
SANDRA’S POV
Traumatic bonding.
Aku tidak percaya aku mengalaminya.
traumatic bonding adalah sebuah bentuk hubungan yang toxic. Kedua belah pihak sama-sama berusaha mempertahankan ikatan ini meskipun mereka tahu, hubungan ini merugikan mereka. salah satu pihak akan menjadi yang lebih dominan daripada yang lain. ketika keributan terjadi, mereka akan menggunakan kekerasan, baik itu fisik maupun verbal. Ketika pertengkaran usai, pasanganmu atau kamu sendiri akan kembali memberikan kasih sayang, hadiah, atau yang lainnya agar masalah tersebut terlupakan meskipun nggak ada penyelesaiannya
Traumatic bonding terjadi seperti sebuah siklus. Terus dan terus berulang, sampai akhirnya kalian sama-sama hancur.
Inilah yang kurasakan. Dua setengah tahun aku bertahan dalam hubungan seperti itu tanpa tahu apakah aku bisa keluar atau nggak.
Aku pernah terjebak dalam penjara hubungan yang sangat menyiksa. Bisa kukatakan, delapan puluh persen hubungan yang kujalani berisi pertengkaran yang akan berujung pada kekerasan verbal dan penyelesaiannya akan selalu berakhir di ranjang.
I am a sinner, and i can’t find my way out.
Aku seperti masuk dalam lingkaran setan. Di satu sisi aku ingin keluar, di sisi lain aku nggak bisa keluar. Karena aku dan dia sama-sama sudah bergantung satu sama lain.
Setiap hari aku hanya berharap aku bisa keluar dari lingkaran ini. menjadi wanita lajang seumur hidup lebih baik daripada harus seperti ini..
Jika aku mengingat kembali kejadian itu, sungguh aku nggak percaya aku bisa bertahan sampai hari ini. Benar-benar keajaiban aku nggak berakhir di rumah sakit jiwa dan berurusan dengan psikiater.
Kalau boleh jujur, saat itu adalah saat-saat terberat dalam hidupku...
Ini kisahku. Kuharap kalian bisa belajar sesuatu darinya.
***
2 september 2019. 20:15
Situasi kampus saat itu sepi karena memang sudah bukan jam kuliah. Tidak banyak mahasiswa di jam-jam seperti ini. Hanya beberapa di galeri* gedung fakultas. Ya, mereka yang sibuk rapat, melakukan hobi, atau sekedar malas kembali ke rumah. dan sisanya adalah petugas kebersihan dan keamanan kampus yang sedang piket.
Aku dan Jason sedang berada di lorong lantai satu gedung fakultas, beradu argumen, saling berteriak dan memaki, tanpa peduli ada dua orang petugas kebersihan yang mengawasi kami namun terlalu takut untuk melerai.
Jason menarik pergelangan tanganku dengan kasar ketika aku hendak pergi meninggalkannya. Dia berteriak padaku seolah aku tidak punya telinga dan perasaan.
“PEREMPUAN BODOH! DIMANA PIKIRANMU? KENAPA KAMU SAMPAI SEKARANG NGGAK PAHAM JUGA GIMANA CARANYA JAGA BATASANMU SAMA LAKI-LAKI LAIN? APA MAKSUDNYA KAMU BILANG KE DEWA SOAL HUBUNGAN KITA TOXIC? HAH?!” matanya melotot padaku dan genggamannya sagat kuat, telapak tanganku sampai memerah.
“nggak ngaca?! Yang bodo siapa disini? Yang nggak bisa nahan emosi siapa? Hah?” aku balik menatap matanya dengan tajam
“KAMU NGGAK INGET? KALAU BUKAN KARENA AKU MANA BISA KAMU LANJUT KULIAH? NGERTI ORANG LAIN AJA NGGAK BISA! BISAMU CUMA NGOMONG, NYALAHIN, KABUR. KAMU BISA BANTU APA BUAT AKU? KAMU CUMA PARASIT YANG MAKAN DARI HASIL KERJAKU!"
Aku lantas tertawa kecut. Aku kabur karena tidak tahan. Karena memang aku ingin keluar dari lingkaran setan ini. Nggak bisakah dia melihat itu?
PLAK!
Tamparanku mengenai wajahnya dengan keras. Meninggalkan bekas merah di pipinya. Mata pria itu terbelalak dan tangannya langsung menarik rambutku dengan kasar. Aku berteriak meronta, mengumpat, semua kata-kata amarah yang mungkin kuucapkan, kuucapkan saat itu juga. Di momen itulah, salah satu petugas kebersihan akhirnya turun tangan dan menolongku. Dia menampis tangan Jason dan menarik mundur tubuhku
“mas! Tobat mas! Ini cewek lho, kok bisa-bisanya mas main kasar!”
“bukan urusanmu, dia cewekku” Jason menarik kembali pergelangan tanganku dan aku menepisnya dengan kasar
“aku nggak sudi disebut cewekmu! Kita udahi aja sampai disini!” jawabku tanpa berpikir panjang
“apa?” Jason terlihat tidak percaya “nggak bisa” jawabnya tegas
“aku nggak peduli”
“NGGAK. KAMU NGGAK BISA!”
“BODO AMAT, SON! AKU CAPEK SAMA KAMU!! AKU CAPEK SAMA SIKLUS KAYAK GINI!” jawabku sambil mengayunkan tanganku ke udara dengan frustasi
“KAMU PIKIR AKU NGGAK CAPEK NGLADENI KAMU? LAKI-LAKI MANA YANG TAHAN SAMA PEREMPUAN NGGAK TAHU DIRI KAYAK KAMU? KAMU PIKIR DENGAN KITA BERAKHIR KAYAK GINI BAKAL ADA ORANG DILUAR SANA YANG MAU NERIMA KAMU? KAMU NGGAK SADAR KAMU INI PEREMPUAN MACEM APA?”
Sesak
Marah
Itulah yang kurasakan.
Dia benar, mungkin tidak ada yang mau menerimaku setelah ini. Laki-laki mana yang mau menerima aku yang sudah rusak begini? Belum lagi jika orang itu harus berhadapan denga trauma yang kualami karena hubungan ini
Tapi sumpah, aku jenuh, lelah, dan ini sudah diluar batas kesabaranku. Setiap hari hanya semakin memburuk.
Jika rusak, rusaklah saja. Aku tidak peduli
Kutarik rambutku dengan frustasi, dan berteriak sekeras mungkin. I need help! Somebody, please help me! Teriakku dalam hati.
Beberapa mahasiswa langsung berdatangan. Kami menjadi pusat perhatian. Seorang pria berwajah bule dengan mata biru keabuan datang mendekatiku dan bertanya “are you okay?” aku menggeleng.
Aku nggak baik-baik saja. Aku marah, sedih, frustasi, dan bingung.
“Hell, dude, what is your problem?” pria itu berdiri dan menatap tajam Jason yang berdiri dihadapanku
“She is my girl. It’s none of your bussiness” jawab Jason kasar
Pria itu memutar mata lantas memberi Jason senyum sinis. “Your girl? You didnt even treat her right! You treat her like shit”
BUK!
Pria itu langsung jatuh tersungkur dihadapanku ketika Jason tanpa basa basi memukul wajahnya. Beberapa mahasiswa yang ada langsung memekik dan menahan tubuh Jason. Beberapa yang lain lari meninggalkan lorong entah kemana
“David!” seorang gadis berambut ombre hijau langsung mendekati pria itu dan membantunya berdiri
“gila ya kamu!” gadis itu berteriak pada Jason yang hanya tersenyum sinis
Jason menarik tanganku, memaksaku untuk pergi, dan aku kembali meronta, menatap mata biru keabuan David untuk memohon pertolongan. Dia pun menepis tangan Jason dariku dan menggenggam tanganku.
“Let her go” david menatap tajam mata Jason.
Dia menarik kerah baju David dan hendak memukulnya, namun petugas keamanan kampus datang dan menghentikannya sebelum drama ini semakin memburuk.
Aku masih ingat betul.
Jason diusir pergi oleh petugas keamanan kampus dan gadis berambut ombre itu memberiku tatapan sinis ketika kekasihnya memutuskan untuk mengantarku pulang.
David James Scott. Itulah namanya.
Seorang mahasiswa asing berkebangsaan Inggris yang sudah tinggal disini selama tujuh tahun. Dia seniorku.
Awalnya kukira dia mahasiswa pertukaran pelajar, tapi tidak. Dia adalah mahasiswa biasa sepertiku
Kami tidak bicara banyak selama perjalanan. Aku menawarkan obat merah dan plester untuk mengobati luka di ujung bibirnya karena pukulan Jason.
Dia hanya tersenyum dan bersumpah akan membalas perbuatan Jason kalau dia bertemu dengannya. Aku yang saat itu sudah terlalu kalut nggak memikirkan ucapan itu dengan serius. Aku hanya meminta maaf atas kelakuan Jason dan menyampaikan maaf untuk kekasihnya, tapi David membantahku
“She’s not my girlfriend. I dont date”
Malam itulah yang menjadi awal kisahku. Kisah kami. David datang sebagai penyelamatku, namun semuanya nggak berjalan dengan mudah. Seiring proses aku mengenalnya, aku menjadi tahu, David bukanlah orang yang kukira pada awalnya. Ada banyak rahasia, trauma, dan luka yang dia simpan.
**halo semua! selamat datang di cerita pertamaku :) mohon feedbacknya ya... gimana pendapat kalian?
kalau kalian suka jangan lupa vote** :)