulang”


Aku memberitahu Om Hadi alamatku, dia mengangguk dan segera mengambil kunci mobilnya. Sementara tante Hana mondar mandir dengan frustasi, memijit keningnya, bergelut dengan dirinya sendiri apakah harus mendekati David atau tidak


“aku rasa dia butuh waktu sendiri tante”


gumamku. Aku nggak bermaksud bersikap nggak sopan dengan melarang seorang ibu menemui anaknya sendiri tapi aku merasa David sedang dalam kondisi nggak kooperatif untuk diajak bicara.


Tante Hana tersenyum miris dan menjawabku “mungkin kamu bener"


Beberapa saat kemudian, Om Hadi datang berpakaian rapi dan bersiap mengantarku pulang. Dia memberi pelukan pada Tante hana dan memberinya pesan untuk tetap tenang selama dia mengantarku pulang. Aku berpamitan pada Tante Hana dan mengikuti Om Hadi ke mobilnya.


***


“David emang nggak mudah untuk diajak bicara Sandra.... sekali lagi om minta maaf dan berterimakasih kamu udah mau nganter dia pulang”


Aku mengangguk “sama-sama om. Sebelumnya, aku minta maaf. Tapi jujur aku ngelihat David yang bener-bener frustasi tadi.. aku yakin dia baru aja ngelewatin sesuatu yang berat buat dia”


Om David menghela nafas. Nafasnya terdengar berat dan wajahnya menegang seketika mendengar pernyataanku


“memang, dan berita pernikahan kami bikin itu semakin parah”


Aku memutuskan diam dan nggak berkomentar. Ini urusan keluarga, bukan hakku untuk bicara meskipun aku punya banyak sekali pertanyaan untuk diajukan.


Termasuk seberapa parah keluarga David sebelumnya dan kenapa David seperti orang yang nggak tahu apa-apa soal hubungan ibunya dan Om Hadi


“om tahu apa yang kamu pikir Sandra. tapi kalau boleh jujur, om Cuma berusaha memperbaiki keadaan. Om berusaha bikin David ngelupain keluarganya di masa lalu tapi kayaknya itu hampir mustahil. Lukanya udah terlalu dalem. David udah tumbuh dewasa dan bakal sulit buat meyakinkan dia”


“david sepertinya punya konsep dan pandangan yang nggak baik soal pernikahan” jawabku


Love is bullshit


Adalah kata-kata David yang kuingat. Kata-kata yang menunjukkan betapa buruk pandangannya soal relasi antara pria dan wanita.


“memang, dan dia hampir nggak percaya siapapun termasuk dirinya sendiri"


“kami berharap David mau datang ke pernikahan kami dua minggu lagi, tapi kami yakin itu mustahil. Kami sadar berita soal pernikahan ini sampai terlalu mendadak ke David. kami seharusnya jujur lebih awal ke dia”


Seketika aku ingat perdebatan David dan ibunya pasca sidang keputusan pemberhentian David sebagai mahasiswa.


Dia mengungkit sesuatu soal berita buruk yang mereka sampaikan padanya semalam. Sepertinya berita itu hanya permulaan dari kabar pernikahan yang terlalu mendadak ini.


“aku yakin Om dan Tante pasti punya alasan sendiri buat nahan berita itu dari David”


“dia nggak akan menyukainya Sandra. kami tahu itu. kami bingung gimana harus menyampaikannya ke David.”


“mungkin aku bisa bantu meyakinkan dia buat dateng” jawabku tanpa berpikir panjang. Om Hadi terlihat kaget mendengar pernyataanku


“kamu nggak harus ngelakuin itu, Sandra. David bukan orang yang gampang diajak bicara”


“aku tahu, tapi bukan berarti aku nggak bisa berusaha” jawabku


“om nggak akan nuntut banyak dari kamu, tapi kalau itu berhasil, om bakal berterimakasih”


Om hadi memberiku senyum lega.


Jujur saja, aku menawarkan bantuan itu tanpa berpikir panjang. Yang kupikirkan saat itu hanyalah bagaimana caraku menebus rasa bersalahku atas dikeluarkannya David dari kampus karenaku. Jika aku bisa membuatnya percaya padaku dan meyakinkannya untuk datang ke pernikahan orangtuanya, seenggaknya aku bisa merasa sedikit lega.


aku tahu ini mustahil. Aku harus meyakinkannya dalam waktu satu minggu, sementara kami berdua barusaja saling kenal.


Aku bahkan sudah mendapat peringatan kalau David adalah orang yang sulit.


Sepertinya ini memang takdirku...


dipertemukan dengan dua pria yang sama-sama bermasalah. Mungkinkah aku ada dalam hidup mereka untuk membantu mereka bangkit? Atau justru aku ada untuk ikut hancur bersama mereka?


Entahlah.


Aku nggak berpikir terlalu banyak...


Akupun butuh bantuan untuk bisa menyembuhkan lukaku, dan aku nggak yakin ada yang bisa membantuku untuk sembuh


Aku tahu seseorang nggak akan bisa memberi pada orang lain diluar apa yang dia punya. Aku sendiri punya luka yang menganga, ketakutan akan masa depanku, kekhawatiran bahwa keberadaanku nggak akan diterima jika orang tahu rahasiaku,


tapi bisakah aku diizinkan untuk setidaknya membayar hutangku pada David?


sesampainya di kos, aku segera mencuci muka dan kembali ke kamarku. ku ambil kembali ponselku yang tergeletak lantai. Ada sedikit retakan di pinggir layarnya, namun syukurlah layar ponselku masih bisa berfungsi dengan baik meskipun di ujung layarnya ada titik hitam karena retakan layar. Ku periksa notifikasi ponselku dan tujuh panggilan terlewat, satu pesan belum terbaca. Semua dari Jason.


*oke, aku bakal jalani operasiku. Kasih aku waktu buat mikirin semua ini dan berubah*


Kuhapus pesannya segera


Aku terlalu lelah untuk memikirkan soal itu. mau bagaimanapun juga dia berusaha, bekas luka itu akan tetap ada...


Sekalipun Jason berubah, itu nggak akan merubah kenyataan kalau dialah orang yang membuatku mengalami traumatic bonding.


Dia nggak akan pernah berubah


Jason akan selalu sama.. aku nggak bisa mempercayainya lagi