
SANDRA’S POV
*Aku nggak pusing meskipun harus hidup tanpa gelar akademik
I dont see a way we could be compatible to one another*
Bagaimana mungkin seseorang bisa hidup seperti dia? Menutup diri, menganggap pendidikan bukan yang utama.. aku sama sekali nggak bisa memahaminya.
Dikeluarkan dari kampus karena kasus kekerasan bukanlah sesuatu yang baik! Bagaimana dia bisa sesantai itu?
Dan kenapa pula justru aku yang ambil pusing?
Berhari-hari aku terus memikirkannya, apapun yang kulakukan mengingatkanku pada pria itu. apa yang akan dlakukannya kalau dia saja sudah nggak punya hak untuk mengakses pendidikan lagi? Apakah dia punya pekerjaan? Bagaimana hidupnya nanti? Kenapa dia terlihat samasekali nggak memikirkan itu?
Sudah tiga hari sejak kejadian itu dan aku sama sekali nggak mendengar kabar darinya. Beberapa kali aku bertemu dengan Kristi dan satu lagi teman David dan dia selalu memberiku tatapan sinis. Aku tahu, gadis itu pasti membenciku karena pria yang dia sukai harus ditendang keluar dari kampus karena membelaku
Suara bel membuyarkan lamunanku. Kuintip dari jendela kamar kosku, seseorang berdiri disana menunggu tanpa ada yang membukakan pintu. aku memutuskan untuk membuka pintu dan ternyata adalah seorang kurir. Dia memberiku sebuah paket dan menyuruhku untuk tandatangan. Dia bilang paket itu untukku.
Paket ini cukup besar ukurannya. Dan berat juga. nama pengirimnya nggak ditulis. aku penasaran apa isinya.
Ku buka paket itu dan aku terkejut. Kulemparkan paket itu sampai isinya tumpah keluar dari kotaknya.
Pakaian dan barang-barangku yang ada di apartemen Jason, semuanya penuh darah. Ini gila. Apa yang dia pikirkan sampai mengembalikan barang-barangku dalam keadaan seperti ini?!
Apa yang dia lakukan sampai-sampai barang-barangku penuh dengan noda darah?
Dengan gemetar aku meraih ponselku dan menelepon Jason.
Jantungku berdebar kencang menunggunya mengangkat telepon
Ini nggak boleh terjadi
Jason nggak boleh mengakhiri hidupnya sendiri
Nggak
Ini nggak mungkin
Aku berusaha menenangkan diri
Jason nggak mengangkat teleponku.
SHIT!
Aku meneleponnya lagi
Dua kali, tiga kali, dia nggak mengangkatnya sama sekali.
PRAK! Kulemparkan ponselku ke lantai dengan frustasi. Aku berlari keluar kos dan menghentikan sebuah taksi yang lewat dan memintanya mengantarku ke apartemen Jason.
Tanganku masih gemetar mengingat noda darah yang diusapkannya ke pakaian dan barang-barangku. Bau anyir memenuhi ruanganku seketika. Sudah berapa lama noda itu ada di barangnya? Pikiranku kacau dan aku takut. Jujur aku takut Jason akan menyakiti dirinya sendiri.
Ku kira semua itu hanya ancaman
Tapi ternyata dia melakukannya?
Aku mengacak-acak rambutku dengan frustasi, memberitahu supir taksi untuk mengemudi lebih cepat. Dia terlihat tidak nyaman melihatku dari kaca spion mengacak-acak rambut, menggigit jari, dan mengumpat. Aku benar-benar nggak punya pilihan lain dan nggak tahu harus bereaksi seperti apa lagi
Setelah sampai di apartemen Jason, aku berlari secepat yang aku bisa dan mengetuk pintunya sekeras mungkin. Berharap dia mendengarku.
“JASON! BUKA PINTUNYA! KAMU MASIH DISANA?”
Nggak ada jawaban
Sial
“JASON!!” aku terus mengetuk pintu dengan keras sampai tetangganya keluar dan menegurku karena menganggunya.
“apa orang yang tinggal di apartemen ini baik-baik aja?” tanyaku mengabaikan tegurannya
“mana aku tahu? Aku terlalu sibuk buat ikut campur urus—“
KLIK
Pintu apartemen dibuka. Jason keluar dengan tatapan kosong.
Oh Tuhan. Syukurlah.
“kamu lihat? Dia masih baik-baik aja kan? Sekarang tolong berhenti bikin keributan disini” si tetangga langsung masuk dan meninggalkan kami berdua
“Jason! Kamu baik-baik aja kan?” aku meneliti tubuhnya dari atas kebawah dan mendapati ada luka sayatan di lengannya “kamu gila ya!”
Dia tersenyum kecut
“apa harus kayak gini biar kamu sadar?” jawabnya
“ini bukan caranya ngomong baik-baik, Jason! Apa maksudmu ngirim semua barang itu?”
“kan aku udah bilang aku nggak akan biarin kamu lepas semudah itu”
Kupukul dadanya dengan keras namun pria itu nggak bergeming sedikitpun
“kenapa sih harus kayak gini?!” tanyaku frustasi
Jason lalu menggenggam pergelangan tanganku dan menatapku dalam-dalam
“aku serius, Sandra. jangan pernah nganggep aku bercanda.”
“gila kamu!"
“masuk” perintahnya
“nggak. Aku pergi sekarang” aku menepis genggamannya
“aku bilang masuk!” dia membentakku. Seketika darah menetes dari hidungnya.
Spontan aku berlari ke dapurnya, mengambil handuk dan es batu untuk memberinya pertolongan pertama. Ku kompres hidungnya untuk memperlambat pendarahan.
“tahan” perintahku pada Jason. Dia mendongak keatas sambil menahan kompres yang kuberikan.
“apa yang terjadi? Kenapa masih pendarahan? Padahal udah beberapa hari sejak kamu ke rumah sakit” tanyaku.
“septal hematoma” gumam Jason
“apa?”
“kerusakan dan penumpukan darah di tulang rawan hidung”
Aku menatap wajah mantan kekasihku itu. dia terlihat menyedihkan. Pembengkakan di area hidung sampai bawah mata dan bengkaknya membiru. Pukulan David sudah merusak sebagian fungsi organ tubuhnya. Seketika aku berpikir apa yang akan David lakukan kalau dia tahu perbuatannya berakibat fatal seperti ini
“apa kata dokter?”
“operasi perbaikan struktur tulang hidung. Resiko infeksi dan komplikasi”
“lantas kenapa nggak kamu lakukan?”
“buat apa? Lagipula operasi pun nggak akan ngubah keputusanmu” dia membuang muka dariku
“Jason, dengerin aku. Berakhirnya hubungan bukan akhir dari segalanya... kamu lebih tua dari aku dan harusnya kamu bisa nanggepin ini dengan lebih rasional. Kenapa kamu nggak nyoba memperbaiki diri dan bangkit dari kesalahan yang pernah kita perbuat di masa lalu?”
“memperbaiki diri? Bangkit? Semudah itu kamu ngomong?”
“aku tahu ini nggak gampang. Tapi seenggaknya kita bisa berusaha”
“bullshit!” Jason menarik kerah bajuku.
Matanya menatapku dengan tajam. Aku tercekat. Dia selalu melakukan ini. Dia nggak pernah berubah.
“i love you, Sandra! apa yang bikin matamu buta buat ngelihat seberapa kerasnya aku berusaha buat mempertahankan kamu?!” teriaknya padaku.
Aku menarik mundur tubuhku dan berdiri menjauhinya. Aku harus menjaga jarak darinya. Dia bisa melakukan apapun jika aku nggak berhati-hati..
Ingin ku mengumpat, membalas semua kata-kata kasarnya, tapi jika aku menuruti emosiku, sesuatu yang lebih buruk mungkin saja terjadi. Luka sayatan di pergelangan tangan Jason sudah cukup membuktikan ambisinya terhadapku. He is sick. I swear he is sick
“you really love me?” tanyaku. Suaraku hampir nggak terdengar karena takut
“masih ragu juga? apa aku harus ma—“
“pergi ke rumah sakit. Turuti anjuran dokter dan jalani operasimu. Kamu harus hidup lebih lama. Kamu harus sehat” air mataku menetes, rasanya sakit ketika harus menahan rasa marahmu demi orang lain. nggak nyaman rasanya ketika kamu ingin mengumpat dan memaki orang yang ada di hadapanmu namun kamu harus mengalah demi kebaikannya.
Cinta nggak pernah mudah. Putus cinta juga jauh lebih sulit.
“kalau itu bisa bikin kamu kembali, aku bakal lakuin” Jason berdiri mendekatiku. Kini hanya tersisa beberapa senti saja diantara kami
“aku nggak bisa” aku membuang muka darinya
Aku harus tegas pada diriku sendiri. Ya, sekalipun keadaannya menyedihkan, aku nggak boleh luluh dan menyerah.
“kalau gitu kamu nggak punya hak ngatur apa yang harus aku lakuin”
“kenapa kamu nggak juga ngerti Jason? Hubungan kita ini toxic. Cant you see? Kita selalu nyakitin satu sama lain pas kita bareng-bareng. Kita hampir nggak pernah nemuin titik temu di setiap argumen yang kita punya! Darimana dan kenapa kita harus bareng-bareng kalau ujung-ujungnya kita sama-sama hancur? Aku pengen kamu bahagia meskipun itu nggak sama aku. Kamu harus berjuang buat berubah untuk dirimu sendiri dan pasanganmu di masa depan nanti”
“lantas gimana kalau kamu yang aku mau? Aku nggak mau harus susah payah mulai lagi sama orang yang baru”
Tangan Jason mengelus pelan pipiku, sorot matanya mulai melembut dan dia terlihat sedih. Bagaimana mungkin suasana hati seseorang bisa berubah drastis hanya dalam beberapa menit? Dia barusaja hampir mencekikku dan sekarang dia memberiku afeksi?
“itu tandanya kamu egois. Kalau kamu memang sesayang itu, kamu nggak akan maksa orang yang kamu sayangi buat terus sama kamu ketika kamu tahu dia bakal hancur karenanya”
“kamu udah hancur Sandra.. inget?”
Aku tahu apa yang dia maksud. Jujur saja, teringat akan hal itu sangat menyakitiku. Kenyataan kalau aku sendiri takut menghadapi pandangan orang jika mereka tahu aku sudah kehilangan kehormatanku.
Nggak
Mungkin pandangan mereka nggak akan separah reaksi orangtuaku. Ibuku mungkin akan marah besar padaku. Sampai detik ini dia samasekali nggak tahu akan hal ini.
“iya, memang, tapi aku nggak mau lebih hancur lagi dengan terus terjebak sama kamu. Please, kalau memang kamu menghargai aku dan sayang sama aku, lakuin apa yang aku bilang. Buktiin kalau kamu layak dapet kesempatan kedua” bibirku bergetar mengucapkannya. Berat rasanya berpura-pura harus memberinya harapan akan kesempatan kedua. Aku nggak berniat. Sungguh. Aku hanya ingin dia berhenti melakukan hal-hal gila dan menerorku dengan barang bernoda darah, atau sesuatu yang lebih buruk lagi nantinya
Jason melepaskan tangannya dari pipiku
“aku tahu itu nggak akan pernah terjadi. Kamu nggak serius”
Tentu saja.
Aku lupa kalau Jason sudah mengenalku dalam waktu yang lama. Ini nggak akan mudah.
“kita nggak bisa kembali kayak dulu” kubalikkan badan menuju pintu keluar, seketika Jason menahanku dengan meraih kembali pergelangan tanganku
“kalau besok kamu nggak akan kembali lagi, apa bisa aku minta waktumu buat yang terakhir kali?”
“buat apa?”
“i need a distraction. Being far away from you drives me crazy”
Aku tahu apa yang dia maksud dengan distraction. Sesuatu yang selalu kami lakukan sebagai penyelesaian atas sebuah masalah. Ya... sebuah permainan diatas ranjang.
Aku nggak bisa lagi melakukannya.
“maaf, aku nggak bisa” aku menepis tangannya dan meninggalkan apartemen Jason. Seketika setelah aku menutup pintu, aku mendengarnya berteriak, suara gebrakan keras terdengar dari dalam sana. Aku menutup kedua telingaku, kuabaikan suara-suara itu dan bergegas meninggalkan gedung apartemen
Aku butuh tempat baru.
Sebuah tempat dimana Jason nggak bisa menemukanku
Jika aku masih tinggal di tempat sama, ini nggak akan berakhir dengan mudah.
Aku berjalan entah berapa jauhnya, tanpa ponsel, tanpa kendaraan, bodohnya aku yang meninggalkan ponsel di kos hanya karena emosi. Nggak ada taksi yang lewat, aku juga nggak bisa memesan transportasi online tanpa ponselku. Untung saja hari sudah malam
Jalanan kota terlihat sangat sibuk. Kendaraan masih saja memenuhi jalan. Suara klakson meramaikan suasana kota. setidaknya aku nggak sendirian. Ada beberapa pejalan kaki di trotoar.. bangunan demi bangunan, blok demi blok kulewati sampai perutku menyuarakan protesnya. Aku mengalah pada suara perutku dan memutuskan berhenti di sebuah kafe dekat rel kereta api.
Aku memesan makanan di kasir kemudian menyusuri kafe untuk menemukan tempat kosong yang nyaman. Kafe ini termasuk ramai meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Karena didalam terlalu ramai, aku memutuskan untuk memilih tempat semi outdoor. Langkahku terhenti ketika mataku melihat sosok yang familiar sedang duduk sendirian di meja paling pojok, mata merah, rambut berantakan, dia sedang bicara dengan seorang pelayan kafe. Pelayan kafe itu terlihat ketakutan bicara dengannya..
Oh, tidak.
Here comes another disaster.