
3 september 2019. 13.21
“Aku nggak nyangka dia bisa segila itu” Dewa, sahabatku satu-satunya disini, terkejut mendengar ceritaku. Kami sedang makan siang di kafetaria kampus siang itu.
“Nggak perlu kaget, kamu bukan pertama kalinya denger soal perilaku Jason yang kayak gini. Aku tahu putus dari dia nggak bakal gampang Wa. Aku nggak tahu harus gimana” jawabku lemas
“Jaga diri, Ndra. Cowok kayak dia bener-bener nggak ketebak”
“aku tahu. Sumpah aku nyesel pernah nerima dia. Aku nggak mikir panjang” jawabku sambil memijit keningku
“Yang udah ya udah. Sekarang fokus aja jaga diri dan sembuhin lukamu. Kamu nggak sendiri”
“aku trauma, Wa. Aku takut....” sial. Aku mulai terisak lagi.
Aku menutup wajahku, menangis dalam diam. Di tempat seramai ini, aku nggak ingin menjadi pusat perhatian. Hari ini saja sudah beberapa mahasiswa mengenaliku karena kejadian semalam dan menatapku dengan aneh. Aku cukup paham kenapa mereka menatapku seperti itu. Aku memang terlihat menyedihkan semalam. Mereka hanya menatapku, menyaksikan drama yang terjadi tanpa berbuat apa-apa dan sekarang, mereka memandangku seperti gadis gila yang frustasi karena kekasihnya sendiri. Manusia zaman sekarang memang sudah kehilangan empati. Bukannya aku butuh belas kasihan mereka, tapi setidaknya kalau mereka nggak bisa memahami situasiku, berhentilah menatapku seperti itu.
Pikiranku memutar kembali kejadian semalam ketika Jason marah besar padaku.
Jason menemukan history chatku dengan Dewa yang berisi betapa frustasinya aku menjalani hubungan dengan Jason. Ponselku memang tertinggal di mobilnya dan sialnya, dia membaca semua isi obrolanku dengan Dewa. Ayolah, siapa lagi tempatku mengadu? Orangtuaku bahkan nggak tahu soal ini.. mereka selalu menganggap Jason sebagai pria baik-baik dan pahlawan. Mereka nggak tahu sisi gelap hubungan kami. Aku terlalu takut untuk mengakui semua pada orangtuaku..
Saat dia datang, tanpa basa basi pria itu langsung menghujaniku dengan makian dan kata-kata yang menyakitkan
*Perempuan murahan
Tidak tahu terimakasih
Egois
Parasit
Gila*
Dan masih banyak lagi.
Aku sudah tidak tahan lagi. Aku nggak ingin lagi bertahan dalam hubungan seperti ini. Aku dan Jason seperti api bagi satu sama lain. Saling membakar, tidak pernah menemukan titik tengah dalam sebuah permasalahan dan berakhir dengan kekerasan verbal. Terkadang kekerasan fisik. Dia pernah menjambakku, aku pernah memukulnya sampai meninggalkan bekas luka wajah dan lengannya.
Namun luka fisik tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan luka yang tergores dalam batinku. Kalian tentu tahu kata-kata buruk yang diucapkan terus menerus akan bertahan dalam pikiran seseorang. Seperti doktrin yang tertanam dan membentuk pola pikirmu. Jika seseorang mengatakan yang buruk tentangmu terus menerus kamu akan memandang dirimu seperti yang dia katakan.
Itulah yang terjadi padaku.
Jason selalu mengatakan hal yang menyakitkan, kemudian memintaku ‘melayani’nya setelah situasi membaik. Bodohnya, aku dengan sukarela memberikannya karena rasa frustasi. Percaya atau tidak, ‘hubungan’ itu seperti obat yang membuatmu kecanduan. Perasaan senang yang ditimbulkannya membuat otakmu tidak bisa berpikir jernih dan melupakan dengan cepat semua beban masalah yang kamu miliki. Dua tiga jam kesenangan dan masalah langsung selesai tanpa adanya penyelesaian yang berarti. Terus dan terus seperti itu sampai aku jenuh. Sampai aku ada pada titik dimana aku nggak lagi menginginkannya karena pikiran sadarku akhirnya terbuka bahwa aku selama ini sudah terikat olehnya dan begitupun sebaliknya
Kami nggak bisa meninggalkan hubungan yang toxic ini hanya karena ‘candu’ itu telah merasuk dan membuat kami nggak bisa lepas. Namun saat pikiranku sadar, aku menyesalinya.
Berulang kali aku berusaha mengakhiri hubungan ini namun Jason selalu mengancamku bahwa dia akan bunuh diri, dia akan berhenti membantuku bertahan hidup.
Polosnya aku yang percaya begitu saja. Polosnya aku yang membiarkan diriku terjebak hanya karena takut Jason akan melakukannya.
Psikopat
Itulah dia
Begitu pula aku
Aku nggak bisa terus seperti ini
Aku harus keluar
Aku butuh pertolongan
Aku bisa gila karenanya
“Ndra! Sandra”
Dewa menggoyangkan tanganku dan membuyarkan tangisku. Ketika ku buka mata David sedang duduk di sebelah Dewa, di hadapanku, menatapu dalam-dalam
“Ngapain nangis?” tanya David
Aku mengusap air mataku dan balik bertanya “kok bisa kamu disini? Ngapain kesini?”
“emang ada yang ngelarang aku ke kafetaria kampus sendiri?” dia mengangkat satu alisnya
“Berhenti nangis. Nggak guna nangisi cowok kasar kayak dia” david berkata dengan tegas
“Kamu nggak tahu apa-apa”
“i’m trying to help you” jawabnya
“I dont need your help”
“Yes you are.”
“Kenapa kamu peduli?” aku lantas bertanya. Dewa berdeham tidak nyaman disamping David
David menatapku dengan serius, seperti sedang memikirkan sesuatu, lalu berdiri dari bangku tempatnya duduk
“Lupakan” jawabnya
Aku memutar bola mata, Dewa memberiku senyuman kecil
“Ngomong-ngomong,” David kembali berbalik ke arahku saat dia sudah membuat beberapa langkah menjauhi kami
“Aku serius soal bales pukulan mantan pacarmu. Dia bakal dateng sore ini kan?”
Yes. He will
Jason memberitahuku dia akan datang hari ini. Dia nggak bisa menerima keputusanku untuk mengakhiri hubungan kami. Dia menberitahuku kemarin
Aku berharap itu hanya ancaman. Aku berharap baik David maupun Jason nggak serius dengan ucapan mereka. Aku bisa gila jika itu terjadi.
“Lakuin aja. Aku nggak peduli” jawabku spontan.
David menyeringai, lalu meninggalkanku kembali ke mejanya dimana ada gadis berambut ombre hijau kemarin dan seorang mahasiswa lain dengan rambut tebal di wajahnya. Gadis itu menatapku dengan sinis. Dia pasti membenciku.
16.13, pintu gerbang kampus
Jason menungguku di depan pintu gerbang kampus bersama mobil city carnya yang berwarna silver. Aku yang saat itu sedang bersama Dewa menghampirinya dengan enggan. Jason menatap Dewa dengan kesal lantas berkata
“Aku minta waktu buat ngomong empat mata sama Sandra”
“Ngomong aja nggak apa-apa. Aku nggak bisa biarin Sandra sendirian setelah apa yang terjadi kemarin”
Jason mendengus “aku butuh privasi”
“Wa, nggak apa-apa. Kamu nunggu aja di galeri ntar aku balik kalau udah selesai” aku meyakinkan Dewa, dan dia pun mengangguk setuju. Aku bisa melihat sorot matanya yang khawatir ketika melangkah pergi meninggalkan aku dan Jason berdua.
Aku nggak bisa melibatkan Dewa dalam hal ini. Pandangan Jason pada Dewa pasti sudah berubah karena kejadian kemarin. Jason nggak lagi mempercayainya
“aku mau kita selesaiin masalah kita” Jason memulai pembicaraan
Aku menghela nafas panjang, berusaha mengumpulkan kesabaran “Kita udah selesai, Jason.”
“nggak, nggak semudah itu. Aku nggak akan nglepasin kamu semudah itu”
“Kenapa? Nggak ada gunanya kita bareng-bareng. Semua upaya kita juga nggak akan berhasil."
“itu cuma asumsimu”
“hubungan nggak akan berhasil kalau kedua pihak nggak sepakat. Apa kamu nggak bisa lihat, kita udah nggak sepakat. Aku udah capek sama siklus yang terus berulang kayak gini”
“kapan sih kamu bisa berhenti keras kepala Sandra? Nurut aja dan semua bakal baik-baik aja!”
“Aku punya hak buat milih kebebasanku. Aku berhak nentuin sama siapa aku mau berhubungan dan kamu nggak bisa maksain kehendakmu ke aku. Jason, hubungan kita ini toxic”
“Jaga mulutmu, Sandra!” tangan Jason langsung mencengkram rahangku, dia mengarahkan wajahku untuk menatap matanya yang berkaca-kaca
“kamu nggak bisa lepas dari aku. Aku pun nggak bisa. Apa kamu nggak keberatan kalau harus mulai dari awal lagi sama seseorang yang baru? Apa kamu pikir dia bisa nerima keadaanmu? Hah? Pede banget kamu!”
Aku menepis tangannya “aku yakin aku bisa bertahan sendiri. Meskipun itu tanpa satu laki-lakipun”
Jason tertawa sinis mendengar pernyataanku “kalau gitu aku bakal mati didepanmu sekarang” dia mengeluarkan sebuah silet dari kantong celananya dan aku tercekat
“Jason! Stop!” aku memekik
“batalin keputusanmu atau aku bakal mati disini” ancamnya
Demi Tuhan, pria ini psikopat!
Apa yang harus kulakukan?
Aku tidak tahu
Aku panik
“Jason, please, jangan bikin onar di kampus!” aku merasa beberapa orang mulai menatap kami dengan waspada.
Jason mengayunkan silet itu dan aku menutup mataku. namun sebuah suara menghentikannya.
“Hei, psikopat!”
Jason menatap tajam ke arah sumber suara itu, David.
Bagus, ini akan semakin buruk.
“aku masih punya hutang yang belum kubayar ke kamu” kata David sambil tersenyum miring
“mau apa kamu sama silet itu? Mau ngancem cewekmu? How old are you to do this, dude? “ David lantas mengambil silet itu dari tangan Jason dan membuangnya
“If you want to fight, then fight me, dont be such a prick! Threatening a girl? And you still call her your girlfriend? ****. You dont deserve her” kata David sambil menarik kerah kemeja Jason.
“David, jangan” aku memperingatkannya
Pria itu menoleh padaku, dan Jason langsung memukulnya kembali. David kembali tersungkur.
“JASON!” teriakku. Beberapa orang yang mendengar langsung berlarian ke arah kami, termasuk petugas keamanan kampus. Mereka menahan Jason agar tidak melanjutkan aksinya
David berusaha berdiri, lalu membalas pukulan Jason bertubi-tubi di wajahnya
“Fuck you!”
Aku melangkah mundur, panik, bingung, entah apa yang harus kulakukan menyaksikan kekerasan yang terjadi di depan mataku.
Seorang mahasiswa menarik mundur tubuh David menjauh dari Jason yang sudah babak belur. Aku bisa melihat tetesan darah mengalir dari pelipis dan hidung Jason, matanya pun mulai membiru.
“Panggil komisi disiplin kampus!” seru seorang mahasiswa
Ya Tuhan. Nggak... Ini nggak boleh terjadi
Aku mengacak rambutku dengan frustasi , hendak mengejar orang yang memanggil komite disiplin kampus namun tangan Jason menghentikanku. Dia menatapku dengan tajam dengan wajahnya yang babak belur
Apa yang harus kulakukan?
16.48, ruang komisi disiplin kampus
Aku, Dewa, Jason, David, dan beberapa saksi ada di ruangan komisi disiplin kampus. Tubuhku lemas dan bibirku kelu kehabisan kata-kata. Dewa menggenggam tanganku dan berusaha menenangkanku tapi itu sama sekali nggak membantu. Aku melihat David dicerca pertanyaan sementara Jason dan beberapa saksi mata terus menuduh dan memojokkan David. Mereka nggak mendengar suaraku, mereka mengabaikan pernyataanku kalau David hanya mencoba membantuku. Kalau David nggak ada, Jason mungkin sudah melakukan hal nekat.
Orang tua David sedang menuju kesini. Kuharap mereka nggak memperburuk keadaan dengan menyalahkan David.
Aku nggak percaya hal seperti ini terjadi. Aku dan kekasihku ingin mengakhiri hubungan tapi kami malah melibatkan orang lain dan masalah menjadi lebih runyam. Kini seseorang terancam dikeluarkan dari kampus hanya karena dia berusaha menolongku. Ya, David salah karena nggak bisa menahan diri, tapi dia hanya berusaha menolong! Demi Tuhan kenapa orang-orang ini mengabaikan kenyataan kalau Jason yang lebih dulu memulai kekerasan?
“Kamu butuh kekaksian pendukung kalau kamu mau bertahan disini, David. Kamu punya kesempatan membela diri. Seseorang harus membuat pernyataan yang masuk akal sebagai alat banding buat seenggaknya meringankan hukumanmu.” Ujar Pak Jusuf, ketua komisi disiplin kampus. David hanya diam, dia nggak bergeming sedikitpun seakan membela diri bukan sesuatu yang penting. Mata biru keabuannya hanya menatap kosong ke arah dinding
Kenapa dia diam saja? Tidakkah dia ingin mengatakan sesuatu?
Tak lama kemudian, seorang wanita dan seorang pria berseragam kehormatan anggota dewan datang memasuki ruangan komisi disiplin. Keduanya berwajah lokal, apa mereka orangtua David?
“saya Hadi Sanjaya dan Hana Elizabeth orangtua David James Scott. Kami datang memenuhi panggilan”
Aku pun meninggalkan ruangan komisi, duduk didepannya dan menunggu. Aku berharap David nggak harus dikeluarkan dari kampus. Kumohon, jangan sampai hal itu terjadi. Dewa dan Jason menyusulku. Jason dibantu oleh petugas keamanan kampus dan seorang anggota komisi disiplin. sepertinya dia akan dibawa ke rumah sakit. Jason menatapku dengan tatapan kecewa sebelum akhirnya dia menghilang dari hadapanku.
Aku tahu, dia berharap aku akan membelanya. Dia tentu juga berharap aku akan mengubah keputusanku tapi nggak. Aku sudah menetapkan pilihan. Aku nggak ingin kembali bersamanya...
“Wa, aku khawatir gimana keputusan dewan komisi”
Dewa menghela nafas panjang “kayaknya kemungkinan besar David bakal dikeluarin, Ndra. Ini kasus kekerasan dan korbannya orang luar. Secara langsung David udah mencoreng nama baik kampus”
“Tapi dia cuma nolongin aku!”
“Aku tahu, tapi kamu tahu sendiri mereka lebih fokus sama keadaan Jason yang udah babak belur”
KLIK!
Pintu terbuka, ibu David keluar dari ruangan komisi dan menghampiriku
“Nak, bisa kita bicara?”
Aku mengangguk dan mengikuti ibu David.
“David butuh kesaksian yang lebih kuat supaya dia bisa bertahan disini. Tante minta bantuan kamu ya? Kamu yang terlibat langsung sama kejadian tadi, tolong buat pernyataan yang meyakinkan mereka kalau David layak dipertahankan” wanita dengan wajah lembut itu memohon padaku. Ya, aku memang berniat begitu.
“Iya tante, aku—“
“mum! ****! What are you doing to her!” David menarik mundur tubuhku agar menjauhi ibunya.
“David.. i just asking her for help!”
“you dont have to do that, mum! If i got expelled, then let them do it! Dont beg her for a help!"
“david, nggak apa-apa.. sungguh. Aku bakal nolong kamu di sidang keputusanmu nanti” aku menjawab
David malah menatapku dengan tajam “kamu nggak harus ngelakuin itu kalau kamu nggak mau. Aku ini bukan urusanmu”
“Jelas ini urusanku. Kamu masuk ruang komisi karena aku!”
“Lantas kenapa, Sandra? Aku nggak keberatan kalau harus dikeluarin dari kampus! Aku emang nggak berniat kuliah disini sejak awal” David menatap ke arah ayahnya yang langsung terkejut mendengar ucapannya
“David! Kamu nggak bisa seenaknya!” sahut ibunya
“Seenaknya? Kalian berdua yang seenaknya! Kalian nggak sadar berita buruk macam apa yang kalian sampaiin ke aku semalem? “ Mata biru keabuannya memicing karena amarah. Aku dan Dewa hanya diam mematung menyaksikan perdebatan keluarga ini.
“david, aku—“
“Stop it, mum. I dont want to hear anything from you, or from him. ****. I’m tired of you two!” David lalu pergi meninggalkan kami menuju ke arah parkiran motor. Aku mengikutinya, meninggalkan Dewa dan orangtua David yang masih tertegun mendengar ucapan David
“vid! Tunggu!”
David lantas menoleh
“Apa?”
“Bisa kita bicara?”
“Nggak”
“Lima menit”
“aku nggak punya waktu” dia memutar bola matanya
“please... Just listen to me” aku memohon
David mendengus kesal
“If you want to judge me for what i said to my parents, i dont have time for you, Sandra”
“No! I swear! Hell... I dont have any intention to do that! Just.. please...”
“Fine”
Aku menghela nafas sebelum akhirnya melanjutkan kata-kataku
“thanks... For saved me that day”
“is that the only thing you wanna say?” David terlihat nggak sabar
“I beg you to stay.. please.. at least try to behave or defend yourself. I dont want you to get expelled*"
“Why do you care? You’re not even my friend” aksen britishnya terdengar begitu kental
“because you helped me. And i dont want you to have to through this because of me. I’d feel guilty for that”
“listen, you dont have to feel guilty for me. I dont bother to finish college anyway”
“why?”
“because i dont want it”
“Then why you saved me?” aku memberanikan diri menatap mata pria itu.
“You ask me too much” David berpaling hendak meninggalkanku, namun aku menahan lengannya
“please.. jawab aja. Kenapa kamu nolong aku ?”
“Karena kamu ngingetin aku sama mamaku”
David melepaskan genggamanku, lalu meninggalkanku begitu saja. Menyisakan sebuah pertanyaan dalam benakku
*Apa yang terjadi pada ibunya sampai-sampai kisahku mengingatkanku padanya?
***expelled\= dipecat, di D.O***