
**3 september 2019, 19.40 di rumah sakit
SANDRA’S POV**
Sebagian besar wajah Jason tertutup dengan perban. Di pelipisnya ada sepuluh jahitan dan hidungnya dibalut perban. Lebam di matanya sudah menghitam. Dia terlihat menyedihkan. Aku terdiam bersamanya di kamar tempat dia dirawat usai kepergian Om Hadi dan Tante Hana dari sini. Mereka melunasi biaya perawatan Jason dan berjanji akan menanggung semua biaya yang dibutuhkan sampai Jason sembuh.
Jason menatap kosong keluar jendela dan nafasnya terasa berat. Aku duduk di sampingnya diam seribu bahasa. Masih tertegun dengan aksi Tante Hana yang bersujud dihadapan Jason memohon agar mantan kekasihku itu nggak menuntut anaknya karena sudah melakukan kekerasan padanya.
Aku nggak tahu harus berkata apa.. di satu sisi aku merasa kasihan , di sisi lain aku merasa muak dengan pria yang ada di sampingku ini. Semua yang dia lakukan menolongku dan menyakitiku di saat bersamaan
“Keputusanmu nggak akan berubah kan?” Jason akhirnya mulai bicara setelah mendiamkanku beberapa saat
“nggak” gumamku
“kamu memang nggak tahu terimakasih”
“Aku tahu”
“kalau gitu kamu boleh pergi. Nggak ada gunanya juga kamu nunggu disini”
“Jadi ini cara kita berakhir, Son? Kamu nggak pengen kita berakhir baik-baik?” aku bertanya dengan putus asa
“Aku nggak pernah nganggep kita berakhir” jawabnya tegas. Dia terdengar sulit berbicara dengan semua luka di wajahnya
“aku nggak bisa ngelanjutin hubungan kita”
“Aku nggak butuh pendapatmu”
“Jason...”
Dia diam, menghela nafas panjang
“pulang sana... Kalau memang itu maumu. Tapi kamu harus inget aku nggak akan semudah itu ngelepasin kamu”
“Apa sih maumu, Jason?”
“aku Cuma mau kamu tahu kalau kamu nggak bisa hidup jauh dari aku. Aku nggak mau kamu harus mulai lagi dari awal sama seseorang yang baru”
“Psikopat” aku lantas berdiri dari ranjang dan hendak meninggalkannya. Percuma saja aku disini dan berusaha mengakhiri hubungan kami baik-baik. Jason nggak akan bisa mengerti
“psikopat ini yang biayai hidup kamu, inget?”
BRAK!
Aku menutup pintu dengan kasar dan meninggalkan Jason sendirian.
Nggak
Dia nggak akan melakukan apapun
Itu Cuma gertakan
Kamu bisa mengakhiri ini, Sandra.
Ini sudah berakhir.
Aku memesan ojek online dan kembali ke kosku. Sesampainya di kos, pikiranku kalut.
Aku nggak tahu harus mulai darimana. Bagaimana aku harus memberitahu ibuku kalau aku dan Jason sudah berakhir? Haruskah aku memberitahunya soal keburukan Jason selama ini?
David
Bagaimana dengannya?
Akankah dia benar-benar dikeluarkan? Apa yang harus kulakukan?
Pernyataan seperti apa yang harus ku buat untuk mempertahankannya di kampus?
Bagaimana aku akan bertahan hidup tanpa Jason?
Darimana aku harus memulai?
***
**9 september 2019, 12.30, ruang sidang komisi disiplin kampus
DAVID’S POV**
Keputusan komisi disiplin kampus sudah final. Aku memejamkan mata berusaha menenangkan diri. Ibuku dan calon suaminya langsung heboh mengetahui putusan yang ditetapkan untukku. Mereka berdiri di hadapanku seperti orang yang baru saja mendapat berita buruk dan aku memutar mata ketika melihat ekspresi ibuku.
Aku segera meninggalkan ruang sidang tanpa mengucapkan sepatah katapun. Reagan, Kristi, Sandra dan temannya yang bak perangko itu menunggu didepan ruang sidang berharap-harap cemas. Kuberi senyum kecil pada Reagan yang sudah memberikan pernyataannya di sidang tadi dan dia menepuk pundakku. Kualihkan pandanganku pada Sandra. Gadis berambut gelombang itu menatapku dengan cemas. Dia berusaha keras membelaku, sayangnya upayanya nggak begitu berarti. Aku membuang muka darinya, dan berjalan bersama Reagan dan Kristi yang terus mencecarku dengan pertanyaan. Sementara ibuku dan calon suaminya itu langsung meninggalkan gedung fakultas. Mereka terlalu lelah untuk bicara denganku.
Biarkan saja, aku nggak peduli. Aku nggak butuh bicara dengan mereka.
Setelah menghabiskan waktu bersama Reagan dan Kristi di kafetaria, aku mencari keberadaan Sandra di sekitar galeri kampus, namun aku nggak menemukannya.
Apa dia masih ada kelas di jam segini?
Damn it! Aku bahkan nggak tahu kenapa aku harus mencarinya. Kenapa aku peduli soal keberadaannya?
Setelah mengelilingi gedung fakultas, aku menemukannya sedang duduk sendirian di gazebo yang ada didepan perpustakaan. Kebetulan gedung fakultasku bersebrangan dengan perpustakaan. Jadi aku langsung menghampiri gadis itu
“Hei” aku menyapanya. Gadis itu terkejut melihatku dan segera melepas headset dari telinganya
“hei , gimana hasil sidangmu tadi?” bola mata hitam bulatnya menatapku dengan cemas.
Apa gadis ini sungguh peduli padaku?
“Aku dikeluarin dari kampus” jawabku cuek, lalu duduk di sampingnya, mengintip layar ponsel gadis itu yang sedang memutar lagu learning to breathe dari Switchfoot
“Oh” hanya itu yang keluarnya dari mulutnya
Yang benar saja
“Cuma oh?” aku mengangkat alis, mempelajari ekspresinya
Gadis itu mendesah “aku kira pernyataanku bakal ngebantu kamu. Tapi ternyata enggak. I’m sorry, David”
“Kamu bener-bener ngerasa bersalah?” aku memastikan
“Gimana aku nggak merasa bersalah? Seseorang harus dikeluarin dari kampus gara-gara aku!” matanya mulai berkaca-kaca.
Ya Tuhan kenapa gadis ini emosional sekali? Aku bukan siapa-siapa untuknya dan disini dia menangis karena aku dikeluarkan dari kampus?
“Apa kamu juga nangis kayak gini setelah hubunganmu berakhir?” pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku tanpa bisa kutahan
“Apa?” gadis itu terkejut mendengar pertanyaanku
“I was just currious”
Dia nggak menjawabku. Tentu saja. Mana mungkin ada perempuan yang terbuka pada pria yang nggak dia kenal dekat?
Aku pasti sudah gila menanyakannya
“He’s a jerk. You shouldn’t be around him anymore. You shouldn’t cry for him”
Aku menyeringai, tertawa dalam hati karena pertanyaannya “pertanyaan yang sama, kenapa kamu peduli kalau aku dikeluarin dari kampus? Kita bahkan bukan temen”
“aku nggak tahu” jawabnya.
“Kalau gitu aku pun akan jawab hal yang sama ke kamu"
“Kamu bilang aku ngingetin kamu sama mamamu. Emangnya apa yang terjadi?”
Gadis ini benar-benar—
Kami baru saja bicara selama beberapa menit dan dia mengajakku bicara soal masa lalu keluargaku?
“Dia... Lupakan”
“okey” Sandra mengangkat bahu “aku ngerti kok. Emang nggak nyaman rasanya kalau harus ngomongin masalah pribadi ke orang asing”
“Yup”
“kamu bisa cerita kalau kamu mau, kalapun enggak, aku bisa ngerti” dia tersenyum.
Hell. Why did she smile?
“boleh aku tanya sesuatu?” tanyaku
“Selama aku bisa jawab, pasti aku jawab”
“apa yang bikin kamu mau nerima cowok brengsek kayak Jason?” tanyaku spontan.
Baiklah, mungkin lain kali aku harus belajar etika bicara dengan orang asing.
Mata gadis itu membulat mendengar pertanyaan frontalku.
“Karena tadinya aku kira dia peduli. Tadinya aku kira dia orang yang tepat buatku sampai akhirnya aku nyesel udah ngambil keputusan buat jalani hubungan sama dia”
Aku terkejut dia bersedia menjawab pertanyaanku.
Ada sesuatu yang salah dengannya, aku bisa menebak.
Seseorang nggak mungkin semudah itu mengungkapkan ceritanya pada orang asing kecuali dia merasa sangat putus asa dan nggak punya teman untuk bicara.
Lantas kenapa sobat perangkonya itu? Bukannya dia peduli pada Sandra?
“So you finally found the real him"
“iya, dan aku bodoh udah mau terjebak selama dua setengah tahun”
“Dua setengah tahun? Kenapa kamu sebodoh itu mau bertahan?”
Gadis itu nggak menjawab, dia nampak ragu
“Let me guess, you love him?”
Pasti itu jawabannya. Apa lagi jika bukan karena itu? Cinta adalah satu-satunya alasan kenapa akal sehat manusia bisa hilang meskipun dia sudah disakiti berulangkali.
Dia hanya tersenyum kecil
“We talk too much as a stranger” jawabnya
“i can tell. You love him so much” aku mengabaikan pernyataannya
“I was. But now i dont. All of this.. shit.. made me changed my perspective about love”
“Then what is it like now?”
Hell. Why do i keep this conversation with this girl?
“Love is complicated. It never goes well”
“Love is bulshit” aku menambahkan
Gadis itu lantas tertawa
“Bulshit?”
“Yea”
“Aku nggak tahu ada orang yang memandang cinta kayak gitu”
“dan kamu baru aja nemuin satu sekarang
“Kenapa kamu mikir kayak gitu?”
Haruskah aku menjawabnya?
“We talk too much as a stranger” aku mengulangi pernyataannya
Gadis itu kembali tertawa “kamu bener”
“seenggaknya aku tahu sekarang, kalau ada orang lain yang pemikirannya hampir sama denganku”
“Kenapa kita nggak berteman aja?” Sandra menawarkan.
Berteman? Dengannya? Sungguh?
Aku berdiri, dan memberinya senyum sinis
“cewek kayak kamu nggak mungkin berteman sama orang kayak aku"
“kenapa enggak?”
“I dont see a way we could be compatible to one another”
Sandra nampak terkejut dengan jawabanku.
Mungkin aku satu-satunya orang yang menolak ajakannya untuk berteman. Dia terlihat seperti gadis baik-baik. Nggak mungkin dia akan berteman dengan orang sepertiku..
Lagipula, aku nggak mau gadis itu berakhir seperti Kristi. Aku nggak ingin dia menyimpan rasa padaku dan akhirnya hubungan pertemanan kami akan rusak.
Aku tahu aku terlalu percaya diri berasumsi seperti itu bahkan sebelum aku mencoba.
Tapi aku cukup tahu bagaimana akhirnya persahabatan pria dan wanita
Hampir nggak mungkin ada pria dan wanita yang mampu bersahabat tanpa menyimpan rasa satu sama lain dalam waktu yang lama.
“Makasih udah bikin pernyataan buat sidangku. Aku dateng kesini Cuma buat ngasih tau keputusan sidang tadi. Kamu nggak perlu merasa bersalah. Aku nggak pusing meskipun harus hidup tanpa gelar akademik”
Aku meninggalkannya di gazebo.
Aku tahu aku terlalu kasar padanya, tapi ini yang terbaik.
Bagaimanapun juga, sebuah relasi bukanlah sesuatu yang tepat untukku.